Telepon Berbuah Dilema

produksi-telepon-koin-dan-telepon-rumah-yang-sirna-ditelan-waktu

Pernahkah kita merasa curiga, ketika ada teman yang sudah lama ngga kontak, terus dia tiba-tiba bertanya kabar. Entah itu, via telepon, sms, whatsapp, ataupun sekedar inbox di socmed? saya yakin semua pernah.

Mereka yang begitu, biasanya punya banyak motif. Mulai dari nawarin MLM, niat ngutang, bayar utang, hingga yang bikin pingsan adalah undangan walimahan, khususnya jika itu datang dari mantan inceran -bahasa populisnya gebetan. Okeh, aku akui, kali ini kau menang!.

Namun, ada juga yang benar-benar rindu, rindu serindu-rindunya ala Spoon. Yang bertanya kabar dengan maksud tulus. Tulus setulus-tulusnya ala Tulus. Meski pada ending-nya tetep diwarnai pertanyaan klise, semacam “kapan nyusul?”. Ah, kalian, memang tak pernah berubah. 😆

Sebenarnya wajar, jika ada kawan aktivis, teman se-jurusan, geng SMA, ataupun konco dolan melakukan hal demikian. Menjalin komunikasi itu penting. Karena, itu tanda mereka masih ingat akan adanya entitas yang mereka anggap penting. Entitas itu, tak lain adalah kita. Kawan lama mereka.

Sesadis apapun motif mereka, hal itu justru sebagai bukti bahwa kita adalah wujud kawan yang layak diingat. Yang tidak sekedar kenal, lalu dilupakan begitu saja. Sekejam apapun pertanyaan mereka, itu juga bagian dari alibi mereka untuk balas dendam rasa peduli mereka terhadap kita.

Jadi, dering telepon tak sepenuhnya mengandung kecurigaan, lagi kejam. Akan tetapi, ialah buah membuncah akan kerinduan dari seseorang yang entah kita sendiri angkuh melupakan. Dari yang kita sangka berujung dilema, menjadi sekeranjang buah marum delima.

***

Tetapi, bagaimana dengan mereka yang selama ini sering teleponan, tapi justru membawa side effect. Mereka itu, salah satunya adalah Bapak. Contohnya pagi itu, di saat azan shubuh belum berkumandang (di musim gugur seperti sekarang, waktu imsyak baru jam 6.00 pagi).

“Halo, salamualykum…”

“Waalaykumsalam…”

Pripun, Pak… wonten nopo?” jawab saya, setengah sadar.

“Haloo… kok ora jelas?

Njih, wonten nopo Pak?” sambil berusaha meninggikan volume suara.

Anu, ora ono opo-opo. Cuma, mau ngabari kalau si-A jadi lamaran minggu depan.”

“Ohh, alhamdulillah nek ngoten. Terus wonten kabar nopo maleh?“.

Yo, gur rep ngabari kui….

Ya, sejak berakhirnya Ramadhan percakapan sejenis itu makin meningkat intensitasnya. Bak laron di awal musim hujan. Pagi buta, hanya untuk mengabari hal yang bikin doa sujud kian panjang. Keponakan-keponakan Bapak alias sepupu-sepupu saya, banyak jumlahnya. Kalau lagi kumpul keluarga besar misalnya, mungkin bisa dibuat turnamen bola, yang tanpa bingung mencari lawan.

Dan, sejak itu, mereka (para sepupu) tengah dalam perlombaan. Maraton kawinan. Dan, ya, saya hanya sekedar jadi penonton dari kejauhan. Bersorak semangat, serta lirih hanyut doa pengharapan. Agar, penyatuan cinta mereka kekal selamanya. Tawakal.

Kata orang bijak, sebuah perlombaan tak akan meriah tanpa sorak penonton. Dan sebuah walimahan tak akan meriah jika tak ramai oleh tawa tamu undangan. Maka, buat apa bersedih. Justru, berbahagialah kalian jika selama ini masih setia jadi pemeriah pesta pernikahan. Itulah, yang namanya militan.

Hikmah lain. Dengan mengetahui kabar semacam itu, setidak-tidaknya membuat saya terlatih menjawab pertanyaan pertanyaan-yang-seharusnya-tidak-untuk-ditanyakan.

A question that sometimes drives me hazy: Am I or the others crazy? ~Mbah Einstein

Dan, semoga di lain waktu, dari Bapak datang percakapan seperti ini,

“Anu… cuma mau ngabari. Kalau si-Fulanah, dokter koas di rumah sakitnya Pak Rosyid, kemarin nanyain kabar”.

Kemudian, doa sujud pun makin bertambah panjang.

~Selamat Bersabtu Malam~

Note: Kalau mau komen, komennya nyantai aja ya, nasib kita sama haha. Merdeka!!

Sumber gambar dari sini

Advertisements

20 thoughts on “Telepon Berbuah Dilema

  1. Pernahkah kita merasa curiga, ketika ada teman yang sudah lama kontak ~> mungkin maksudnya sudah lama nggak kontak kali ya?

    Owh! Ternyata maunya sama bu dokter to… Good luck ya!

  2. Hee.. kirain tadi mau bahas telepon yang berdering dijam kurang pas (pagi buta kaya jam 6 di sini atau tengah malam) biasanya bikin jantungan. Efek merantau kan biasanya tingkat khawatir sama kondisi rumah dalam status siaga :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s