Madukismo

Jadi, ceritanya hari ini saya masih dalam masa recovery, pasca terserang flu sejak kemarin lusa. Sakit flu yang akhirnya datang setelah dua tahun ke belakang tidak pernah mampir (berkat rutin konsumsi teh hijau dan buah zaitun). Yang artinya, Tuhan masih cinta. Mengingatkan hambanya, dengan cara terbaiknya.

Dugaan saya, penyebab flu ini setengah karena perubahan musim dan setengahnya lagi karena salah roomate saya, sebut saja namanya Hamid. Cerita tentang teman saya itu pernah saya sebut dalam tulisan: Dia Memang Syiah, Lalu Apa?. Singkat cerita, selepas Isya’, di saat suhu udara mulai mendingin, dengan berbagai bujuk rayunya Hamid, dia akhirnya berhasil menggoyahkan iman hati saya untuk mengikuti ajakannya, yakni main futsal. Dan seperti pepatah bilang, ‘apa yang kau tanam kelak itu pulalah yang akan kau tuai’. Dan hasilnya bisa ditebak, selain 4 goal yang berhasil saya cetak, kaki pegel-linu, tubuh saya pun ikut-ikutan flu pagi harinya. Kalau ibarat nasi goreng, ini layaknya nasi goreng komplit plus seafood. Super kompelit.

Dan, berhubung sedari pagi cuma melamun di kamar. Tadi, saya iseng buka file-file foto lama. Salah satu yang menarik adalah folder yang bertajuk sama dengan judul tulisan ini, Madukismo.

Jika sampeyan adalah orang Jogja, tentu tak akan asing dengan nama tersebut. Ya, Madukismo adalah tidak lain semacam pabrik gula yang teramat legendaris. Pabrik gula yang dibangun di awal-awal kemerdekaan ini, hingga kini masih terus mengolah ribuan batangan tebu menjadi gula pasir dan beberapa produk sampingan lainnya.

Saya kesini waktu itu, tak lain karena tugas kunjungan industri dari mata kuliah perpindahan panas semasa nguli di Jogja dulu. Mata kuliah yang saya ambil sebanyak dua kali. Niat awal untuk upgrade nilai, nyatanya hanya sekedar mengulang sejarah, from see to see. Dari sini saya belajar, bahwa sejarah bisa di tulis ulang.

Dan inilah penampakan dari pabrik gula Madukismo, berikut kisah bermula batangan tebu berubah menjadi butiran pasir dengan rasa manis yang khas. Sebuah pabrik yang menjadi bukti eksistensi kaum petani tebu, di tengah himpitan gula impor di negeri yang konon katanya pernah menjadi eksportir gula terbesar dunia.

Foto diambil tahun 20**, kalau kalian penasaran liat saja metadata fotonya.

Tampak depan pabrik Madukismo, dengan rerumputannya yang menghijau.
Tampak depan pabrik Madukismo, dengan rerumputannya yang menghijau.
Tebu-tebu yang diangkut troli tua yang terhubung langsung ke kebun tebu.
Tebu-tebu yang diangkut troli tua yang terhubung langsung ke kebun tebu
Tebu dari troli kemudian masuk ke mesin cacah untuk diperas cairan tebunya.
Tebu dari troli kemudian masuk ke mesin cacah untuk diperas menjadi cairan tebu.
Penampakan mesin pencacah
Penampakan mesin pencacah
Hasil perasan cacahan tebu, sering dibilang tetes tebu (juga sebagai bahan dasar pembuatan minuman alkohol ciu)
Hasil perasan cacahan tebu atau sering dibilang sebagai tetes tebu (ini juga sebagai bahan dasar pembuatan minuman alkohol ciu)
Teknisi sedang memperbaiki compressor di mesin evaporator.
Teknisi sedang memperbaiki compressor di mesin evaporator.
Cairan tebu ini kemudian dimasak di mesin evaporator agar cairan tadi berubah kristal (bewarna coklat)
Cairan tebu ini kemudian dimasak di mesin evaporator agar cairan tadi berubah kristal (bewarna coklat)
Kristal gula yang bewarna coklat sebenarnya sudah layak jual (tapi harga jualnya rendah), untuk itu diperlukan pemurnian agar hasilnya putih dan ukurannya lebih lembut, melalui alat pemurnian.
Kristal gula yang bewarna coklat tadi sebenarnya sudah layak jual (tapi harga jualnya rendah), untuk itu diperlukan pemurnian agar hasilnya putih dan ukurannya lebih lembut, melalui alat pemurnian.
Keluar dari mesin pemurnian, gula kemudian melewati tahap packaging yang kemudian disimpan dalam gudang.
Keluar dari mesin pemurnian, gula kemudian melewati tahap packaging yang kemudian disimpan dalam gudang.
Gudang penyimpanan di Madukismo
Gudang penyimpanan di Madukismo

Tips: Resep dari Ibuk saya, jika sedang memasak (apapun jenis masakannya) gula bisa menjadi bahan pengganti penyedap rasa (MSG). Selain membuat sedap masakan, tentu akan lebih aman buat kesehatan. Udah itu saja.

Advertisements

12 thoughts on “Madukismo

  1. campuran garam dan gula memang formula ampuh pengganti msg buat Ibu2 di Jawa, tapi kalo Ibu2 di Lampung pake formula ini sepertinya bakal wassalam..makanannya gak ada yg makan,,hehehe

    dan, setelah sekian lama di Yogya saya baru tahu kalo ternyata di Yogya ada pabrik gula. Kirain madukismo itu nama makanan…(abaikan). Di daerah Bantul itu ya. Masuknya bayar kah??

  2. Ini pabrik awet ya, udah ratusan tahun (mungkin) masihberjalan seperti biasa.
    Mas, kalo bikin teh manis tambahin garam dikit pasti manisnya legit, kalo bisa garam dapur butiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s