Deep Conversation

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat kembali, sebaik-baiknya tempat kembali di dunia. Setiap pojoknya, reling-reling beranda, hingga bau kasur, adalah pengingat kebahagian yang pantas para perantau syukuri. Ia akan selalu ada, meski kita entah berada.

Bagi sebagian orang, rumah adalah gubuk di tengah sawah, sebaik-baiknya tempat berteduh setelah berpeluh. Atap-atapnya melindungi, pintu-pintunya selalu terbuka membiarkan angin kesejukan datang menghembus. Membiarkan payah musnah, menyalakan kembali tungku api.

Dan bagi semua orang, rumah adalah sekolah, sebaik-baiknya tempat belajar di alam semesta. Karena, di rumah mungil yang sedari kecil kita mengenalnya, berada guru terbaik se-jagad raya, Ayah dan Ibu kita.

Setiap rumah, pastilah ada momen dimana waktu seakan berjalan marayap lambat. Pelan-pelan menghayat, oleh setiap kata dan ragam nasehat.

Setiap rumah, pastilah ada saat, ketika hati ke hati terasa dekat, rekat, serta hangat.

Rembug-tua begitulah istilah disebut. Untuk sebuah deep conversation bersama seisi rumah. Anak-anak dikumpulkan, cemilan dan teh hangat disiapkan. Sebuah obrolan rumahan yang menjelma sebuah seminar mendalam. Tempat segala masalah mencoba dirumuskan. Ruang beragam pilihan penting, diputuskan.

Adakalanya heran datang, ketika ada pilihan pelik di luar sana, tapi begitu sederhana setelah memberanikan berkeluh kesah. Karena, pada kenyataanya keberjauhan kita, membuatnya semakin payah.

Kembalilah ke rumah, temukan kembali obat ajaib bernama nasehah.

*this post is my 200th post and written in exactly 200 words, what a coincidence!

 

Advertisements

31 thoughts on “Deep Conversation

  1. di mana ada keluarga (orangtua dan adik/kakak), di situlah disebut rumah, tempat pulang/kembali..
    tulisannya bagusss Mas *thumbs*

  2. “Adakalanya heran datang, ketika ada pilihan pelik di luar sana, tapi begitu sederhana setelah memberanikan berkeluh kesah. Karena, pada kenyataanya keberjauhan kita, membuatnya semakin payah.”

    Itulah kenapa ada pepatah Jawa, “mangan ora mangan, sing penting kumpul”. Kekuatan berkumpul dalam keluarga, dalam arti bermusyawarah, bisa mendekatkan datangnya solusi setiap permasalahan anggota keluarga.

  3. Baca tulisan ini jadi kangen rumah Mas :hehe. Ayo mudik ayo… biar bisa bertukar cerita, bertukar masalah dan solusi. Saya juga suka ketika saya dan keluarga ngobrol-ngobrol terus “bergosip” bersama soal masalah-masalah yang kita alami–kayaknya saya nggak mau waktu-waktu indah itu berakhir :)).

    Selamat buat postingan ke-200!

  4. jadi ingat cerita percakapan abang gojek dan mahasiswa yang viral di medsos; kembali ke indonesia (meninggalkan pekerjaan dengan gaji prestisius) supaya bisa lebih sering bertemu anak-anak. Kok ya sederhana banget defini bahagia

  5. Liburan semester kemarin sy pulang kampung setelah hampir 6 tahun merantau.
    Liat org tua makin tua aja, rambut udah ubanan, kulit mulai keriputt.
    Terkadang itu yg jdi penyemangat ketika kita di tanah rantau :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s