Jilbab Halal: MUI Bercanda!

Jujur, selama ini saya turut bersyukur akan hadirnya MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kita tahu, lembaga tempat berkumpulnya ulama se-Indonesia ini, sering mengeluarkan fatwa ataupun sertifikat halal untuk berbagai persoalan, produk makanan, hingga obat-obatan. Terlepas dari beberapa fatwa yang memang cukup kontroversial di masyarakat (contohnya tentang fatwa rokok).

Sampai di sini, nampaknya tidak ada masalah. Karena hadirnya fatwa-fatwa tersebut cukup membantu umat dalam menentukan hukum fikih tentang sesuatu hal, yang mana sesuatu hal tersebut diperlukan pendalaman lebih lanjut (nash dan dalil secara spesifik belum ada). Disini, peran ulama sangat penting. Karena mereka memang lebih tahu dan pakar dibidangnya.

Namun, tentang sertifikasi halal terhadap produk tekstil (hijab) untuk produsen yang cukup elitis (baca: Zoya), bisa saya katakan kalau MUI sedang bercanda, kalau tidak mau dikatakan sembrono. Kesannya, sarkasme. Tapi, umat layak diberi penjelasan tentang hal ini.

Pertama, Apakah benar LPPOM MUI Jawa Barat benar-benar mengeluarkan sertifikat halal tersebut? atau hanya sekedar klaim pihak Zoya?

Asal pembaca tahu, LPPOM adalah lembaga khusus dalam MUI, yang khusus melakukan pengkajian terhadap Pangan, Obat-obatan, dan KosmetikKemudian, dari namanya saja, kita tahu bahwa apa domain lembaga tersebut. Lantas, ketika lembaga yang sama mengeluarkan sertifikat halal untuk produk tekstil di mana nyambungnya?

Kalau ternyata hanya klaim atau sekedar strategi pemasaran pihak Zoya, maka MUI harus menuntut ke ranah hukum ataupun masyarakat berhak melakukan tuntutan hukum.

Kedua, Perlukah sertifikasi halal untuk produk tekstil (tak hanya jilbab)?

Karena yang saya tahu, dalam Islam untuk urusan sandang (pakaian) hal khusus yang dibahas adalah tentang hukum pemanfaatan kulit binatang (yang halal disembelih). Dimana dikatakan, kulit binatang yang sudah disamak hukumnya suci (boleh digunakan untuk shalat). Dikatakan;

“Jika kulit itu disamak, maka ia telah suci.” (HR. Muslim)

Nah itu, jika jelas bahannya dari kulit, soalnya gak mungkin kan anti berjilbab dari bahan kulit?

Kemudian, bagaimana dengan pakaian dengan bahan tekstil? baik yang dari bahan serat alami maupun buatan? layak kah disertifikasi?

Karena boleh jadi semua produk tekstil; jilbab, baju, kaos, (maaf) daleman, kaos kaki, jaket, hingga sajadah adalah produk tekstil yang tidak bersertifikat halal. Jangankan status halal tidaknya, bagaimana benang-benang kemudian berubah menjadi pakaian jadi saja kita tidak tahu.

Jadi perlukah produk tekstil disertifikasi?

Kalau toh benar apa yang dikatakan Zoya (dalam publikasinya) bahwa beberapa produk tekstil ada yang melalui proses pencucian dengan menggunakan gelatin babi. Bukannya setelah melewati rumitnya proses, belum lagi ditambah pencucian yang berulang-ulang (belum termasuk pencucian yang kita lakukan sendiri) unsur babi hilang dengan sendirinya?

Jadi perlukah disertifikasi?

Islam itu mudah. Ia datang sesungguhnya untuk memudahkan kehidupan manusia.

“Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersempitkannya melainkan (agama itu) mengalahkan dia (mengembalikan dia kepada kemudahan).” (HR. Al-Bukhari)

Belum lagi, dalam kaidah fikih. Bahwa hukum asal pada sesuatu adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Sehingga jangan sampai (klaim) sertifikasi halal terhadap produk ini justru menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat. Sampai, mereka yang berencana berhijab jadi urung berhijab, karena tak mampu membeli ‘hijab halal’.

Setahu saya, satu-satunya hijab yang sudah pasti HARAM, jika hijab itu hasil mencuri atau ngembat uang koperasi. Nah, kalau yang begini jangan ditanyakan lagi.

Dan. Alangkah lebih baik hati-hati, jangan sampai hal ini justru mendemonisasi pihak MUI sendiri.

Jadi ukhti yang baik hati. Janganlah risau, meski hijabmu bukan bermerek Zoya, melainkan hanya produk pedagang kaki lima. Karena esensi berhijab itu, tidak terletak pada semahal apa produk yang anti beli, melainkan sebuah kesempurnaan taat tentang apa yang anti imani.

Jadi akhi yang memuliakan hati. Jangan galau, meski baju dan kaos kakimu tidak bersertifikat halal. Tidak penting seberapa banyak uang yang kamu belanjakan demi baju dan kaos kaki, karena yang terpenting adalah jika kamu berangkat ke kantor jangan lupa memakai baju dan kaos kaki. Karena disitu letak kewarasan dan bau kakimu dipertaruhkan.

*Maaf tulisan tidak bermaksud mendahului klarifikasi dari MUI, alih-alih sampai mendiskreditkan wibawa MUI. Karena bagaimanapun, I’m still with you ukhti MUI!.

*Tambahan bacaan: Jilbab, haruskah bersertifikat halal?

*Update: Klaim halal palsu oleh Zoya

10405336_10153878941012453_5152737411052348623_n

Advertisements

78 thoughts on “Jilbab Halal: MUI Bercanda!

  1. Hmmm, apa ini karena kecenderungan masyarakat kita yang belakangan ini kian “fanatik” terhadap agama ya? Ini gejala sosial yang menarik, karena belum pernah terjadi di tahun-tahun-tahun sebelumnya.

  2. Beberapa minggu yang lalu sebelum heboh “jilbab halal” ini muncul iklan / banner Zoya: “Yakin hijab yang kamu pakai halal?”
    Nah, berangkat dari tagline ini… sepertinya Hijab ZOYA sudah menyiapkan diri untuk memenangkan kompetisi dalam industri hijab dengan menggunakan strategi isu hijab halal / haram. Kompetisi dalam bisnis memang bikin pelaku industrinya melakukan hal-hal yang diluar kewajaran.

    Saya coba telusuri dari beberapa pemberitaan, akhirnya saya menemukan berita yang menyatakan bahwa pihak ZOYA lah yang meminta sertifikasi halal (mungkin ingin digunakan sebagai senjata memenangkan kompetisi), bukan MUI yang meminta. Simak klarifikasinya dari LPPOM MUI: https://www.islampos.com/251015-251015/

  3. Sy kira jilbab halal ya yg dibeli dengan uang halal dan digunakan untuk hal2 yg baik

    Beberapa hari yg lalu sy sempet ke hypermart terus ngeliat kosmetik merk-nya ‘zoya’, ternyata ‘zoya’ udah ngeluarin jenis produk baru selain busana muslim..

    Kalau kosmetiknya yg ternyata halal, itu baru berita bagus

  4. Perlukah mui masuk ke hal yang seperti ini? Bisa menyusul nanti sepatu halal, kaos kaki halal, sarung tangan halal, baju kaos halal, celana halal. Semuanya bersertifikat mui. Keblingernya nanti jangan-jangan kancut dan bikini juga bisa ada sertifikat halalnya. Ono-ono wae. Gawe opo maneh.

  5. Kalau masalahnya hanya dipencucian mungkin terminologi “najis” lebih tepat. Dan penggunaan kata “najis” serta “halal/haram” jelas beda peruntukkan dan maksudnya.

    • Nah, itu lebih masuk halal. Tapi halal/haram disini maksudnya juga kesana kok mas. Bahwa yang halal (boleh untuk dipakai beribadah) itu, yang tidak mengandung najis. Yang haram sebaliknya.
      Maksud tulisan ini, sebenarnya lebih ke penting tidaknya sertifikasi halal pada produk pakaian.

      • Sebenarnya saya pribadi sih setuju, sertifikasi halal untuk segala macam produk, karena itu penting bagi umat. Tapi juga umat harus diajari terminologi yang benar.

        Terkait kasus jilbab halal ini, justru saya baru sadar kalau ada potensi proses yang melibatkan benda najis atau haram di dalamnya. Dan sudah sewajarnya jika umat mengetahui soal ini, karena itu adalah hak mereka sebagai pengguna.

        Thanks lo mas tulisannya, saya jadi lebih jelas duduk perkaranya, karena di timeline twitter rame banget soal ini 🙂

      • Tapi kan, tentu yang namanya najis adalah sifatnya bisa disucikan. Kecuali, kalau pakaian itu bahannya memang benar2 dari bahan najis (kulit babi misalnya). Tapi ini kan tidak, serat alami/buatan yang dicuci (diwarnai) dg gelatin (lilin) dari babi. Kan itu sifatnya sementara, bisa dihilangakan (meski hal ini diperlukan pengkajian lbh dalam). Saya melihatnya seperti pakaian kita yg terkena kotoran anjing, dg perlakuan tertentu maka pakaian tersebut bisa kembali suci.

      • Nah betul banget itu, makanya saya melihatnya itu lebih ke najis bukan sekedar halal haram. Kecuali kalau misalnya proses yang melibatkan benda najis itu dianggap haram. Maka, saya pribadi lebih menyerahkan itu pada para ulama yang lebih menguasai ilmu untuk memutuskan perkaranya.

        Kasus ini justru membuka ruang, bahwa ada hal yang harus dikaji dalam produksi tekstil yang ada saat ini. Membuka ruang juga untuk penelitian lebih lanjut, apakah bisa materi tersebut digantikan oleh materi lain yang lebih bisa diterima secara syariat.

        Duluuuu banget saya pernah bekerja pada industry polyester, yang sudah pasti produknya digunakan untuk produksi tekstil massal. Kalau setahu saya, secara reaksi dan produksi sih polyester tidak melibatkan material dari babi. Tapi entah, ketika diubah menjadi lembaran tekstil.

      • Zoya itu tergolong merk elit buat urusan jilbab, gamis, dll. Makanya sindiran dimana-mana tajem banget :D. Da apalah, saya aja lebih milih beli buku daripada beli pakaian atau jilbab merk Zoya. Mendingan beli ke tanah abang aja 🙈

  6. bener mas LPPOM itu khusus produk pangan,obat, dan kosmetik. pakai serangkaian tes lab juga kok untuk dapat sertifikat halal. ga gampang. entahlah mungkin produk ini bisa dimakan mungkin,sampai dikasih label halal segala.
    Yah saya ga kaget,kalau tentang menebar sensasi, oknum di negara ini juaranya.

  7. Hmm gelatin ya, kalau tidak salah gelatin juga untuk pembuatan kue kan ya…

    Saya setuju sama MUI, islam itu harus jelas, jangan dibenar2kan. Kalau salah ya salah. Benar ya benar. Jangan pernah membenarkan yang biasa, cobalah membiasakan yang benar.

    Tetapi saya tidak suka dengan Zoya dalam mengiklankan produknya. Kalau ingin berhasil, usahakan jangan menjatuhkan produsen lain. Itu sisi negatifnya.

    Sisi positifnya, masyarakat akan lebih smart dan aware akan permasalahan disekitarnya,

  8. Iya, harapannya MUI menelusuri secara mendalam masalah kain-kain ini dan jangan setengah2. Dan diinfokan juga ke masyarakat secara jelas dan komunikatif, sehingga tidak menimbulkan prasangka baik maupun buruk dikalangan masyrakat.

      • Sepertinya kita perlu mengetahui secara jelas fungsi pencucian baju menggunakan gelatin itu untuk apa. Apa sebenarnya itu proses penting. Dan apakah kalau step itu ditiadakan, akan mengurangi konsistensi bagusnya kain itu atau tidak, dan apakah ada jenis2 kain yang tidak menggunakan gelatin.

        Nah seperti2 ini, mungkin juga diinfokan oleh MUI, sehingga kita lebih tahu.

        Berdasarkan artikel tambahan, dikatakan juga zaman Rasulullah SAW, kainnya didistribusikan dari kaum nasrani. Dan tidak ada masalah mengenai hal tersebut. Dengan kata lain, sah sah saja jika menggunakan pakaian yang prosesnya menggunakan gelatin.

        Pertanyaan saya, apakah kaum nasrani saat itu menggunakan gelatin dalam proses pencucian kain? Atau jenis kainnya sama tidak dengan kain zaman sekarang?

        Artikelnya lebih mengarah kepada masyarakat supaya tidak khawatir, dan tidak berpikiran negatif terhadap hijab2 yang sudah dimiliki dan yang bukan merk Z*ya.

      • Betul, seharusnya MUI memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang masalah gelatin ini. Terus gimana solusinya. Jangan buru2 obral sertifikat halal… kan jadinya begini, menimbulkan keraguan di kalangan umat 😦

      • Untuk sekarang kita harus berpikiran positif dulu terhadap MUI, MUI sendiri kan sebuah lembaga yang terdiri dari para ulama. Tentunya sebelum diambil keputusan, sudah dipertimbangkan dulu.

        Nah pertimbangan2 ini, masyarakat gak tau, kenapa sampai MUI mengeluarkan fatwa ini. Atau barangkali media online kurang meng-share fatwa ini secara keseluruhan.

        Berhubung sudah banyak simpang siur, Diharapkan MUI menjelaskan secara jelas mengenai hal ini. Supaya tidak ada pro dan kontra.

  9. Yang saya pahami, kalo untuk pakaian itu penyebutannya bukan di ‘halal-haram’, tapi ke najis atau tidaknya. Itu pun tiap mazhab aja beda2 lagi dalam pemahaman suatu benda tergolong najis atau tidak. Wallahua’lam.

    Yang bikin miris ya karena label Halal MUI ini jadi ‘barang jualan’ industri tekstil ginian dan bikin kesan: Islam kok ngeribetin banget sih. Jadi beda banget ma aslinya Islam kaya gimana. Mana lah iklan Zoya yg ‘yakin produk hijabmu halal’ itu provokatif banget jadi menggiring opini kalo produk tanpa label MUI itu seolah-olah syubhat (lebih parah kalo ada yg mikir jadi haram), ckck. Btw, ada juga produk kaos kaki Soka yang sampe ada BC kehalalan produk kaos kaki mereka di grup2 WA. Makin rame dah tuh :p.

    Memahami halal-haram, najis-tidak najis itu emang sangat penting buat muslim, cuma kalo jadinya kaya gini mbok ya malah jadi jelekin nama Islam sendiri, apalagi ga semua orang paham banget terkait halal, haram, dan najis yang itu luasss banget pula kalo mau dikaji.. 😐

    • Sepaham mbak, aku melihatnya ini malah demonisasi MUI sendiri. Kalau kemudian ulama tidak lagi dipercaya (sebagai bahan guyonan) terus kepada siapa lagi kita mengambil rujukan… jadi baiknya, MUI hati2 dalam hal ini.

      • Nah! Ini dia yang saya khawatirin juga. Alih-alih mencerdaskan masyarakat malah jadi bikin orang-orang menjauh. Apalagi ga semua orang karakternya itu bakal mencari tau dan recheck dulu suatu informasi. Makin nambah juga ‘amunisi’ ngejatuhin Islam bagi mereka yang emang ga suka. Produk makanan dan sejenisnya yang emang penting banget tau kehalalannya aja udah disindir sedemikian rupa, ditambah masalah ginian deh, ya udah deh..

  10. Klo saya sih ga bs nyalahin mui toh emang resiko lembaga publik diminta sm publik buat menilai apa yg dia buat atau produksi
    Bidikan kritik harus ke Zoya dengan iklannya yg betul2 menjual agama

    • Iya mas, udah saya update. Ternyata klaim palsu oleh Zoya. Terlepas dari sini, pelabelan halal/haram pada produk tekstil kayaknya perlu dijelaskan ke publik. Tentang batasan ataupun perlu tidaknya…

  11. cuma bisa bengong ajah baca berita ini; trs kerudung dan baju2ku gimana dong….. blm halal certified, hiks. lagi jadi trending topic ya si Zoya ini. blogger yg kufollow aja, udah beberapa yg membahas ttg berita kerudung halal ini.

  12. Ini fenomena menarik ditengah kegemaran umat Islam yang semakin ngefans dengan “apa-apa halal, apa-apa haram”. Yang baik yang ‘dijargoni’ halal, yang buruk yang dijargoni haram, sehingga malah percayanya pada jargonnya, bukan pada bagaimana kok bisa halal, atau haram. Bikin capek masyarakat aja,, jadi gak maju2. Tapi ya beginilah kita. Peace.. v

  13. Baru tau dari sini Z*oya bikin yg beginian -_-
    Memicu kontroversi nih, Toh baru ini produk sandang yang saya tau punya sertifikat halal. Berarti menjustifikasi yang lain tidak halal? Ujungnya ntar pada takut mau pakai pakaian yang mana

  14. Klo dilihat dari beberapa kejadian sebenarnya kelakuan mui aneh2 aja. Sekarang malah tambah aneh saja. Kalau menurut saya sih hampir 100% semua pakaian itu halam. Mau pake minyak babi atau apalah kan nggak dimakan. Jadi ya tetep halal.
    Mungkin mui dapat uang dari sertifikasi ha ha ha….. Biasa, namanya juga usaha.

  15. menurut saya, ini strategi marketing yang asal asalan ya . betul tidak ?
    heum.
    cuma bisa ber ck ck gitu lah saya sebagai pengguna jilbab juga hehehe

    • Strategi marketing yang enggak halal, bikin resah masyarakat saja… kalau dalam kaidah fiqih kaya gini endak boleh. Mencegah mudharat tapi malah mendatangkan mudharat yang baru dan lebih besar itu hukumnya haram…

  16. Kaget waktu awal baca tentang kehalalan jilbab zoya ini. Masa iya harus pake sertifikat halal dulu untuk pakaian (Selain kulit pastinya) ? Tapi kenapa baru sekarang ditegasinnya? Beberapa hari kemudian baru aku tahu kalo itu cuma klaim dari pihak zoya aja. Apalah daya daku cuma bisa beli jilbab biasa. 😀

  17. Pas tau tentang tagline jilbab halal Zoya ini saya jadi mikir: Gimana nasib semua baju-baju dan jilbabku yang rata-rata harganya murah itu??? 😂 Karena walopun dikasih sertifikat halal juga berhubung jilbab dan baju Zoya mahal belum tentu saya bakal beli juga Mas, hehe. Sebenernya kalo dipikir-pikir tim marketing Zoya kreatif juga bisa terpikir untuk ngebuat tagline soal jilbab halal ini walo ujung-ujungnya jadi blunder juga sih.

  18. Aku gak pakai jilbab merek ini mahal mas, aku pake jilbab haram selama ini hiks…hiks, artinya selain jilbab merek ini haram donk ya. eh MUI harusnya hati2 ya ngeluarin fatwa takutnya masyarakat gak percaya lagi soalnya denger2 kabar burung (entah burung apa) sertifikat halal MUI ini bisa “dipesan” oleh produk industri yg penting bayarannya cocok mas. Ditambah lagi ada susu sholeha hahaha ngakak deh lihat susu ini, yg ngiklan hijabers2 ternama tuh artinya harus ada susu sholeh ya mas biar sepasang. trus klo minum susu produk lain nanti gak jd sholehah, ada2 aja ide dlm menghadapi persaingan produk skrg

    • Setelah mengetahui perkaranya lbh lanjut, yang kurang ajar itu pihak pemegang merek yang seenaknya menggunakan istilah halal-haram untuk marketing. Sedangkan MUI sah dan didorong harus untuk mengeluarkan sertifikat pada berbagai produk, itu semua untuk kepentingan umat juga sebenarnya 🙂

      Jadi, jilbab (kain) yang tidak bersertifikat bukan berarti hukumnya haram, yang haram itu yang tidak berkain (berjilbab) 😀

      Betewe, susu sholehah itu gimana sih ceritanya? kok saya baru denger 🙂

  19. iya ada susu merk Hilo sholeha yang ngiklan dan endorse produk ini hijabers2 terkenal di TV ada kok iklannya kesannya ada susu yg gak sholehah berarti, mungkin maksud brand ini mau menyasar konsumen muslimah sehingga ditambahkan kata sholehah di karton susunya tapi kok jadi geli ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s