Suryakanta

Pelajaran hidup ketigabelas.

membuat-kaca-pembesar-dari-bola-lampu-1

Mari kita ingat-ingat memori masa kecil kita dulu, masa yang dipenuhi kebahagian dan pelajaran hidup. Kalaupun ada tangis paling cuma mampir sebentar, selebihnya kita tertawa riang menikmati kehidupan.

Kala itu, guru kami pernah mengajarkan secara interaktif tentang macam-macam lensa, kegunaannya, juga prinsip kerjanya. Sederhana, tapi terus terpatri dalam memori kami kala itu. Bahkan, saking tidak tahu dimana belinya lensa suryakanta (cembung), kami akhirnya memodifikasi bolam lampu yang diisi air bening untuk membuktikan bahwa lensa tersebut mampu untuk membakar sejumput kapas dari hasil konvergensi cahaya matahari. Dan itu berhasil!

Di balik itu, ada pelajaran nan berharga tentang suryakanta serta sahabat sejatinya si-lensa cekung. Ini kaitannya tentang seni memandang hidup.

Dalam hidup, kita tahu ada dua jenis nikmat. Yaitu; nikmat kebahagian (kesenangan) dan nikmat masalah (beban). Sedang, prinsip kehidupan sesungguhnya tentang mengerti akan kenikmatan yang kita dapat. Untuk itu, diperlukan seni dalam menghadapi semuanya itu.

Dalam memandang sebuah kebahagian hendaknya kita menggunakan kacamata suryakanta, dimana obyek (kebahagian) yang tampak pada mata kita seakan-akan lebih besar dari yang sebenarnya. Ini bukanlah sebuah manipulasi indra, tetapi tentang bagaimana kita memaknai setiap kebahagian yang kita dapat.

Bagi kita, sepiring nasi beserta lauk-pauknya itu nampak biasa-biasa. Namun, coba bayangkan dengan saudara-saudara kita di Madaya, sepotong roti disana adalah berkah luar biasa, karena banyak dari mereka kini mesti rela berebut rumput untuk menyambung hidup.

Dengan lensa suryakanta dalam memandang kebahagian, maka perhatian kita akan fokus tentang apa-apa yang kita miliki saat sekarang. Memusat pada penerimaan yang kita dapat. Serta tidak jelalatan kemana-kemana, memandang iri kepada nikmat yang diterima orang lain. Konvergensi nikmat ini akan memberikan efek kebahagian yang lebih-lebih, karena keyataannya Tuhan teramat adil dalam membagi nikmat kepada para hamba-Nya.

Sebaliknya, disaat kita harus menghadapi masalah, hendaknya kita mendivergensi setiap masalah. Maksudnya, mencoba memahami setiap permasalahan dari banyak titik, dari semua sudut pandang. Ini bukan berarti kita tidak fokus pada masalah yang dihadapi bukan, tapi dengan membuka mata dari sudut pandang yang lebih lebar maka akan membuat masalah nampak lebih kecil, sehingga kita akan lebih yakin untuk bisa menyelesaikannya.

Divergensi masalah ini juga termasuk tentang seni kita dalam menghadapi masalah dan beban hidup. Bila kita mau membagi setiap beban, mengizinkan orang lain membantu, dan menerima bantuan-bantuan dari orang lain, tentu sebuah masalah/beban akan terasa lebih ringan.

Dan, kalau kita mau menyadari. Sesungguhnya kemudahan-kemudahan serta keringanan-keringanan yang kita dapat selama ini, sebenarnya tidaklah seratus persen karena jerih payah atau kecerdikan kita sendiri. Bukan. Boleh jadi, kemudahan-kemudahan itu adalah manifestasi dari himpunan doa-doa orang tua kita, atau doa-doa dari orang lain yang kita tidak pernah memintanya, tapi mereka diam-diam tulus melakukan. Pula, itu boleh jadi juga balasan kebaikan dari amal nadzar orang tua kita dahulu. Lebih-lebih yang pasti, kemudahan dalam menghadapi masalah sesungguhnya adalah berkah manisnya kasih sayang Tuhan kepada kita.

Jadi, merasa cukuplah dengan penerimaan, jangan sombong dan terlalu memusatkan pada diri sendiri dalam memikul beban. Izinkanlah orang lain untuk turut membantu.

Ya, hidup sesungguhnya tentang sudut pandang dan seni bagaimana kita menghidupinya.

One day you'll leave this world behind,
so LIVE a life you will remember. ~Tim Bergling

Gambar dari sini

Advertisements

24 thoughts on “Suryakanta

  1. Wah kreatif ya bisa nyari alternatif lensa cembungnya. Dan saya setuju sama kalimat ini: “Ya, hidup sesungguhnya tentang sudut pandang dan seni bagaimana kita menghidupinya.” Tambahan: hidup juga tentang pilihan yang kita ambil.

    Soal orang yang mendoakan kemudahan atas kita itu, saya jadi ingat… saya jarang berdoa, tapi di sekitar saya banyak orang-orang yang senantiasa mendoakan saya. Gimana ya kalau orang-orang itu sudah nggak ada? Kemungkinan hidup saya nggak senyaman ini

  2. Setuju ttg poinnya mengenai memusatkan dan memaknai kebahagiaan dari apa yang kita punya, bukan yang orang lain punya. Karena “cukup” itu datang dari hati dan bukan dari materi. sama seperti kutipan dari Pak Erbe Sentanu di buku quantum ikhlas : ukuran sukses sejati terletak pada kemampuan anda merasakan pikiran bahagia. Like always, great post mas, analoginya selalu ilmiah dan berbau fisika ya.hehe

  3. setuju …. bagaimana memaknai kejadian .. sangat penting … kejadian yang sama bisa menjadi negatif atau positif …. tulisan2 seperti ini akan selalu mengingatkan kita untuk selalu positif .. supaya menjadi orang yang berguna …

  4. Terima kasih yach sudah diingatkan, kadang kita suka membalik2kan proporsi atau sudut pandang yang ada seperti suryakanta ini, masalah atau beban yang kecil kadang kita lihatnya jadi besar sedangkan rasa syukur yang besar bisa kelihatan kecil dan nga ada apa2 nya.

  5. Jadi, seni diperlukan untuk menghadapi nikmat dan ya, kita harus selalu bersyukur atas segala kenikmatan kita ini. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s