Cerita Tentang Petai

Setiap teleponan dengan kekasih, selalu saja ada hal-hal baru yang diceritakan. Kekasih saya ini, layaknya wikipedia berjalan. Tempat update tentang segala hal. Tak melulu tentang hal-hal serius, kadang sekedar ngomongin tentang tetangga yang sebentar lagi mau kawinan atau sekedar naiknya harga cabe di pasar.

Nah, dalam suatu kesempatan. Suara di ujung telepon 10.000 km jauh di sana, bercerita tentang ‘kabar’ pohon petai depan rumah kami yang sebentar lagi ranum, siap panen.

Pohon petai depan rumah kami ini ukurannya cukup besar, ketinggianya sudah melewati tinggi sebuah pohon kelapa di samping kanannya, bahkan lebih tinggi dari pohon durian di sampingnya kirinya. Kalau diumpamakan perkarangan kami adalah sebuah kerajaan tumbuhan, maka pohon petai ini adalah sang raja, dengan pohon kelapa sebagai ratu, dan durian sebagai sang mahapatih. Sehingga, kalau bukan pemanjat (petai) profesional tidak bakal berani memanen setiap tangkai buah yang berlunjuran hingga puncak pohon.

Pohon petai ini tak hanya tanaman produktif biasa, ia juga adalah sebuah monumen cinta bagi kedua kekasih saya itu. Pohon itu, mereka tanam sejak awal pernikahan mereka, 39 tahun yang lalu.

Tak hanya tumbuh tinggi, cabang-cabangnya juga teduh, seteduh nasehat-nasehat penanamnya. Dahannya melindungi halaman depan rumah kami, seaman perlindungan mereka pada anak-anaknya dulu, bahkan hingga kini.

Tampak sebuah taman kecil seukuran setengah lapangan badminton, dibangun tepat dibawahnya. Dengan adanya pohon petai ini, tidak lagi diperlukan sebuah gazebo bila ingin sekedar duduk-duduk cantik sambil minum teh tanpa takut terekspos sengat matahari.Β Taman kecil ini, adalah buah atas kegelisahan hati salah seorang kakak saya, yang kala itu sedang menanti hari mitsaqan ghaliza-nya. Jadi benar kata orang bijak;Β bahwa kegelisahan adalah awal sebuah proses panjang bernama kreativitas. Dan ya, ketimbang deg-degan ndak jelas, mendingan bikin taman. Mungkin, begitu pikir kakak saya waktu itu.

Dan Januari, adalah waktu dimana pohon petai yang mulai ranum buah-buahnya. Yang artinya, waktunya bagi kami berbagi kebahagian dengan pedagang sayur, waktunya sebuah kehangatan meja makan tanpa jaim dan sungkan, dan waktu dimanaΒ kamar mandi rumah tercemar bau-bauan yang wanginya tingkat kelurahan.

Jadi, sudakah Anda makan petai hari ini?

*Tentang manfaat petai, silahkan baca rangkumannya di sini

#hastag #IndonesiaMakanPetai

IMG_5300

Gambar dari sini

Advertisements

41 thoughts on “Cerita Tentang Petai

  1. Jadi wonder, teknologi pengolahan yang cocok untuk petai apa ya. Haha kayanya raw aja udah lebih dr cukup ya. Tapi…..kalo bisa ada teknologi olah minimum kayany seru. Sedikit penelitian ttg agroindustri pete di jurusan saya hahaha

    • dibikin kering, macam kismis mungkin bisa mba atau kl mw yg lbh otentik dibikin semacam asinan. Tapi, sejauh ini belum pernah tau sih, udah ada yg ngawetin pete apa belum. Kl belum, bisa jadi penemuan tuh mbak…

      • Sayang si mas saya ga suka pete. Wkwkwk kalo suka mungkin saya jadiin penelitian. Diekstraksi mungkin bisa. Diambil zat bermanfaatnya. Apa ga dibuatin kemasan pintar. Haha kayany kalo pete diolah lagi kurang enak dh mas. Paling direbus doang haha

  2. Ngomongin soal pete. Ni di kosan temen ada temen yang makan pete dan ketika dia beser, timbulah aroma terapi alami dari wc yang sepertinya menempel tuh di lantai wc. Sampai harus di semprot pake cairan pembersih lantai. Hehe

  3. Saya suka nasi goreng petai, makyuss.
    Saya berencana tanam pohon petai di ladang. Insya Allah pertengahan februari saya akan tanam sebanyak 50 batang.
    Hitung-hitungan teman saya nanam pohon petai menguntungkan, asal dipelihara yang baik. Anggap saja nabung, πŸ™‚

    • Wah mantap tu Da Alris, di sini pete aja 8 ribu-10 ribu per satu panjang itu (apa sih cara nyebut satuannya?hehe). Btw untuk Mas Parmantos, ngelihat pohonnya jadi ngebayangin rumahnya pasti sejuk, hehe.

  4. Di NTB jarang sekali ada petai. Baru tau waktu kuliah dimalang, tiap acara katering mesti sambelnya ada petainya barang sebiji dua biji. Enak, mau bikin sendiri, iseng-iseng ke minimarket deket kos, 100gram harganya 30rbu, 😦

  5. Kalo dirumah, anak2 nggak disarankan makan pete. Ayah ibu aja yg boleh. Kalo lg ada makanan dg olahan pete di dalam, harus dipisah, kalaupun termakan sebenarnya enak saja. Doyan juga, meski katanya bau kemana mana. Haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s