Tentang Garang Asem

garang-asem-kudus-sby_20141203_164813

Mendadak Garang Asem

Setiap keluarga pasti punya masakan favorit. Menu istimewa yang dimasak penuh cinta khusus dihidangkan untuk orang-orang tercinta. Di rantau, hanya dengan makan masakan itu rasanya sudah seperti membawa suasana rumah di rantauan. Istilah Jawa-nya, tombo kangen. 

Di rumah, selain opor ayam ada juga si merah-merah bulet pedas alias oseng-oseng kapsul alias oseng kulit melinjo yang menjadi favorit keluarga kami, biasanya oseng tersebut dipadu dengan kikil sapi. Dulu, sebelum bapak ketahuan punya darah tinggi, asem-asem kambing juga menjadi top lists menu di meja.

Lalu bagaimana dengan nasib garang asem? Yup, masakan khas Solo ini bukanlah favorit keluarga kami. Terus kenapa pengantarnya gitu? (soalnya dibuang sayang, hehe). Ibuk memang jarang masak makanan yang satu ini. Bukannya tidak bisa, tapi nyari bahannya yang maha susah, tak lain bukan belimbing wuluh yang makin jarang. Di pasar kadang ada kadang tidak, seperti suasana hati para manusia rapuh. Tak menentu. ^^

Namun, diam-diam saya justru gandrung dengan masakan ini, selevel dengan cinta saya pada oseng-oseng kapsul. Pertama kali saya terpikat pada masakan yang mempunyai tekstur daging yang empuk, mlekoh saat dibuka bungkusnya, harum, dan sedikit cita rasa asam ini adalah ketika saya diajak guru SMP mampir ke sebuah warung makan, selepas mengikuti olimpiade IPA yang gagal saya menangkan waktu itu. Sebagai pelipur lara, guru saya ini menyuap kesedihan kami dengan seonggok garang asem. Ya, porsi gareng asemnya memang kurang ajar. Buat saya yang waktu itu masih dalam masa pertumbuhan, porsinya sudah cukup kelewatan. Tidak seperti garang asem yang pernah saya makan sebelumnya yang biasanya cuma sebungkus kecil, nyuplik. Dan lagi, rasanya super enak. Top markotop. Lokasi warung ini persis di bangjo selepas masjid At-Taqwa Wonogiri, ke kiri sedikit sebelah kanan jalan. Namun, saya lupa nama warungnya.

Sejak itu, garang asem masuk list masakan favorit saya. Namun, sayangnya masakan jenis ini kurang begitu populer di Jogja. Senasib dengan thengkleng kambing yang juga tidak terlalu populer (jarang ditemui), padahal warung sate di Jogja itu njubel. Menthok perempatan sedikit aja, kita bisa menemui warung sate plus tongsengnya. Tapi kalau thengkleng, saya harus menyusuri jalanan Kotagede untuk merasakannya. Entah kenapa, sejak dulu Jogja dan Solo memang rasanya tidak pernah akur, termasuk dalam cita rasa masakan. Sejak jaman perjanjian Giyanti hingga kini presiden Jokowi, kerajaan yang dulunya satu ini memang masing-masing pengin mbedani. Tidak mau dianggap sama. Satu-satunya yang bisa menyatukan mereka mungkin, bukit kecil di selatan kraton Ngayogyakarta, pemakaman raja Imogiri. Padahal lagi, muncal Prambanan sedikit sudah memasuki Karesidenan Solo.

Garang asem, selain sebagai masakan khas Solo, juga masakan khas Kudus. Namun saya tidak tahu, apa beda keduanya. Belum pernah nyoba sih yang versi Kudus.

Kalo lagi kangen garang asem, saya biasanya mlipir ke Klaten entah sekalian jalan mudik ataupun memang sengaja untuk makan saja terus balik lagi. Pulangnya mampir ngadem nyruput es dawet manteb, selepas klinik supit Bogem. Ada warung makan cukup enak di Klaten, waktu itu tahunya dari dosen saya yang ngajak sekaligus yang mbayari, selepas kami survei lapangan untuk proyek hibah. Rejeki anak sholeh. Untuk rasa cukup lumayan, tetapi memang tidak seotentik dan semekloh wela-welo seperti yang disebutkan sebelumnya.

garang-asem-kudus-sby_20141203_165205

Garang Asem

Di Turki saya juga pernah masak garang asem. Lebih tepatnya, semacam garang asem. Karena tidak menggunakan daun pisang (lha ora ono je) dan belimbing wuluh (sebagai pemberi rasa asam). Waktu itu saya masak dengan cara saya sendiri, belimbung wuluh saya ganti dengan tomat hijau, kata ibuk-ibuk WNI yang nikah dengan orang lokal, katanya bisa juga diganti dengan buah erik mentah (english: plum fruit atau buah prem). Cara masaknya tidak dikukus, tapi langsung di panci seperti masak opor. Tapi dagingnya, mesti direbus terlebih dahulu biar makin empuk. Baru setelah itu dimasak ulang dengan bumbu-bumbu garang asem ala kadarnya biasanya. Bumbunya apa aja? Ojo malesan, monggo dipadhosi piyambek ning internet. Uaakeh puool. Untuk rasanya, hmm… ya gitu deh, not bad-lah untuk ukuran orang yang lagi kejebak kasmaran masakan ndeso.

Asal sampeyan tahu, garang asem ini juga menjadi masakan favorit Bondan Prakoso *eh Pak Bondan Winarno, yang terkenal berkat maknyuss-nya itu. Beliau ini yang tahun lalu, sempat gagal masuk senayan. Padahal, beliau ini sempat membuat bimbang hati saya, antara memilih beliau atau HNW yang kala itu sama-sama nyaleg di dapil yang sama (dapil luar negeri). Wong gimana lagi, saya itu fans berat pak Bondan khususnya saat beliau membawakan acara wisata kuliner di salah satu tipi swasta. Yup, meski waktu pilpres saya golput, tapi untuk pileg saya masih menggunakan hak suara saya. Cuma untuk pilpres, saya lebih memilih menggunakan hak golput ketimbang hak memilih. Jatuhnya, sama-sama menggunakan hak kan?. Warga negara yang baik dan sholeh, memang harus gitu. Jadi partisipan aktip. hehe.

Ada kejadian lucu, gara-gara garang asem. Seperti biasa, sebelum mudik biasanya saya ngabari orang rumah. Ibuk pun tak jarang juga pura-pura tanya diplomatis. Pertanyaan iming-iming, agar si-anak lanang pulang. Biasanya beliau bertanya, “Mau dimasakin apa, Le?”. Berhubung saya itu, anaknya polos, lucu, dan lincah. Saya tak mau mau kehilangan momen. Makanya,  saya langsung rikues garang asem ke simbok tercinta.

Sesampainya di rumah, saya langsung parkir Lik Mio dan meluncur ke dapur sampai lupa kebiasaan, cium tangan orang tua. Bau harum garang asem yang baru mateng itu memang sungguh menggoda. Maklum, motoran tiga jam non-stop (kecuali kalau ada lampu merah atau kucing lewat) memang bikin perut keroncongan, tenggorokan kering, dan bibir pecah-pecah. Begitu, sesuap garang asem migrasi ke mulut. Saya khilaf protes,

Lho, kok asem banget tho buk?”

Ibuk saya terkejut, sambil menampakkan mimik nggresulo. Sudah berpeluh keringat, kok ya masih pake dikritik di depan khalayak umum.

Woo salahe bapakmu kui” ujar Ibuk sambil menunjuk Bapak, menolak disalahkan.

Lha kok iso aku?” tangkis Bapak, membela diri.

Sopo sing ngakon nambahi asem jowo? lha bapak tho maeng?”

Tak pikir, asem jowo bisa nggo ganti belimbung wuluh je, heheh

Yuhuu, buat wanita terutama Ibuk-ibuk. Kegagalan dalam memasak itu menurut mereka bencana, apalagi dikritik secara langsung tanpa tedeng aling-aling. Nyebahi banget rasanya, persis seperti yang saya lakukan itu, ngapunten njih Mbok, aku bocahmu. hehe

Dalam Islam, memang tidak ada aturan seorang wanita itu harus bisa memasak atau punya keahlian memasak. Bahkan, ada seorang ulama berpendapat, kalau menyiapkan hidangan di rumah sebenarnya bagian dari tugas laki-laki yaitu; bagian dari bab memberi nafkah (sampai matang, bukan mentahnya saja). Namun, bagi seorang wanita Jawa keahlian masak adalah bagian dari tridharma yang melekat pada diri mereka. Kurang satu, rasanya memang kurang wangun. Lagi pula, apa sih yang membuat seorang suami cepet-cepet pulang selepas bekerja, kalau bukan salah satunya masakan sang isteri yang maha istimewa?.

Oya. Ada pelajaran berharga buat wanita tentang memasak. Jangan sok bisa memasak jika sedang di rumah mertua, meskipun pada kenyataanya bener-bener bisa. Tanya dulu sebelum berinisiatif, karena bisa-bisa semuanya akan serba salah di depan mertua. Wanita itu tipe memendam, sekali ada yang salah diingetnya sampai lama, bahkan mungkin selamanya. Begitulah, kira-kira resep sukses yang saya amati dari kakak-kakak ipar saya.

Jadi, sudahkah minum yakult belajar masak garang asem hari ini?

Di suatu sore,
yang mendadak kangen garang asem.

*Gambar dari sini

Advertisements

18 thoughts on “Tentang Garang Asem

  1. Iyo ik. Aku yo paling kezel klo udah capek2 masak trs pake dikomentarin. Makanya kadang aku ga peduli, yg makan doyan opo ora. Wes gak dikomplen wae wes syukuuuur, hahaha. Ah garang asem…. Aku urung mencoba resep itu krn ga punya kukusan. Jd pnasaran…..

  2. Wuaaah garang aseeem yummy bangett. Kukira garang asem itu khas kudus aja, baru tau kalau di solo ada hehe. Aku dan keluarga rutin tiap mudik lebaran beli garang asem kudus yg paling enak, yg sayangnya lupa apa jalannya hehe. Kakak harus coba yg kumaksud itu.

    • Wiih, ditempat saya udah barang langka itu Bu. Ada sih tetangga yang punya, tp si empunya udah meninggal dan rumah kosong, jd ngga ada lg yang dimintai… Mau metik, takut jatuhnya ‘nyuri’ jd ya mending untung2an sama penjual sayur dipasar 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s