Winter Aid: Syrian Refugee

Desember 2015, itu artinya konflik sipil Syria sudah memasuki tahun ke lima. Yang terlibat, makin banyak negara. Korbannya, ratusan ribu nyawa. Pengungsinya, jutaan anak manusia.

Awal saya datang ke Turki, saya juga sudah mendengar kabar tentang kabar pengungsi Syria. Malah waktu itu, saya sempat memfasilitasi lembaga kemanusian di Indonesia seperti PKPU dan ACT yang akan menyalurkan bantuannya ke pengungsi Syria di Turki.

Namun, waktu itu. Para pengungsi masih tersentral di kamp-kamp pengungsian di daerah perbatasan, seperti Sanliurfa dan Hatay.

Tapi, sejak memasuki summer kemarin, hampir semua kota-kota di Turki dibanjiri oleh para pengungsi. Para pengungsi ini sengaja kabur dari kamp pengungsian, karena merasa bosan bertahun-tahun menunggu resolusi konflik yang tak kunjung datang. Mereka rindu, kehidupan di luar pengungsian.

Jika dulu, para pengemis dan gelandangan di Turki adalah mereka kaum Gipsi yang sebagian besar datang dari daerah Edirne (berbatasan dengan Bulgaria dan Yunani), kini ‘profesi’ mereka digantikan oleh para pengungsi Syria.

Meski berbeda bangsa diantara keduanya, namun ada satu kesamaan. Sama-sama tidak bisa berbahasa Turki. Yang Gipsi hanya bisa bicara bahasa Roman, yang Syria hanya bisa berbahasa Arab.

Dan mungkin, karena sebab itulah, profesi yang bisa (mudah) mereka geluti adalah dengan nongkrong di keramain, sambil berharap peluk kasih para dermawan.

Akan tetapi, tidak semuanya begitu. Banyak juga dari mereka yang diperbolehkan untuk bekerja, berdagang, hingga bersekolah/kuliah di kampus-kampus Turki.

Namun tetap saja, tidak semuanya bisa tertampung. Bayangkan, ada lebih dua juta pengungsi Syria, di Turki. Itu, sebanyak penduduk kota Jogja (dan sekitarnya) di kumpulkan jadi satu.

Nah, ketika musim dingin datang, satu hal yang menganggu tidur saya adalah membayangkan mereka kedinginan di emper-emper toko, pelataran masjid, dan di stasiun-stasiun kereta. Mereka tak hanya kaum dewasa, banyak juga anak-anak balita.

Winter is coming.  Our brothers are freezing.

Pernah, ada yang sinis berkata “Syria kau bela, Papua kau nista!”.

Duh, sudah dipastikan orang yang berkata itu terindikasi kurang piknik. Selalu berburuk sangka, bahwa mereka yang membantu saudaranya di Palestina atau Syria, dikatakan melupakan saudaranya di Papua.

Padahal dia tidak tahu, di saat yang sama para dermawan juga mengulurkan tangannya untuk saudara-saudara kita di Papua atau saudara-saudara terdekatnya.

Kalau memang tidak berniat menderma, paling tidak jangan mencela. Banyak-banyaklah piknik, biar hati tidak sempit dan pikiran tak gampang panik.

Yuk, sisihkan sebagian harta untuk suadara-saudara kita di Syria.

Ini beberapa lembaga kemanusian yang kredibel dalam menyalurkan bantuannya, dari Aceh hingga Papua, dari Jakarta hingga Syria.

PKPU – http://www.pkpu.org/

ACT – http://www.act.id/id/home

Rumah Zakat – https://www.rumahzakat.org/en/

Advertisements

6 thoughts on “Winter Aid: Syrian Refugee

  1. Terima kasih buat infonya Mas. Di manapun mereka berada, dari latar belakang apa pun dengan agama apa pun serta ras manapun, mereka juga manusia, saudara kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s