Gravitasi Hati

Ada yang menarik dari laporan tahunan kemarin, blog yang baru aktif kurang lebih dalam setahun ke belakang. Dikatakan, bahwa dua dari lima tulisan terpopuler sepanjang tahun 2015 kemarin adalah tulisan yang membahas tentang cinta dan hal terkait mencari pasangan. Padahal, blog ini tidak secara khusus branding bab masalah itu, belum lagi si-penulis sendiri bukanlah pujangga cinta. Meskipun, itu bukan berarti penulis tidak pernah merasakan cinta. ^^

Dalam tulisan sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang gravitasi. Masih ingat? jika lupa silahkan kunjungi di sini.

Lantas, apa hubungan antara kuantum fisika; Gravitasi dengan Cinta?

Mudahnya begini. Ada dua massa yang berdekatan, katakanlah; aku dan kamu.

Menurut definisi, gravitasi itu berbanding lurus dengan perkalian dua massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara dua massa (kamu dan aku). Signifikansinya, ketika satu massa berdekatan dengan massa yang lain, maka otomatis masing-masing akan saling mempengaruhi, muncul gaya tarik-menarik.

Akan tetapi, mekanisme fisik ini tidak akan pernah terjadi bilamana kuadrat jarak antara dua massa ini terlalu besar (kelewat jauh), tak sebanding dengan besarnya perkalian massa antara kedua massa tadi.

Aku di sini, dan kau di sana. [Tak] berjumpa walau cuma via suara.
~RAN

Dari sini, kemudian kita memahami. Bahwa bilangan massa dan jarak berperan penting dalam memperbesar gaya gravitasi (baca: ketertarikan hati).

Dalam kuantum hati, ‘massa’ bisa jadi berarti; paras yang rupawan, intelijensia yang andalan, harta yang mapan, atau pula akhlak yang jempolan. Tergantung setiap individu yang berkeinginan untuk menonjolkannya, bisa salah satu saja ataupun semuanya sekaligus. Untuk menambah daya tariknya, gampang saja caranya. Tinggal maksimalkan masing-masing ‘massa’ tadi. Bahasa kaum single menyebutnya: saling memperbaiki diri hingga tiba masanya. Begitu katanya.

Sampai di sini, gravitasi belum berbuah apa-apa. Tak lain, hanya perasaan yang saling menjaga jarak. Gandrung yang menggantung, belum sampai limbung (jatuh).

Untuk jatuh (cinta), diperlukan jarak yang cukup, semakin kecil jarak semakin besar pula gaya gravitasi yang ditimbulkan. Pada tahap ini, orang mulai terbunga-bunga, perasaan yang sulit untuk didefinisikan, tidak rasional, dan yang parah adalah sulit menerima masukan.

Jarak dalam kuantum cinta, tak hanya bilangan interval jarak antara satu benda dengan lainnya. Tapi juga bisa berbentuk, interaksi dan kualitas komunikasi. Tak harus saling ketemu untuk membuat seseorang jatuh, hanya perlu sebuah komunikasi yang intensif dan rutin sebagai pengganti jarak yang membentang.

Bila, jatuh (cinta) terus terpupuk maka akan muncul sebuah adiksi. Adiksi hati yang tak terpenuhi biasanya berbuah pada kebencian, yang tragis adalah bibit dari keputusasaan.

Layaknya gravitasi, hati (cinta) juga butuh keseimbangan. Artinya, kalau cinta ya harus dari dua sisi (tarik-menarik).

Makanya, banyak ulama yang menyarankan; dalam mencari pasangan hati sebisa mungkin yang sekufu -sepadan. Biar tidak muncul gravitasi hati yang tak berimbang. Ketika hanya satu sisi saja yang terpengaruhi oleh medan gravitasi, sementara yang lain tanpa daya untuk menyeimbangi. Dimana, satu massa yang terlalu mendominasi massa yang lain.

Karena, tak semua calon suami itu sebaik, ‘se-modern’, dan se-legawa Anders Holm (Matt) dalam film The Intern; yang dia rela membuang karir, demi menjadi ‘a stay at home dad’ untuk putrinya, sementara sang isteri menjadi CEO dengan karir cemerlang. Ya, tak semua laki-laki bisa seperti itu. Ingin selalu bisa diandalkan adalah salah satu sifat dasar seorang laki-laki.

Meskipun begitu, sekufu hanyalah rekomendasi. Boleh diambil boleh tidak. Tergantung pada komitmen dan sikap narimo masing-masing pasangan.

Terakhir, gravitasi berimbang itu layaknya kisah sang bulan dan bumi. Mereka berbeda, tapi masing-masing saling terkait, membutuhkan dan saling melengkapi. Sukur-sukur seperti Andromeda dan Bimasakti. Penyatuan mereka (kelak?) membentuk harmoni baru, berupa galaksi yang dipenuhi keindahan. Biar tak seperti, kisah si-batu meteor dan bumi. Hubungan keduanya, hanya ada untuk saling menyakiti.

sipermoon

Ilustrasi dari sini

 

Advertisements

52 thoughts on “Gravitasi Hati

  1. Kalau saya sejauh ini menambah massa dulu, bagaimana ya Mas? :haha. Semacam memperbaiki diri, menambah kemampuan yang sekiranya bisa menarik calon-calon pasangan yang juga punya massa yang besar :hihi. Kan jadinya seimbang, kita yang berusaha jadi yang terbaik juga pada gilirannya nanti juga menarik calon-calon yang terbaik juga :hehe. Ah ngomong apa toh saya ini, jika ada salah mohon dimaafkan ya :haha.

  2. Ish …ish malem2 ngomongin gravitasi cinta, hubungan jarak dengan massa. lalu apalagi bang ? :p lagi jatuh cinta yaa, atau lagi kangeen seseorang. atau ..atau, ah kebanyakan perumpamaan 🙂 *kaboooor*

  3. Gravitasi hati… judulnya aja bikin pengen baca… pas baca jadi angguk-angguk. Jadi gitu toh… perbesar ‘massa’ kurangi jarak. Tapi balik lagi, kalau nggak jodoh ya ga bakalan terjadi gravitas wkwkwk #edisiPesimis

    • Beda mas, soalnya massa keduanya beda. Tapi, paling tidak si bulan mampu mengimbangi… hingga darinya menjadi satelit. Beda cerita jika itu sekedar batu meteor, biasanya massanya jauh2 lebih kecil… 🙂

  4. Selain gravitasi, banyak hal lain yang bisa di analogikan sebagai cinta. proton dan elektron contohnya, yang saling tarik menarik walau mempunyai sifat yang berbeda. Dari sifat yang berbeda tersebut, karena tarikannya sepadan, seimbanglah mereka menjadi suatu kesatuan. Adalagi minyak dan air, yang punya fase dan sifat sangat berbeda, tapi bisa disatukan menggunakan emulgator melalui ikatan van der walls. Air dan minyak diibaratkan hati 2 orang. Sedangkan emulgator adalah cinta. Rumus jumlah penggunaan emulgator juga ada dan harus sesuai, ada pakemnya,tidak asal-asalan. Yang kurang atau berlebihan itu tidak akan menghasilkan emulsi yang stabil. Ya, sama seperti cinta.

  5. heik…itu..berasa kenal sama gambarnya…

    Baru tahu kalo andromeda dan bimasakti akhirnya menyatu *langsungSearching
    Pengetahuan astronomimu ngeri juga ya Mas. *tepuk tangan
    Bikin buku teori cinta ala anak fisika aja wis Mas. Laris mesti 😀

    Jatuh cinta itu rumit ya?? *polos
    Jatuh cintanya sama yang udah halal aja kali ya. Ben simpel dan tak ada yang tersakiti -___- #GueNgomongApaan

  6. Mas Slamet, bisa jadi nanti akan ada novel berjudul gravitasi cinta setelah baca tulisan panjenengan, 🙂 Banyak lho novel hasil karya anak negeri yang berjudul aneh-aneh, hahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s