Secuplik Sejarah dari Ibuk Tentang G30S PKI

PKI2

[1]

Selepas pengasuh saya tidak lagi bekerja di rumah kami, saya jadi sering diajak Ibuk ke pasar. Kala itu, orang tua mempunyai tiga kios di tiga pasar kecamatan yang berbeda. Meskipun per pasar biasanya hanya dua kali buka tiap pekannya, tapi karena tiga kios ya hampir tiap hari Ibuk ke pasar, sementara di rumah tidak ada siapa-siapa. Mas-mas sudah sekolah semua, hanya saya yang waktu itu yang belum. Dari situ, akhirnya saya resmi menjadi pedagang perusuh kecil dagangan orang alias minta jajan, berhubung dagangan Ibuk sendiri bukanlah bahan makanan. Sate telur puyuh dan jajanan Taro adalah salah satu favorit saya.

Selama perjalanan ke salah satu pasar yang bernama pasar Jatisrono, kami selalu melewati sebuah tempat aneh (berderet semacam kuburan, tapi berbeda dengan kuburan biasanya). Kami ke pasar ini, cuma tiap hari pasaran Pahing dan Wage. Jadi dalam sepekan paling tidak dua kali melewati tempat aneh tersebut.

Buk, itu apa?” tanya saya pada Ibuk, sambil menunjuk tempat aneh tersebut.

“Kuburan LeLe atau thole adalah panggilan saya kala dirumah, yang berarti anak laki-laki.

“Kok bentuknya aneh? tidak ada kijeng (batu nisan) dan malah ada tugu besar di tengah-tengahnya?”

“Soalnya itu kuburan orang penting jaman dulu, Pahlawan”

“Oh…” Saya cuma oh, karena waktu itu belum terlalu ngeh kenapa ada pahlawan yang mati di situ.

Lain waktu, ketika kami sedang kumpul-kumpul di ruang tengah. Mas saya yang sudah besar, cerita tentang tugas dari gurunya untuk menonton sebuah film, yang akan tayang esok harinya jam 10.00 pagi. Film itu tidak lain adalah film Penghianatan G30S PKI. Film action paling epic pada jamannya. Kenapa film action? karena ada bedil-bedil-nya. Kenapa epic? karena guru yang menyuruh untuk menonton. Kan biasanya guru paling anti kalo ada murid yang kebanyakan nonton tv, yang ini malah disuruh nonton.

Dari obrolan tentang film, obrolan berlanjut tentang pengalaman Ibuk waktu kecil. Umur beliau waktu itu tak lebih dari 10 tahun. Kala itu, Ibuk lebih mengenalnya sebagai peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober) ketimbang G30S PKI.

“Tiap kali Ibuk dengar dor…dor…dor, maka akan ada warga yang hilang esok harinya”

“Mereka kemana Buk?”

“Diculik, ditembak, terus dibuang ke jurang dekat kuburan buyut

“Siapa yang nembak?”

“Pak tentara”

“Lha Ibuk, pripun waktu itu?”

“Keluarga Mbah, termasuk Ibuk cuma bisa ndekem di senthong (ruang kecil semacam kamar) tidak boleh keluar rumah oleh pak tentara”

Ihh medeni tenan njih Buk…”

Sampai hari ini, jurang tempat eksekusi terduga PKI itu masih ada. Letaknya persis di samping pemakaman warga, tempat mbah buyut dan mbah Ti (orang tua Ibuk) dimakamkan tiga tahun lalu. Jurang itu, terletak tak jauh dari pabrik mete Gunung Sari, yang kini sudah berhenti beroperasi. Di atas jurang ini, sekarang berdiri sebuah pondok sederhana, tempat berjualan seorang tukang bakso. Warung bakso paling enak yang pernah saya rasakan sejauh ini. Beberapa kali teman kampus yang berkunjung ke rumah, pernah saya ajak mampir kesini. Komentar mereka juga puas, mungkin sepuas kala para tentara yang menembak mati para terduga PKI. Yang dieksekusi tanpa melewati pengadilan.

Dari Ibuk, cerita Gestok (G30S PKI) berlanjut ke Bapak. Kata bapak, peristiwa Gestok lebih pantas disebut sebagai sebuah jaman dari pada hanya sebuah peristiwa. Karena waktu berlangsungnya peristiwa tersebut memang bertahun-tahun, tidak hanya satu-dua hari sesuai namanya. Dalam sejarah modern (sejarah yang direvisi), peristiwa Gestok tidak hanya terjadi tahun 65 sampai pertengahan 66 saja, karena buktinya aksi ‘pembersihan’ itu terjadi sampai awal tahun 70-an. Jadi wajar, kalau korban ‘pembersihan’ rezim Soeharto kala itu mencapai angka 500 ribu-3 juta jiwa [2]. Aksi pembersihan tak hanya di pulau Jawa dan Bali saja, tapi meliputi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi, hingga Flores. Selain sebagian besar dieksekusi tanpa pengadilan, sebagian korban juga tidak lain adalah pendukung Soekarno (bukan anggota PKI). Kala itu mereka menyebutnya sebagai orang Marhen (orang yang berpaham Marhenisme, garis perjuangan PNI Soekarno).

Dan salah satu korban ‘salah tangkap’ itu juga dialami oleh Bapak saya, atau lebih tepatnya oleh guru sekolah Bapak saya. Waktu itu, bapak masih sekolah SMP di sekolah swasta yang dikelola oleh dua orang guru. Nah, salah satu guru di sekolah itu aktif di organisasi Marhen yang berafiliasi ke Soekarno. Selain menjadi guru, beliau juga menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Nasib buruk menimpa guru tersebut, peristiwa Gestok mengakibatkan ia ditangkap dan tidak pernah kembali mengajar sampai Bapak lulus dari sekolah tersebut.

“Bapak waktu itu sudah khawatir, kalau-kalau sekolah bapak juga ikut-ikutan ditutup.”

“Wong mau gimana lagi, satu sekolah gurunya cuma satu”

Kemudian, sekolah swasta tersebut kini menjadi cikal bakal SMP negeri di kampung halaman Bapak, kecamatan Bulukerto.

Ya, begitulah secuplik sejarah kejamnya kita di masa lalu. Tidak perlu malu mengakuinya. Benar, kalau PKI itu kejam dan berencana makar. Tapi aksi pembersihan dan motif politik Soeharto di belakangnya juga tak kalah kejam. Salah satu warisan Soeharto yang sampai kini tetap bertahan adalah perampokan besar-besaran yang dilakukan Freeport hingga hari ini.

Kala itu, di negeri Eropa di kala musim dingin tahun 1967. Rezim Soeharto dengan dukungan para ekonomnya yang mayoritas lulusan Harvard, melelang kekayaan alam negeri ini. Hampir semua sektor dibuka seluas-luasnya untuk dikuasi oleh Barat dan Amerika. Barat diwakili Keluarga Rothschild dan Amerika dengan Freeportnya. Sebagai ‘balas budi’ atas dukungan mereka akan runtuhnya rezim Soekarno yang kala itu makin dekat dengan Beijing dan Moskow.

Politik dan Kekuasaan memang kejam. Beribu nyawa hilang, demi pergantian sebuah rezim dan kokohnya kapitalisme.

Tulisan ini bukan sebuah ‘kata maaf’ untuk PKI, bukan pula mendukung lahirnya kembali PKI seperti yang mulai tercium akhir-akhir ini. Tapi ini adalah sebuah refleksi, jika suatu peristiwa tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada yang mengendalikan dan yang mengendalikan itu masih ada yang mengendalikan lagi.

Selamat Hari Senin ^_^

PKI

[3]

[1] gambar

[2] (Toer, 2001 dalam Mass Grave 1965-66)

[3] gambar

Advertisements

15 thoughts on “Secuplik Sejarah dari Ibuk Tentang G30S PKI

  1. Wah sama aku juga dapet cerita dari mbah kakung yg juga dulu kena imbasnya, krn beliau dulu tentara. Cuman memang bukan yg udah berpangkat. Kalau yg berpangkat kan langsung dihukum mati tuh, nah kalau mbah kakungku langsung dicopot ketentaraannya, dikucilin dan keluarga ga boleh sekolah dan kerja di negeri. Struggling banget dulu mbah, dr yg awalnya atlet, trs ditarik jd tentara dikirim ke papua, trs kena imbas langsung dr pembersihan pki, trs ga punya apa2, jd nelayan deh buat menyambung hidup saat itu..

    • Ngeri emang, tanpa diadili langsung dihakimi dan itu sampai 3juta nyawa. Mungkin mbah kakung mba Gita terkena imbas konflik ABRI AD Jateng yang waktu itu juga sempat terbelah antara yang mendukung dewan jendral dan dewan revolusi…

  2. Hampir sama dengan yang disampaikan guru saya di sebuah kajian. Tentang bercokolnya para antek kapitalis yang menancapkan kukunya setelah soekarno tidak lagi setia dengan ideologi kapitalis. Ketidaksetiaan ini dapat dilihat dari sepak terjang soekarno yang menasionalisasi industri-industri asing. Soekarno yang awalnya nurut pada kapitalis, kemudian condong ke ideologi kiri, karena dirasa ideologi kapitalis terlalu memberatkan negara.

    Dan nantinya orang-orang pintar lulusan harvard tersebut, memiliki andil besar dalam “menjual” negara kita ke asing.

  3. Masa kecil saya dicekoki film G30S/PKI sehingga selalu gentar melihat lambang komunis. Tapi yang berkesan adalah kunjungan ke Kerala, India, dimana partai komunis termasuk punya pengaruh di sana, dan lambang palu arit bertebaran dimana-mana! Tentu hal ini bikin deg-degan pada awalnya 🙂

    Tapi ternyata komunis di Kerala berbeda paham dengan komunis Soviet ataupun Tiongkok. Di Kerala partai ini sungguh mendukung toleransi beragama dan kesejahteraan rakyat. Hal ini sungguh berbeda dengan indoktrinasi anti komunis seperti yang ditanamkan di benak sejak kecil.

    Wah jadi panjang, hehehe! Intinya sejarah kelam negeri kita jangan sampai terulang, sekaligus jangan sampai dilupakan. Jasmerah pokoknya! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s