Kursi Bukan Mahrom

kursi2

Salah satu bus antar kota di Turki

Pernah tidak saat travelling sendirian kamu kedapatan bertempat duduk sebelahan dengan lawan jenis? entah itu abg polos, mbak-mbak mahasiswi atau mbok-mbok bakul. Terus kamu pura-pura nanya “Mau kemana mba? oh sama! Minta nomornya dong? plak!”. Ya, percakapan itu mungkin (sangat mungkin) terjadi di Indonesia. Entah itu di kereta atau bus.

Ya, wajar sih jika hal itu terjadi. Bayangkan, mana kuat berjam-jam (misalnya Jogja-Jakarta pakai kereta memakan sekitar 11 jam) mati gaya, mau tidur tapi tidak bisa selonjor, mau bersantai dengerin musik hape malah ngedrop, mau ngaji 11 jam takut langsung khatam, maka membuka obrolan dengan penumpang sebelah kadang menjadi pilihan. Ya, asal tau diri, jangan sampai orang tidur kamu bangunin terus kamu tanya “Mau kemana Mba?” tak hanya ditampar, sepatu pun bisa melayang. Bahkan, plot semacam itu sering kali digunakan dibanyak cerpen/novel yang pernah saya baca. Ketemu jodoh di kereta. Duh romantis ya, jodohnya sesama pecinta travelling. *eh

Tapi, hal itu tidak berlaku di Turki. Tempat duduk untuk kereta, bus, pesawat (kecuali transportasi dalam kota) selalu dikelompokkan menurut jenis kelaminnya. Kecuali bagi mereka yang memang berpasangan atau paling tidak saling kenal saat memesan tiket. Tapi kalau itu stranger yang berharap bisa dapet kursi sebelahan dengan mbak-mbak cantik bermata biru berambut pirang, tentu itu mustahil. Sistem tiket online sepertinya secara default mengatur hal itu. Kalau istilah kawan-kawan saya untuk kursi semacam ini adalah kursi syariah.

Ya, Turki memang belum kembali ke arah Islam yang ideal. Tapi semenjak babe (sebutan untuk Erdogan) berkuasa, pelan tapi pasti proses Islamisasi kembali semarak. Masjid-masjid mulai ramai, pelajaran agama di sekolah kembali ada, imam dan khatib meskipun di masjid kecil sekalipun digaji, hingga dibolehkannya guru-guru wanita muslim menggunakan hijabnya saat mengajar di sekolah negeri.

Jangan tanya saat dulu pas jamannya pakdhe (sebutan untuk Kemal Attaturk). Orang setingkat perdana menteri (Adnan Menderes) aja digantung, gegara merubah kembali adzan dari bahasa Turki ke arab, apalagi hanya seorang mahasiswi yang menolak melepas hijab saat mengikuti ujian. Dulu katanya, di pertengahan tahun 2000an aturan kolot semacam pelarangan hijab di area kampus negeri masih marak terjadi, mahasiswi-mahasiswi bakoh dengan keyakinannya mengakalinya dengan memakai wig. Bukan rambut langsung ketemu wig, tapi hijab ketemu wig. Bayangkan, bagaimana kalau kamu melihat seperti itu?. Eh ini kok malah ngomongin wig sih.

kursi

Bahkan ada pilihan tempat duduk single seat, cocok buat para single buat merenungi nasib tapi tidak ingin ketahuan penumpang sebelahnya.

Kembali ke kursi. Karena secara default seorang stranger tidak bisa sembarangan berdampingan dengan penumpang yang berlawan jenis atau setidaknya mereka tidak saling kenal, maka secara tidak langsung hal ini memberikan rasa aman kepada penumpang.

Bagi kaum perempuan tentu lebih terlindungi dari tangan jahil lelaki berhidung panjang (dan belang), bagi laki-laki tentu hatinya yang lebih terlindungi, dijaga perasaanya untuk setia dengan pasangannya di rumah, ingat anak-isteri. Yang jomblo? tenang, ada layar tv yang terpasang di tiap kursi bahkan beberapa jurusan bus juga menyediakan wifi gratis. Jadi, jangan pernah berpikir mati gaya selama travelling di Turki. Kamu tidak sendiri. Ada Tuhan dan wifi yang mendampingi!.

Happy Travelling!!

*sumber foto dari sini 

Advertisements

23 thoughts on “Kursi Bukan Mahrom

  1. Karena di indonesia gak ada aturan macam itu, aku sering banget duduk sebelahan sama laki2. S eringnya sih bapak2. Gak berani juga kalau sama mas mas. Wkwkwk.
    Soal ngobrol, hampir selalu ngobrol. Walau cuma sejam perjalanan. Tapi kagak pernah sampe tuker nomer hp. Itu terlalu 😐

    • Yang ngga berani, mungkin mas-masnya 😀
      Harusnya pihak operator di Indo bisa memberlakukan sistem seperti ini, wong KRL khusus perempuan aja bisa, kenapa mengelompokkan tempat duduk aja susah. Apalagi sekarang jamannya sudah online… Dan iya, yang paling aman sih buat perempuan, sebisa mungkin tidak berpergian keluar kota sendirian. Cepat2lah nyari pasangan biar lbh aman #NgomongSamaTembok 😀

  2. Apa di negara Arab juga kayak gini ya? beneran baru tahu. Ntah secara bisnis ini apakah merepotkan atau tidak. Jadi jika tinggal 2 kursi dan 2 penumpang laki-laki dan perempuan, itu gimana ya?

  3. Haha,

    andaikan itu diterapkan di Indonesia, makin banyak aja jones (jomble ngenes) tukran no. hape di bus makin kecil kemungkinannya. haha.,
    nice info mas, baru tau di turki seketat itu ..

  4. Inilah salah satu alasan untuk tidak keberatan naik bus lintas kota di Turki. 😀
    Dulu pas di Indonesia kalau pergi ke luar propinsi sendiri, duduknya kalau nggak sama bapak-bapak ya sama mas-mas. Mau ngapa-ngapain nggak enak. Udah suntuk karena capek di jalan, ditambah suntuk karena itu. Semoga di Indonesia segera diberlakukan sistem yang sama deh ya.

  5. Wah masya Allah iya nih sangat pengen banget di indo kayak gitu juga. selama ini sering banget naik kereta travel sebelahan sama mas-mas 😦 kalau kereta atau travel gitu ga bisa milih tempat duduk pas masuk, krn udah ada nomornya..

    • Iya, kalau naik kereta atau bus emang ngga bisa milih. Tapi kl travel (yang kursi penumpang depan hanya 1) bisa jadi alternatif, cuma kl perjalanan malam yg agak terganggu (kena sorot lampu dari depan) 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s