Kabisat Jiwa

Tiada kesempurnaan di dunia ini yang melebihi kesempurnaan sang Maha Sempurna. Ketika sebuah kontes kecantikan diadakan, maka kecantikan pemenang kontes tersebut hanya bertahan tak lebih dari setahun, karena di tahun selanjutnya akan terpilih lagi seseorang yang lebih muda, lebih cantik, dan tentu lebih enerjik. Kalau lebih pinter masak? hmm… (ini kayaknya makin susah ^^ *mlipir)

Pada makhluk, boleh jadi ada ‘kesempurnaan’. Hanya, sampai kapan kesempurnaan itu akan tergantikan? Termasuk hal ini adalah segala produk turunan setelah makhluk; baik teknologi, budaya, hingga peradaban. Mereka silih berganti, menyempurnakan atau saling menghilangkan kesempurnaan.

Pada bilangan zaman, terjadi hal demikian. Dalam satu hari, hanya ada 23 jam 15 menit 0.72 detik, sehingga dalam setahun hanya terkumpul 365 hari 5 jam 48 menit. Selisih 5 jam ini, jika dikali empat akan menghasilkan sekitar 1 hari penuh. Makanya, dalam berbagai penanggalan dikenal adanya tahun kabisat. Yaitu ketika dalam setahun, jumlah hari digenapkan menjadi 366 hari.

Tahun ini, menjadi tahun spesial. Karena, kita akan hidup lebih panjang sehari pada tahun ini (jika Allah mengizinkan). Bagi mereka yang sering merasa perlu merayakan hari lahirnya pada tanggal 29 Februari, maka pada tahun ini mereka akan benar-benar merasakannya. Setelah tahun-tahun sebelumnya, gundah gulana dalam penantian jodoh hari.

Oya, kenapa perlu adanya tahun kabisat atau pembulatan tahun semacam ini? kenapa tidak dibiarkan saja, setahun cukup 365 hari. Biar, mereka yang lahir pada tanggal 29 Februari tidak merasa terdzalimi. Biar, Indonesia tidak merasa menanggung malu karena kalah 10-0 oleh Bahrain 4 tahun yang lalu dalam kualifikasi Piala Dunia. Kenapa penggenapan tahun ini harus terjadi? jika pada akhirnya ada yang terdzalimi?

Jawabannya; karena zaman itu seperti jiwa. Ia perlu diisi (dengan amal yang baik), pula butuh digenapi. Jika tidak, akan terjadi kekacauan perkiraan (hisab) tata surya, misal; prediksi gerhana akan meleset, bulan baru yang salah, dan seterusnya.

Maka, untuk menghindari kekacauan semesta, laiknya zaman, jiwa butuh penggenap, pelengkap, dan lagi penyempurna. Sempurna jiwa, paripurna semesta. *lah

Playlist sore ini berteman dengkur rendah si-Ucuncu.

Advertisements

12 thoughts on “Kabisat Jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s