Balada Cabe

cabai

Petani cabai

Alhamdulillah, menurut kabar orang rumah, sudah dua pekan ini hujan sudah mulai rutin turun di tanah air. Para petani pun bersorak riang, wal khusus bagi mereka yang mengandalkan pengairan air hujan atau sawah tadah hujan. Tak hanya petani, penduduk negeri lain, yang selama tiga bulan kebelakang terus menerus diasapi, kini bisa kembali selfie riang bersama indahnya mentari.

Namun, jangan senang dulu. Karena tak selamanya hujan membawa kebaikan, di saat kita kalah dalam persiapan yang terjadi justru sebaliknya. Yang semestinya menyuburkan, justru membawa kepedihan. Bencana banjir dan longsor misalnya.

Diantara bencana yang mengiringi datangnya hujan, adalah adanya kelangkaan cabe dan produk-produk sayuran lainnya. Balada cabe cs ini, nampaknya terus berulang tiap tahun. Padahal, tanaman ini bukanlah tanaman musiman, yang artinya tanaman ini bisa dipanen kapan pun.

Jika balada cabe ini datang, tentu yang paling pusing adalah kaum perempuan. Khususnya ibu-ibu yang rutin belanja ke pasar tiap harinya. Adu argumentasi tentang harga cabe pun rela mereka jalani, demi menekan defisit anggaran belanja. Ya, ketimbang menanggung malu sana-sini cari pinjaman utang luar negeri. *eh

Tapi, ada yang lebih ngenes. Tak lain adalah bapak-bapak atau para suami. Kok bisa?

Pada kondisi ini, mereka adalah para manusia yang tengah dilema setengah mati. Karena, kenaikan harga cabe bisa dipastikan tidak berdampak pada kenaikan gaji. Di sisi lain, isteri-isteri menuntut kenaikan uang belanja dengan angka yang cukup tinggi. Bila tidak dituruti, mereka sering mengancam dengan pemogokan massal di semua lini bidang. Kalau pemogokan massal hanya berhenti di meja makan, mungkin suami-suami yang cerdik mudah saja cari solusinya, dengan jajan misalnya. Tapi kalau mogoknya berlarut sampai urusan ranjang?

Suami yang cerdik akan…

                                               sering-sering…

                                                                           keluar rumah…

                                                                                                      untuk…

berdoa di masjid dengan sepenuh hati, semoga sang isteri menurunkan tensi.

Di antara tahun 2010-2011, tahun-tahun terakhir saya di Jogja, sebelum pindah ke belantara hutan beton, Jakarta. Saya pernah mengalami balada cabe. Dan, tahun  itu adalah yang terbesar dan terlama sepanjang sejarah percabean di Indonesia. *halah*. Tapi bener, tahun itu negeri kita sedang mengalami musim kemarau basah. Maksudnya, meskipun musim kemarau tapi hujan lebih sering turun. Yang berbalikan dengan tahun ini.

Karena terlalu sering hujan, banyak produk pertanian (khususnya cabe dan sayuran lainnya) yang gagal panen. Yang berakibat pada kenaikan harga cabe yang gila-gilaan. Betapa tidak, waktu itu harga cabe (di Jogja) bisa di atas 120 ribu per kilo, nyaris dua kali lipat harga daging sapi pada waktu itu. Gila bukan?

Sebagai anak kos, tentu ini sebuah dilema besar, bahkan lebih dilema ini ketimbang saat mantan ngajak ketemuan, padahal waktu itu sudah bertekad tak mau pacaran lagi sebelum ke pelaminan. Apalagi, waktu itu sedang skripsi. Jadi, waktunya lebih baik buat makan gorengan ngerjain skripsi, ketimbang pacaran. Sehingga, otomatis jatah konsumsi gorengan plus cabe hijaunya meningkat tajam.

Waktu itu, harga gorengan cuma 500 perak, beli 5 ribu sudah bisa bikin keringat di hidung bau gorengan. Tapi, karena sedang dilanda krisis percabean, mas-mas tukang gorengan ndak sudi bermurah hati. Tiap beli 10 gorengan hanya dapat bonus cabe dua biji. Ngenes tenan. Dan itu juga terjadi di semua warung makan di Jogja. Di hari normal aja, di Jogja itu susah nemu warung yang pedasnya pas. Apalagi pas krisis, masakan di warung anyep semua.

Karena, makan gorengan tanpa cabai, itu ibarat kamu tanpa belahan jiwa. Merana. :mrgreen:

Tapi, ada juga yang tersenyum lebar. Salah satunya, kakak tingkat saya. Selepas lulus dari Sastra Nuklir, ia terjun ke dunia bisnis sayur dan buah-buahan. Ya, beliau selepas S1, sambil menyelesaikan kuliah master manajemennya di kampus yang sama, juga nyambi dagang sayur-mayur pada waktu itu.

Selain momennya tepat dan tentu modalnya kuat, waktu itu ia sampai sewa pesawat untuk impor cabe dari Malaysia. Gila!. Ngiler juga waktu itu saat mendengar cerita sukses-nya.

***

Nah, di atas baru intro dari tulisan ini. Maaf kalau terlalu panjang hehe

Lalu, masalahnya di mana hingga krisis percabean hampir terjadi tiap tahun?

Pertama. Cabe adalah buah non-musiman. Loh kok buah? ya, kata temen saya yang anak Ilmu Hama Pertanian, cabe sebenarnya buah-buahan bukan sayur-sayuran. Nah, karena termasuk tanaman non-musim, sehingga bisa ditanam kapanpun. Tapi, masalahnya adalah tanaman ini rentan dengan tingginya curah hujan. Curah hujan yang tinggi, gampang membuat akar tanaman ini rapuh, selain itu bunga cabe pun rusak jika sering terkena air. Pada akhirnya, di bulan Januari-Maret sering kali petani gagal panen. Akibat gagal panen, suplai di pasar pun turun. Padahal, demand masyarakat tetap tinggi. Hingga pada akhirnya terjadi kelangkaan serta harga tinggi.

Sebab kedua. Model pertanian di Indonesia, masing menggunakan model pertanian tradisional, open farming alias pertanian terbuka. Kelemahan model pertanian semacam ini, adalah kita tidak mampu merekayasa jika terjadi perubahan musim. Efek curah hujan tinggi, sebenarnya bisa diatasi jika kebun-kebun sayur itu berada dalam rumah-rumah kaca atau green house. Dengan adanya rumah kaca ini, pertanian lebih terkontrol, selain itu juga terhindar dari hama yang berasal dari serangga.

Ketiga. Sistem musiman. Ya, tipikal petani kita masih menganut sistem ini. Ketika musim hujan turun, para petani berbondong-bondong menanam padi. Akibatnya, area pertanian sayuran pun turun dratis. Tinggal tersisa, di daerah penggunungan yang tidak mungkin padi untuk tumbuh. Yang berakibat, produksi sayur pun turun drastis.

Serta beberapa sebab klasik di dunia pertanian lainnya. Selain daripada itu, gamangnya pemerintah (kementrian pertanian) dalam menyikapi perubahan musim juga menjadi penyebabnya, padahal perubahan musim secara ilmiah bisa diprediksi oleh BMKG jauh-jauh hari.

Lalu, apa solusinya?

Di sini, saya tak akan berbicara tentang solusi secara makro. Biar para ahli di bidang terkait yang menjawab. Sebagai penggiat di bidang energi, rasanya tidak pas untuk menjawabnya. Takutnya salah, justru bubrah.

Tapi secara mikro, mungkin beberapa cara ini bisa Anda lakukan dalam menghadapi krisis percabean bulan Januari-Maret nanti. Terutama, buat Anda yang tidak bisa makan tanpa sambal atau yang pedas-pedas macam saya ini.

  • Urban Farming. Saya sangat setuju dengan ide yang dipopulerkan oleh Ridwan Kamil sebelum dia jadi walikota. Ide ini sederhana, tapi solutif untuk menghadapi krisis sayuran seiring curah hujan tinggi. Menanam sayuran itu mudah, kita ndak perlu bikin bibit lebih dahulu. Di pasaran sudah banyak bibit yang sudah jadi. Baik dalam bentuk benih maupun sudah menjadi tanaman kecil. Perawatan sayuran juga mudah, terutama cabe. Asal kena sinar matahari, dan tidak kena air yang njemek (berlebih) sayuran ini bisa tumbuh dengan subur. Sehingga dalam 2.5-3 bulan, sudah bisa dipanen. Uniknya lagi, tanaman ini bisa dipanen hingga 18 kali selama 24 bulan masa produktif.
  • Cabe kering. Ada banyak metode pengeringan sayur-sayuran atau buah-buahan. Di negeri 4 musim, sudah banyak dipraktekkan. Tapi, di negeri kita nampaknya tidak, karena faktor bisa panen kapan saja tadi. Nah, salah satu metode pengeringan yang hasilnya mendekati otentik aselinya adalah dengan mendiamkannya di kulkas (bukan di freezer). Sebelum di masukkan ke kulkas lebih baik cabe dibungkus kertas atau koran, untuk menghindari pembusukkan karena gas dari cabe tidak bisa keluar karena terhalang oleh plastik. Untuk waktu pengeringannya saya tidak tahu persis berapa lama, tapi yang jelas untuk rasa lebih enak ini daripada menggunakan cabe bubuk saat digunakan untuk memasak.
  • Dibikin asinan. Nah, salah satu pengawetan buat atau sayur juga bisa dilakukan dengan pengasinan atau direndam dalam cairan cuka. Untuk caranya silahkan googling, masalahnya kalau yang ini saya belum pernah mencobanya. Produk asinan buah atau sayur juga gampang ditemui di supermarket besar di tanah air, kalau misal tidak mau repot. Tapi kelemahannya, rasanya menjadi sedikit masam (pengaruh cuka).
  • Stok sambal instan. Perkiraan saya, pertengahan Januari nanti harga cabe mulai merangkak naik. Untuk itu, akhir Desember atau awal Januari nanti, siap-siap untuk stok sambal instan yang banyak. Sambal instan biasanya bisa tahan sampai sebulan lebih, jika disimpan dalam suhu yang tepat. Jadi, siap-siap stok yang banyak selagi harganya masih murah.

Nah, di atas adalah beberapa solusi yang mungkin membantu dalam menyambut musim krisis cabe awal tahun depan. Dengan menerapkannya, semoga tidak terjadi lagi pemogokan masal oleh kaum ibu-ibu, yang berakibat pada rusaknya keharmonisan rumah tangga.

Karena kata orang bijak, “sepedas-pedasnya cabe jalapeno, lebih pedas omelan isteri yang lagi nggresulo”

Tetep sakinah ya!

Catatan: Dalam porsi yang sama, cabe memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi daripada jeruk. Sehingga, dengan konsumsi cabe bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

cabe_warna-warni

Gambar dari sini

Advertisements

28 thoughts on “Balada Cabe

  1. Saya kemaren2 nanem daun bawang mas di rumah. Pas tumbuh tinggi hore rasanya seneng banget. Dan karena baca ini jadi kepingin nanem cabe juga. Kebetulan di rumah saya punya lokasi yang cukup udara namun terlindung dari mantan eh salah, curah hujan. 🙂

    • Haha mantan emang suka gitu mba, tiba2 datang mencurahkan perasaan *eh hujan.

      Kl mw coba nyemai biji cabe, pilih cabai yang sudah merah Mba, di keringin bentar berapa hari kemudian siap tanam. Gampang banget pokoknya. Selamat menanam!

  2. Kalo pandai baca cuaca dan mumpuni ilmu percabean, usaha tanam cabe menggiurkan. Hasilnya bisa beripat-lipat dari modal yang dikucurkan. Kalo gak tau ilmunya ruginya juga berganda, 🙂

    Makan gak pake cabe rasanya gak nendang ya, hehehe…

    • Hehe, kl makan sambil ditendang saya ngga mau Pak 😀

      Bener, pak. Makanya, saya juga pengin punya ladang sendiri di pegunungan terus usaha sayur-mayur (termasuk cabe). Rasanya, untungnya (kebahagian) berlipat2, tidak sekedar materi… 🙂

  3. Aku tertarik sama gambar yg terakhir itu Mas. Cabenya cantik warna-warni. *salah fokus* 😀
    Sepertinya aku mau tanam cabe aja ah biar nggak kena krisis cabe. Di rumah sudah ada daun bawang kecil dan daun bawang besar, lumayan buat masak.

  4. Wahaha sama tu mas sama bawang merah. Makanya penelitian saya tentang bawang merah bubuk, pengolahan bawang merah untuk antisipasi harga bawang merah yang naik turun kaya halilintar dufan haha. Ada pasta bawang merah juga bahkan ada minyak bawang merah hehehe #jadimencurahkanpenelitian hahaha. Salam kenal ya mas parmantos (?) Hohoho

    • Wahh keren penelitiannya, bawang bisa dibikin minyak juga ya? baru tahu… udah diproduksi masal apa belum itu Mba? bisa buat bisnis baru tuh, khususnya disaat harga bawang merah anjlok…

      • Iya bisa mas. Temen saya yang lagi ngerjain. Belom d scale up mas. Ini masih cari formulasi ekekekeke. Nanti kalo udah jadi formulasinya, mungkin bisa d scale up. Emang penelitian tematik yg lagi saya dan temen saya lakuin untuk mengatasi naik turunnya harga bawang merah di pasaran hoho ya maklum kampus pertanian hehe

  5. Memang benar, setuju dilema budidaya komoditas cabe maupun tanaman sayuran lainnya adalah hujan. Perlu pembaruan teknologi budidaya agar tak terpengaruh musim. Namun, kendala utama dan terbesar adalah tak semua petani di daerah mempan dituturi teknologi baru. Ada kekhawatiran, keraguan, dan dipandang sebelah mata. Maka kadang perlu dibuat kelompok percontohan dulu yang didekati untuk menerapkan teknologi baru dalam budidaya hortikultura, baru kalau sudah terbukti biasanya kelompok lain akan mengakui dan mengikuti.

    • Sampeyan jurusan pertanian ya Mas? berarti lebih paham tentang masalah ini. Memang kompleks permasalahan pertanian kita, jumlah petani banyak tp belum bisa diandalkan sebagai moda produksi yang layak. Sudah seharusnya hulu-hilir saling nyengkuyung 🙂

  6. Lha, cabenya warna warni haha, kocak. Yang jelas itu abe beneran ya mas, bukan cabe-cabean 🙂

    Sebagai pecinta makanan pedas, seru juga ngeliat varian cabe kayak gitu

  7. Sudah jadi semacam kebiasaan musiman klo pas hujan, Indonesia langganan sama banjir dan longsor. Sedih juga dengarnya. Tiap taun seperti kurang sekali perubahannya, hampir selalu terjadi hal yang sama.
    Ngomong-ngomong itu cabenya keren warna-warni gitu.
    Salam kenal dari Lombok, ditunggu kunjungan baliknya 😀

  8. Perasaan baru beberapa bulan yang lalu harga cabai anjlok karena panen melimpah dan dibiarkan busuk di pohon. Lha terus beberapa bulan setelahnya harga cabai melonjak karena banyak yg busuk basah kena hujan. Jadi baik di musim kemarau maupun musim hujan, cabai tetap bermasalah, duh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s