When Knowledge Conquered Fear

Kemarin, saya diminta temen-temen PPI untuk menjadi pemantik diskusi. Pemantik, ya saya lebih memilih kata ini ketimbang kata ‘pembicara’. Selain karena ingin ada interaksi dua arah, juga tema yang diangkat terlalu berat buat saya pribadi. Tema diskusi tersebut tak lain adalah cosmos, yang lebih spesifik lagi adalah tentang komet dan garis edar (orbit).

Sebagai anak nuklir yang kini jatuh hati dengan dunia panas bumi, tentu saya harus membuka kembali file-file usang yang sudah terlalu lama tak tersentuh di sudut pojok jauh di dalam otak.

Saya pernah mempelajari secara khusus tema cosmos dan astronomi, tapi waktu sekolah dulu. Saat saya dipaksa guru sekolah untuk mengikuti olimpiade fisika, yang kemudian gagal saya menangkan :D. Nah, waktu itulah terakhir kalinya saya tahu tentang dunia cosmos yang ulasannya sangat luas tersebut. Teorinya pun bermacam-macam. Sehingga, pilihan menjadi sekedar pemantik diskusi akan lebih tepat, jika dibanding dengan konsep ceramah ilmiah. Karena saya tak lebih tahu dari orang yang tidak tahu.

Acara diskusi dimulai dengan nobar sebuah video dengan judul sama dengan tulisan ini, link video-nya di sini. Video dokumenter dengan tema cosmos buatan Fox channel. Setelah 40 menit berjalan, dengan beberapa perserta yang tumbang, karena sebab puasa dan topik yang beyond imagination tersebut. Saya kemudian, diminta pembawa acara untuk memulai diskusi.

Hal pertama, sebelum saya memulai membahas isi video tadi. Saya mulai dengan games ringan, berupa; meminta peserta untuk menggambar wajah di kertas. Namun, dengan dua aturan; mata harus tertutup dan mengikuti kata-kata saya tiap langkah menggambarnya.

Dan hasilnya bisa ditebak, amburadul semua. Ada yang kedua matanya tidak persisi, garis wajah yang tidak nyambung, dan sebagainya. Kemudian, saya bertanya retorik pada mereka “Bagaimana, kalau seandainya kalian menggambar wajah tapi dengan mata terbuka? akan lebih mudah dan hasilnya lebih baikkan?”. Mereka manggut-manggut. “Ya, hanya dengan membuka mata, kita akan lebih mudah dalam melakukan segala sesuatu dan yang lebih penting lagi, kita tidak akan mengalami ketakutan meskipun itu hanya menggambar wajah sendiri yang nyaris tiap hari kita lihat di cermin kamar mandi. Persis dengan judul film tadi”

Kemudian setelah itu, kami mulai membahas beberapa fakta kosmik yang ada dalam video tersebut. Seperti tentang anggapan beberapa peradaban masa lalu dari Babylonia hingga era Hindu, yang beranggapan bahwa datangnya komet adalah pertanda marabahaya, merebaknya penyakit, bahkan jatuhnya seorang pemimpin. Peradaban pada masa itu, begitu takut dengan hadirnya benda langit yang berekor panjang itu. Mereka takut, karena tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Saya teringat, waktu kecil dulu. Saat beberapa kali gerhana bulan. Warga kampung begitu heboh, memukul-mukul kentongan, sedangkan anak-anak berlari ke dalam senthong (kamar). Kata orang-orang dewasa, rembulan lagi dicolong gendruwo. Suasana begitu mencekam, menakutkan seiring dengan semakin nyaringnya suara kentongan. Bagaimana tidak, bulan yang jauh dan tinggi saja bisa dicuri oleh gendruwo, apalagi hanya anak-anak. Pikir kami.

Itu semua, karena buah ketidaktahuan. Bagaimana dengan mereka yang tahu? beda lagi ceritanya.

Di dalam video tersebut juga disebut tentang sejarah penemuan komet, asal-usul komet, teori mengukur jarak antar semesta, dan yang lebih menarik lagi adalah fakta bahwa komet mempunyai sebuah orbit seperti halnya planet-planet. Termasuk, peranan gravitasi dalam hal itu. Lebih jelasnya tonton video di link tadi.

Setelah membahas kisah kosmik yang maha luas, saya kemudian buka beberapa fakta yang kebenarannya tak terbantahkan. Fakta tersebut ada dalam di dalam sebuah buku, kita menyebutnya sebagai Al-Quran.

Kapan kamu terakhir membukanya? membacanya? sukur-sukur hanyut menyelami keindahan isinya.

Fakta-fakta di dalam Al-Quran, tentang kosmik ternyata tidak jauh berbeda dengan yang diungkap oleh para astronom modern saat ini. Lebih jauh tentang itu, silahkan buka sendiri-sendiri. Diantaranya surat Al-Anbiya ayat 33, Ad-Dzariyat ayat 7 dan beberapa ayat yang lain.

Dari sini, kemudian saya arahkan pembicaraan tentang bukti sebuah keberadaan Tuhan. Eksistensi yang menciptakan dan mengatur segala isi jagad raya.

Termasuk juga, melalui sebuah eksperimen fisika, untuk membuktikan keberadaan Tuhan tadi. Gunanya, untuk membuktikan bahwa sebuah keimanan itu tidak hanya berlandaskan perasaan teramat dangkal, tapi suatu keputusan yang begitu rasional.

Kata simbah "Keimanan sing nyathol ning manah lan utek"  
-keimanan yang terpaut di dalam hati dan rasio.

Eksperimen semacam apa itu? akan saya jelaskan di tulisan selanjutnya. Jika terlalu banyak, malah semakin malas untuk dibaca. 😀

NCOS7200

Gambar dari sini

Advertisements

23 thoughts on “When Knowledge Conquered Fear

  1. Bulan di gondol gendruwo…hehee lucu..trs komet jatuh pertanda dll..makanya orang orang dulu mungkin blm luas pengetahuanya dan mash percaya mitos..mugkin perlu bc Quran dan maknanya..

  2. Wew..tenanan iki Mas?? Iki fiksi opo non fiksi iki postingane jenengan?? (^^)v
    Diskusi temanya kosmologi, whoa..asikk rek. Melewati batas ruang dan waktu. Mengerikan pemikiran para kosmolog 😀

    Buat postingan tentang energi lah Mas. Request..Hot topic buat masa depan dunia iku :mrgreen:

  3. Di kampung saya dulu kalo ada gerhana, setiap ibu Hamil pada ngumpet dikolong bale.. Mitos itu begitu kuat mengakar.. entah dari mana asalnya. Ditunggu tulisan berikutnya kang..

  4. Acara cosmos itu salah satu favorit saya dan teman sederet meja d kantor #teruskenapa :D. Klo ngobrolin itu bisa seharian ra uwis2 #kapankerjanya

    Semakin belajar tentang alam, semakin cintaaaa sama Alloh.

  5. Pemantik lebih keren dari pembicara. Ada sumber panas, ada gas tapi kalo gak ada pemantik gak nyala tuh kompor gas, hehehe…
    Soal gerhana bulan itu, saya juga waktu kecil kalo ada gerhana tersebut disuruh masuk rumah. Gak jelas alasannya kenapa, 🙂

  6. Kita memang takut akan sesuatu yang tidak pasti/tidak kita ketahui ya Mas. Kalau sudah tahu dan paham apa yang terjadi, pasti menghadapinya juga jadi lebih tenang :)). Masalahnya, semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak juga yang kita tak tahu Mas :hihi. Jadinya ya sudahlah ya, mari mencoba menjadi orang yang tahu, jadi makin banyak yang kita tak tahu, makin jauh juga kita dari kemungkinan menyombong dan membual :hehe.

    Nice post!

  7. pemantik. Istilah yang jarang digunakan ya itu mas 😀 kebanyakan lebih make kata pembicara 😀

    Waktu kecil dulu aku juga gitu mas, gerhana bulan kentongan dibunyiin semua lari-larian ke dalem 😀 wkwkw kayak hal langka banget bulan dimakan genderuwo 😀

    Pengetahuanmu luas banget mas :)) ditunggu tulisan slanjutnya ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s