6 Keuntungan Berstatus Mahasiswa

Belasan tahun yang lalu.

Di suatu Jumat yang berkah, saya dikagetkan oleh suara riuh rendah dari depan rumah. Waktu itu, saya baru saja selesai mandi. Sambil membetulkan gulungan sarung, saya melongok ke arah sumber suara itu. HAH! jantung saya nyaris copot, untung sarungnya tidak.

Ternyata, suara itu bersumber dari teman-teman sekolah saya. Terdiri dari 2 cowok (salah satunya adalah teman SD) dan 3 orang cewek. Nah, salah satu dari ketiga cewek itu cukup menyita perhatiaan saya. Namanya E, si-kembang angkatan, idola para cowok se-sekolahan.

“Ini bukan mimpi…” batin saya, sambil berlari ke masjid, tanpa sempat menyuruh mereka masuk rumah, alih-alih sampai dibikinin minum. Saya gugup setengah mati.

Sekembalinya dari shalat yang tak lagi khusyuk. Saya kemudian, menggiring lima orang itu ke arah terminal, biar sekalian mengantar mereka pulang. Saya hanya khawatir, kepergok Ibuk (sepulangnya beliau dari pasar), kepergok membawa anak orang ke rumah tanpa restu dari beliau sebelumnya. *inget pelajaran hidup no. 20, restu ibu itu penting.

Dalam perjalanan ke terminal ini, sebuah momen tak terlupakan terjadi.

Di sebuah buk (jembatan kecil) yang cukup teduh dengan rimbun bambu di atasnya, si-E to the point mengutarakan maksud kedatangannya. Typical gadis pemberani dan militan.

“Aku padamu”

Blaarrr!!

Bak truk tronton ditabrak kereta argo lawu. Setengah tidak percaya, mendengar kata-kata itu keluar dari mulut si-kembang angkatan.

Kalian para generasi 90-an pasti paham kata-kata ini, kata khas dalam dunia ‘tembak-menembak’ yang biasa disampaikan langsung ataupun dengan titip salam.

Meskipun, saya sebenarnya setengah curiga dari awal, apalagi setelah melihat aksi ‘pencomblangan’ dari teman-teman saya sejak pulang jumatan tadi. Tetapi, jantung saya tetap setengah copot mendengarnya.

Di Jumat yang berkah cerah, lakon si-kumbang nyaris tumbang setelah ‘ditembak’ si-kembang sekolah.

Gimana tidak, selain kami terpisah di kelas yang berbeda (saya di kelas 1A, dia di kelas 1B), selama ini juga tak pernah deket. Saya hanya sekedar tau namanya, dengan hanya beberapa kali bertemu pandang di kantin tanpa sengaja. Kok bisa-bisanya dia menjadikan saya sebagai tambatan hatinya.

Dan, apa kira-kira respon saya?

“Anu…aku masih pengin kuliah….”

Whaat?!

Jawaban apaan ini?!

Alkisah, anak kelas 1 SMP telah gagal bersembunyi. Meskipun, mulut lancang berkata begitu, ternyata raut wajah saya berkata sebaliknya.

Saya sendiri bingung, kok bisa-bisanya saya menjawab dengan kalimat absurd berbau ‘penolakan’ semacam itu. Kan kalau niatnya bener-bener nolak, bisa dijawab begini,

“Anu… besok ada ulangan, maaf ya ndak main yang-yangan dulu…” lebih realistis.

Tapi nyatanya?

Dan hari itu, Jumat jam 2 siang, kami resmi jadian.

Sebagai tanda cinta ke padanya, saya belikan sebuah poster boyband paling ngehits  waktu itu (baca: westlife) di sebuah lapak VCD bajakan di pojok terminal. Lha ndilalah, si-E ternyata fans berat boyband tersebut, lebih-lebih ke Nicky Byrne kembaran saya.

I Have a Dream… >> nyanyi lagunya Westlife, dari album kedua.

Ya, sebelum kenal si-E saya sudah bermimpi menjadi seorang mahasiswa. Alasannya, sederhana. Yaitu, ketika saya dipamerin foto-foto kakak saya. Foto itu, berupa kakak saya yang nampak gagah dengan jaket kuning, lengkap dengan ikat kepala plus sebuah toa putih ditenteng di lengannya. Mereka mulai kuliah dibilangan tahun 97-98, masa-masa reformasi. How cool! 

Kemudian, saya menyimpulkan bahwa seorang mahasiswa itu; independen, banyak temen, kemudian pinter.

Tahun berganti, kami pun asyik dengan dunianya sendiri-sendiri, hingga enam tahun setelah kejadian itu, akhirnya saya benar-benar menjadi seorang mahasiswa.

Dreams Come True… >> masih dari album kedua

1
Mahasiswi militan (dokpri. Istana Negara)

Lantas, apakah hypothesis saya benar? apa untungnya berstatus MAHASISWA?.

1. Jadi mahasiswa, bisa bikin pribadi yang berdeterminasi tinggi

Banyak orang tua, ketika anaknya memasuki usia kuliahan mulai memberlakukan kode sandi seperti ini;

“Adanya (uang) segini, terserah kamu mau buat apa”

Ya, sejak beralih status mahasiswa kita dipaksa untuk hidup prihatin dan mandiri. Jika uang saku habis sebelum waktunya, wajib mencari sendiri kekurangannya. Tak heran, awal-awal kuliah banyak yang kemudian banting setir jadi makelar fotokopian, makelar jaket angkatan, hingga double beasiswa. Untung, beberapa kampus memberi kesempatan untuk itu.

Di beri kepercayaan mengelola dan mendapat uang sendiri, tentu kita belajar bagaimana menjadi laki-laki berdedikasi dan determinasi tinggi. Sehingga, sekedar berhutang ke tukang angkringan hingga menunda uang kos bulanan, bukanlah persoalan besar.

2. Status mahasiswa, bisa punya banyak temen

Lagi-lagi, sesuai perkiraan. Lazimnya mahasiswa, ada kesempatan besar untuk mengikuti banyak organisasi intra maupun ekstra kampus. Misal; senin-rabu nongkrong di sekretariat BEM, kamis-jumat gaul sama anak-anak masjid, sabtu-minggu ikutan mblayang bareng anak mapala.

Jadi tidak heran, di dunia kampus kita bisa memperluas pertemanan dari lintas gerakan hingga lintas pergaulan. Hanya saja, saya itu kurang lihai dalam me-manage pertemanan. Karena ujung-ujungnya setelah pada lulus, banyak yang kemudian menjadi strangers with good memories.

Benerkan?

3
Banyak teman (dok pri. Gunung Merapi)

3. Status mahasiswa, sering (dianggap) lebih pintar

Meskipun bukan satu-satunya jalan untuk menuju pintar. Namun, menjadi mahasiswa ada peluang besar menjadikan kita menjadi seorang dukun (baca: orang pintar).

Buktinya, waktu KKN di sebuah desa di Klaten dulu. Hanya bermodalkan jaket almamater, kami bisa dianggap oleh warga desa sebagai orang yang mengerti segala hal. Misal; ketika tiba-tiba ada warga yang meminta untuk dicek kondisi kompor gasnya. Ya, waktu itu lagi heboh-hebohnya kompor gas meledak, sehingga warga mengira mahasiswa itu mahfum tentang dunia perkomporan. Padahal, sebelum inspeksi ke dapur lebih dahulu nyari tips di mbah google.

Ada lagi, yang tiba-tiba minta dipasanganin instalasi lampu, bahkan kami lagi foto-foto di tengah sawah, ada petani yang menghampiri. Beliau, berkeluh kesah tentang persoalan pertaniannya. Untung, sepasukan anak selfie KKN, ada yang jurusan pertanian, coba kalau tidak. Pertanyaaan tentang pembasmi hama organik, bisa saya jawab dengan radiasi sinar gamma. Apa jadinya?

4
Dianggap orang pintar alias dukun (dok pri. KKN Klaten)

4. Status mahasiswa adalah jawaban paling aman dari semua pertanyaan sensitif

Bayangkan, kalian saat ini berumur 20-an dan lagi duduk manis di sebuah gerbong kereta, tiba-tiba ibuk-ibuk di samping kalian bertanya begini:

‘Mau kemana?’

 ‘Ke Jakarta bu…’

‘Kerja?..’

‘Hmmm…’

‘Udah nikah?’

‘Hmmm…’

Ya, kalian bakal mendadak mendehem lugu, bila kalian dalam posisi fresh graduate yang belum  juga menikah. Beda cerita, kalau kalian masih mahasiswa, pasti jawabannya lebih elegan.

‘masih MAHASISWA’ dengan penekan di kata mahasiswa. *Inget, hal ini tidak berlaku jika dalam posisi sedang lobi dengan calon mertua.

5. Mahasiswa itu dilindungi dan dipelihara oleh negara

Hal ini yang saya rasakan ketika saya (kembali) menjadi mahasiswa di Turki. Orang Turki dan pemerintahnya sangat peduli dengan orang yang berstatus pelajar atau mahasiswa, tidak peduli mereka itu orang asing ataupun orang Turki sendiri. Banyak sekali perhatian-perhatian khusus yang ditujukan ke mahasiswanya. Misal; pendidikan gratis dari SD hingga S3, pengurangan masa wajib militer disesuikan dengan tingkat pendidikan, diskon segala moda transportasi, diskon uang makan dan asrama, hingga diskon tiket masuk ke seluruh museum di Turki.

Belum lagi, orang-orang Turki itu sangat hangat dengan turis yang berstatus pelajar, syukur-syukur bisa bahasa Turki, bisa diajak nge-cay (ngeteh) berjam-jam.

Bagaimana dengan Indonesia? ya kalo enggak, demo aja!

2
Buruh-tani-mahasiswa bersatu (dok pri. Istana Negara)

6. Status mahasiswa, bisa memanfaatkan fasilitas kampus se-enaknya

Nah, ini asyiknya jadi mahasiswa. Kampus biasanya memiliki banyak fasilitas penunjang, dari fasilitas kesehatan, kolam renang, GOR hingga fitness center. Saya waktu kuliah di Jogja dulu sering memanfaatkan fasilitas kampus. Lha wong, sudah disediakan masa tidak digunakan.

Di kampus saya ada fitness center, mahasiswa hanya diminta uang masuk Rp. 1500 saja untuk sekali nge-gym. Iya, cuma seharga tiga biji mendoan. Terserah mau nge-gym berapa jam.

Di kampus Turki juga begitu, hanya dengan membayar 30 lira (160k rupiah), saya bisa menikmati nge-gym gratis selama tiga bulan, bisa diperpanjang sampai kapan pun, sampai perut kotak-kotak, hingga otot bicep mirip balon bayarnya ya cuma segitu. Padahal,  kalau latihan di luar, uang segitu hanya bisa untuk sekali latihan.

Hanya saja, nge-gym murahan begini memang serba mandiri, tanpa instruktur. Tapi asalkan kalian banyak-banyak menonton panduan nge-gym dan memakai celana training yang tepat, seperti yang bisa kalian dapatin di Zalora, dalam tiga bulan nge-gym mandiri bisa ngebentuk perut bundar menjadi enam biji tahu bacem.

5

Selain itu, celana training itu serba guna tak hanya buat nge-gym. Bisa buat lari sore muterin GSP, kongkow-kongkow sholeh di Maskam, hingga celana tidur paling enak dan nyaman.

Nah gimana? enak kan celana trainingnya *eh berstatus mahasiswa? atau jadi kangen masa-masa kuliah dulu?

*this post is sponsored by Zalora -tempat belanja cowok cerdas.

Advertisements

56 thoughts on “6 Keuntungan Berstatus Mahasiswa

  1. Satu lagi mas, dapet diskoooon! Hahahahaha masuk museum harga mahasiswa, di tempat makan juga suka ada promo buat anak sekolah/mahasiswa. Abis lulus mah -______- bye aja udah lah.

  2. Mahasiswa ya.. jaman 98 itu saya dengar yel-yel mahasiswa “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan…”, atau sebutan mahasiwa lainnya adalah sebagai “agent of change” 🙂

  3. Saya masih nggak ngehh apa hubungan mbak-E dengan keuntungan mahasiswa diatas. Hihi.
    diskon tiket masuk ke seluruh museum di Turki ? ini enak bener ya. Andai di indonesia begini..

  4. Wkwkwk…
    Intronya koplak banget. Dari cerita pacaran perdana zaman SMP ke enaknya zaman kuliah. Saya sempat ngecek judul lagi dan cocokin dengan bagian yang saya baca. Nggak taunya maksudnya itu toh. Keren-keren-keren…

    Satu hal yang menurut saya amat menguntungkan dengan jadi mahasiswa adalah jaringan. Entah itu jaringan pertemanan, organisasi dan lain semacamnya (yes, ‘jodoh’ still counted). Apalagi kalau status mahasiswa berasal dari universitas ternama di negeri kita. Pada kumpul tuh anak-anak determinasi tinggi dan sadar pendidikan dari seantero rantau. Dapat banyak jaringan/relasi itu enak. Segalanya jadi terasa mudah karena selalu ada orang yang kita kenal mungkin bisa membantu.

    Tambahan: Widih, udah ada sponsornya nih 😆

  5. keuntungan mahasiswa sih kepedean jadi meningkat ya mas 😀 ya atas dasar 6 alasan yang mas parmantos bilang diatas juga sih 😀 wkwk
    Aahahaha endingnyaaa twist nih, buat zalora ternyata 😀

  6. yang keinget buat saya sih kalau mahasiswa itu dapat bayar lebih murah, terutama kalau naik bis …
    tapi .. kenapa ya ga pernah terbayang kalau status mahasiswa itu lebih pintar …. terutama ke saya … #GarukGarukKepala

  7. Setelah baca sy jadi curiga, “jangan2 si E itu si mahasiswi militan di foto yang menjual celana training itu di zalora”. Hahhahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s