Si Pitung Merah

pitung

Beginilah kurang lebih rupa pitung saya waktu itu, bedanya sayap berwarna putih itu saya lepas

Membaca postingan Maskurmambang yang muncul di reader, mengingatkan pada motor pitung saya dulu. Motor saya itu saya beri nama Si-Pitung Merah (SPM). Motor yang memiliki nama pabrikan Honda C-70 ini adalah hadiah dari salah satu Mas saya.

Mas saya ini mungkin paham kondisi hati saya pada waktu. Ya, sekitar seminggu sebelumnya, saya baru saja kehilangan Sikereng (si-kebo ireng) sebuah pit onthel kebo kesayangan. Saya memang biasa menamai ‘kuda tunggangan’ dengan nama-nama tertentu. Sikereng ini adalah kuda tungangan pertama yang saya beli dengan hasil jerih payah sendiri, tepat sehari menjelang pembukaan Inisiasi Kampus. Down to earth adalah alasan saya membeli sepeda onthel ini. Ya, sebagai penghuni baru di kampus kerakyatan yang jas almamaternya saja berwarna mirip karung goni itu, saya berusaha tetap menjaga manah dan adab orang Jogja, ojo dumeh. Maklum, semasa SMA saya itu cukup glamour dengan sering bergonta-ganti mobil (baca: angkot). Sehingga biar lebih kelihatan ikatan kimiawinya dengan kampus saya itu, Sikereng menjadi tambatan hati saya.

Namun, masa pacaran saya dengan Sikereng tak berlangsung lama. Tak sampai tutup tahun, kurang lebih hanya enam bulan. Sepasang tangan jahil mencuri tambatan hati saya itu, padahal BPSO (Bukti Kepemilikan Sepeda Onthel) masih saya simpan rapat. Ya, Sikereng memang bukan onthel biasa. Ia saya beli dari pemiliknya langsung di sebuah pasar sepeda onthel di Terban. Ia memiliki surat-surat lengkap seperti halnya kendaraan bermotor. Di surat itu ada keterangan komplit tentang riwayat sepeda dan siapa saja pemilik sebelumnya. Adanya BPSO ini menjadi nilai lebih dari sepeda dengan sistem pengereman torpedo ini.

Melihat kegundahan hati saya itu, Mas bergerak merogoh koceknya untuk membeli sebuah motor yang tak kalah jadul. Entah dia mengira kalau saya itu sukanya yang serba klasik, padahal kalau dibeliin CBR pun senyum saya bakal lebih sumringah. Tapi, kemungkinan sih dia memang sengaja ngirit (tetap ngasih hadiah ke adiknya tapi ngga perlu modal banyak). Maklum, waktu itu ia sendiri juga sedang persiapan menikah.

SPM saya ini tidak semua bagiannya original, karena beberapa bagian sudah dimodif oleh pemilik sebelumnya, seperti kaca sepion, jok dan karburator. Tapi selebihnya masih aseli. SPM menjadi saksi sejarah ketika saya lebih memilih aksi di jalanan atau rapat-rapat yang ‘katanya’ penting ketimbang duduk manis kuliah di kelas. Astaghfirullah, jangan ditiru ya. Kurang lebih sampai semester 5, SPM menemani saya sebelum ia digantikan oleh Lek Mio, yang lebih gesit dan lebih kekinian pada waktu itu.

Sebenarnya, banyak kelebihan yang dimiliki SPM ini. Diantaranya;

Aman

Aman disini memiliki dua makna, yaitu aman secara fisik maupun aman dari pencurian. Aman secara fisik karena motor satu ini tidak bisa diajak ngebut. Kecepatan maksimumnya waktu itu cuma 70 km/jam, lebih dari itu stang depan sudah bergetar hebat. Memberikan early warning bahwa saya belum nikah cukup bekal untuk mati muda.

Selain itu, SPM juga aman dari pencurian. Ya, siapa sih pencuri yang berani menanggung dosa yang sama tapi hasil curiannya tidak memiliki harga jual tinggi. Makanya, SPM tetap aman meskipun tidak saya pasang alarm ataupun kunci tambahan, bahkan kunci starter aja ngga ada. Satu-satunya cara untuk menyalakan motor ini adalah dengan menyalakan saklar yang saya tempatkan tersembunyi di dekat kotak aki. Tapi, saya juga pernah dikerjain oleh teman saya gara-gara ini. SPM ‘dicuri’ gegara ada teman yang sebelumnya pernah meminjam, jadi dia tahu persis dimana saklar tersembunyi itu.

Irit

Irit disini juga memiliki dua makna. Secara perawatan dan konsumsi bensin juga sangat irit, biasanya saya isi bensin cukup lima hari sekali. Wajar saja, saya tidak pernah pergi jauh dengan motor ini. Hanya dalam kota saja. Paling jauh itu, kalau lagi suntuk kemudian menggalau tanpa arah keluar ring road nyari angkringan/kuliner yang sebelumnya belum pernah dicoba. Irit yang kedua yaitu selalu nebeng temen kalau ada acara di luar kota. Dan temen saya juga baik, suka malu-malu tidak mau kalau saya tawari share bensin. 😀

Melatih Kesabaran

Karena mesin tua, adakalanya SPM suka ngambekkan. Tidak mau jalan tiba-tiba. Pernah suatu malam, saat mau pulang ke kos dari sekre BEM, motor saya ngadat. Padahal tengah malam, sepanjang selokan Mataram ke arah barat itu sudah mirip kuburan (karena sepinya). Jelas ngga bakal ada bengkel yang buka, akhirnya dengan sisa-sisa tenaga saya tuntun motor saya itu sambil ditemanin desir angin dan suara gemericik air selokan Mataram. Sabar.

Anti Tilang

Entah kutukan apa yang dibawa oleh SPM. Selama hampir dua tahun memilikinya, saya belum pernah berurusan dengan polisi karenanya, padahal dari sisi kelengkapan motor ini banyak kurangnya. Mulai dari tidak saya pasangin sayap depan hingga sepion pun hanya sebelah kanan. Kalau polisi mau, paling tidak sudah kena dua pelanggaran sekaligus.

Anti Maksiat

Walaupun passion seorang wanita itu lebih ke penampilan (fashion) ketimbang mengerti tentang tunganggan, tapi nyatanya, mata mereka cukup jeli membedakan mana itu motor pitung mana Ninja 250R, mana Suzuki Cherry mana Mercy. Jelas, SPM yang diproduksi tahun 85 -kalau tidak salah, sama sekali tidak memiliki daya tarik. Kalaupun, ada yang tertarik, kemungkinan dia lagi kelilipan durian.

Meskipun sang pemilik motor memiliki daya pikat tinggi, tapi kombinasi antara helm hitam full face plus motor pitung seringkali ia diabaikan bahkan didzalimi di jalanan. Jadi selama ditangan saya, belum ada lawan jenis yang sudi dibocengkan di jok belakang. Bahkan kakak ipar saya aja ndak mau, takut jatuh katanya (maklum waktu itu sedang hamil). Jadi selain menghindarkan sang pemilik dari berkhalwat yang tidak halal, motor ini juga menjauhkan calon maling dari menambah dosa.

Begitulah kenangan yang tersisa dari SPM, entah dimana dan dengan siapa kamu sekarang. Semoga kamu bahagia ya..

Dan pepatah kekinian bilang,

“Jadi lelaki itu wajib giat bekerja, karena wanita tau bedanya naik BMW dengan naik BMX”

*Sumber gambar dari sini

Advertisements

8 thoughts on “Si Pitung Merah

  1. Bicara sepeda, saya jadi teringat jaman smp yang mengayuh sepeda non onthel untuk sekolah.
    Honda C-70 Itu jadi barang antik. Kalo masih ada dipelihara aja mas,mana tau nanti kolektor menghargainya dengan sebuah bmw, hehe…

  2. Kalo motorku namanya si Max. Udah dari 2002 haha. Dikatain temen motor pak RT, sabodo dah, yang penting bisa dipake jalan 🙂 aku gak begitu paham dan demen otomotif. Sejak pertama dibeli gak pernah di ubah macem-macem, semua masih standar 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s