Memilih Jogja [?]

Jogja3

Sudut utama Jogja, KM. 0! tahun 2013.

Pagi itu, kami sedang duduk-duduk di dipan panjang yang terletak di ujung kanan teras rumah, ditemani dua gelas teh hangat yang harum buatan Ibuk. Tak lengkap jika teh hangat tak ditemani dengan cemilan, ada setoples kacang mete sisa-sisa lebaran. Ngeteh pagi semacam ini adalah rutinitas ala rumah kala pagi, di antara kabut-kabut yang mulai kalah oleh hangatnya sinar mentari dan suara koceh burung preci di ujung ranting pohon petai depan rumah. Ah, sungguh senang dengan alam kampung kami, masih ada kabut pagi yang menyelimuti dan kicau burung perci .

Namun, rumah kami pagi itu terasa hampa. Dingin pagi musim kemarau terasa lebih dingin dari biasanya. Sebuah atmosphere kehilangan sekaligus kerinduan yang sungguh jelas terasa. Padahal semalam kemarin, rumah kami nampak istimewa, berlarian bocah-bocah kecil; Zulfa, Alya, dan si bungsu Asyifa. Bocah-bocah itu tak lain adalah cucu-cucu bapak dari anaknya yang pertama.

Dan pagi itu, tawa Zulfa yang menggema serta tangis Asyifa yang mencari bundanya tak lagi terdengar. Tergantikan oleh keheningan yang membisu, seperti halnya kabut putih yang tak pernah sekalipun berkata-kata. Beberapa jam sebelumnya, sebuah gerobak besi bermata empat yang membawa pergi keceriaan tahunan itu.

Saya menatap Bapak, wajah tua setengah abad itu berusaha menutupi kerinduannya, malu ketahuan anaknya yang lain di sisinya.

Kemudian, tanpa menoleh. Bapak bertanya,

“Le, suk mbiyen koe arep omah-omah ning endi?” (Nak, kamu nanti akan menetap di mana?)

Saya taruh gelas yang saya pegang di atas dipan panjang yang berlapis selembar kloso mendong anyaman tangan Mbah Ti. Tikar organik yang beliau anyam di kala beliau masih bersama-sama kami. Sedang dipan jati tua itu umurnya bahkan jauh lebih tua dari usia saya sendiri.

Saya berusaha mencerna pertanyaan bapak yang tiba-tiba berubah nada itu. Dari roman-romannya bapak sedang merubah mode pembicaraan pagi itu dari obrolan biasa menjadi mode rembug tuo. Rembug anak-bapak untuk hal-hal yang dirasa istimewa.

…anu…. mbok bilih Jogja Pak” (anu, mungkin Jogja Pak) jawab saya sedikit ragu. Ragu akan alasan apa saya memilih (lagi) kota itu dan ragu pula, apakah kota itu cocok untuk saya omah-omah nanti.

Sebelum rembug tuo sore itu, tepat selepas wisuda saya pernah bicara ke bapak. Tentang rencana-rencana saya ke depan, termasuk tidak inginnya saya omah-omah di kampung sendiri di mana saya dilahirkan. Meskipun beribu cinta membekas di kampung sendiri, tapi saya tak ingin selamanya di sana. Cukup sesekali menengok, melepas kerinduan. Dengan begitu, saya akan menemukan arti sebuah kebahagiaan di dalam kerinduan akan kampung halaman. Merasakan betapa nikmatnya mudik (lebaran), seperti di tipi-tipi.

Susah berkembang, satu-satunya alasan waktu itu. Alasan itu pula yang memberanikan saya merantau di kala menginjak remaja. Sebuah alasan yang tak sepenuhnya benar. Nyatanya, ada Jambul yang sekarang jauh lebih berkembang.

Bapak tersenyum, kali ini sambil menoleh ke wajah anaknya.

Lha ngopo milih Jogja?”

Iya, kenapa harus Jogja? Kalau dulu saya tau persis alasannya, kini saya bimbang olehnya.

Jogja4

Sudut lain di Jogja. Sering mampir di sini kala lelah motoran, demi segelas es dawet Prambanan yang ngangeni dan melegakan. Cukup 2000 saja, es dawet nikmat bisa membasahi kering tenggorokan.

Jogja tidak seperti dulu lagi. Iya, Itu kita semua tahu.

Layaknya manusia, seiring bertambahnya waktu sebuah kota perlu yang namanya berkembang dan berubah penampilan. Bagi saya, yang pernah numpang urip selama 8 tahun di sana, Jogja tetap apa adanya dan layak untuk mendapat tempat di dalam dada. Tak pernah tergantikan posisinya oleh kota-kota yang pernah saya kunjungi sesudahnya. Sungguh teramat istimewa pernah numpang menghirup udara di sana. Balik dan omah-omah di Jogja? ah kalau ini perlu rembug tuo lagi. Dengan siapa? tentu dengan kamu, sang puan istimewa.

Selamat Ulang Tahun ke-259, Jogja!.

Dari sang tuan jomblo berhati nyaman. <<~~~ (dibuang sayang)

Di sebuah lebaran, 2013.

Advertisements

11 thoughts on “Memilih Jogja [?]

  1. Hahaha endingnya itu loh epik bgt, ada curcol yg terselip.. Hmm, kalau ngomongin jogja emang gak ada habisnya ya, aura jogja gak terlupakan, masyarakatnya yang ramah, suasannya yg nyaman, makanan di sana juga murah hihi 😂😂

    Andai dikasih kesempatan, saya juga pengen tinggal di jogja #piss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s