Table Manner ala Jawa

Siapa bilang table manner itu hanya milik orang Eropa yang serba parlente, borjuis, dan serba kaku itu. Yang peletakan antara pisau daging dan garpu harus dalam posisi yang benar. Maka, jika ada yang bener-bener bilang begitu artinya dia saat ini memang lagi berkacamata kuda. Pandangannya hanya berkiblat pada negeri Eropa, tidak melihat betapa wicaksana para leluhur kita. Khususnya orang-orang Jawa.

Budaya Jawa memang serba filsafati alias segala sesuatu ada yang nggondeli. Meski terkesan sedikit feodal aristokratis tapi sebenarnya ini membuktikan bahwa orang Jawa itu kaum ideologis. Jadi jangan heran, jika enam dari tujuh presiden negeri ini berdarah Jawa.

Dalam urusan makan misalnya. Jika kita mempersepsikan bahwa orang Jawa itu begitu nampak casual -serba nyantai dan tampak bersahaja saat berpakaian maupun cara hidupnya. Maka, yang serba casual itu sebenarnya hanyalah bagian budaya orang Jawa pinggiran, lik-lik tukang becak, bapak-bapak tukang bangunan, atau mas-mas tukang angkringan. Karena pada kenyataanya, meski orang Jawa yang tinggal di pelosok desa dengan rumah serba sederhana sekalipun, ternyata masih banyak yang teguh memegang ideologinya, tidak tercemari oleh pemikiran kaum urban yang serba praktis.

Ada beberapa pakem yang harus diperhatikan saat orang Jawa sedang makan;

Ojo dokoh. Sudah seperti yang saya bilang tadi, orang Jawa itu serba ideologis. Ukuran makan orang Jawa itu bukan sekedar ukuran jasmaniah demi memenuhi kebutuhan biologis saja. Karena, etiket makannya melarang untuk makan secara berlebihan dan grusa-grusu. Meski dimensi perut orang Jawa dan orang Sumatera tak beda jauh, namun pada kenyataanya orang Jawa yang laki-laki kalau makan ya secukupnya, ndak harus menggunung seperti Merbabu. Nah, apalagi kaum perempuannya, kalau makan ya cuma mak secimik-secimik (sedikit-sedikit). Misal, kalau ada orang Jawa yang makannya dokoh kaya orang kelaparan selama sebulan itu artinya dia orang Jawa pinggiran, orang Jawa yang sudah tidak ideologis alias penganut Jawa liberal.

Ojo kakean polah. Mbah Ronggo paling menyeramkan dalam hal ini. Kalau saya kebetulan mampir terus numpang makan di rumah simbah dari Ibuk ini, terus sambil makan saya pelayon (lari-lari) di rumah joglo-nya yang besar itu, minimal sendok sayur bisa melayang di kepala. Aturannya, kalau sedang makan di meja ya sideku -duduk manis, tangan di meja, dan nunduk pada makanan di piring. Atau kalau makan sambil lesehan ya bersila dan anteng. Jadi kalau ada orang Jawa yang kalau makan suka nangkring atau jigang -mengangkat sebelah kaki ke kursi kaya lagi makan di angkringan, maka lagi-lagi mereka itu pasti orang Jawa penganut urbanisme yang mungkin sudah lupa ajaran simbah-simbah dulu.

Ojo kecap. Selain tidak boleh banyak tingkah, saat makan juga tidak boleh bersuara, baik suara yang ditimbulkan saat mengecap di mulut ataupun suara dari piring akibat benturan sendok dengan piring. Sing alon-alon, karena makan terus kecap itu saru -tidak baik. Bagi perempuan, terancam ora payu rabi -tidak laku nikah.

Ojo ning lawang. Ada kebiasaan kecil yang sering saya lakukan waktu makan dulu. Yaitu makan sambil leyeh-leyeh di pintu dapur yang menghadap kebun kecil depan rumah, ketimbang duduk manis di meja makan atau ruang tengah sambil nonton tipi. Ibuk saya pernah bilang, yang seperti itu juga saru. Tapi, berhubung Ibuk itu sedikit moderat tidak sampai sendok atau sapu melayang. Namun, kalau simbah pas kebetulan bertandang ke rumah maka Ibuk berubah sedikit marah jika masih tetap dengan kebiasaan itu.

Ojo tanduk yen piring wis suwung. Artinya, jangan nambah kalau piring sudah terlanjur kosong (tak ada sisa). Aturannya, kalau mau nambah porsi ya sisakan meski hanya sedikit nasi atau lauk di ujung piring. Jangan biarkan piring bersih, terus kita nambah. Ini sebenarnya juga sebuah siasat bagi mereka yang memang porsi makannya besar, tapi malu jika langsung dengan porsi Merbabu. Caranya, setelah makan dan hampir habis porsi pertama sisakan sedikit nasi, kemudian ambil sayur atau lauknya sedikit lebih banyak. Kemudian, karena nasi yang tersisa cuma sedikit dan langsung habis di porsi kedua, sementara lauk masih tersisa, maka tambah nasi sebagai porsi ketiga. Begitu seterusnya, ulangi skemanya sampai kita benar-benar kenyang. Nah, yang begini boleh dan tidak saru.

Ojo nyiso. Artinya, jangan bersisa. Sampai sekarang saya masih bingung, apa korelasi sisa makanan dengan matinya seekor ayam. Karena orang Jawa bilang, yen mangan nyiso, sesok pitike mati. Kalau makan lalu tersisa, besok akan ada ayam mati. Nah, padahal sisa makanan itu bisa buat ayam. Terus hubungannya di mana? yang satu ini sampai sekarang masih misteri.

Nah, begitulah beberapa etiket atau table manner ala orang Jawa tipe ideologis. Tapi orang Jawa yang moderat-liberal, mungkin sudah tidak lagi menganut pakem di atas. Kalo mangan ya mangan, yang penting ngga lupa doa dan bersyukur.

Tulisan ini hanyalah sebagai bagian nguri-uri kabudayaan Jawi. Sedikit mengandung stereotipe, jika kurang setuju waliken klambine. 😀

table

gambar dari sini

Advertisements

15 thoughts on “Table Manner ala Jawa

  1. Hahaha.. Setuju banget sama tulisan diatas. Terutama yg makan hrs habis gak boleh disisain. Itu salah satu aturan yg diajarin ortu ke saya. Bahkan kalau lg makan sama tmn trs dia gak bersih makannya, saya sampai sewot ceramah panjang lebar sampai tmn saya ngebersihin maknannya *kejam* hahaha

  2. Ojo tanduk yen piring wis suwung. Di rumah juga dibiasain gitu walaupun keluarga saya gak ada darah jawa. Sampe sekarang ngerasa “berdosa” kalo nambah makan dari piring yg kosong.

  3. Yaah kirain bakal diinget-inget… Ini masih:

    Siapa bilang table manner itu hanya milik orang Eropa yang serba parlente, borjuis dan serba kaku itu. ~> Siapa bilang table manner itu hanya milik orang Eropa yang serba parlente, borjuis, dan serba kaku itu.

    Maka, yang serba casual itu sebenarnya hanyalah bagian budaya orang Jawa pinggiran, lik-lik tukang becak, bapak-bapak tukang bangunan atau mas-mas tukang angkringan. ~> Maka, yang serba casual itu sebenarnya hanyalah bagian budaya orang Jawa pinggiran, lik-lik tukang becak, bapak-bapak tukang bangunan, atau mas-mas tukang angkringan.

    Yaitu makan sambil leyeh-leyeh di pintu dapur yang menghadap kebun kecil depan rumah, ketimbang duduk manis di meja makan atau ruang tengah sambil nonton tipi. ~> Yaitu makan sambil leyeh-leyeh di pintu dapur yang menghadap kebun kecil depan rumah, ketimbang duduk manis di meja makan, atau ruang tengah sambil nonton tipi.

    mungkin sudah tidak lagi menganut pakem diatas. ~> mungkin sudah tidak lagi menganut pakem di atas.

    Tapi eniwe aku ngakak baca ini. Berarti aku jawa liberal donk? Atau malah wong jowo sing gak jowo? Nyiahahaha.

  4. Nah yang makan gak boleh sisa itu juga amat dipentingkan ortu saya dulu waktu kecil. Karena satu butir sisa nasi itu nunggunya berbulan-bulan kata beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s