Mendadak Lamaran

Suatu ketika, seorang teman saya sebut saja namanya Ijal (orang aseli Jogja) dimintai tolong oleh salah seorang temen sejurusannya, anggap aja namanya Zaki. Ijal pun menyanggupi, karena permintaan Zaki bukanlah permintaan yang sulit. Cuma diminta menemani jalan-jalan ke Solo.

Berangkatlah Zaki dan Ijal ini berboncengan berdua ke daerah Solo, lebih tepat ke sebuah desa di pedalaman Boyolali. Di tengah perjalanan, Zaki berpesan pada Ijal.

“Jal, ntar ente jadi jubir ane ya. Soalnya ini pertama kalinya ane ke rumah calon mertua”

“Lah, ini kita ke camermu tho? ngomong kek dari awal. Biar aku bisa dandan lebih rapi dikit”

“Yang sekarang udah cukup kok, ini juga udah paling ganteng selama ane ketemu ente. Entar, ente ngomongnya pake bahasa Jawa ya, ane ngga ngerti sama sekali”

“Siap boss, tenang aja” meski dalam hati Ijal sebenarnya berkata “Sialan kau Zak, aku dijadiin obat nyamuk!” Iya, obat nyamuk. Kalian, yang sudah menikah pasti ngerti.

Hingga akhirnya, sesuai petunjuk dari sang calon perempuan sampailah dua manusia ini di rumah calon mertua Zaki. Sebuah rumah limasan ala Jawa dengan halaman yang luas. Sebelum memasuki rumah, Zaki berbisik ke Ijal.

“Jal, ntar ente pake bahasa Jawa yang paling halus ya. Soalnya nasib ane di tangan ente,”

“Maksudnya?”

“Ini acara lamaran Jal, khitbah

“Heh…!”

Ijal langsung lemas mendengarnya. Badannya yang gemuk langsung mengeluarkan keringat bercucuran. Waktu di jalan, si Zaki cuma bilang mau ke rumah camer, Ijal berpikirnya hanya sekedar acara nazar (melihat sang calon atau keluarga calon). Bukan acara seserius dan sesakral nomor dua setelah ijab-qabul ini. Acara khitbah -lamaran, yang dalam adat Jawa itu sudah cukup heboh. Harus bawa rombonganlah, bawa ‘oleh-oleh’ dan seterusnya, hal itu sebagai bukti keseriusan pihak laki-laki. Dari pihak perempuan tak kalah heboh, minimal keluarga besar perempuan datang menyambut, tak jarang mengundang tetangga sekitar. Ya, sekalian hitung-hitung melihat bagaimana si calon mempelai pria. Dan sebagai orang Jogja, Ijal tau persis adat semacam ini.

Sambil nyengir Ijal lirih berkata “Asem koe, Zak!”

Setelah sedikit basa-basi, acara lamaran pun dimulai. Semua menggunakan bahasa Jawa. Zaki yang tidak mengerti bahasa Jawa hanya senyum-senyum, seolah-olah semua berjalan baik-baik saja. Di sisi lain, Ijal yang notabene orang Jawa tapi kemampuan krama halusnya yang pas-pasan itu, makin merasa tidak karuan. Salah ngomong, bisa-bisa berakibat buruk. Lamaran ditolak.

Ijal pun dengan bahasa Jawa yang campur-campur menyampaikan maksud kedatangan mereka berdua, termasuk juga alasan kenapa tidak ada keluarga Zaki yang mendampingi.

Setelah hening beberapa saat, jubir dari pihak perempuan pun memberikan jawaban. Tapi, sebelum sang jubir bicara. Terdengar cletukan dari arah belakang, salah seorang mbah dari pihak perempuan berkata.

Iki opo tho, arep nikahke anak kok koyo dolanan (Ini apa-apaan, mau menikahkan anak kok seperti main-main)”

Zaki yang tak paham bahasa Jawa sama sekali itu, masih aja senyam-senyum setelah mendengar kalimat pedas itu. Masih berpikir, setengah jalan sudah hampir di tangannya. Sedangkan Ijal, justru sebaliknya.

Namun, pada akhirnya lamaran Zaki pun diterima tanpa ada remidi ataupun revisi seperti halnya proposal skripsi. Mungkin, karena hasil lobi tingkat tinggi dari calon perempuan ke kedua orang tuanya sendiri sebelumnya, yang membuat Zaki yang orang Melayu-Sumatera itu akhirnya berhasil mempersunting putri Solo, teman kampusnya sendiri.

Happy ending, ever and forever.

Moral story: “Ketidaktahuan itu indah. Ia membuat kita berdoa terbaik, berniat terbaik, berupaya terbaik, bertawakkal terbaik, bersyukur & sabar terbaik.” ~Salim A. Fillah

acara-lamaran-23042012

Sumber gambar dari sini

Advertisements

20 thoughts on “Mendadak Lamaran

  1. Hahaha ngakak, namanya juga gak tau ya jadinya senyam senyum aja, kebayang deh XD

    Betewe, apa itu salas? ~> Terdengar cletukan dari arah belakang, salas seorang mbah dari pihak perempuan berkata.

      • Sebenarnya ada lagi yg salah (dan banyak) tapi ndak sy kasih tau. :p
        Yg polanya sama nih penggunaan tanda koma ketika memisahkan 3 hal.
        Contoh :
        Saya suka membaca, menulis, dan berkhayal.

        Sebelum dan harus dikasih koma juga. Jangan begini : sy membaca, menulis dan berkhayal.

        Get my point? 🙂

        Ya kalau sampean mau jadikan sy editor boleh. Tinggal wani piro?, Wkwkwk

      • Iya sih, aku itu kalau lg review sebelum post seringkali pake fast reading mode. Selain itu, ya emang ngga naruh perhatian dengan yang begitu2 itu… asal nulis trus post :D.

        Ya udah, kl gitu jadi editor tulisanku ya mba tapi…..
        ….
        ….
        gratisan 😀 . Hamba yang fakir ini mana kuat bayar…. apalagi harga lombok lagi naik :3

  2. Hahaha, baca cerita ini pagi-pagi bikin moodbooster banget. Lucu banget pengalamannya. Duh omong-omong soal lamaran, kayaknya deg”an banget ya kalau lagi ngalamin proses kayak gitu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s