Curiosity

Persamaan antara anak kecil dengan seorang reseacher adalah terletak pada kadar curiosity. Bagaimana seorang anak kecil yang dulunya bisa dikatakan hampir tidak berdaya, kemudian berkembang menjadi anak yang lincah dan serba bisa. Tak lain karena rasa ingin tahu, rasa ingin bisa, dan rasa penasaran pada seorang anak tersebut.

Andai, penyakit mudah menyerah, inlander, dan perasaan gagal sudah menghantui pikiran para balita. Maka, kita akan menyaksikan banyak manusia yang tidak tau bagaimana berjalan (padahal fisik normal), tidak bisa mandiri, dan serba tergantung kepada pengasuh.

Jadi jelas. Curiosity adalah penyelamat terbesar dari tumbuh kembang seorang anak. Yang mengubah ketidak berdayaan menjadi kemandirian.

Bekal utama seorang peneliti ataupun pembelajar lainnya adalah terletak pada kadar curiosity. Dari rasa ketertarikan kepada sebuah fenomena, hingga ia menemukan fenomena baru yang (mungkin) tiada habisnya.

Saya teringat pada quotes di lembar awal skripsi kakak sulung saya, Mas Sus. Beliau menuliskan begini:

“Seorang ilmuwan adalah ia yang tak pernah puas dengan suatu fenomena, ia akan terus mencari hingga fenomena merenggut jiwanya”

Kurang lebih begitu, saya membacanya sudah cukup lama. Sewaktu saya masih kelas 2 SMP.

Namun, ada perbedaan mendasar antara curiosity pada anak-anak dengan seorang pembelajar. Jika anak-anak umumnya ingin tahu dalam segala hal atau ingin mencoba segala sesuatu, maka seorang pembelajar biasanya lebih fokus pada fenomena-fenomena yang menarik minatnya.  Mereka intens ke satu fenomena, sebelum beralih ke fenomena yang lain.

Makanya, ada fenomena. Semakin tinggi derajat ilmu seseorang, membuat ia semakin sedikit mengetahui segala sesuatu, namun ia semakin detail mengetahui sesuatu di bidangnya. Dan itulah disebut sebagai kepakaran atau keahlian.

Seorang Ibrahim sekalipun, hingga ia bertuhan juga karena hal ini. Rasa penasarannya akan Tuhan, hingga mengubah kehanifannya menjadi pewaris kenabiaan, dan mewarisi banyak nabi-nabi setelahnya.

Tapi, curiosity tidak sepenuhnya membawa kebaikan. Bagi yang mempunyai kadar berlebih, kadang tersiksa olehnya. Termasuk saya.

Selain bidang energi yang saya kepo-in. Saya, juga menaruh minat pada bidang-bidang tertentu yang saya anggap menarik. Salah satunya manga. Saya mengenal manga semenjak SMA, sejak itu hingga sekarang saya masih mengikuti salah satu manga yang tiada habisnya, yaitu One Piece. Rasa penasaran yang dihadirkan oleh Eichiro Oda benar-benar menyiksa tiap minggunya.

Saya juga suka dengan film series semacam GOT atau TWD, sebelum ada dua itu saya juga nonton Prison Breaks. Dan ini benar-benar menyiksa.

Membaca buku, juga menjadi minat saya. Saya pernah membaca tetraloginya Andrea Hirata hanya kurang dalam satu minggu, saya lahap keempat buku tersebut. Khusus yang Maryamah Karpov, tidak sampai habis. Karena saya merasa, kurang menggigit jika dibanding tiga buku sebelumnya.

Saya juga minat travelling. Jika sudah pergi ke suatu daerah, maka saya penasaran ingin mengunjungi tempat-tempat menarik di daerah tersebut. Seandainya saya lupa bahwa travelling itu berbanding lurus dengan isi dompet, boleh jadi saya juga lupa kapan waktunya pulang.

Curiosity itu menyiksa.

Dan akhir-akhir ini saya juga penasaran dengan video kucing-kucing yang takut dengan buah mentimun. Oya, selain fenomena yang di atas saya juga minat dengan dunia per-kucing-an. Karena penasaran dengan video tersebut, akhir pekan lalu, saya mencoba membuat eksperimen gagal. Dan yang menjadi kelinci percobaanya adalah si-Ucuncu. Berikut videonya, Percobaan yang gagal :mrgreen:

 

Advertisements

18 thoughts on “Curiosity

  1. bener juga sih mas. kadang curiosity itu menyiksa. rasa ingin tau itu kadang bikin kita kepikiran terus dan terus. akhirnya nggak fokus juga. duh gimana ya, pokoknya begitu deh :’ kadarnya harus pas aja kalau bisa :3

    wahahaaha itu si uncucu unyuuu bang 😀 kwkwk dia cuek aja gitu liat mentimun wkwkw 😀

  2. Memelihara curiosity itu susah-susah gampang ya.
    Misal saya, saya kalo ada teman yang ngajak lihat dangdutan malas, karena sudah bisa membayangkan akan seperti apa dangdutan kampung itu, 🙂 Semangat ingin tahu yang kurang membuat malas.

    Kucing pasti kaget beneran kalo dikagetin, mas, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s