Ngadem di Rambitan

Hallo khalayak ramai! sehat semua kan?

Begini,

Kayaknya udah lama banget saya ndak nulis bertema lan-jalan. Musim dingin begini, memang kurang greget buat mode explorer. Cuaca adem, harus pakai pakaian tebel-tebel. Enggak main ski? wis bosen *halah. Berasa kalau mau main ski kaya tinggal ngelompat pager.

Yah, selama musim dingin ini, waktu saya nyaris dihabiskan untuk kampus-asrama-kampus-asrama. Biasa, graduate student life. Libur enggak libur sama saja. Masih ada kerjaan yang perlu dikebut, draft buku yang masih acak-kadut, hingga bunga tidur yang tak kunjung rampung #eh. Selain juga, karena kamera yang lagi dipinjam temen. Katanya anak-anak mau buat bikin project film, tapi hingga kini belum balik-balik juga. Tapi ada hikmahnya juga sih, jadi tidak tergoda kelayapan kemana-mana.

Okeh. Gitu aja intronya. Di tulisan kali ini, saya mau nulis tema lan-jalan. Ndak begitu baru memang, but at least nyicil hutang tulisan, waktu jalan-jalan ke Lombok beberapa tempo waktu yang lalu. Saya mah gitu, jalan-jalannya entah taun kapan, tapi tulisannya baru muncul sekarang. Hehe itung-itung senam otak. Pilah-pilah kenangan masa lalu itu, kadang baik buat kesehatan. Seperti halnya mesin, adakalanya otak perlu di-tune up. Analogi yang enggak nyambung. 😀

Ini tulisan yang ke 5 (kalau tidak salah), klik aja di tag Lombok, nanti muncul semua tulisan-tulisan sebelumnya.

***

Baiklah. Setelah tiga hari sebelumnya saya keliling gili (ada 5-6 gili kalau tidak salah), pagi itu kami melanjutkan lan-jalan ke Lombok Tengah. Tujuan utamanya adalah wisata budaya, mengenal lebih jauh tentang Lombok dari sisi budaya dan ke-manusia-anya.

Ada beberapa kawasan yang saya kunjungi, tapi di tulisan ini lebih fokus ke Rambitan, tepatnya Masjid Kuno Rambitan.

Sebagai pulau yang berjuluk, pulau seribu masjid, otomatis Lombok punya sejarah panjang tentang penyebaran dan khasanah keislamannya.

Anda pernah mendengar tentang Islam Telu atau kadang juga disebut Islam Wetu Telu? kalau belum pernah, monggo piyambak  dicari di google. Hehe

Ya, saya sendiri tak begitu banyak mendapat informasi tentang hal ini. Justru, saya malah banyak tahu tentang informasi ‘kawin culik’ dari orang-orang yang saya temui. Ndilalah kok yo ngepasi. Maklum, manusia ber-syndrome twenty something biasanya memang lebih tertarik tema-tema semacam ini. Mungkin, ini yang dinamakan rejeki, ketika semesta saling berkonspirasi.

Baiklah,

Orang Lombok sendiri (yang saya temui) tak begitu terbuka dengan wetu telu ini. Sebagian besar menyanggah, bahwa wetu telu itu mengajarkan rukun Islam yang serba telu (tiga). Misal; tidak shalat lima waktu, kecuali hanya tiga dan seterusnya. Karena kenyataanya, sekarang mereka shalat seperti muslim sunni lainnya.

Ada juga, yang mengatakan itu hanyalah falsafah orang Lombok (suku Sasak) dalam mendefinisikan kehidupan sosialnya. Dalam hal hukum misalnya, mereka membagi menjadi; hukum adat, agama, dan pemerintah. Dalam hal sumber pengetahuan, mereka membagi menjadi: Al Quran, Hadist, dan Ijma’. Dalam hal siklus kehidupan, mereka mendefinisikan sebagai: manganak (dilahirkan), urip (hidup), mate (mati). Dan seterusnya.

Tak lain, wetu telu ini semacam cara, bagaimana kehidupan Sasak pada waktu itu. Yakni, mendefinisikan falsafah kehidupan mereka. Seperti halnya kita (bangsa Indonesia) yang mengenal sistem panca (lima). Yang kemudian, dimanifestasikan menjadi Pancasila.

Terkait perkembangan Islam di Lombok, di mulai pada abad ke-16 melalui peran penting Pangeran Perapen yang dikenal sebagai Sunan Perapen, pasca keruntuhan kerajaan Majapahit di Jawa, yang artinya dimulainya era Islam di babad Jawa.

Masyarakat Lombok pada waktu itu, mengenal kepercayaan Boda atau Sasak Boda. Berbeda dengan Budha, karena kepercayaan ini lebih kepada kepercayaan animisme. Kemudian, dari lingkungan elit (raja dan strukturnya), dakwah Islam kemudian menyebar ke kalangan masyarakat.

Bukti-bukti peninggalan Islam tempo dulu, hingga kini masih terawat cukup baik. Diantaranya adalah keberadaan masjid-majid kuno. Baik itu di Lombok utara, maupun lombok tengah. Salah satu yang saya kunjungi adalah Masjid Kuno Rambitan.

***

Letak Masjid ini tidak jauh dari jalan utama Mataram-Pantai Kuta, di Lombok Tengah. Nama desanya adalah Desa Rambitan, di Kecamatan Sengkol. Usia masjid ini kurang lebih sama dengan Masjid Kuno Bayan, yang terletak di Lombok Utara.

Masjid ini berstruktur sederhana, berbentuk persegi berdiameter 7-8 meter. Material bangunannya 100% ramah lingkungan. Maksudnya, seratus persen terbuat dari unsur murni alam seperti halnya bangunan rumah  tradisional suku Sasak lainnya. Dindingnya terbuat dari gedeg bambu, dengan empat tiang penyangga utama. Dengan atap berbentuk prisma yang meruncing, yang terbuat dari ilalang (sasak).

Penuh filosofi masjid ini. Pertama, dari jumlah tiangnya. Ini menggambarkan tentang bangunan rukun Islam. Dimana, keempat tiang ini bertugas untuk menyokong satu atap yang meruncing. Artinya, ketika keempat tiang ini runtuh, maka runtuh pula atap yang disokongnya. Begitu sebaliknya, ketika atap runcing ini tidak ada, maka keempat tiang itu hanyalah seperti tiang-tiang yang tak berguna. Mereka akan kehujanan, bila hujan. Akan kepanasan, bila cuaca panas.

Relevansinya, Rukun Islam juga begitu. Syahadat, ditempatkan pada posisi tertinggi (atap meruncing). Pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, serta pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusanNya, adalah hal mendasar yang harus dipenuhi oleh seorang muslim, sebelum mereka melakukan amal (shalat, zakat, puasa, dan haji).

Maksudnya adalah tak ada artinya seseorang itu melakukan amal kebaikan, bila dalam hatinya tidak pernah mengakui akan adanya Allah. Dan juga sebaliknya, tak akan berarti seseorang yang bertuhan, jika dalam hidupnya tidak pernah berbuat kebaikan (amal).

Kemudian, atas dasar apa Tuhan akan memberi kita kebaikan, bila kita tidak punya alasan yang layak untuk menerima kebaikan Tuhan?

Filosofi kedua, pintu yang rendah. Pintu masjid ini, saya kira tingginya kurang dari 1 meter, yang membuat orang yang memasuki masjid ini harus menunduk. Iya, menunduk. Tak hanya menunduk, bahkan saya harus sedikit jongkok.

Maksudnya adalah ketika kita akan menghadap Tuhan, berkomunikasi denganNya, berkeluh kesah denganNya, mengadu kepadaNya, dan shalat hanya kepadaNya. Maka, sudah seharusnya tidak pernah merasa sombong, selalu menunduk, dan tidak dumeh.

Bagaimana kita akan meminta pertolongan bila dalam hati kita masih ada unsur jumawa? sifat nafsu yang membuat iblis dilempar dari syurga untuk selamanya. 

Filosofi ketiga, kesederhanaan yang langgeng. Tengoklah masjid ini, masjid ini begitu nge-blend dengan alam sekitarnya, materialnya terbuat unsur-unsur alam yang ramah lingkungan, bahkan lantainya terbuat dari lumpur yang dipadatkan.

Hasilnya? sebuah kelanggengan yang tak terkikis oleh alam. Bangunannya masih lestari, meski melewati beratus tahun silam. Belum lagi dari sisi desain, yang menganut prinsip eco-design. Dari bahan sampai fasad bangunan sepertinya dipikiran juga bagaimana masalah kajian energy building-nya. Yang mana, ketika bangunan modern berlomba-lomba pasang AC (yang jelas tak ramah lingkungan), agar supaya merasa adem di dalam ruangan. Tapi, masjid ini tetap apa adanya. Ia tetap adem tanpa sentuhan unsur modernitas.

Bayangkan. Saya mengunjungi masjid ini, pada musim kemarau yang lagi pada puncaknya. Jalanan begitu panas menyengat, tanah-tanah kering lagi berdebu, serta hembus udara yang tak lagi membawa hawa kesejukan. Namun, ketika saya memasuki masjid ini, mak cless semeriwing. Sejuk dan adem rasanya. Kami sengaja berlama-lama di masjid ini, sinambi menanti waktu dhuhur yang tak lama lagi datang.

Bagaimana cinta kita akan langgeng, bila apa yang ada dalam diri kita hanyalah polesan. Ilmu yang hanya sebatas sederet kata di lembar-lembar bernama ijazah, kekayaan yang masih diragukan keabsahan memilikannya, kecantikan/ketampanan hanya tentang seberapa banyak ‘dempul’ yang kita guna, hingga akhlak yang kita sendiri tahu betapa buruknya?

Oya, selama kami di situ. Saya dipandu oleh seorang warga setempat, yang tidak mau disebut sebagai juru kunci. Bagi beliau, masjid itu rumah Allah, siapapun berhak memilikinya. Sedikit tertampar, waktu saya mendengar alasan beliau.

Melihat realitas masyarakat kita yang begitu fanatis golongan, sampai-sampai rumah Allah (masjid) diperebutkan kepemilikannya. Saling mengklaim, mendominasi, hingga akhirnya ada yang berontak revolusi. Membuat masjid ‘tandingan’ yang tak jauh dari masjid sebelumnya, padahal belum begitu perlu untuk membuat masjid baru. Lha wong, shalat shubuh saja, lebih sering terisi shaf terdepannya.

Itu realitas, tapi bukan berarti semuanya begitu.

Oya, di dekat masjid ini ada sebuah belik -kolam yang terletak di bawah pohon yang cukup besar di pintu masuk. Konon, kala musim hujan, kolam ini akan terisi air. Karena mata air yang berasal dari bawah pohon itu, mengalirkan air bening lagi segar. Sekaligus, kolam ini sengaja dibangun sebagai tempat wudhu.

Berhubung waktu itu musim kemarau, tak ada air di kolam tersebut. Kami wudhu dengan menumpang di rumah warga.

***

Siang itu, kami seperti tercerahkan. Menikmati shalat dhuhur berjamaah yang begitu syahdu. Saya berdoa panjang-panjang, lebih dalam lagi lama dari biasanya. Saya sebutkan satu persatu semua nama, bukan hanya untuk manusia, tapi juga tentang bangsa beserta alam indahnya. Tak lupa, saya juga berdoa agar perjalanan kami lancar jaya, diantaranya berhasil menculik gadis Lombok mengorek informasi tentang ‘kawin culik’ dari sumber terpercaya.

Yang kemudian, terjawab cepat di malam harinya. Gimana lanjutannya, silakan tunggu episode selanjutnya. Tentang ‘kawin culik’.

Advertisements

15 thoughts on “Ngadem di Rambitan

  1. iya mas… dimana2 kalo masuk ek dalam masjid rasanya mak cless semeriwing ya… 😀

    apalagi masjid yang bangunannya masih sangat sederhana, kesan khusyu’ dan tawadhu nya sangat terasa ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s