Dibalik Sunnah Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat (Bagian 2)

A Parmanto always pays his debts. 

Ada yang familiar dengan motto tersebut? Yuhuu, itu tak lain adalah motto-nya House Lannister of Casterly Rock di GOT. Bukannya saya ngefans sama Lannister, karena nyatanya saya lebih cenderung ke tokoh protagonis House Stark dalam serial tersebut. But, I always pay my debts (Insya Allah, if I remember). ^^

Dan kemarin, ada salah satu pembaca blog ini bertanya, “Mana bagian keduanya Mas?” yang dimaksud bagian kedua adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, silahkan baca juga bagian pertama biar nyambung.

Dibalik Sunnah Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat (Bagian 1)

kemudian, polos saya balas dengan “Hehe tunggu hari Jumat depan Mba”. Yah, dan janji sudah terlanjur keluar dari mulut. Sekarang waktunya melunasi janji kemerdekaan. Lunas ya? ^^

***

Jika tulisan sebelumnya bercerita tentang kisah Nabi Muhammad SAW dan tujuh pemuda shaleh (ashabul kahfi) yang menjadikan goa sebagai tempat ‘perlindungan’ dari kebobrokan dunia dan fitnah pada waktu itu. Maka tulisan kali ini, membahas tentang mengapa kita perlu ‘menggoa’. Maksudnya adalah mengisi hari Jumat dengan membaca surah Al-Kahfi. Seperti dalam hadist shahih berikut,

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al Hakim)

Kemudian, akan muncul pertanyaan; apa sebenarnya makna dibalik surah Al-Kahfi?

Jika kita tilik ke dalam surah ini, akan ada 4 kisah utama yang tercantum secara apik dalam rangkaian 110 ayatnya;
  • Kisah Ashabul-Kahfi (Penghuni Gua)
  • Kisah Shahibul Jannatain (Pemilik Dua Kebun)
  • Kisah Musa as dan Khadir
  • Kisah Lelaki Hebat yang berjalan ke pelosok bumi dari Timur hingga Barat

Sedangkan selebihnya adalah sedikit isyarat tentang kisah Adam as dengan Iblis, serta ayat-ayat yang menguatkan dan menekankan pentingnya kisah-kisah tersebut. Namun, dalam urian kali ini akan lebih menitik beratkan pada kisah yang pertama. Ashabul Kahfi.

Dimana tema besar dari surah ini adalah tentang: perlindungan dari fitnah (ujian). Perlindungan dari ujian apa? maka di dalam surah ini, dijelaskan. Bahwa ujian tersebut berupa:

  • Pertama, ujian aqidah (ayat 1-3), yang menegaskan tentang kebenaran wahyu, kepastian hari pembalasan, dan koreksi terhadap aqidah nasrani (trinitas). Aqidah yang melenceng dan sekaligus dipaksakan oleh penguasa pada waktu itu.
  • Kedua adalah, ujian pola pikir (ayat 4-5), dalam ayat tersebut, ditekankan bahwa pentingnya metode (yang benar) dalam membangun sebuah keyakinan. Yang mana dikatakan, keyakinan tentang adanya anak bagi Allah Ta’ala adalah keyakinan yang dibangun tanpa basis pengetahuan.
  • Dan ketiga, adalah ujian standar norma (kualitas) pada ayat 7-8.

Selain menjelaskan tentang macam-macam ujian (fitnah) diatas (dimana karena ketiganya menjadikan ketujuh pemuda harus ‘menggoa’ dalam waktu ratusan tahun), Allah melalui surah ini juga memberikan koreksinya (tashih) sekaligus.

Koreksi untuk ujian pertama terletak di akhir surah ini. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (ayat 110).

Di dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa Muhammad hanyalah manusia biasa (bukan anak tuhan). Seorang manusia yang tidak pernah melampaui hidayah yang diterima dari Tuhannya. Seorang yang belajar, kemudian jadi tahu dan mengajarkannya. Maka, barang siapa yang menginginkan perjumpaan dengan Allah, hendaknya mengambil manfaat dari ajaran Rosulullah yang diterimanya dari Tuhannya.

Koreksi terhadap ujian aqidah ini, juga dijelaskan secara eksplisit dalam kisah-kisah yang mengiringi dalam surah ini.

Kemudian, koreksi terhadap ujian kedua, terletak pada ayat ke-19. Yaitu, ketika salah satu dari ashabul kahfi bertanya “sudah berapa lama kalian berada (disini)” sehabis mereka terbangun. Kemudian “Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).”

Pada ayat ini ditegaskan, bahwa penjelasan tentang pengetahuan –terutama tentang hal yang ghaib- harus dibangun di atas basis teologis yang benar, dengan menyerahkan pengetahuan mutlak semata kepada Allah.

Dan yang terakhir, adalah koreksi tentang standar norma (kualitas) (ayat 7-8). Bahwa pada hakikatnya, standar dari kualitas bukan ukuran dari banyaknya materi, melainkan menggunakan ukuran amal terbaik (ahsanu ‘amala). Karena setiap perhiasan yang ada di dunia adalah untuk cobaan dan ujian. Yang pada akhirnya, akan bermuara pada kefanaan dan kehancuran.

Dengan menyandarkan bahwa standar kualitas itu dari perbuatan terbaik, maka janji Allah pada ayat ke-30.

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.”

Semoga dari penjelasan di atas, membuat kita paham betapa pentingnya membaca surah Al Kahfi (baca: menggoa) di hari Jumat, selain dari pada berharap keberkahan Allah di antara dua Jumat.

Karena dengan membaca surah tersebut (tentu dengan memahami artinya), kita akan tahu dan paham tentang macam-macam fitnah dunia yang keji, hingga kemudian terlindungi dari fitnah tersebut karena kita paham bagaimana mengkoreksinya.

***

Penjelasan ini, di sampaikan oleh sahabat saya yang pada waktu itu ke Turki dalam rangka menjenguk isterinya (yang kebetulan isterinya sedang studi di sini), nah kemudian beliau kami undang ke acara mabit dan piknik musim panas yang lalu. Karena, jujur jarang-jarang kami menjumpai momen seperti ini. Kedatangan tamu dengan tsaqafah keislamanya yang mumpuni. Maklum, mayoritas mahasiswa di Turki (khususnya kota saya) adalah mereka yang belajar ilmu eksak-sekuler. Maka, kebutuhan akan siraman rohani benar-benar sangat dibutuhkan. Biar tak kering, sekembalinya ke tanah air.

Beliau tak lain adalah ustad muda yang sekarang sedang menempuh master bidang studi Islam, di Riyadh Saudi Arabia. Dulu, jauh sebelum saya mengenal beliau, tepatnya sewaktu SMA, saya adalah pelanggan majalah Tarbawi. Nah, dalam salah satu edisinya, ada liputan tentang keluarga beliau, tepatnya keluarga ustadz Tamim yang mempunyai 10 anak, yang kesemuanya adalah para penghafal Al-Quran.

Nah, ustadz muda ini tak lain adalah salah satu bintang Al-Quran tersebut, namanya Ust Faris Jihady Lc. Beliau menjadi hafidz Quran di usia belia. Keren banget ya?

*Catatan:

~ Selain dari pada yang disampaikan oleh Ust Faris (takut tidak terserap semua waktu itu), saya juga melengkapi tulisan di atas dari salah satu kitab tafsir favorit, Fi Zilalil Quran karya Syeikh Sayyid Qutb.

~ Kahfi = Goa, merupakan akar kata dari kata cave dalam bahasa inggris.

Kitab tafsir Fi Zilalil Quran, bisa di download melalui ini

Semoga bermanfaat.

Advertisements

20 thoughts on “Dibalik Sunnah Membaca Surah Al-Kahfi di Hari Jumat (Bagian 2)

    • Menggugah perasaan (hati) itu ibarat mendorong sebuah mobil. Di saat mobil itu berhenti (start) rasanya memang berat (butuh usaha yang besar) untuk mendorongnya, tapi ketika mobil itu sudah mulai bergerak, maka akan terasa enteng bahkan seperti berjalan sendiri. Jadi, dicoba aja mas, 10 ayat pertama misalnya… Insya Allah akan mudah nantinya 🙂 Jumat Mubarak ya… ^^

  1. Wahh..ini pertanyaan temen setahun yang lalu..
    Kenapa harus surat al kahfi..
    Thx for share Mas…bisa dibuat tambah catetan..ada beberapa yang belum ada di referensi dulu.
    Kalo ada link tafsir lain, boleh share juga Mas :mrgreen:

    Barakallahu fiik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s