Yee! Era Bensin Murah Nambah Lama

migas61

Offshore drilling

Beberapa hari yang lalu ada sebuah ‘kabar gembira’ bagi penduduk Indonesia, khususnya bagi mereka para ‘peminum’ bensin atau penggiat energi fossil, tapi bagi mereka penggiat green energy pasti sedihnya minta ampun mendengar kabar ini. Nampaknya, era ‘bensin murah’ di negeri ini akan sedikit bertambah panjang. Bensin murah? iya harga bensin kita masih relatif murah lho, jika dibanding negara-negara industri maju yang notabene konsumsi bensin per kapita (jauh) lebih tinggi.

Tahun lalu, angka konsumsi BBM kita sudah mencapai di angka 1.5 juta barel/hari, tahun ini kemungkinan sudah mencapai 1.6 juta barel/hari. Dari angka tersebut, 798 ribu barel adalah hasil produksi dari sumur-sumur dalam negeri, sedangkan sisanya adalah hasil impor. Wiih angka impor yang mengerikan. Padahal dulu tahun 80an, kita adalah negara pengekspor minyak nomor wahid di seluruh dunia.

Ada yang lucu terkait transaksi impor kita ini, ada negara yang tak memiliki sumur minyak sama sekali tetapi berhasil menjual minyak mereka ke kita. Negara itu tak lain adalah tetangga terdekat, Singapura. Maka, jangan heran kalau Singapura menempati dua terbesar dalam transaksi ekspornya ke kita. Namun eh, ini lucu apa kita-nya yang bodoh ya? tapi begitulah negeri kita. Asep dimana-mana aja, ternyata pemerintah masih mementingkan prestige ketimbang kesehatan dan keselamatan jutaan nyawa penduduknya di Kalimantan dan Sumatera. Seperti yang dikatakan pejabat satu ini, Pramono Anung namanya.

“Sebenarnya pemerintah sama sekali tidak menutup diri terhadap bantuan. Tetapi dari bantuan itu, pemerintah tidak mau kemudian diklaim. Ini kan pemerintah sedang sungguh-sungguh menyelesaikan (bencana kabut asap), termasuk statusnya. Jadi jangan sampai diklaim mereka,”. Beritanya di sini. Meskipun, beberapa saat kemudian penolakan tersebut dibantah oleh pejabat yang lain. Tidak kompak? itu juga sudah menjadi ciri khas.

Oke, kembali ke urusan minyak. Di tulisan ini, saya hanya ingin mengajak belajar hitung-hitungan sederhana tentang umur era ‘bensin murah’ kita. Pada tahun 2013, data ESDM menyebutkan bahwa cadangan minyak kita cuma tersisa 3.6 milyar barel. Yang mana, angka tersebut hanya 1/100 dari Venezuela yang populasi penduduknya sendiri hanya sekitar 30 juta jiwa. Tragis ya?.

Mari berhitung. Jika produksi miyak kita per hari mencapai 798 ribu barel, lalu kita bulatkan menjadi 800 ribu barel biar mudah dalam perhitungan dan diasumsikan konsumsi kita tidak bertambah (meskipun tidak mungkin). Maka, umur era ‘bensin murah’ = 3.6 milyar / (800 ribu barel x 360 hari) = 12.5 tahun. Nah, itu sejak 2013 yang lalu. Kalau hitungannya dari sekarang, maka era bensin murah hanya tersisa 10.5 tahun ke depan.

Setelah itu, 100 % bensin kita adalah hasil impor. Kalo semuanya hasil impor, perkiraan saya harganya akan mencapai 3-4 kali lipat dari yang sekarang dan itu juga tergantung situasi dunia 10 tahun nanti, kalau situasi ‘memanas’ bisa jadi angkanya lebih dari itu, namun kalau adem ayem dan kita berteman dengan negara yang kaya minyak mungkin angka tetap di 3-4 kali lipat saja.  Kalau harga Pertamax sekarang per liter Rp. 9000 maka, 10 tahun lagi akan menjadi sekitar 30-40 ribu/liter (belum termasuk nilai inflasi). Masih murah? hmm… ya gitu deh.

Dan, seperti yang sudah saya bilang di awal tulisan, kalau beberapa hari yang lalu ada sebuah ‘kabar gembira’. KEN (Komite Eksplorasi Nasional) melaporkan, bahwa cadangan minyak kita bertambah 2.7 milyar barel. Jika, dihitung dengan perhitungan yang sama diatas maka, umur era ‘bensin murah’ bertambah menjadi sekitar 20 tahun lagi. Yee!

“Yee gundulmu! Itu artinye bertambah pula pencemaran polusinya dodol” sinisme dari penggiat green energy.

Jadi, kalau sekarang kamu lagi berpikir beli mobil dulu apa nikah dulu. Baiknya beli mobil aja dulu, mumpung bensin murah lho. Lagian, biaya nikah sekarang mirip-mirip lah dengan harga mobil baru. #saransesat

Jum’ah Mubarrak Yak!

*Sumber gambar dari sini

Advertisements

17 thoughts on “Yee! Era Bensin Murah Nambah Lama

  1. Kemaren baca blog sebelah ngomongin tentang bahan baku obat-obatan Indonesia yang 80% impor. Sekarang baca BBM impor. Pesimis saya dengan negeri ini Mas, huhu

    • Hehe boleh boleh, tapi ingat lho mas. Kalau lagi kepepet pengin nikah, mobil bisa digadai. Kalau, nikah dulu terus kepet pengin beli mobil, masak…. 😀 :becanda. Ya, siapa tau pas nikah ada yang ngasih angpau kunci mobil 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s