Yang Tersembunyi Itu Cantik

Menurut saya ketersembunyian itu selalu alami dengan kecantikan. Semakin sembunyi, semakin besar pula arti sebuah kecantikan. Orang seringkali mengatakan, cantik itu relatif. Memang benar adanya, karena standard kecantikan itu masing-masing orang pasti berbeda-beda, tergantung sejauh mana orang tersebut mendapat informasi dan menemukan pembanding.

Namun, berbeda dengan kecantikan itu sendiri, ketersembunyian justru jelas ukurannya.

Ketersembunyian bagi seorang manusia (baik laki-laki maupun perempuan) jelas sekali ukurannya. Ada memang, sedikit perbedaan pendapat tentang batas dan ukurannya. Tapi, mayoritas ulama sepakat bahwa hakikat kecantikan adalah ketersembuyian. Artinya, ia senantiasa terjaga, tidak sering dinampakkan, dan apalagi dijamah-jamah sembarang orang.

Ada pesona tersendiri, ketika seseorang (khususnya perempuan) dalam posisi tersembunyi (baca: menjaga diri).

Sama halnya manusia, hukum alam juga berlaku demikian. Kecantikan dan keindahan alam ketika ia terjaga dan terbebas dari unsur manipulatif. Semakin ia jarang dijamah manusia, maka alam semakin indah, cantik, dan tampil alami. Sunatullah.

***

Nah, menyambung tulisan saya lusa kemarin yang bertajuk Bertemu Herwanto di Semeti. Perjalanan saya selama seminggu di Lombok sejatinya adalah mengunjungi alam-alam yang masih tersembunyi.

Dari Semeti, perjalanan sebenarnya akan kami lanjutkan ke arah pantai Mawi. Namun, setelah sedikit diskusi dengan travelmate saya, rencana itu kami ubah. Kami tidak jadi ke Mawi, melainkan langsung ke Selong Belanak.

Mengikuti jalan utama Kuta-Selong Belanak, kami menyusuri jalanan halus yang berkelok-kelok dengan sesekali naik-turun.

Bila dihitung dari Semeti, perjalanan tak sampai sejam. Tibalah akhirnya kami di Pantai Selong Belanak. Sebuah papan nama terpampang jelas dan besar.

Dari peta wisata yang saya bawa, pantai ini berupa teluk yang cukup lebar. Dan itu terbukti ketika saya kesulitan mengambil gambar keseluruhan pantai ini. Maklum, waktu itu travel fakir ini belum mampu beli lensa super wide, yang harganya ada yang bisa buat beli body DSLR high-end. (tips; buat mengakali harga lensa wide yang harganya kelewatan itu, duitnya bisa buat beli kamera Gopro atau Yi camera. Sensasi foto yang dihasilkan cukup memuaskan, selain sudut yang dihasilkan bisa mencapai 150 derajat).

DSC_8863

Setelah parkir, kami kemudian nitip tas di warung makan yang terletak di tepi pantai, sekaligus makan siang dan numpang shalat dhuhur. Menu utamanya adalah nasi rames khas Lombok. Kenapa khas? karena pindah-pindah warung selama 5 hari lebih, menu nasi ramesnya itu-itu mulu. Berupa sayur buncis, kering tempe, sambal, plus lauk sesuai selera. Harganya? murah meriah. Sama es teh, tak sampai 10k.

Setelah perut dan jiwa haknya terpenuhi, saya dan Risal langsung berubah mode kyuubi renang. Sudah sejak hari kemarin, kami menahan diri untuk nyebur. Maklum, suplai pakaian bersih sudah semakin menipis setelah beberapa hari sebelumnya keliling 5 gili untuk berburu spot snorkling.

Akhirnya, kami jeguran di Selong Belanak. Airnya hangat, ya iyalah siang bolong. Pasirnya putih dan lembut. Tapi, yang lebih keren lagi adalah konturnya yang datar memanjang. Selain itu, pantai ini juga berombak sedang, berbeda dengan Mawun yang cenderung tenang dan labil stabil. Jadi, selain nyaman buat berenang juga bisa buat latihan surfing. Membayangkan pantai ini, saya jadi teringat dengan pantai Cesme di Turki. Tapi, Selong Belanak lebih juara. Bahkan lebih cantik dari pada dua pantai utama di Lombok, pantai Senggigi dan Kuta.

Pantai ini masih lumayan alami, campur tangan manusia tidak semasif di Senggigi. Sehingga tak banyak turis yang datang, jadi cukup aman buat kalian yang tidak suka dengan pemandangan-pemandangan ‘yang diinginkan’. Karena tak banyak manusia, pantainya juga bersih terjaga. Itulah bukti, yang tersembunyi itu cantik.

Setelah puas berenang, kami bilas di kamar mandi yang disediakan. Setelah itu, kembali ke warung untuk ambil tas dan beli nasi untuk dibungkus. Perjalanan udah selesai? belum!

Berdasarkan peta wisata yang saya beli, Pantai Selong Belanak biasanya dijadikan titik akhir dalam susur pantai-pantai di Lombok Tengah. Makanya, banyak yang menyarankan untuk menghabiskan sore di pantai ini. Karena, di pantai ini kita bisa melihat matahari terbenam.

Tapi, sedari awal kami memang sengaja tidak mengikuti saran itu. Perjalanan mencari si-cantik belum berakhir.

Rute normal, dari Selong Belanak papan petunjuk jalan, langsung menunjuk arah Mataram. Tapi, kami justru memilih belok kiri ke arah Sepi. Ya, Sepi ini nama daerah ya, jangan dikira kalau sepi itu, cuma milik hati kamu. Jangan ge er!

Dari sini, jalanan sudah mulai menggila. Off road habis. Berlubang, sempit, jembatan tinggal setengah, malah ada yang belum berjembatan.

Pantai pertama adalah Pantai No Name. Karena kami tidak tau persis apa nama pantai tersebut, di peta juga tidak ada keterangan nama, cuma ada gambar orang lagi surfing. Susah payah kami ke pantai no name ini, melewati jalan setapak menembus kebun kelapa milik warga. Sampailah kami di samping sebuah villa. Villa tersebut nasibnya seperti hati para jomblo, tak terawat dan sering terabaikan. Entah, berapa miliar yang terbuang untuk investasi gagal semacam itu.

Pantai ini masih berpasir putih, tapi dengan kontur yang cukup curam. Yang utama di sini adalah ombaknya, ombaknya besar menakutkan. Itu mungkin alasan di peta ada gambar orang surfing tadi.

Setelah beberapa saat galau menghitung ombak yang tiada habis, kamipun melanjutkan perjalanan.

Tujuan selanjutnya adalah pantai Torok. Menuju pantai ini, jalanan semakin parah. Kalau sebelumnya masih ada sisa-sisa aspal, ke pantai ini sudah murni tanah dan batu-batu cadas yang labil. Jembatan tidak ada.

Saat motor matic sewaan kami tidak kuat nanjak bukit, saya yang di depan hampir nyerah. Karena motor ngga mau jalan, malah selip diantara bebatuan.

Tapi, Risal di belakang terus menguatkan.

“Kita bisa… kamu bisa” serunya, menguatkan.

Dorongan semangat tak hanya verbal, laki-laki Makasar ini cukup peka dengan sesakili turun dari jok belakang. Mendorong secara fisik. Risal ini, tipe-tipe cowok pengertian dan bertanggung jawab. (Kalau ada yang mau kenalan, cukup email saya. Kabar terakhir, dia juga tengah menanti sang pujaan). *tuh kesempatan.

Setelah naik bukit dan turun lagi, macam ninja Hatori. Akhirnya kami tiba di pantai Torok.

Pantai ini berupa teluk, dengan sebuah bukit menjulang di masing-masing ujungnya. Tidak terlalu luas, tapi tak terlalu sempit.

Pantai ini tampaknya masih perawan. Buktinya, tidak nampak bekas kendaraan. Perahu-perahu nelayan juga tidak nampak. Rumah? ada tapi jauh. Yang ada adalah gubuk-gubuk kecil tempat berteduh para penderas kelapa atau penggembala kambing.

Serasa pantai ini cuma milik kami berdua (jangan berpikir aneh-aneh ya). Di pantai ini, kami buka lagi nasi contong khas Lombok yang kami beli tadi di Selong Belanak. Makan siang jilid 2.

Saking nikmatnya merasakan indahnya pantai ini, saya sempat ketiduran beberapa saat. Yang akhirnya, lupa untuk foto-foto.

Begitulah tabiat kecantikan, ia seringkali melenakan. 

Risal membangunkan saya. Kami tidak mau sampai kemalaman di tempat antah berantah yang jaringan listrik pun belum hadir.

Destinasi terakhir kami adalah Pantai Sepi.

Dari sini, jalanan belum ada tanda-tanda nyaman. Namun, kondisinya lebih baik ketimbang sebelumnya. Jalanan sudah diperlebar, dan diperkeras, mungkin dalam waktu dekat akan segera diaspal.

Dari peta, di pantai sepi tergambar orang menyelam dan seekor penyu. Itu artinya, pantai ini spot untuk diving. Berhubung kami berdua tidak bisa diving dan tidak punya alat-alatnya. Akhirnya kami mengurungkan niatan kami mengunjungi pantai ini. Cuma meliriknya dari kejauhan, dari atas bukit.

DSC_8908
Pantai Sepi dari atas bukit

Da dah pantai, pasir, dan angin sepoi-sepoinya. Kami harus kembali ke Mataram.

Dari Sepi, perjalanan mulai nyaman. Aspal mulai bermunculan, hingga akhirnya kami tiba di jalan raya Sekotong. Itu artinya, 1.5 jam lagi kami tiba di Mataram.

Di Mataram, malam itu saya dan Risal berpisah. Risal lanjut berpetualang ke gili Sudak, saya sendiri lanjut ke arah timur. Tujuan saya adalah pulau seberangnya. Sumbawa!.

Sebelum itu, sempat meet up dengan teman-teman Lombok Backpacker. Para tuan rumah yang asyik dan ramah.

Bye bye Lombok, ketemu lagi tahun depan dalam keadaan dan status yang lebih baik. *eh

Catatan: masih ada beberapa yang belum di ceritakan dari perjalanan beberapa hari sebelumnya, seperti keliling 5 gili sampe gosong, jalan ke kampung Sade, ziarah masjid kuno Rambitan, menengok pantai Batu Payung, pantai Mandalika, dan tentu saja Pantai Kuta versi Lombok.

Advertisements

27 thoughts on “Yang Tersembunyi Itu Cantik

  1. Haduh, jadi kangen rumah nih Mas :hehe, biru langitnya persis banget dengan apa yang saya ingat kalau sedang tidur-tiduran di belakang rumah. Saya juga tumben dengar Pantai Torok dan Pantai Sepi :hihi, saking banyaknya pantai di Lombok dan semua belum sempat saya jelajahi. Ah, jadi menyesal, kenapa keinginan jelajah itu baru muncul sekarang setelah saya tak lagi tinggal di Lombok ya :haha. Harus pulang deh…

  2. Pantai Selong Belanak ini memang juara. Yang aku suka dari pantai ini adalah pantai pasir putihnya yang lebar dan panjang, benar-benar menyenangkan. Waktu ke sana dua tahun lalu pun, pantai ini sepiiiiii banget. Gak banyak pengunjung. Dan relatif gak ada tukang jualan yang ‘gengges’ itu. Mungkin karena letaknya yang agak susah dijangkau ya, dengan jalanan yang lumayan menguji kesabaran. Pengen balik lagi kesana, karena waktu itu belum sempat berenang-renang, cuma mampir sebentar soalnya udah sore banget dan gelombangnya sedang besar, plus mendung pula 🙂

    Dan pantai-pantai tetangganya juga gak kalah ok ya. Kalau ke Lombok kayaknya harus cobain momotoran juga nih.

    Nice post, bikin kangen Lombok dan pantai Selong Belanak lagi 🙂

  3. Pantai cakep, bagus, gak banyak pengunjung: itu tempat yang asik buat dinikmati.
    Kalo saya setiap hari menikmati pantai, udah kayak nelayan saja, karena lokasi kerja yang dipinggir pantai, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s