Namanya Ustadz Jambul

Adakalanya kita perlu terperangah, melihat sahabat di masa kecil
kini menjelma menjadi orang-orang hebat, jauh meninggalkan kita yang masih diam di tempat.
Adakah malu disana? adakah hasrat di saat yang sama?

Dulu sewaktu SD saya mempunyai sebuah geng (geng itu, yang bener pakai ‘k’ atau ‘g’?). Geng itu, kami namai empat serangkai, terinspirasi dari empat guru bangsa termasyhur dalam sejarah negeri ini yaitu; Kusno, Hatta, Ki Hajar, dan Mas Mansyur. Empat serangkai versi kami beranggotakan Jambul si-bonsor, Bom-bom si-gendut, Udik si-ganteng, dan saya sendiri. Meskipun karakter dan minat belajar yang berbeda-beda, tapi kami berempat sama-sama menyukai sejarah. Makanya, nama geng kami pun kami ambil dari sejarah para guru bangsa itu.

Geng kami ini, bukan geng yang suka kongkow-kongkow di terminal atau pula yang geng kekinian suka ngegodain anak-anak perempuan di perempatan, melainkan hanya empat anak SD yang suka belajar kelompok, bal-balan, mancing, dan dolanan layangan bersama.

Di antara kami berempat, Jambul-lah yang waktu itu kami anggap sebagai jelmaan dari Kusno. Berbadan besar lagi tegap, bersuara serak karena sudah disunat dan tentu saja yang paling senior di antara kami berempat. Ya, Jambul ini memang agak telat dua tahun saat masuk SD, karena harus rela menunggu adik perempuannya yang seumuran dengan kami.

Terkait namanya ‘Jambul’, itu sebenarnya hanya julukan saja. Karena sewaktu kecil, dia sering kali dicukur kuncung mirip jambul ayam. Dan karena panggilan Jambul ini pula yang membuatnya melegenda, orang-orang sekampung entah besar entah kecil lebih familiar dengan nama ini. Mungkin hanya keluarga dan teman sekelasnya yang tahu kalau namanya aselinya bukan itu, tak lain bukan adalah Sugiarto -dari kata sugih (kaya) dan arto (uang atau harta)

Badannya yang besar itu berimplikasi pada tenaganya yang kuat, jadi kalau lagi main kasti atau bal-balan, maka dia sering menjadi andalan kelompok kami, sebagai benteng pertahanan. Posisi tetapnya adalah back belakang, karena secara skill dia memang paling buruk di antara kami berempat.

Hobinya waktu itu adalah nembang Macapat, dia hapal secara cepat tembang-tembang macapat yang super panjang; seperti Dhandhanggula yang mempunyai 10 gatra atau Sinom dengan 9 gatra. Karena hal ini pulalah, bacaan Qurannya paling tartil dan bahkan bisa Qiraah di saat anak-anak lain masih belajar Iqra.

Tak hanya jadi benteng pertahanan saat main bola, Jambul juga berperan sebagai pemimpin kelas layaknya Kusno yang memimpin negeri ini selama 21 tahun. Dia tercatat empat kali menjabat sebagai ketua kelas, sebelum di kudeta oleh Udik di akhir-akhir masa sekolah.

Pengalaman paling teringat waktu itu adalah ketika saya dan Jambul di usir dari kelas gara-gara main bola di dalam kelas. Apes emang, yang main sebenarnya banyak tapi yang kena hukuman cuma kami berdua. Saya dihukum karena saya orang terakhir yang memegang bola, Jambul dihukum lebih karena dia ketua kelasnya.

Selepas diusir (dipulangkan lebih awal), kami lantas tidak pulang begitu saja, tidak lain karena tidak berani pulang. Akan sangat mencurigakan orang rumah, masih pagi tapi sudah pulang. Lantas kemudian, kami nongkrong di kuburan sambil menunggu jam-jam anak kelas empat pulang. Bagi Jambul, diusir semacam ini adalah pengalaman pertamanya, sedangkan bagi saya ini untuk kedua kalinya.

Selepas SMP, ia kemudian pindah ke Solo. Ia mondok beberapa tahun di salah satu pondoknya ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Suatu ketika, saat saya lagi perjalanan mudik, saya rehat sejenak di sebuah masjid di Sukoharjo karena waktu itu sudah memasuki shalat ashar. Saya tertegun kepada sosok yang menyapa saya, dia yang tidak lain adalah imam shalat ashar waktu itu. Suaranya yang jernih dengan tajwid yang sempurna, benar-benar membuat saya tidak percaya kalau dia adalah Jambul. Atau kini lebih akrab di sapa dengan Ustadz Jambul.

Sewaktu ia sudah menetap di kampung dan saya masih di Jogja, ia kemudian mulai merintis karirnya menjadi seorang ustadz kampung sekaligus tabib pengobatan herbal. Seringkali saat mudik, dia pulalah yang sering mampir ke rumah. Ngobrol banyak hal sambil menyantap durian, saat durian belakang rumah saya lagi musimnya. Sewaktu dia masih bujang, sering kali mampir makan di rumah tanpa sungkan karena orang tua menganggap layaknya keluarga sendiri, persis yang saya lakukan dulu saat masih kecil di rumahnya.

Terakhir ketemu, penampilannya tampak berubah. Meski tampangnya yang sekarang cukup ‘seram’, dengan paduan jubah, celana cingkrang dan berjenggot tebal. Namun, sepertinya warga kampung tidak terlalu mempermasalahkan perubahan penampilannya itu. Sifatnya yang terbuka dan aktif di kegiatan kampung membuat ia dan dakwahnya begitu diterima oleh warga kampung. Ia pula yang berkontribusi besar dalam meningkatkan level salah satu mushola di kampung kami menjadi setingkat masjid. Tidak sekedar bagunan yang bertambah luas, tapi jamaahnya pun meningkat. Dan (mungkin) ia pula satu-satunya alumni TPA Al-Mukhlisin yang masih setia mengajar hingga kini. Mengajari anak-anak kampung untuk giat mengaji. Sementara kami yang lain masih disibukkan dengan urusan-urusan duniawi.

Dan kini anggapan saya selama ini salah, Jambul bukan hanya sekedar Kusno yang gagah, tapi di dalam dirinya ada sosok Mas Mansyur yang berilmu tinggi, Hatta yang bijak, dan sekaligus Ki Hajar yang mengajarkan.

Dan…

Seandainya Tuhan mengizinkan kami berempat menempati kavling surga, maka Ustadz Jambul-lah yang layak dalam antrian terdepan dan dengan kavling yang lebih luas.

empat

Sumber gambar dari sini

Advertisements

15 thoughts on “Namanya Ustadz Jambul

  1. Kusno, Hatta, Ki Hajar dan Mas Mansyur ~> Kusno, Hatta, Ki Hajar, dan Mas Mansyur

    Empat serangkai versi kami beranggotakan Jambul si-bonsor, Bom-bom si-gendut, Udik si-ganteng dan saya sendiri. ~> Empat serangkai versi kami beranggotakan Jambul si-bonsor, Bom-bom si-gendut, Udik si-ganteng, dan saya sendiri.

    yang suka belajar kelompok, bal-balan, mancing dan dolanan layangan bersama.~> yang suka belajar kelompok, bal-balan, mancing, dan dolanan layangan bersama.

    Berbadan besar lagi tegap, bersuara serak karena sudah disunat dan tentu saja yang paling senior di antara kami berempat ~> Berbadan besar lagi tegap, bersuara serak karena sudah disunat, dan tentu saja yang paling senior di antara kami berempat

    julukkan ~> julukan

    aselinya~> aslinya (gak tau ya kalau lagi bercanda.)

    tapi di dalam dirinya ada sosok Mas Mansyur yang berilmu tinggi, Hatta yang bijak dan sekaligus Ki Hajar yang mengajarkan.~> tapi di dalam dirinya ada sosok Mas Mansyur yang berilmu tinggi, Hatta yang bijak, dan sekaligus Ki Hajar yang mengajarkan.

    Pasti sesuatu banget ya waktu disapa di masjid. Tapi nongkrongnya kok di kuburan sih? 😐

    • Wiih langsung seabrek gitu… langsung aku edit (lagi) Mba, suwun.
      Kalo langsung pulang bakal kena damprat orang rumah, ke pasar dekat sekolah entar dikira bolos. Ya, akhirnya kuburan jadi sasaran, itung2 renungan siang. 😀

      • Maaf yaa bukannya apa-apa sy gitu. Sepengamatan saya, sejak sy “folbek”, sy lihat tulisannya (berusaha) memenuhi EYD. Bukan tipe alay tak beraturan. *sotoy*
        Dan saya mah gitu orangnya, suka gak bisa diem kalau ada yang mengganjal di mata. 😀

  2. Kita tidak tahu ya, dengan apa yang akan terjadi di depan, yang tadinya bandel ada yang sukses dan yang pinter malah biasa2 saja, hidup itu memang misteri, semisteri mati kapan ia datang… Nice post… makasih mas..

    • Haha iya sewaktu baca LP, waktu itu aku juga teringat tentang serunya masa kecil. Tapi ya, tidak seseru LP yang mw kesekolah aja si lintang harus melewati rawa yang berisi buaya…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s