Alternatif Bersedekah | Pelajaran Hidup No. 11

Tadi pagi, saya jalan-jalan santai keliling kampus. Suasananya santai dan hangat, tapi sepi. Bukan karena hati saya yang selalu sepi sebab masih ‘betah sendiri’, BUKAN!. Tapi, karena hari ini adalah paduan antara weekend plus pagi hari. Di mana, kebanyakan orang Turki masih menghayati lelapnya bersama mimpi. Padahal, cuaca pagi tadi layaknya dua insan yang berbeda, namun ditakdirkan Tuhan untuk saling berjodoh. Begitu harmoni. Paduan antara semilir angin yang dingin dengan sengat mentari yang terik, hingga jatuhnya terasa sangat hangat dan nyaman untuk jalan-jalan pagi.

Kampus saat cuaca hangat
Kampus saat cuaca hangat

Di tengah perjalanan menikmati keharmonian pagi itu, dari kejauhan saya melihat sesosok wanita berhijab. Seperti halnya saya, ia pun hanya berjalan tidak tampak seperti orang berlari. Namun, sesekali ia berhenti, lalu menunduk sebentar, kemudian berjalan lagi. Terus seperti itu, hingga kami berpapasan.

Ternyata, sesosok wanita itu adalah seorang teyze (ibu-ibu setengah tua) yang pagi itu juga sedang olah-raga pagi. Namun, bedanya dengan saya, teyze tersebut sambil berjalan juga membawa sekantong plastik besar di tangannya dan matanya cermat melihat-melihat jalan sekitar. Sepanjang perjalanannya, ia memunguti sampah-sampah yang terjatuh atau tertinggal oleh mesin-mesin penyedot sampah. Duh! tertampar. Karena di saat yang sama, saya begitu egois, hanya sekedar menikmati suasana pagi untuk diri sendiri. Sedangkan, wanita tersebut justru sudah berbagi kebahagiaan dalam tiap langkahnya.

Ya, memungut sampah adalah salah satu cara berbagi, kepada siapa? siapalagi kalau bukan kepada alam. Sampah itu, bagi alam layaknya kanker bagi tubuh manusia. Awalnya kecil, tapi kalau tidak segera dilakukan tindakan akan sangat berbahaya bagi tubuh. Ketika alam sehat, tentu kita (manusia) juga akan mengambil manfaat. Jadi, pada dasarnya teyze tersebut sesungguhnya sedang berbagi (sedekah) kepada saya, kepada orang-orang sekitarnya, dan kepada masa depan.

IMG_20140325_080742
Alam yang lestari

Jika kita pernah mendengar kiasan “belajar berdagang, belajarlah ke orang Cina”, maka akan ada pula kiasan “belajar sedekah, belajarlah ke orang Turki”. Orang Turki, sudah sejak dulu ahli dalam sedekah, bahasa sininya sadaka atau hizmet (melayani). Salah seorang teman saya yang sekarang sedang studi master tentang Ottoman History di Istanbul University, pernah bercerita. Pada tahun 1511 tentara Portugis menguasai semenanjung Malaka (sekarang Malaysia). Kehadiran tentara Portugis ini, mengganggu lalu lintas perdagangan di selat Malaka yang ramai, sekaligus mengancam keberadaan kerajaan Aceh pada waktu itu. Karena, selain menguasai Malaka, Portugis tampak ingin menguasai Sumatera melalui semenanjung Aceh. Kemudian Sultan Aceh pun mengambil tindakan-tindakan strategis, diantaranya adalah meminta bantuan ke Khalifahan Turki Ustmani. Tak lama, Sultan Turki pun mengirim bantuan berupa pasukan, persenjataan, emas, dan yang paling penting adalah ahli meriam. Dengan bantuan Turki ini, boleh jadi membuat Kerajaan Aceh adalah kerajaan pertama di Nusantara yang mampu membuat meriam sendiri. Dan hingga kemudian, Aceh adalah satu-satunya kerajaan yang tak pernah tunduk kepada penjajah hingga daerah ini menyatakan diri melebur ke dalam NKRI.

Dan kerennya, menurut literatur yang teman saya baca, sejarah tentang pengiriman bala bantuan Turki ke Aceh, baru diketahui satu abad kemudian. Itu artinya, selepas memberi bantuan yang tak bernilai tersebut, Kesultanan Turki melupakan jasa tersebut begitu saja dan baru sadar ‘pernah membantu’ seratus tahun kemudian. Sangat kontradiktif, dengan tetangga kita sebelah. Melalui PM-nya yang ‘abot’ itu, mereka mengungkit-ungkit pemberiannya pasca tsunami Aceh. Abot tenan.

Kebiasaan bersedekah ini, hingga kini terus mewaris ke generasi Turki sekarang. Jadi, jangan heran ketika melihat berita tentang betapa pedulinya Turki atas nasib Rohingnya, kelaparan di Afrika, hingga bencana kemanusian di Suriah yang menempatkan Turki sebagai negara dengan jumlah pengungsi terbesar (mencapai 2 juta pengungsi).

Secara kultural, warga Turki juga nampak terbiasa bersedekah. Selain bersedekah dengan harta ataupun contoh yang saya ceritakan di awal tulisan, alternatif lain cara warga sini bersedekah adalah dengan membagi-bagikan lokum (sejenis manisan) selepas shalat Jum’at atau ketika orang meninggal, membagi-bagi bunga saat merasa bahagia, hingga memberikan makan atau minum bagi anjing atau kucing liar. Bahkan, di Istanbul ada mesin khusus untuk penukaran sebotol plastik air mineral dengan satu porsi makanan untuk anjing dan kucing.

Mandatory Credit: Photo by Yucesan Industries JSC/REX (4077989k) Turkish Company Creates Vending Machine That Feeds Stray Dogs In Exchange For Recycled Bottles Turkish industrial company YCN Yucesan group, has created an innovative vending machine that simultaneously feeds stray animals whilst allowing us humans to deposit bottles for recycling. Every time a bottle is recycled some food will be dispensed ready for Istanbul's stray dogs to eat. The vending machine, called Pugedon works because the profit from the recycled bottles covers the cost of the dog food that the machine dispenses. Istanbul has a high number of stray dogs, many of whom can go days without food. The company explains that it is a commercial project and movement hoping to raise public awareness for stray animals and wildlife in general. The company says:

Jadi, jangan berhenti bersedekah. Karena sedekah itu banyak jalannya.

Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah, akan diberikan pahala walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu. (HR. Bukhari)

Itu bila sesuap, bagaimana seandainya isteri (-isteri) Anda hobi makan, pasti akan bersuap-suap berkah yang akan Anda terima. 🙂

It’s just a reminder for myself.

Source: Feeding Machine

Advertisements

30 thoughts on “Alternatif Bersedekah | Pelajaran Hidup No. 11

  1. Dimana, kebanyakan orang Turki masih menghayati lelapnya bersama mimpi. ~> di mana

    dan nyaman unuk jalan-jalan pagi

    Karena di saat yang sama, saya begitu egois, haya sekedar menikmati

    “belajar sedekah, belajarlak ke orang Turki”

    Kehadiran tentara Portugis ini, menggangu

    —–

    Setuju dengan isi tulisan ini. Sedekah pun ada ilmunya. Gak sebatas ‘yg penting niat baik niat sedekah’ padahal justru mudhorotnya lebih besar. Ex: memberi recehan pada pengemis anak-anak atau orang muda yg sehat wal afiat.

    Betewe foto bunganya bagus. Jadi pengen difoto. *lha?

  2. Turki keren banget ya :3 sedekah seolah menjadi budaya begitu :’ yah, Alhamdulillah. kita bisa belajar dari sini mungkin ya. ya, diawali dengan mungutin sampah dulu kali ya?

    dan itu booth yang buat nuker botol plastik sama makanan hewan, epic banget :))

  3. Wah, sedekah dan memberi tak harus besar, dari hal yang sederhana seperti memberi makan hewan dan memungut sampah juga bisa. Pelajaran lainnya juga, kalau sudah memberi jangan diungkit-ungkit! Kasihan. Kok ya rasanya kasihan dengan orang yang sudah memberi tapi selalu dibahas. Kayaknya miskin banget.

  4. nice share (^^)b
    posting lagi tentang budaya Turki yang lain Mas..ehehe

    btw, dulu kenapa milih Turki buat masternya Mas??

    Saya ijin ngoprek folder jalan-jalannya ya :mrgreen:

    • Selain qodratullah, ada beberapa hal yg melatarbelakangi sih Mba, mungkin lain kali aku bikin tulisan deh tentang itu 😀
      Monggo dioprek, tapi tulisan jalan2 di Turki belom banyak yang aku tulis… seringnya malah nulis ttg pengalaman jalan2 di Indo dulu hehe

  5. Bersedekah tak harus barang atau uang, keren. Hal kecil tapi tapi berarti.
    Perhatian pemerintah/masyarakat untuk kucing dan anjing liar itu mengagumkan.
    Kampusnya keren mas.

  6. Wah Abbot pancen abot tenan. Hahaha saya jadi inget lagi. 😆 😆

    Masyaallah, saya baru tahu kisah bantuan Turki ini. :O :O 🙂

    Dan woooow… itu keren banget, ada mesin penukar botol plastik untuk makanan kucing dan anjing. Itu menurut saya ajib bangeeeeet 😀 😀 Wow. Emejing. Ini yang harus kita tiru di Indonesia. Bahwa sedekah itu ada banyak bentuknya, ga harus memberi uang. IYa, betul memang uang adalah salah satu media bersedekah. Tapi, ada banyak lagi bentuknya. Dan biarkan Allah yang menilai sedekah kita. Nggak usah kita men-judge apa yang orang lain lakukan. 🙂

    Makasih ya Mas, udah mengingatkan. 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s