Seni Reog dan Budaya Patriarki

Reog

Pertunjukan Reog

Budaya Patriarki

Sistem budaya yang menempatkan kaum laki-laki sebagai pusat dalam organisasi sosial. Dikatakan, otoritas mereka mencangkup dalam segala hal, sedangkan kaum perempuan sekedar sebagai komplemen saja -pelengkap akan eksistensi kaum laki-laki.

Budaya ini cukup banyak mempengaruhi hubungan korelasi antara laki-laki dan perempuan. Kemudian melahirkan dogma-dogma berbau gender, bahwa laki-laki adalah ras paling unggul diantara ras manusia itu sendiri. Seperti contohnya, perempuan digambarkan sebagai, makhluk lemah lembut, emosional, ketergantungan pada orang lain, dan lebih mengedepankan perasaan. Sedangkan kaum laki-laki digambarkan sebaliknya; perkasa, rasional, independen, dan melindungi kaum lemah (perempuan). Meskipun, dogma-dogma seperti ini tidak lepas dari pengaruh pandangan para feminisme era modern.

Perjuangan melawan budaya patriarki di negara kita bukanlah sesuatu yang baru. Salah satu yang terkenal adalah gerakan kaum perempuan yang dipimpin oleh RA. Kartini melawan budaya patriarki Jawa pada waktu itu. Wanita alim ini sebenarnya memperjuangkan sesuatu yang sangat bernafaskan Islam, namun justru sejarah mencatat sebaliknya. Kaum Kartinisme era modern justru mengatakan bahwa gerakan kebangkitan perempuan yang diusung beliau itu sejalan dengan apa yang diusung oleh para kaum feminis sekarang -yang sangat berkiblat pada barat. Sehingga unsur sekulernya sangat kental sekali, lihat saja bagaimana perayaan Kartini-an di sekolah-sekolah bila hari Kartini tiba.

Agama (khususnya Islam) seringkali dituduh sebagai agama patriarki. Para penuduh biasanya menggunakan isu-isu kepemimpinan dalam Islam, pembagian warisan, pertalian nasab, hingga sistem sosial dalam rumah tangga. Namun, pada kenyataanya tidak. Hadirnya Islam di tanah Arab waktu itu, justru sebagai jawaban atas budaya patriarki Arab yang pada waktu itu mencapai puncaknya. Di mana, sebelum Islam datang bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup dan banyak budaya jahiliyah lainnya. Jadi jelas, Islam hakikatnya tidak bias gender. Karena, turunnya Al-qur’an tak hanya mengedepankan sisi teologis, turunnya Al-quran justru sangat mempertimbangkan keadaan sosiologis dan historis pada waktu itu. Karena banyak ayat yang merupakan jawaban Allah, atas pertanyaan Rasulullah yang berkaitan dengan kondisi umatnya pada waktu itu. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca: Asma Barlas. Cara Qur’an Membebaskan Perempuan)

Reog dan Kritik Patriarki Era Majapahit

Patut saya akui, orang jaman dahulu itu sungguh bernas. Dalam menyampaikan kritik saja, mereka tidak asal kritik begitu saja. Ora waton nylekop -orang Jawa bilang. Melainkan dengan cara-cara cerdas, nyeni, dan elegan. Sungguh berbeda dengan cara kritik kita sekarang. Beberapa tahun yang lalu, kita dipertontonkan ketika ada serombongan demonstran membawa seekor kerbau yang bertuliskan SBY -yang membuat presiden ke-6 itu sempat muntab meski tidak sampai lapor polisi, atau akhir-akhir ini marak pula kritik meme sesosok Jokowi berhidung panjang ala pinokio -yang membuat pendukungnya sampai lapor polisi, dah bahkan sampai membuat partai pendukungya ingin menghidupkan kembali pasal karet anti-kritik yang sudah dihapus oleh MK sebelumnya. Ya, cara-cara kritik semacam itu memang rendahan dan terkesan sarkasme.

Beda sekali dengan apa yang dilakukan WS Rendra pada tahun 1977. Beliau dalam menyampaikan kritik dengan cara-cara yang cukup cantik dan nyeni. Yaitu melalui panggung seni kaum cendikiawan ITB waktu itu. Melalu serat puisinya yang bertajuk Sebatang Lisong, yang beliau bacakan di depan mahasiswa-mahasiswa cerdas pemberani dalam perlawanan mereka tehadap kekuasaan orde baru yang mulai kelihatan busuknya. Kritik legendaris, ideologis, dan elegan.

Lebih jauh lagi, di abad ke-15 ada Ki Ageng Kutu, seorang penguasa wilayah Ponorogo. Yang pada waktu itu, Ponorogo juga masuk dalam wilayah kekuasan Majapahit. Ki Ageng Kutu tak hanya seorang pemimpin, tapi beliau juga mengerti tentang seni, baik seni pertunjukkan maupun seni bela diri. Tapi yang pasti, ia juga seorang bawahan yang pemberani. Berani menyampaikan kritik, meskipun itu kepada rajanya sendiri.

Suatu ketika, ketika pusat pemerintahan Majapahit mengalami kemerosotan ekonomi dan banyaknya praktik korupsi di bawah kepemimpinan Brawijaya V, Ki Ageng Kutu ini tidak mau tinggal diam. Apalagi melihat, rakyatnya sendiri (rakyat Ponorogo) yang serba kesusahan, sementara di saat yang sama Raja Brawijaya V justru ‘keenakan’ dengan istrinya yang cantik dari negeri Campa (Tiongkok). Waktu itu, dikisahkan bahwa Raja Jawa ini mulai kehilangan pamornya sebagai raja, karena mau tunduk dibawah perempuan (isterinya yang dari Campa itu).

Sehingga, sebagai bentuk perlawanan dan kritik Ki Ageng Kutu membuat sebuah karya seni yang elegan. Yaitu, berupa kepala harimau yang sedang diduduki oleh seekor merak cantik di atasnya. Kepala harimau diibaratkan sebagai raja, sedangkan seekor merak tersebut sebagai lambang dari isterinya. Sehingga seolah-olah mengisyaratkan, bahwa kekuasaan raja (harimau) sudah tidak pada semestinya karena sudah mau tunduk pada seekor merak (perempuan), alias mulai hilangnya budaya patriarki.

Yang kemudian, karya seni terkenal sebagai seni Barongan atau lebih populer dengan sebutan Reog Ponorogo. Kata reog sendiri, sebenarnya berasal dari bahasa arab –riyoqun yang dapat diartikan sebagai sebuah akhir yang baik (sepadan kata dengan khusnul khatimah). Di Ponorogo, setiap 1 Suro (1 Muharram) seringkali diadakan festival reog di alun-alun. Rame dan meriah. Festival budaya paling meriah yang pernah saya lihat sampai kini. Patut anda kunjungi.

Era sekarang, apa yang terjadi di era Majapahit itu juga kembali di bumi nusantara. Masih ingat? sebuah candaan ala Joyoboyo (karena katanya, hal tersebut benar-benar terjadi) di musim pilpres tahun, yang dikatakan  bahwa “Lebih baik memilih seorang duda tapi terhormat, daripada pria beristri tapi dikendalikan oleh seorang janda”.

Lantas pertanyaan saya adalah, apakah ‘pria beristeri’ yang dimaksud ini sedang mengejewantahkan sikap anti patriarki-nya atau justru sebuah praktik ketidakberdayaan laki-laki Jawa terhadap seorang janda?.

Lalu, akankah muncul sesosok Ki Ageng Kutu di kemudian hari?

Mari kita tunggu lakon sabda Ki Joyoboyo selanjutnya…

Selamat Tahun Baru!

reog4

Di tempat saya, Reog juga cukup populer. Yang satu ini, pertunjukkan reog di latar kecamatan dekat rumah. Niat nyenengin keponakan, malah keponakannya ketakutan setelah tau apa itu reog. Muter-muter gitu sih 😀

reog3

Ada kata-kata bijak “Hanetepi Dharmaning Eyang Sepuh, Ayo Podho Diguyubne”

reog2

Berhubung keponakan ketakutan, cuma penulis aja yang ‘diajak’ wefie bersama dayang-dayang. Lelaki yang paling depan itu, pemain reognya. Penulisnya? kau tau dimana, di hatimu 😀 #kumat #lemparsepatu

Advertisements

7 thoughts on “Seni Reog dan Budaya Patriarki

  1. Saya baru tahu pencipta reog itu Ki Ageng Kutu. Tapi bukan kutu buku, 🙂
    Qoute tentang lebih baik memilih duda terhormat itu kalo dibaca pihak “sana” pasti misuh-misuh ndese, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s