Dibalik Sunnah Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat [Bagian 1]

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” [1]

Di suatu masa, sebuah perasaan yang tak tertahan membuat seorang hanif dan berhati sejuk berubah gundah yang semakin berkecamuk. Menyadari, lingkungan sekitarnya sudah semakin tak ideal bahkan cenderung memburuk. Sebuah panggilan hati yang entah berasal dari mana mendorongnya membuat sebuah keputusan teramat penting -yang kelak menjadi awal berubahnya sebuah peradaban.

“Isteriku, aku berniat untuk menyendiri sementara waktu. Jaga anak kita selama pengasinganku.” pamitnya kepada sang isteri tercinta. Penuh harap, dengan menyendiri akan terobati gundah hatinya.

Maka, menyusuri ia sebuah bukit pasir berbatu, beberapa kilometer sebelah utara kota Makkah. Bertemulah sebuah cekungan batu, tak begitu luas tapi cukup untuk berteduh dari panasnya matahari ataupun hantaman dinginnya malam. Berhari-hari ia di tempat itu. Kadang ia pulang untuk beberapa keperluan, tak jarang pula sang isteri yang menghantar. Di tempat yang sepi lagi gelap itu, ia berharap menemukan sebuah pengobat gundah hati.

Kelak, cekungan batu itu kita mengenalnya dengan Gua Hira. Tempat wahyu agung pertama yang mengubah sejarah peradaban manusia.

Beribu tahun sebelumnya

Di sebuah negeri dengan hinggar-bingar kemajuan peradaban, namun di saat yang sama keindahan yang tampaknya hanyalah fatamorgana itu, terdapatlah kehancuran moral masyarakat negeri itu. Apalagi, ditambah seorang raja lalim Decius yang kejam dan bertangan besi. Memaksa rakyatnya untuk berpaling dari tuhannya, siapa yang berani menolak hukuman matilah sebagai ganjaran.

Namun, disebuah lorong kota. Berkumpullah tujuh pemuda. Pemuda-pemuda hanif nan pemberani. Yang bertahan dari kehancuran keimanan dan moral yang terjadi di kota itu. Yang tak takut dari ancaman mati sang raja Decius. Keimanan kokoh di dalam dada mereka, yang membuat mereka berani berkata.

“Tuhan kami adalah Tuhan (yang mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi; kami tidak sekali-kali akan menyembah Tuhan selain Dia, sesungguhnya jika kami menyembah yang lainnya bermakna kami memperkatakan dan mengakui sesuatu yang amat jauh dari kebenaran.” [2]

Wajah pucat sang raja tetiba nampak, setelah mendengar perkataan para pemuda itu. Dengan penuh kemarahan, sang raja mengultimatum, dalam waktu dua hari para pemuda harus mengubah keyakinannya. Menjadi murtad seperti halnya sang raja. Karena jika tidak, hukuman mati pasti menjadi konsekuensinya.

Mendengar ancaman sang raja itu, justru semakin meneguhkan hati para pemuda. Waktu dua hari yang diberikan sang raja itu, mereka manfaatkan untuk memulai sebuah pertualangan baru. Menghindar sejauh mungkin dari sang raja lalim.

Ditemani Qitmir -seekor anjing yang loyal nan penurut, tujuh pemuda itu menjauh dari kota, menjauh dari kerusakan moral dan menjauh dari sang raja. Dengan sedikit bekal dan keimanan teguh di dalam dada, sebuah perjalanan mempertahankan keimanan mereka mulai.

Hingga kemudian, di suatu tempat terasing, diantar keletihan-keletihan, karena beberapa hari terus dikejar-kejar oleh para pemburu dan tentara suruhan sang raja. Mereka akhirnya menemukan sebuah gua yang cukup besar dan juga cukup tersembunyi.

Di dalam goa itu, lantas kemudian mereka berdoa;

“Wahai Tuhan kami, Kurniakanlah kami rahmat dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami” [3]

Karena keimanan dan kearifan moral tujuh pemuda itu, Tuhan lantas mengabulkan doa mereka. Ditutuplah telinga mereka -yang membuat tak mendengar ganguan suara sekecil apapun, hingga beberapa tahun kemudian.

“Dan mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus dan ditambah sembilan tahun.” [4]

Perburuan terhadap para pemuda ini terjadi hingga beberapa lama waktu kemudian, semua pelosok tempat di negeri itu sudah didatangi oleh pemburu dan tentara suruhan sang raja. Hingga kemudian sebuah kelompok pemburu menemukan sebuah gua yang mencurigakan. Ketika akan mengecek kedalam, menyalaklah seekor anjing -Qitmir, sambil memperlihatkan kuku-kukunya yang tajam. Berlari tunggang-langganglah para pemburu itu, perasaan ketakutan membuat mereka tidak pernah kembali dan mulai melupakan keberadaan gua itu.

Qitmir yang setia, terus menjaga para tuannya yang sedang tertidur. Hingga ia kemudian mati dan tinggal tulang-belulang. Kelak, anjing yang setia lagi penurut ini dijanjikan surga untuknya.

Tiga ratus sembilan tahun kemudian, para pemuda itu terbangun. Pulas tidur yang lama, membuat perut mereka kelaparan. Disuruhlah satu dari tujuh pemuda itu untuk ke pasar terdekat untuk membeli bahan makanan.

Terkejutlah, sang pemuda itu. Tempat yang menurutnya baru saja ia tinggal satu setengah hari sudah berubah lebih maju dan tertata. Para penduduk dan penjaja di pasar juga ramah menyapa. Hingga akhirnya, disebuah kedai penjual makanan seorang pedagang berkata bahwa uang perak yang ia bawa adalah uang yang berasal dari 300 tahun yang lalu. Lalu kemudian, sang pemuda itu bertanya ke penjaja di pasar itu;

“Siapa raja yang memimpin negeri makmur ini?”

“Raja yang memerintah sekarang ini adalah seorang raja mukmin yang soleh juga baik hati. Raja kami yang sekarang ini orangnya beriman seperti mana yang kamu imani.”

Dan benarlah apa kata penjaja di pasar yang di kunjungi pemuda itu. Beberapa hari kemudian, tujuh pemuda itu menghadap raja, menyampaikan kisah mereka. Lalu sang Raja berkata;

“Sesungguhnya kami hendak membangunkan sebuah masjid di sisi gua mereka.” [5]

Sebagai pengingat dan tanda akan kisah mulia para pemuda itu dan sekaligus pengingat akan kebesaran Tuhan semesta alam, sebuah tempat ibadah didirikan di dekat gua para pemuda yang tertidur selama 309 tahun lamanya. Kelak, kita mengenalnya sebagai Ashabul Kahfi. Sebuah literasi sejarah yang tak hanya dikenal dalam dunia Islam, tapi juga mereka para kaum Nasrani.

Seribu empat ratus tahun setelah turun surat Al-Kahfi

Di sebuah pertemuan pagi ba’da shubuh, setelah beberapa waktu sebelumnya menunaikan shalat lail berjamaah. Sekelompok pemuda (meskipun juga ada kaum tua) yang jumlahnya dua atau tiga kali lipat dari pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi), khusyuk tanpa kantuk mendengar kata-kata sejuk dari sang imam shalat shubuh. Berkata-kata perihal pentingnya manusia meng-‘goa’.

Pertemuan pagi itu adalah bagian dari rangkaian mabit musim panas, yang dilaksanakan tujuh hari ba’da lebaran idul fitri atau tepatnya dua bulan yang lalu. Para pemuda (dan beberapa kaum tua) yang tengah merantau di negeri orang dikumpulkan dalam sebuah ikatan yang sama. Dimana, keimanan seseorang tidak bisa berdiri sendiri, perlu mereka-mereka yang saling menyokong, butuh mereka-mereka yang saling mengingatkan. Hal itu, mendorong mereka untuk duduk melingkar sejenak di pagi buta itu.

Dan, kata-kata sejuk dari sang imam shubuh itu berasal dari sahabat kami yang datang jauh-jauh meninggalkan tempat rantaunya, di sebuah negeri dengan dua kota suci. Siapa dia? dan bagaimana maksud meng-‘goa’? tunggu di tulisan selanjutnya. 😀

Bersambung

note:

  1. HR. Al-Hakim
  2. Surah Al-Kahfi ayat 14
  3. Surah Al-Kahfi ayat 10
  4. Surah Al-Kahfi ayat 25
  5. Surah Al-Kahfi ayat 21

Yedi-Uyurlar

Salah satu goa Ashabul Kahfi. Di seluruh dunia klaim goa Ashabul Kahfi ada puluhan jumlahnya, Turki sendiri ada tiga versi, dua diantaranya pernah saya kunjungi. Salah satunya adalah ini The Seven Sleepers Cave, Ephesus Turki.

Ada sebuah dendang nasyid kenangan yang juga berkisah tentang Ashabul Kahfi by Raihan

Advertisements

14 thoughts on “Dibalik Sunnah Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat [Bagian 1]

  1. Pemuda kahfi itu cermin kekokohan prinsip, konsistensi sikap, dengan keimanan menjulang. Saya pernah menulis tentang ini di blog, berangkat dari kekaguman yang luar biasa begitu saya tengok diri sendiri yang cuma mau berangkat ngaji aja kadang aras-arasen. T,T *jewer*

  2. Reblogged this on Tenanglah Hati … and commented:
    Kisah indah yg sangat menarik tentang Ashabul Kahfi.. masya Allah semoga kita semakin menghayati maksud setiap ayat Surah yang selalu kita baca (sunnah) di hari Jumat .. 🙂 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s