Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
~Tulus

Tentang sepatu, semalam saya juga memimpikan benda paling nista se-jagad raya ini. Betapa tidak? sudah beli mahal-mahal, pakai antri panjang berebut diskonan, hingga ada yang rela beli sepatuΒ second-an, karena ndilalah cuma diproduksi dengan jumlah terbatas. Eh kok, ujung-ujungnya cuma diinjak-injak juga.

Tentang mimpi semalam, plotnya sangat sederhana. Ceritanya, saya sedang travelling ke suatu tempat, tidak tau persis dimana lokasinya, karena saya sendiri belum pernah berkunjung. Bersama dengan saya, ada seorang teman perempuan sebagai teman perjalanan, namun sayang saya sendiri tak ingat seperti apa wajah dan siapa pula namanya.

Dalam mimpi tersebut, kami terjebak dalam sebuah antrian. Tempat antrian itu berupa tangga kayu yang sedang basah oleh air. Satu persatu orang di depan kami kemudian berjalan, hingga tibalah giliran kami berdua. Kami kemudian melewati sebuah gerbang, dari gerbang tersebut kemudian kami paham bahwa tempat wisata tersebut berupa tempat tinggi (semacam gardu pandang) yang kemungkinan bisa melihat seluruh isi di bawahnya.

Untuk mencapai tempat tinggi tersebut, yang kata penjaganya juga terdapat tempat beribadah tersebut, bisa dilakukan dengan dua jalur. Jalur pertama adalah jalur lurus dengan elevasi yang sangat curam di tambah anak tangga yang besar-besar sehingga terkesan merepotkan. Jalur kedua adalah jalur yang lebih masuk akal, meski sedikit berkelok-kelok. Ada kesamaan antara dua jalur ini, yaitu tangganya sama-sama basah olehΒ Β air hujan yang baru saja mengguyur.

Kemudian, kami berdua sepakat untuk melewati jalur kedua seperti halnya orang-orang di depan kami. Meskipun, jalur pertama kelihatan kosong karena tak ada yang mencoba melewati.

Lalu, saya memperhatikan orang-orang di depan saya tentang bagaimana mereka menaiki tangga-tangga basah tersebut. Ada yang berjalan biasa, ada yang takut-takut dengan sesekali berhenti, ada pula yang berjalan sambil berpegangan pada pagar rapuh di samping tangga.

Lantas, cara apa yang kiranya saya pilih? MERANGKAK.

“Mas, kenapa kamu merangkak?” tanya teman perjalanan saya itu, yang mungkin dia heran melihat saya.

“Aku salah sepatu dik, tangganya licin” jawab saya sambil menunjukkan sepatu.

Dalam kehidupan nyata, sepatu itu benar-benar nyata. Sebuah sepatu berwarna coklat, yang dulu nyaris saya hibahkan ke orang gegara kekecilan, tapi setelah dipaksa beberapa minggu sepatu berbahan kulit tersebut kemudian nyaman di kaki, tapi memang kelemahanya adalah alasnya cukup licin.

Hingga kemudian, kami berdua sampai di puncak. Setelah sebelumnya, berjuang dengan merangkak melewati anak tangga yang entah berapa jumlahnya.

Di puncak tersebut pemandangannya sangat indah, nampak saujana kota di bawahnya yang memukau. Dan persis yang dikatakan oleh penjaga gerbang sebelumnya, bahwa di puncak terdapat tempat ibadah lengkap dengan tempat wudhunya.

Tapi ada satu hal yang mengherankan, yaitu ketika kami menyaksikan realitas bahwa jalur pertama ternyata tidak ‘semengerikan’ yang kami bayangkan sebelumnya.

“Kenapa kita tadi justru mempersulit diri ya?”

“Iya, sudah milih jalan berkelok-kelok, merangkak lagi” sambung teman perjalanan saya itu sambil setengah menyindir.

“Maafkan aku…”

Kemudian saya terbangun. Menengok jendela di samping kiri. Masih gelap. Melirik jam di hape. Jam setengah empat pagi.

Rasanya tak perlu saya berikan tafsir mimpinya seperti apa, lha wong menafsirkan isi hati aja sering salah. πŸ™‚

Sepatu

Advertisements

30 thoughts on “Sepatu

  1. Kok bisa mimpinya sejelas itu ya mas… katanya kalau kita mimpi maka stelah bangun kita akan lupa sekitar 90% mimpi kita. Jangan-jangan yang masnya ceritain ini hanya 10% dr crita yg sesungguhnya terjadi. Jadi mgkin ceritanya jauh lbh lengkap kali ya…wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s