Bertemu Herwanto di Semeti

Selepas menginap di rumah warga yang kisahnya saya ceritakan di Lombok: The Island of Hospitality [2], pagi buta kami meluncur ke atas bukit seberang pantai Kuta. Berburu sunrise.

Tapi, sayang. Meski waktu itu musim kemarau, ternyata cuaca belum bersahabat. Sang mentari tertutup oleh awan (atau kabut) pekat.

Lantas, saya dan Risal kembali meneruskan perjalanan. Menyusuri jalanan mulus di pesisir Lombok Tengah, yang menyenangkan. Karena kualitas jalan yang mulus. Kalau soal jalan, patut diakui jalanan di Lombok lebih baik ketimbang kualitas jalanan di Jawa Tengah.

Tujuan pertama kami adalah pantai Mawun, yang sehari kemarin sempat kami kunjungi walau cuma sebentar. Sepanjang perjalanan ke pantai ini, disuguhkan pemandangan tenda-tenda oranye di perbukitan. Mereka itulah para penambang emas. Ya, sama halnya di Sumbawa, Lombok juga tengah dilanda demam emas. Tidak apa-apa memang, asal jangan sampai menjadi seperti di pulau Buru. Yang membuat pulau penghasil beras di Maluku itu, kini tak layak huni. Karena pencemaran merkuri yang sangat parah.

Sampailah kami di Pantai Mawun. Masih sepi. Ya, seperti hati kamu. Meski cantik, kalau masih betah sendiri ya, sepi. *eh, maafkan.

Pantai ini luar biasa cantik, pantai yang melengkung, hamparan pasir yang luas, putih, dan tidak kasar, serta berhiaskan bukit-bukit indah di kanan-kirinya.

Kami sarapan di pantai ini, di bawah rindang pohon yang entah apa namanya. Sarapan kami tak lain, hanyalah roti tawar, sepotong coklat, plus kriuk-kriuk kerupuk. Ya, pagi-pagi seperti itu, belum ada warung yang buka di Lombok Tengah.

Setelah puas foto-foto, perjalanan kami berlanjut ke Semeti, seperti saran Mas Duta dari komunitas Lombok Backpacker.

Berbekal buku travel milik Risal, dan peta kertas milik saya, kami kembali menyusuri pesisir Lombok bagian selatan ini. Ya, sejak sebelum berangkat ke Lombok, sudah saya niatkan untuk tidak mengandalkan gadget. Kembali ke klasik, peta. Dan alhamdulillah, di hari kedua di Lombok saya di pertemukan dengan Risal, yang juga bervisi sama.

Perjalanan dari Mawun ke Semeti ternyata cukup jauh, meski begitu sepanjang perjalanan tetap mengagumkan. Berupa gugusan bukit-bukit indah, walau sedikit gersang. Jika perjalanan dilakukan saat musim penghujan seperti sekarang, tentu pemandangannya akan lebih hijau dan segar.

Sampailah kami di pantai Semeti. Sama halnya di Mawun, lagi-lagi pantai ini sepi.

Menuju ke pantai yang satu ini ternyata tidaklah mudah. Dari jalan utama, kita harus berbelok ke kiri cukup jauh, belum lagi harus melewati areal perladangan warga yang jalannya belum di aspal. Jadi, kalau kesini jangan pas musim penghujan. Kecuali, kalau Anda menggunakan kendaran off road.

Setelah parkir di tempat yang disediakan, kami terdiam di gasebo di tepi pantai. Pantai ini, ternyata tidak sebagus yang dikatakan di bukunya Risal. Tapi, suguhan utama pantai ini bukanlah pantai dan pasirnya, justru pada bebatuan indah di samping kirinya. Mas Duta menyebutnya dengan bebatuan kripton ala-ala.

Lekas kemudian saya menuju ke sana. Wahh, emang keren. Bebatuan ini cukup unik, berbentuk seperti kristal, tapi bukan kristal. Ya, seperti di film aneh itu, yang  tokoh utamanya suka memakai celana dalam di luar.

Setelah asyik foto-foto. Ada anak kecil yang menghampiri. Sebelumnya, saya tidak ngeh tentang keberadaan anak ini. Mungkin karena terpukau oleh bebatuan tadi.

Saya hampiri anak yang usianya sepantaran dengan Fatih, keponakan laki-laki satu-satunya di keluarga saya. Fatih waktu itu umurnya 4 tahun, nah anak ini kurang lebih segitu.

Anak ini tampangnya lucu. Rasanya pengin nyubit, terutama pada pipinya yang gempal. Namanya Herwanto.

Herwanto adalah potret anak-anak pedesaan di negeri kita. Diumur-umur emasnya ini ia sudah belajar tentang ilmu terpenting dalam kehidupan ini. Ilmu bertahan hidup.

Orang tua Herwanto adalah petani ladang tak jauh dari pantai Semeti. Mereka adalah petani tadah hujan, yang aktivitasnya tergantung oleh musim. Jika musim penghujan seperti sekarang, maka aktivitasnya banyak di ladang, musim kemarau beralih ke yang lain seperti; pemecah batu, tukang bangunan dan lainnya. Nah, orang tua Herwanto ini memilih profesi yang pertama.

Jangan pernah meremehkan orang-orang desa seperti orang tua Herwanto ini dalam hal ketahanan hidup. Merekalah manusia terakhir yang paling bertahan dari ancaman krisis dan inflasi. Kehidupan mereka sudah menyatu dengan alam. Sepanjang berkah alam masih tersedia, mereka akan terus bertahan.

Dan itu, yang nampaknya yang ingin diajarkan oleh orang tua Herwanto. Di umur, yang kata orang kota seringkali menyebutnya golden age ini, mereka ingin membekali anaknya tantang bagaimana bisa bertahan hidup dan rasa prihatin. Persoalan bisa menulis, membaca, dan menghitung itu soal lain, akan ada waktunya nanti. Yang terpenting bagi mereka,  bagaimana anaknya mengerti bahwa hidup butuh kerja keras.

Dan lagi, pekerjaan orang tua Herwanto adalah sebaik-sebaiknya pekerjaan. Lah kok? memang kalau ukurannya adalah kenyamanan tempat berkerja (ruang ber-AC) dan gaji yang didapat, tentu penghasilan mereka tidak sebanding dengan para pekerja kantoran di Jakarta ataupun para site engineer di lepas pantai sana. Tidak sebanding.

Namun coba lihat, dari sisi kualitas waktu. Tentu, orang tua Herwanto lebih beruntung. Karena bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan anaknya, sambil mereka terus bekerja.

Dan yang seperti itu susah didapat oleh orang-orang kota. Keponakan saya saja, Fatih. Sejak umur tiga tahun, sudah mulai dititipkan kesana-kemari. Dari PA, playgroup, kemudian TK dan seterusnya.

Ini yang penting. Orang tua Herwanto ini bekerja selayaknya sedang bermain-main, betapa tidak. Lihat saja, belakang punggung mereka. Terhampar samudera membiru, angin yang segar, dan tentu saja target kerja yang ditentukan oleh mereka sendiri. Dan bagi saya, itulah sebaik-baiknya pekerjaan.

Dan ya, dik Herwanto. Semoga lain waktu kita bisa main-main lagi, di sana. Di Semeti.

DSC_8855
Herwanto, yang cubitable.
Advertisements

18 thoughts on “Bertemu Herwanto di Semeti

  1. Semua hal jika dilihat dari sudut pandang yang positif, akan selalu menghasilkan pikiran yang baik, ya. Pekerjaan boleh memecah batu, tapi kantor adalah pantai terindah di Lombok… :hehe.
    Saya jadi merasa bersalah, soalnya belum pernah singgah ke Semeti :hehe. Bagus ya pantainya! Buat dapat pemandangan seperti ini, mungkin saya harus subuh-subuh berangkat dari Mataram… tapi tak apalah, bagus ini! :haha *brb beli tiket mudik*.

  2. Itu adeknya gak mbok kasih coklat ato permen gitu Mas? cuma jadi obyek pemotretan aja..
    aih..sabar yo Nak.. *puk puk

    Wajah polosnya perlahan akan ‘menggarang’ tertempa kerasnya kehidupan..

    • Duhh sebelumnya ngga ada rencana ketemu sama anak gemes itu sih Mba, jadi coklatnya sudah habis buat sarapan di Mawun. Cuma waktu itu saya kasih mentahnya aja, tapi engga seberapa… *puk puk kamu kuat kan dik Her??

      Kalau mbolang kesana lagi, mungkin dibawain oleh-oleh… semoga saja. 🙂

  3. Semetinya sedang surut ya Mas sepertinya?
    Herwanto, masih banyak Herwanto-Herwanto lain di pelosok, di pesisir. Hidup jauh dari kenyamanan maupun kemapanan. Tapi, jika mereka sudah bersyukur dan senang dengan yang dilakukan, itu bisa berarti setingkat lebih baik dari orang mapan yang merasa kurang 🙂

  4. Aku belum pernah ke Semeti, kalau Muwun pernah dan keren yach. Senang lihat anak-anak seperti Herwanto. Mereka adalah anak-anak yang paling ceria, bersemangat dan punya rasa syukur yang lebih besar daripada kita yang tinggal di kota besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s