Romi-Ronny dan Kisah Rektor yang Lucu

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kabar yang mengherankan. Di tahun 2016 ini, masih ada era otoritarianisme di ranah akademis. Yang menganggap pejabat kampus sebagai pemangku kekuasaan tertinggi sekaligus sumber kebenaran.

Kabar itu tak lain, tentang kisah Ronny -mahasiswa alim, cungkring, serta berkacamata, namun ia memiliki nyali besar dalam menyuarakan kebenaran, setidaknya nilai-nilai yang ia yakini. Meski, harus dibayar dengan jalan terjal lagi pahit, berupa SK. DO dari sang rektor UNJ akibat ulahnya yang terlalu kritis itu.

Sejurus kemudian, saya teringat sebuah memori lama. Lebih dari satu dekade yang lalu. Adalah sosok mas Romi, senior saya jauh, tapi penuh menginspirasi. Pertama kali saya mengenal beliau, saat sama-sama menjadi relawan gempa Jogja kala itu. Waktu itu (masih SMA), saya belum begitu ngeh, bila orang alim yang sering saya temui di tenda posko itu ternyata mantan presma yang pernah menginap di Polda, atas laporan sang ayahandanya sendiri (baca: rektor). Baru setelah saya resmi satu almamater dengan beliau, kemudian saya mendapat ceritanya secara utuh.

Sikap kritisnya kala itu, menyikapi peralihan status UGM, dari PTN menjadi PTBHMN, berujung pada pelaporan dirinya ke kepolisian. Layaknya, bara api yang disiram sebotol bensin. Tahu, sang presma diperiksa oleh polda, kawan-kawannya gigih membuat perlawanan dari segala lini. Memaksa rektor tunduk atas asiprasi mahasiswa, ya meski perjuangan pengahapusan PTBHMN baru berakhir beberapa tahun kemudian, setelah jalan panjang hingga di meja MK.

Di sini, kisah Mas Romi. Begitu menginspirasi, terutama kepada generasi-generasi selanjutnya. Bahwa tidak ada yang sia-sia, dari sebuah perlawanan.

Namun, sebuah antithesa terjadi pada kisah Ronny. Sehari pasca keluarnya surat DO, gerakan pelawanan seakan sudah ‘masuk angin’. Ketika, seorang anggota DPR yang katanya alumni kampus yang sama ‘memediasi’ antara sang rektor dan Ronny. Adegan salah panggung.

Ini layaknya, saat kita memasak air dengan bara api. Air yang baru mulai grembul-grembul (belum mendidih), namun bara api dipaksa padam dengan disiram air es. Masuk angin.

Ya, saya paham. Bahwa sang presma memang layak bela, selain juga tindakan sang rektor yang sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, memang tidak bisa dibenarkan. Tapi, paling tidak biarkan adik-adik mahasiswa itu memberikan perlawanannya. Agar supaya mahasiswa tidak gampang manja di era sosial media. Karena, sejatinya jejak perlawanan juga bagian dari edukasi bagi mereka.

Karena saya yakin, tanpa bantuan ‘mediasi’ dari sang dewan sekalipun, keputusan sang rektor sangat bisa dianulir. Karena ada indikasi misprosedural.

Ya, begitulah kisah para mahasiswa kritis yang dicoba ‘dikebiri kejantanannya’ oleh para ayahanda yang lucu (baca: rektor).

Seyogyanya, hubungan rektor dan mahasiswa itu seperti ayah dan anaknya. Jika dibelakang ia memberikan dorongan, membersamai ia memberi inspirasi, dan bila di depan ia memberi teladan.

Tapi sayang, UNJ itu di Jakarta bukan Yogya. Pula UGM, letaknya di Sleman. 🙂

Semoga saja, di luar sana masih banyak laki-laki muda sejenis Romi dan Ronny. Bukan para pemuda yang nampak gagah diluar, tapi feminim di hati, minim empati, serta kurang motivasi. Yang hanya tahu bagaimana jurus seribu selfie.

Semoga.

Kliping koran dari Mas Yusuf Maulana.

Advertisements

15 thoughts on “Romi-Ronny dan Kisah Rektor yang Lucu

  1. Tindakan sang rektor yang defensif itu bagi saya justru membuktikan kalau mahasiswanyalah yang benar, sedangkan apa yang ia lakukan sebetulnya sebuah kesalahan :haha. Ah, orang-orang itu judulnya penguasa dan punya kuasa besar akan suatu institusi, tapi kok tindakannya pengecut ya… tak ada yang salah dengan menghadapi dan mengakui kesalahan, namanya juga manusia. Masih untung yang mengingatkan itu mahasiswa, kalau peringatan Tuhan yang turun, saya nggak ikut-ikut deh… :hehe.

  2. Apa ??
    Bukan para pemuda yang nampak gagah diluar, tapi feminim di hati, minim empati, serta kurang motivasi. Yang hanya tahu bagaimana jurus seribu selfie.=> baca ini ngakak hehehe… banyak itu mah para pemuda yang hatinya feminim hihih :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s