Mahasiswa, Jokowi, dan Misi Diplomasi

Mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang kuliah di luar negeri, (tanpa diminta) mereka sepakat dan sadar bahwa, tugas mereka tidak sekedar belajar terus pulang membawa gelar. Bukan. Diplomasi budaya bangsa sendiri, juga termasuk dalam misi mereka jauh-jauh merantau ke luar negeri. Makanya, tak heran kalau kawan-kawan mahasiswa di luar negeri biasanya excited banget kalau ada event Indonesia Day atau promosi budaya lainnya.

Dalam mengemban misi diplomasi budaya ini *bahasanya*, hal sederhanya yang biasa saya lakukan adalah berusaha untuk selalu berkata yang baik-baik tentang Indonesia atau seenggak-enggaknya tidak bersikap mempermalukan bangsa sendiri dengan perbuatan ‘bodoh’ meskipun hal tersebut hanya sepele. Contohnya; tidak buang sampah sembarangan atau tidak nyebrang jalan di saat traffic light masih merah. Jadi jangan heran, kalau jaket atau tas saya penuh dengan bungkus permen, hal ini karena kebiasaan saya, untuk mengantongi sampah tiap kali saya tidak menemukan kotak sampah. Intinya, berbuat hal-hal bodoh itu bukan ciri Indonesia banget.

Kalau boleh jujur, saya itu bukan tipe orang yang suka ‘nyinyir’ dalam berbagai hal, termasuk hal ini nyinyir tentang kondisi bangsa sendiri. Bukannya berhenti kritis, bukan. Melainkan, saya hanya ingin mengatakan pada diri sendiri bahwa “everything is gonna be ok…all is well”. Meskipun, fakta dilapangan, justru yang terjadi sebaliknya.

Makanya, setiap ada temen asing yang bertanya “tell me about your country”, pasti saya selalu mengawalinya dengan “my country is a paradise…”. Lalu, jika diskusi tersebut berlanjut dan mereka semakin tertarik, maka apa yang saya omongkan ya hanya yang baik-baik saja.

Ditanya tentang Mr. Jokowi-pun, saya masih menjawabnya dengan jawaban-jawaban netral, sambil berusaha menyembunyikan berbagai fakta ‘buruk’ dari pemimpin 250 juta anak manusia ini. Bagi saya, buat apa ngumbar aib presiden sendiri. Lha ndak perlu saya repot-repot, Mr. President dan bawahannya justru mengumbarnya sendiri. Salah-satunya ya isu hot kali ini, “Waiting in The White House Lobby” isu yang sudah meng-internasional. Yang membuat posisi bangsa kita tidak lagi egaliter di hadapan Amerika, karena untuk kunjungan resmi pemimpin negara aja harus butuh makelar. Mental inlander, jauh berbeda dengan puluhan tahun yang lalu. Ketika pemimpin bangsa ini, gagah berkata “go to hell with your aid! (America)” Duh!.

Dan apa yang dilakukan kami (mahasiswa di luar negeri) dan Mr. President, sebenarnya sama. Sama-sama mengemban misi diplomasi. Sama-sama membawa nama baik bangsa. Hanya saja, tugas kami ini sifatnya sukarela dan efeknya tidak begitu signifikan. Sedangkan, Mr. President memang dibayar rakyat menjalankan tugas itu dan efeknya tidak main-main. Jadi, bersikap tidak ‘malu-maluin’ adalah kunci dari suksesnya sebuah diplomasi.

***

Beberapa hari yang lalu, saat di dalam Eshot (bus umum). Ada seorang teman, lebih tepatnya dia ini temannya teman saya. Dia ini berasal dari salah satu negara yang berakhiran -stan. Sebut saja namanya Khan. Kami kuliah di kampus yang sama, tapi berbeda jurusan.

Selama di dalam bus, ia mengajak saya berdiskusi banyak hal tentang Indonesia. Rupanya, mahasiswa civil engineering ini cukup kepo tentang Indonesia. Dari ekonomi hingga politik ia cukup tahu. Kemudian, ia memancing saya dengan pertanyaan seperti ini.

“Jika dibandingkan dengan Turki, seperti apa Indonesia?”

“Baik. Indonesia dan Turki, dalam berbagai hal memiliki kemiripan. Pertama, negara mayoritas muslim yang manganut demokrasi. Kemudian, kedua negara ini sama-sama anggota G-20, yang artinya GDP-nya masuk dalam 20 besar dunia. Indonesia nomor 16, sedangkan Turki 18”. Pada penyebutan nomor tadi, sengaja saya gunakan intonasi penekanan. Mengisyaratkan, bahwa berdasarkan GDP Indonesia lebih unggul (sombong). Meskipun, kalau dihitung perkapita sebenarnya tak lebih dari sepertiganya Turki (dan lagi, fakta ini tidak saya sampaikan pada Khan). Kemudian, ‘kesombongan’ saya masih berlanjut (gegara kepancing tadi).

“Secara situasi politik, Indonesia jauh lebih baik. Turki hanya memiliki dua suku bangsa (yang besar). Hanya ada bangsa Turki, dan bangsa Kurdi. Tetapi, situasinya konflik ras-nya sangat terasa sekali. Sampai-sampai ada PKK (gerakan separatis kaum Kurdi). Sedangkan, di Indonesia dengan 700 suku bangsa berbeda, tidak menghadapi persoalan yang sama. We are in a peaceful life and united”. Lagi-lagi, saya terjebak dalam kesombongan. Sekaligus menipu diri sendiri, karena faktanya ada GAM di Aceh, RMS di Maluku, dan OPM di Papua.

“Lalu, bagaimana dengan Papua?” tanya Khan, kritis.

Sialan, ternyata nih anak tidak main-main dalam per-kepo-an tentang Indonesia. Sampai-sampai ia tahu tentang persoalan Papua.

“Segalanya dalam kendali. Lagi pula, mereka (OPM) hanyalah gerakan separatis kecil dengan minim senjata, tidak seperti PKK di Turki” jawab saya, remeh.

“Tetapi, bagaimana dengan Australia, Inggris, dan beberapa negara barat lain yang justru mendukung gerakan OPM?”.

“Ya, itu yang sebenarnya yang kami takutkan. Tetapi, apapun yang terjadi Papua tak akan lepas dari Indonesia. Aku yakin itu.”

Dan apa kira-kira pernyataan pamungkas dari kawan saya ini?

“But, even an ant can hurt an elephant”.

Tertampar saya. Meremehkan OPM seperti halnya, membiarkan semut pelan-pelan merobohkan seekor gajah. Jika tak hati-hati, dan pemerintah tidak serius menangani, maka lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” nantinya hanya akan menjadi kenangan.

Dan harap cemas saya, semoga si-Khan tidak update tentang insiden skandal White House tadi atau insiden I dont read what I sign beberapa tempo yang lalu, kalau sampai terjadi mungkin lebih baik saya menjauh dan tak mau diajak diskusi. Khawatir, my country is a paradise andalan saya itu, menguap begitu saja.

Duh, Mr. President.

~By the way, tulisan ini masuk dalam katagori ‘Hate Speech’ ngga ya? *eh

_DSC8106

Tim angklung PPI Izmir di sebuah pertunjukkan

Advertisements

27 thoughts on “Mahasiswa, Jokowi, dan Misi Diplomasi

  1. Kamu nasionalis banget mas ._. aku jujur mas, kurang tau begituan sih ya -_- tapi kalau lagi kuliah, beberapa dosen emang banyak yang mengeluhkan kinerja mr president kita ini ._. yah, terus bangga-banggain indo aja mas selama kamu di LN sana :’

  2. Hehe mungkin untuk kita yang tidak tinggal di Jayapura,OPM masih kita anggap gerakannya tidak terlalu radikal mas. Tetapi untuk warga Papua terutama warga pendatang disana, gerakan OPM cukup meresahkan. Mereka kadang bergerak tiba-tiba. Dulu sekitar tahun 2011an pernah terjadi peristiwa OPM memberhentikan kendaraan di suatu jalan di perbatasan Jayapura, dan semua penumpang dari kendaraan tersebut dibunuh satu persatu. Tapi pemberitaannya masih kurang, dan sampai skrg entah aparat dari pemerintah takut trhdp mereka atau bagaimana. So, yah. Begitulah negara kita.

    • Mba pernah tinggal di papua ya? Iya, yang ngeri itu pimpinan OPM justru berkeliaran di luar negeri, bahkan mendapat perlindungan dari pemerintah setempat. Dan isu Papua merdeka ternyata sangat kuat…

      • Gak mas, dulu saya pernah kesana. Bapak saya yang pernah tinggal disana dari SMA sampai selesai S1 di UNCEN. sampai sesudahnya pindah untuk master dan kerja kemana-mana. setelah itu 2009-2012 pernah tinggal dan kerja disana. Bapak saya yg bolak balik. Saya sih di jawa saja. disini lebih tenteram. yang penting tidak ada organisasi yang radikal 🙂

      • Jawa ga sesak, cuma terlalu banyak orang yang cinta sama Jawa aja.. Traveling aja mas ke Papua setelah pulang ke Indonesia, banyak yang indah-indah disana.Jangan lupa kalau kesana setidaknya punya guide orang asli Papua, supaya dimana-mana nggak dipalak karena ketauan pendatang. hehe

  3. Bener juga ya… Mahasiswa indo di luar mesti siap dengan pertanyaan2 dari teman2nya tentang Indo. Bukan lagi bawa2 kota tapi negara. Etapi, aku setuju sama yang gak perlu umbar keburukan hehehe enakan share yang baik2 nya aja walau memang pasti ada buruknya 😀

    • Itu belum selesai. Sudah ke-send.

      Lanjutan:
      Berdasarkan tulisan ini, saranku, Sampean gak usah pulang aja.
      Nih, camkan nasihat orang tua 🙂

    • Tapi apa Mba? separatisme dimana2 pasti berawal dari ketidakadilan2, yang kemudian kesamaan nasib ini, ditambah lagi kesamaan suku (beberapa justru kesamaan agama, contoh: sudan) menjadi modal mereka unt melawan. Dan yang terjadi di banyak tempat seperti itu. Trus si-Said ini siapa? enak aja ngelarang2 😀

      • Bisa saja seperti yang dijelaskan di atas. Tapi kalau OPM, RMS, dan GAM karena mereka sejatinya ‘dibentuk’. Paham posisi geografisnya kan? Kakak q, pernah bertugas dalam rangka ‘mengamankan’ 2 dari gerakan separatis dimaksud.

      • Bener, salah satu teori separatism begitu. Tapi lihat aja sejarah GAM, berawal dari gerakan Daud Beurereh yang merasa ‘dikhianati’ Jakarta… belum lagi ketidakadilan pembangunan antara Jawa dan papua… Intinya, jangan anggap remeh. Kl ngga bisa2 mrotholi satu-persatu 🙂

      • Ah belum selesai lagi.
        Ulangi:

        Nggak juga. Kerangka berpikir saya (berusaha untuk) : holistik, komprehensif, dan terintegrasi. Wkwkwkwk.
        Kadang sampai kalau ada yang melukai hati saya pun, sy malah berfikir kalau justru saya tanpa menyadari telah melukai orang lain seperti dia melukai hati saya. *eh *nggak nyambung ini 😛 *curcol tersembunyi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s