Saat Kita Harus Memilih

Dalam hidup, kita akan terus dihadapkan pada banyaknya pilihan. Semakin kesini, semakin banyak saja pilihan yang mesti kita pilih. Kemudian, kitapun berandai-andai “andai saja hidup tak harus memilih”. Namun, kenyataannya tidak.

Ketika kita kecil, ayah kita sering kali memberikan opsi. Misalnya; pilih jalan-jalan atau mainan baru? tawar beliau sebagai hadiah dari prestasi yang kita raih. Kita bingung, karena keduanya tampak menyenangkan. Tapi peraturannya tetap, pilih salah satu.

Menginjak remaja. Kita mulai mengenal hobi, kesenangan-kesenangan yang positif. Kembali kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Antara pilih basket atau taekwondo? basket karena paling populer di sekolah, tapi taekwondo tampak lebih macho. Kita lagi-lagi bingung. Namun, guru kita memaksa untuk memilih salah satu. Karena kalau semuanya, kita sendiri yang akan repot mengatur waktunya.

Di akhir masa sekolah. Kita dihadapkan banyaknya pilihan. Kampus apa? Jurusan apa? test ini, test itu. Belum lagi, soal-soal ujian yang tiap soalnya ada 5 pilihan. Duh, kita dipaksa untuk bingung. Belum selesai dengan urusan kebingungan, orang tua atau guru kita kadang malah menambah beban pertimbangan. Kita bingung, tapi aturannya tetap, hanya pilih satu. Jurusan dan kampus, yang kita pikir paling cocok.

Kemudian, saat di penghujung wisuda sarjana. Lagi-lagi pilihan itu semakin banyak. Misalnya; setelah lulus mau kerja dulu? kuliah lagi? atau nikah dulu? makin bingung. Banyak pula yang harus dipertimbangkan. Salah memilih dalam tahap ini, akan berpengaruh setidaknya sepuluh tahun kedepannya.

Lalu, menjelang akhir masa lajang. Duh, lagi-lagi kita dihadapkan pada proses memilih. Jika, sebelum-sebelumnya kita dihadapkan pada pilihan benda mati, tapi kali ini ia adalah sosok hidup, berkaki dua, berhidung satu, dan bemata jeli. Kita harus memilih, antara si-A yang alim, si-B yang berkarakter, atau si-C yang cantik. Belum lagi, ketika orang tua kita juga menyodorkan si-D yang cantik lagi berkarakter atau ustadz kita yang menawarkan proposal si-E yang alim lagi teduh. Belum lagi si-itu, si-ini yang tiba-tiba datang dari masa lalu. Kita bingung. Tapi aturannya tetap, pilih salah satu.

Boleh sih, pilih sampai empat. Tapi, apa rela si-A berbagi dengan si-B, atau C, D sampai Z? belum lagi, emang yakin kita bisa adil? Bingung yang berlipat-lipat. Karena, kalau sampai salah memilih bukan saja hitungan tahun, boleh jadi seumur hidup kita akan menanggung resikonya.

Ya, pada akhirnya kita merasa, bahwa semakin banyak pilihan justru membuat kita terbebani, terhimpit, dan merasa bersalah. Namun, coba kita tengok mereka-mereka yang hidupnya serba tidak punya pilihan. Anak-anak di pedalaman, rela berjalan kaki belasan kilo hanya untuk sekolah. Karena tidak punya pilihan. Seorang ibu harus memberi makan anak-anak berupa aking, nasi kering yang dimasak lagi. Karena tidak punya pilihan. Dan seterusnya.

Sesungguhnya, pilihan sejatinya adalah nikmat. Semakin banyak pilihan, semakin banyak pula nikmat yang kita dapat.

Tapi, bagaimana baiknya mengelola pilihan agar tampak nikmat? bukan justru terbebani dan dibuat kebingungan.

Yuk, kita tengok lagi metode nabi dalam hal ini.

“Di antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan diantara kebahagiaan manusia adalah keridhoanya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahaannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya” (HR. Imam Ahmad)

Ya, manusia luhur itu mengajarkan. Dalam memilih, hal pertama, libatkan Allah dalam setiap pilihan. Karena Allah-lah sebaik-baiknya penentu. Melibatkan Allah ini, tidak hanya berupa kata-kata doa. Tapi metoda praktik, yang Allah ajarkan melalui Rasul-Nya. Kemudian kedua, ridha tentang semua keputusan Allah. Apapun itu, yang senang ataupun yang menyakitkan.

Metoda nubuwah ini, tak hanya menghasilkan sebuah pilihan terbaik, tapi juga sebuah proses yang meringankan sekaligus melegakan.

Lalu, masihkah kita ingat doa di kala istikharah ini. Doa yang Rasulullah ajarkan.

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

***

Sebentar lagi 9 Desember, ajang pemilihan kepala daerah kembali akan di gelar. Ada banyak pilihan, tapi hanya akan ada satu yang yang terpilih dan memimpin kita, daerah kita tercinta. Salah memilih, menyesal lima tahun ke depan. Maka, libatkan Allah dalam proses memilih. Bukan sekedar faktor loyalitas pada parpol tertentu, jamaah tertentu, kelompok tertentu, atau alasan-alasan seperti masih saudara maupun kesamaan suku. Libatkan Allah.

Andai, pilihan itu berupa golput, ridha saja. Karena bagaimanapun, proses akan terus berjalan. Dan Insya Allah apapun yang terjadi, itu yang terbaik. Baik itu sebagai sebuah perbaikan ataupun pembelajaran.

Perlu banyak pertimbangan dalam memilih, tapi sebuah pilihan tak butuh banyak pertimbangan. Dan sebaik-baiknya pilihan adalah Allah SWT.

Salam Senin ^^
Selamat mengelola pilihan!

road-diverge-quality-four (1)

Gambar dari sini

Advertisements

33 thoughts on “Saat Kita Harus Memilih

  1. Aku masih agak ganjil dengan kalimat terakhir,
    “dan sebaik-baiknya pilihan adalah Allah SWT”

    Apakah itu berarti dalam segala kondisi memilih Allah SWT adalah yang terbaik? Padahal Allah SWT tidak maju sebagai calon di pilkada. :p

  2. Sepakat ini Bang.. 😀
    Pas banget lg buka wp mau nulis ttg pilih memilih. G jadi wes..haha…

    Kalo pun akhirnya golput, itu pun pilihan juga sepaket dgn resikonya..heuheu (males pulang ‘cuma’ buat pilkada) #jitak

  3. “Ya, pada akhirnya kita merasa, bahwa semakin banyak pilihan justru membuat kita terbebani, terhimpit, dan merasa bersalah.” … aku sering merasakan kalimat ini mas, 😀 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s