Akhirnya Mendaki (Lagi)

Sebuah kabar duka datang dari gunung Lawu, 5 orang pendaki dikabarkan tewas terpanggang akibat kebakaran hutan di gunung tersebut. Sungguh disayangkan, kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal, kejadian terbakarnya hutan gunung Lawu sudah terjadi sejak sebulan yang lalu, tetapi mengapa pengelola masih mengijinkan adanya pendakian sebelum kebakaran hutan teratasi. Lima anak manusia harus mati muda, dengan rasa sakit yang teramat sangat sebelum maut datang menjemput. Padahal, tujuan mereka sederhana, melihat indahnya negeri dari puncak Hargo Dumilah. Tapi ya mau gimana lagi, seperti kata pepatah; Untung tak dapat diraih, cinta malang tak dapat ditolak.  Semoga kalian khusnul khatimah. Aamiin.   

***

Tracking sungai yang kering
Tracking sungai yang kering

Bicara tentang mendaki, saya sendiri bukanlah tipe geek hikers, yang selalu berkemeja kotak-kotak, berjaket bertulis mapala, dengan slayer mengikat di kepala, backpack besar yang dibawa kemana-mana, dan dengan muka yang entah kapan terakhir kalinya dicuci. Saya tidak se-militan itu. Saya hanyalah pendaki amatiran, waktu SMP pernah mendaki gunung Brojo hanya berbekal air dan permen, mendaki gunung Merapi di saat puncak musim hujan, berjalan kaki dari Kali Kuning di Merapi ke pusat kota Jogja siang-siang, berjalan malam-malam dari Imogiri ke Parangtritis tanpa istirahat yang kemudian tepar dan baru sadar ternyata sepatu sudah jebol esok harinya, dan beberapa pendakian lainnya. Tetapi, setidaknya saya tahu tentang dasar-dasar survival, sejak ikut pramuka dan kepanduan (dulu).

Hasrat mendaki memang sudah kian membumbung tinggi, sejak melihat langsung betapa gagahnya Rinjani dari selat Alas (selat Lombok-Sumbawa) yang begitu menggoda -dua tahun lalu. Impian saya (kebanyakan mimpi), sebelum beristri harus bisa menaklukkan ketinggian sang dewi Rinjani, atau paling tidak Hargo Dumilah yang tak jauh dari rumah. Semoga.

Nah, kemarin akhirnya berkesempatan untuk mendaki gunung bukit lagi. Sebuah grup mapala di kampus saya mengadakan event hiking menyambut musim gugur. Acara hiking tak jauh-jauh dari kampus, hanya mendaki perbukitan di belakang kampus yang selama ini tampak begitu menggoda, apalagi selama ini samar-samar terdengar isu akan adanya air terjun di balik perbukitan itu. Tanpa babibu, akhirnya saya mengiyakan ajakan teman saya, -Nopal untuk ikut event dari anak-anak IYTE Doğa ve Dağıcılık Topluluğu (nama yang cukup ribet, untuk sebutan organisasi sejenis mapala). Oya, Nopal ini adalah adik tingkat saya di sini, aseli orang Bandung, manusia nyentrik nan otentik.

Pagi hari di hari-H, saya baru saja selesai shalat shubuh, hape saya berdering. Nopal ternyata,

“Mas, nanti jam 9.00 ya”

“Ok, aku juga mau siap-siap”

“Oya, Mas. Bawa apa aja untuk acara kaya gini?”

“Bawa aja air minum, cemilan, kalau ada jas hujan buat jaga-jaga”

“Ok, Sip”

Bukan Nopal, kalau tidak nyentrik. 30 menit sebelum kami berangkat ke meeting point dengan peserta lain, Nopal dengan gagahnya datang dengan memakai jas (suit), dengan backpack yang super penuh.

“Pakai tasku aja, barang-barangmu kamu masukin kedalam tasku. Entar kita gantian bawanya” saran saya, karena tas saya terlalu besar untuk mendaki ringan seperti ini. Dan, kira-kira apa yang di dalam tas Nopal? buku-buku dan laptop!. Jauh banget dari saran saya sebelumnya.

“Yakin, mau ndaki bawa laptop?”

“Ya, mas!”

“Yo wislah, sak karepmu” batin saya. Mungkin dia pikir, di ruang-ruang imajinya, bebatuan dan semak belukar di atas bukit itu akan memancarkan sinyal wifi, jadi sambil mendaki minum air bisa berwifi. Ah Nopal… nopal. Tak habis pikir, ada manusia senyentrik kamu, di dunia yang kejam ini.

Nopal manusia otentik, dengan jas coklatnya.
Nopal manusia otentik, dengan jas coklatnya.

Tepat jam 9.00 kami sudah tiba di meeting point, di sana sudah ada sekitar 30-an peserta. Yang dari Indonesia cuma saya dan Nopal, kemudian ada beberapa mahasiswa asing lain, dan selebihnya orang Turki (OT).

Setelah sedikit briefing, akhirnya hiking dimulai. Dari mas-mas pemandu, perjalanan akan menempuh sekitar 6 jam PP -selama waktu yang diperlukan untuk sekali mendaki gunung Merapi dari pintu Selo. Kami start dari belakang gedung fakultas mimarlik (arsitektur), kemudian tracking melewati sungai kecil yang mengering. Di kanan kiri, tampak semak belukar khas gunung dengan bebatuan yang menyembul di sela-selanya. Andai, pendakian bukit ini dilakukan saat winter atau spring, maka akan terlihat indah air mengalir dari sela-sela batu di sungai kecil itu. Tapi yah, ini awal autumn. Semak gunung itu tampak menguning dan gersang, meskipun banyak juga pepohonan perdu yang masih tampak menghijau.

Dag babasi (bapak gunung)
Dag babasi (bapak gunung)

Di titik awal pendakian, mas-mas pemandu membuat sebuah susunan batu. Dia menyebut susunan batu tersebut sebagai dağ babası -artinya bapak gunung. Fungsi sebagai titik temu atau petunjuk kalau ada yang tersesat, dengan harapan bisa balik kembali ke dağ babası sebagai titik awal pendakian. Ehh, klenik juga ternyata nih OT. Tapi, ada benernya juga sih. Sandi-sandi dari batu seperti ini, dulu juga pernah diajarkan waktu pramuka. Dan mungkin ya, kenapa para pendaki seringkali disebut anak gunung, mungkin gara-gara OT menciptakan dağ babası ini.

Kemudian perjalanan semakin menanjak, 30 menit kemudian ada tiga OT (dua cewek, satu laki-laki) yang menyerah dan kembali turun. Entah apa sebabnya, kemungkinan mereka tak kuat dengan medan yang berbatu ditambah lagi sengat mentari yang terasa panas menyengat.

Padang perdu berduri
Padang perdu berduri
Mendaki3
Mendaki beneran kan?
Foto dulu (istirahat pertama)
Foto dulu (istirahat pertama)

Sejam kemudian, pemandu yang di depan menghentikan rombongan. Memberi waktu peserta untuk istirahat, kan ndak lucu kalau di tengah perjalanan ada yang tiba-tiba pingsan. Sepuluh menit istirahat, perjalanan kami lanjutkan. Track terus menanjak, dengan jalan setapak berubah menjadi bebatuan labil dan semak belukar yang berdaun runcing. Untungnya saya pake celana panjang, jadi tidak begitu bermasalah jika harus menerobos semak belukar yang menutup jalan.

Dua jam kemudian, kami tiba di lokasi peristirahatan ke dua. Lokasinya sudah hampir puncak di bukit tersebut. Lokasinya sangat fotogenic. Dengan bebatuan besar yang eksotik, kemudian di kejauhan kompleks kampus yang samar-samar terlihat, dan tentu saja ada si Nopal yang maha otentik. Tingkahnya yang nyentrik, benar-benar menghidupkan suasana hari itu. Inilah salah satu dari berjuta kebaikan Tuhan, menciptakan manusia seperti dirinya. Dan tentu, kami tak lupa foto-foto. Karena, kami sangat menghayati rules seorang pendaki;

Take nothing but pictures. Leave nothing but footprints. And kill nothing but time.

Di ujung belakang itu, tersamar kompleks kampus Iztech.
Di ujung belakang itu, tersamar kompleks kampus Iztech.
Foreigner students (sebagian)
Foreigner students (sebagian)
Sisi lain puncak bukit, Laut Aegen
Sisi lain puncak bukit, Laut Aegean

Namun, itu tak berlangsung lama. 30 menit berjalan setelah istirahat kedua tadi, kami semua tergoda untuk melanggar aturan wajib seorang pendaki di atas. Deretan pohon dağcilek (mountain berry) atau buah beri gunung sangat menggoda, apalagi buat saya ini pertama kalinya memetik dan memakan buah gunung yang lezat ini. Untuk rasanya mirip dengan strawberry biasa, cuma ukurannya lebih kecil dan rasanya lebih manis ketimbang strawberry biasa yang kadang rasanya agak tawar. Di atas bukit ini terdampar banyak sekali pohon dağcilek.

Mendaki8

Dari hamparan pohon dağcilek, trek perjalanan berubah menurun. Setelah istirahat untuk ketiga, kami melanjutkan perjalan turun bukit. Ah, segini aja? katanya 6 jam, ini mah baru setengahnya -batin saya. Namun, belum selesai saya komplain dalam batin, ternyata trek berubah lagi. Menanjak kembali. Ternyata, kami kembali mendaki bukit yang kedua.

Bukit yang kedua ini, agak menantang. Jalan setapaknya benar-benar hampir tertutup, sepertinya memang jarang ada yang ke bukit ini. Sedangkan, panas matahari benar-benar menyengat. Karena, saat itu juga matahari benar-benar diatas ubun-ubun. Tanda, dhuhur akan segera tiba. Vegetasi di bukit kedua, tak jauh berbeda dengan yang pertama. Tumbuhan perdu berdaun runcing, pohon lavender liar, dan tentu saja pohon beri gunung juga ada. Yang cukup berat bagi saya adalah medan berbatu yang lebih labil dibandingkan bukit yang pertama. Apalagi, ditambah sepatu sneaker yang tidak cocok untuk mendaki. Maklum, sepatu gunung saya sudah saya pensiunkan beberapa bulan yang lalu, selepas mbolang ke timur sebelum summer break kemarin.

Mendaki4
Baju biru si-mas-mas pemandu

Mendaki9

Hingga akhirnya, tepat pukul 14.30 akhirnya kami sampai lagi di dağ babası. Itu artinya, tepat 6 jam perjalanan hiking sebanyak dua bukit. Cukup lumayan, untuk berkeringat, menggosongkan kulit, dan membuat ujung jari kaki senut-senut gara-gara salah sepatu.

Cara terbaik mengenal seseorang adalah dengan berpetualang bersama. Dan diantara banyak petualangan, mendaki gunung adalah sebaik-baiknya petualangan.

Adalah Filiz, manusia nyentrik kedua selain Nopal. Saya tahu gadis ini sebenarnya sudah cukup lama -terutama saat jam makan malam di kantin asrama. Ya, selama ini hanya sekedar tahu, tanpa pernah menyapa. Tahu namanya aja, ya baru setelah ikut acara hiking tersebut. Wajahnya putih, berambut burnette, sebuah piercing nyantol di hidung, dan tentu berwajah ayu -standard gadis OT lainnya. Kalau di asrama, nih anak memang cukup menonjol di antara gadis-gadis lain (asrama saya di kampus dicampur cewek-cowok, cuma blok-nya aja dipisah) karena dia sering tampil feminim yang serba pink. Apalagi, dulu sebelum summer, rambut coklatnya itu disemir pink. Jadi wajar, kalau cukup menyita perhatian. The pinky girl.

Mendaki11
Filiz, Cah Bagus, Mert

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol ngalur-ngidul, termasuk yang memberi tahu informasi buah beri tadi ya si Filiz ini. Di akhir perjalanan, sebelum kembali ke asrama.

“Bagaimana aku bisa dapat foto-fotonya tadi? ada fesbuk?” dia bertanya ‘modus’.

“Oh, maaf aku ngga punya fesbuk. Cuma ada twitter, tapi jarang update. Fotonya mungkin akan aku upload di dropbox, nanti aku kasih linknya” jawab saya.

“Kalo gitu, ini nomorku. Kabari kalau udah diupload ya”

“Yes! dapat nomornya, tanpa harus malu-malu meminta hohoho” batin saya, sambil menyeringai jahat. 😀

Sekian,

Mendaki12
Iklan layanan masyarakat

Advertisements

38 thoughts on “Akhirnya Mendaki (Lagi)

  1. Ada 3 yang aku suka :
    1. Mendaki rame-rame pasti seru banget ya, apalagi dengan orang-orang yang nyentrik, selalu seru 😀
    2. Terus Pemandangan disana ternyata sangat indaaaaaahhh *jadi makin kepingin kesana, kapan yaaaaa hiks*
    3. Ditunggu cerita lanjutannya tentang Filiz …….. ting ting *kedip mata* 😀

    • Pemandangan terbaik, kalau spring. Banyak bunga2 liar yang mekar. Adem banget liatnya.
      Kalau yang ketiga, tunggu kisah bahagianya ya Mba. Apaan sih nih ya, baru dapet nomornya merasa dapet ‘angin surga’ hahaha.
      Yang jelas kata Ibuk-ku sih dulu sebelum kesini “Jangan kawin sama orang Turki, Ibuk bakal susah ngobrolnya!” padat, jelas, dan tanpa ruang diskusi. 😀

  2. Cakep pemandangan dari atas bukit itu. Kampus Iztech berarti udah pinggiran kota ya.
    Asik juga ya mendaki rame-rame. Tanpa malu2 malah dapat nomor hp Filiz, hehe…

    • Iya Pak, beberapa kampus riset di Turki memang sengaja ‘dibuang’ di pinggir kota. Mungkin kotanya, tidak overload kali ya…
      Haha yang itu mungki rejeki anak soleh 😀 #dilemparsepatu

      • Saya suka itu: kampus dibangun di pinggir kota agak ke hutan dikit 🙂
        Di Malaysia banyak kampus dibangun di daerah pinggiran alias kampung. Saudara saya tinggal di KL anaknya masuk universitas deket perbatasan Thailand. Jadi semangat belajarnya gak terganggu, bisa fokus. Benar juga, kalo kampus di bangun di tengah kota malah banyakan main daripada belajar.

  3. saya penasaran sama manusia nyentrik yang ndaki gunung pake suit itu 😆 , doi survive gak tuh mas selama 6 jam pendakian, lap topnya bisa dipake buat update status dipuncak gunung itu ?

      • membaca cerita2 lucu tentang kenyentrikan seseorang itu bikin ketawa dan hati jadi ringan, karena they live life just the way they want it to be no matter what people will say or think about them. orang nyetrik = orang jujur menurut saya 😀

  4. Itu batu bertumpuknya tidak oleng dan jatuhkah Mas :hehe. Bagus sekali pemandangannya dari atas sana ya, kampus dan Laut Aegea tampak jauh sekali :)).

  5. Saya pernah baca, katanya strawberry itu bukan termasuk golongan berry, tapi pisang, tomat, terong, termasuk dalam golongan berry. 😀
    Cerita kenyentrikan Nopal yang lainnya ditunggu, Mas.

  6. Di Arjuno ditutup sudah lama gara2 rawan kebakaran Mas. Soal Lawu, mau bagaimana lagi…

    Seru ya naik rame2 gitu, di Turki pula! Saya ngakak lihat kostumnya Mas Nopal 😅

    • Harusnya gitu, kayak di G. Arjuno… selain menghindarkan memakan korban, juga hutan-nya ndak jadi korban dari api unggun yang tak padam.

      Awal tahun depan ada agenda ndaki ngga mas Rifqy? kalo ada saya dikabari ya… hehe

      • Kalau masih awal tahun saya menghindari mendaki Mas, belum musimnya hehehe. Mulai Maret April sudah cukup bersahabat lah cuaca. Tapi entah mau ke mana 😅

  7. Senangnyaa.. 🙂

    saya terakhir ke gunung pas nganter junior pala sma diklat sekitar (ngitung dulu) 5 tahun lalu. Hoho.. skrg lebih seneng ke pantai.
    Salam kenal..

  8. hmmm akhirnya aku mampir blog ini dan ternyata sangat menarik ceritanya. oh ya baru ngeh juga kalau latar belakang cerita ini adalah dinegara Turki yang notabene sedang digandrungi banget drama tv nya oleh masyarakat Indonesia heheh.

  9. hehehe …. mungkin pendak itu ada yang ekstrem kanan .. yang bener2 penampilan pendaki pol pol-an … dan ekstrem kiri … yang penampilannya kayak nopal itu …. yang ada di tengah2 .. pasti sulit di inget .. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s