Ditampar Bocah

Ada kalanya hidup itu butuh sebuah tamparan, sekalipun dari mereka yang bertangan mungil. 

Siang itu, kami kedatangan sahabat-sahabat dari luar kota. Bersama mereka, dibawa pulalah isteri/suami beserta anak-anaknya. Yang awalnya diperkira hanya belasan ternyata membengkak sampai dua puluhan. Hari itu, dibawah rindang pepohon pinus dan angin sepoi hangat musim panas, kami bercengkrama melepas rindu dengan piknik musim panas.

Suasana pada saat itu, memang layaknya seperti sebuah piknik keluarga. Ada canda-tawa, obrolan ringan, dan tentu rendang khas Padang sebagai pelengkapnya. Melihat suasana itu, saya cukup menangis dipojokan. Ngga ding, saya menjelma menjadi tukang foto beraneka kebahagian siang itu.

Suasana akrab dan hangat sungguh terasa. Bagi saya, acara seperti ini memang sebagai momen lepas kangen, sekaligus waktu yang paling tepat mendulang ilmu dari para senior.

Di antara mereka, ada kami yang berstatus sebagai panitia. Syaratnya mudah saja, masih bujang.

Sebagai bujang budiman, tentu kami sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari acara, hidangan, sampai permainan untuk bocah-bocah, dan tentu juga buat yang dewasa.

anak2
Tarik tambang

Salah satu permainan yang disiapkan panitia adalah games balon naga. Yaitu permainan berkelompok. Satu kelompok berisi 6-8 orang, berformasi seperti halnya sebuah ular naga. Masing-masing kelompok berusaha mempertahankan balon yang diikat di ekor, agar supaya tidak dipecah/direbut oleh kelompok lain, kelompok yang berhasil bertahan sampai akhir merekalah pemenangnya.

Games balon naga untuk kaum dewasa sukses, meskipun ada yang sampai hilang kancing baju ataupun leher ketarik oleh kawannya sendiri. Gelak tawa pun menghiasi area taman yang saat tidak terlalu ramai, meskipun lokasinya persis di tengah-tengah kota.

Games yang sama juga diperlombakan untuk anak-anak. Bocah yang lagi heboh-hebohnya main ini pun, tak kalah senang tahu kalau mereka mendapat giliran. Jumlah bocah-bocah ini hanya empat orang, sedang anak-anak lain yang sudah tidak bisa masuk katagori bocah, sehingga dimasukkan ke kelompok dewasa di permainan sebelumnya. Tiga dari empat bocah ini masih kakak-beradik. Meskipun begitu, secara fisik mereka tidak terlalu jauh berbeda.

Karena jumlah yang sedikit, maka hanya terdapat dua kelompok. Kelompok putri beradu dengan kelompok putra. Masing-masing kelompok hanya berisi dua anak. Dilihat dari bentuknya, permainan ini sudah tidak bisa lagi disebut sebagai bola naga, melainkan bola ‘janin naga’. *maksa

Akhirnya, permainan pun dimulai. Tidak lagi mengekor ke belakang, formasi diubah berjajar bergandengan dengan balon diikat di masing-masing kaki bocah. Aturannya masih sama dengan kelompok dewasa, balon siapa yang masih tersisa maka kelompok itu yang menang.

“Priit…” seorang panitia membuat kode mulainya permainan.

Bocah-bocah berkaki mungil itu saling berebut memecahkan balon milik lawannya. Gelak tawa langsung membuncah sejak di menit pertama. Melihat tingkah lucu anak-anak tersebut, boleh jadi itu adalah ‘hiburan harian’ bagi mereka yang sudah berumah tangga.

Tak lama kemudian, gelak tawa tersebut tergantikan dengan tangis membuncah. Rupanya salah seorang dari kelompok putri menangis, menjerit. Dia menjadi korban ‘main kasar’ kelompok putra yang tak terima balonnya dipecah lawannya lebih dulu.

Rupanya, tangisan pertama hanya trigger tangisan-tangisan selanjutnya. Khas anak-anak. Satu nangis, nangis semua.

Yang menghebohkan lagi, satu dari empat bocah tersebut selain nangis juga ngamuk. Buah semangka yang belum selesai saya kupas, diterjangnya berhamburan.

Lalu, orang tua bocah-bocah tersebut turun tangan. Urusan seperti ini, sudah seharusnya pawang yang mengambil alih.

Setelah tak lagi terdengar suara tangis dari bocah-bocah tadi, kami kaum dewasa lanjut dengan obrolan masing-masing sambil menikmati manisnya semangka yang tadi sempat berantakan.

“Eee ladhalah bocah-bocah. Tadi baru aja bertengkar hebat, kok ya sekarang sudah akur lagi. Wis playon maneh.” komentar saya, setengah bergumam.

“Ya, begitulah anak-anak. Kadang mereka jauh lebih dewasa dibandingkan kita yang dewasa” sambung Mas Agus, ayah dari salah satu bocah tersebut.

***

Ya!

Seringkali, kita memandang umur sebagai tolak ukur kedewasaan. Ketika sebuah permainan bola naga anak-anak berubah menjadi ajang gelak tangis, kita (kaum dewasa) pongah tertawa. Menertawakan kekanak-kanakan tingkah anak-anak tersebut.

Namun, di saat yang sama, rasanya kita perlu menyadari. Betapa cepatnya anak-anak itu berdamai, mudah memaafkan masing-masing mereka tentang apa yang sudah terjadi.

Lalu, tengoklah diri kita. Butuh berapa lama kita untuk berdamai dan memaafkan, ketika salah seorang teman menyakiti hati, melanggar janji, hingga kita merasa dia telah mengkhianati komitmen yang sudah disepakati. Butuh berapa lama? sehari? seminggu? sebulan? atau bahkan bertahun-tahun?

Jangankan memaafkan atau berdamai dengan orang lain, berdamai dengan diri sendiri kadang kita butuh waktu yang cukup lama.

Maka, ketika masih merasa sulit untuk berdamai dan memaafkan, boleh jadi kita patut untuk ditertawakan oleh anak-anak tersebut, ditampar sekalipun rasanya pantas.

Karena, untuk dua hal tersebut saja, kita payah.

Nyatanya, sebagai orang dewasa kita cukup kekanak-kanakan.

Selamat Hari Anak Sedunia, 20 November 2015.

_DSC6466
Bersama dua dari 4 bocah, di reruntuhan kota Ephesus.

Pelajaran Hidup No. 12

Tulisan lain tentang Pelajaran Hidup:

  1. Ojo Dumeh
  2. Jadilah Lebah
  3. Setengah Isi Setengah Kosong
  4. Menikmati Perubahan
  5. Cobaan Atas Kenikmatan
  6. Sendiri dan Merasa Sendiri
  7. Menghitung Dosa
  8. Pilih Kerja atau Shalat
  9. Darru Thulab dan Pentingnya Bi’ah Islami
  10. Pijakan
  11. Alternatif Bersedekah
Advertisements

19 thoughts on “Ditampar Bocah

  1. Iya mas. Karena orang dewasa memandang segala sesuatu dengan logika. Kalau tahu berbuat salah, hanya sedikit orang yang mau berbesar hati meminta maaf. Sedangkan kalau tahu ada orang lain yang minta maaf karena berbuat salah, kita tidak bisa rendah hati untuk memaklumi dan memberi maaf.

    Anak-anak? Mereka belum mengenal logika, dendam, malu, atau lainnya. Jadi mereka bisa merasa bebas dan lepas. Tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang tidak perlu dipermasalahkan.

    • Hehe dan masalahnya, berdamai dan memaafkan itu urusan hati, masalah rasa, bukan hitung-hitung logika. Dan mungkin kaum dewasa lebih sering mengedepankan logika ketimbang mendahulukan rasa 😀

  2. Enak ya jadi anak kecil… #Obsesi

    Anak cowok yang biasanya lebih cepet maaf2an dibanding anak cewek. Dari kecil pun sudah kelihatan yang lebih banyak pake logika dan lebih banyak pake rasa..hehe

    Foto yang tarik tambang itu hasil motret sendiri Mas??
    Bagus ik..

  3. Selamat hari anak. Dunia anak selalu asik.
    Sampai kini tak ada saya dendam sama teman waktu kecil, teman waktu bocah. Gak tau deh sama yang lain, hehehe…

    Foto anak diatas, saya kirain itu foto anak-anak njenengan kalo gak baca isi posting, soalnya muka mereka mirip-mirip njenengan, haha…

  4. Betul…. 😐
    Kalo dipikir, saya sendiri juga masih sering bertindak kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah orang dewasa. Ya mau gimana berhasil mengahdapi masalah tsb kalo bertindak seperti anak2. Masalah dewasa hadapi dengan berpiki dewasa.

    Apalagi soal marah-marahan. Wah, memang jujur aja, kadang masih sulit untuk memaafkan orang yang udah menyakiti kita. Sangat sulit. Maaf memang udah kita ucapkan, tapi hati ini masih belom rela untuk mengikhlaskannya. Tapi, gapapa, kita kan hidup harus terus berkembang dan memperbaiki diri. Lama kelamaan kita akan menyadari bahwa betapa ucapan maaf dari lubuk hati terdalam amat kita butuhkan dari orang yang kita zolimi, karena rasanya sangat nggak enak kalau belum dimaafkan orang lain. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s