Kesadaran Kosmos

Bila ada seorang atheis bertanya; “Apa bukti bahwa tuhan itu ada?” maka jangan panik, gugup, dan lalu tak bisa jawab. Dengan tenang, jawablah dengan “bintang-bintang di langit”.

Kalau benar-benar dia orang yang ngilmiah tentu akan mengerti, lalu dia akan beriman setelah mendengar jawaban itu. Karena, pada dasarnya hubungan antara tuhan dengan bintang-bintang adalah pelajaran Fisika SMP kelas 1. Tentu dia akan paham. Kalau belum juga mengerti, mungkin… ah saya ndak mau bersu’udzon. Bisa saja, dia waktu pelajaran Fisika waktu itu sedang tidak masuk kelas.

Jadi begini,

Pernah dapet materi tentang cahaya waktu SMP dulu? pasti pernah. Nah, dalam salah satu sub-babnya, pak guru kita pernah membahas tentang double slit experiment, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh mbah Thomas Young pada tahun 1801. Dalam eksperimennya, mbah Young menerangkan begini;

Taruhlah sebuah layar dan sumber cahaya, lalu di tengah-tengahnya diletakan sebuah benda bercelah (single slit). Ketika sumber cahaya tadi ditembakkan ke celah tadi, maka di layar akan tampak seberkas cahaya yang berbentuk seperti celah tadi. Efek ini seperti ketika kita menembak segenggam pasir ke celah tadi, maka yang akan nampak di layar adalah bekas pasir yang berbentuk celah. Kebayangkan?

Kemudian, buatlah eksperimen lagi. Kali ini, ditengah-tengah antara sumber cahaya dan layar, diletakan benda yang sama tapi memiliki dua celah (double slit), lalu tembakkan cahaya tersebut ke celah tadi. Kira-kira apa yang terjadi? ada berapa berkas cahaya yang nampak pada layar?

dua? hmm… yakin?. Kalau gitu, satu. Ehh malah, minta diskon. :mrgreen:

Jawaban yang benar adalah banyak. Lah kok bisa.

Begini. Eksperimen kedua ini, layaknya ketika sebuah gelombang (katakanlah gelombang air) yang terdifusi melalui dua celah. Maka, gelombang tersebut akan membuat sebuah formasi gelap-terang, gelap-terang yang semakin kesamping semakin memudar. Karena dua gelombang yang tinggi jika bertemu akan saling menguatkan, yang rendah akan meniadakan. Ngertikan maksudnya?

Nah, hal yang sama juga terjadi pada eksperimen cahaya tadi. Di layar akan nampak banyak cahaya gelap-terang, yang semakin kesamping semakin randah intensitasnya. Seolah-olah, menampakkan perubahan sebuah cahaya menjadi sebuah gelombang.

Kemudian, dibuatlah sebuah eksperimen ketiga, guna menyelidiki bagaimana perjalanan partikel-partikel dalam cahaya yang ditembakkan tadi. Dalam eksperimen ketiga ini, diletakkan sebuah detektor/sensor pada salah satu celah tadi. Guna detektor ini adalah untuk memantau bagaimana pergerakan partikel-partikel foton dari sumber cahaya ke layar melaui dua celah tadi.

Lalu, apa yang terjadi ketika ditaruh detektor. Dari sini, kita akan tahu foton-foton tersebut melewati celah yang mana satu-perwsatu, kemudian akan terproyeksi di layar seperti apa. Yang terjadi adalah seperti pada percobaan pertama. Hanya saja, di layar akan nampak dua garis cahaya (soalnya celahnya ada dua). Hal ini, sangat berbeda jika dibandingkan dengan percobaan kedua. Seolah-olah mengisyaratkan bahwa gelombang cahaya berubah menjadi partikel.

Single_slit_and_double_slit2

Kemudian, apa signifikasi antara percobaan kedua dan ketiga? antara yang tidak ada detektor dengan yang pakai?

Signifikansinya adalah kita tahu informasi cahayanya akan lewat mana (pergerakan foton). Sehingga, yang membuat gelombang tadi menjadi partikel adalah adanya pengamat atau kesadaran yang mengawasi (kalau dalam eksperimen tadi disebut detektor).

Lantas, kita tengok benda-benda di luar angkasa. Benda-benda kosmik; bulan, meteor, dan bintang-bintang. Benda-benda itu tak lagi berupa gelombang (potensi), melainkan partikel-partikel (eksistensi) yang ukurannya luar biasa, jumlahnya pun tak terhingga.

Kemudian, pertanyaannya adalah siapa/apa yang mengamati benda-benda itu, yang memberikan informasi bahwa sebuah potensi menjadi eksistensi? siapa yang melihat dan mengatur itu semua? siapa yang membuat semua keteraturan itu?

Maka, kita akan menemukan jawabannya dalam agama. Apa yang oleh agama disebut sebagai Tuhan, Allah Azza wa Jalla. Dia-lah Al-Bashiir dan Al-Mudabbir, yang Maha Melihat dan yang Maha Mengatur.

Sehingga sesungguhnya, kesadaran kosmos lebih bermakna sebagai sebuah pendekatan empirik yang menebalkan keimanan di dalam hati. Meskipun, sebuah keimanan pada dasarnya tidak memerlukan sebuah pembuktian empiris. Masih ingat kan? tentang metode berpikir teologis yang pernah saya sebut dalam tulisan ini. Maka, acuan berpikir seorang beriman sepatutnya seperti itu.

Sehingga tak heran, ketika Mbah Young menemukan eksperimen ini banyak orang eropa kembali ke gereja, tempat yang sudah sekian lama mereka lupakan tepatnya sejak era renaissance.

Orang Jawa pun demikian, karena susah melogatkan si-mbah Young, maka orang Jawa melogatkannya dengan; sembahyang. Kata, yang digunakan kalau orang Jawa mau berangkat ke masjid. Misal; “Mau kemana di, Paidi?” jawab Paidi “Arep sembahyang”  *Kalau yang ini, cuma pake cocoklogi.

Dengan ini, lanjutan tulisan sebelumnya When Knowledge Conquered Fear, terbayar lunas.

Semoga bermanfaat.

Tentang double slit experiment silahkan lihat di bawah ini.

Gambar dari sini

Advertisements

17 thoughts on “Kesadaran Kosmos

  1. Tulisannya selalu mencerahkan. Alhamdulilah. Keimanan memang tidak memerlukan pembuktian empiris, logisnya buat apa kita muter-muter baitullah ketika haji dan umroh, kalo bukan karena iman semua itu menjadi nol. Makasih mas…

  2. Ini baru yang namanya artikel keren. Aku baru paham tentang kegunaan pelajaran fisika waktu sekolah dulu. Hahaha. Btw, bisa aja mas, kalimat “mau kemana paidi?” “Arep sembahyang” cukup bikin ketawa 😀

  3. Kalau ada seorang Atheis bertanya apa bukti tuhan itu ada? Sebagai orang awam, kemungkinan besar saya akan membawa Al Quran dan menunjukkan ayat2 yang sudah ada bukti ilmiahnya 🙂 Namun tulisan diatas bagus sekali, mengingatkan diri sendiri bahwa saya masih harus banyak2 belajar *terutama karena saya benci fisika waktu sekolah dulu*. Well done Mas Parmanto! 🙂

  4. Masya Allah…
    Saya benar-benar tergugah. Artikel yang luar biasa. Pas saya baca dari tulisan aja, berulang kali baca tetep gak ngerti. Alhamdulillah disertai video. Videonya sangat menjelaskan (walau ditonton berulang kali juga sih, hehe). Intinya bahwa partikel cahaya tersebut memiliki preferensi misterius untuk memasuki celah yang mana. Bahwa setelah dilihat secara partikel individu, partikel tersebut akan terpapar dalam posisi yang menyebar secara misterius. Yang pasti ada ‘yang mengatur’ bagaimana partikel-partikel tersebut akan jatuh ke mana. Dan di sinilah yang Maha Melihat dan Maha Pengatur memainkan peran Sang Maha Kuasanya. Subhanallah

    Semoga kalau seorang atheis yang membaca, ia bisa merubah keyakinannya

    (Tolong dikoreksi ya mas Parmantos. Supaya saya atau pembaca lain tidak salah paham 😉 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s