Pelajaran dari Menunggu Bus

Pelajaran hidup ke-empat belas.

Sejak hijrah dari Jogja ke Jakarta yang kemudian lanjut pindah ke Turki, perlahan saya menjelma menjadi manusia yang lebih berkelas. Bagaimana tidak? yang awalnya sekedar anak motor, kini menjelma menjadi anak mobil. Dari sekedar beroda dua naik kelas menjadi roda banyak. Hebatnya lagi, tiap hari bisa gonta-ganti merek. Dari merci hingga lamborgini suzuki, bebas pilih. Dan lagi, kini tak perlu repot-repot nyetir. Sopir pribadi pun bebas pilih setiap harinya. Udah macam pejabat yang lagi kunjungan kerja lengkap dengan voorijder yang meriung-riung. Tinggal duduk manis, wuuus sampai tujuan.

Berkelas. Yup, bagi saya begitu. Manusia angkot, angkoters atau orang-orang yang tiap harinya mengandalkan publik transportasi lebih berkelas ketimbang manusia lainnya. Mereka ini hanya setingkat lebih rendah dari kaum pejalan kaki.

Kenapa begitu? karena pada mereka ini; jerat-jerat individualisme ditiadakan, tensi amarah jalanan disingkirkan, hingga kesabaran dipompa-besarkan.

Bagi angkoters, tidak dikenal lagi istilah kepemilikan individu. Semua orang berhak memiliki, memakai, dan menguasai. Dengan begitu, rasa kemanusian ala tepo seliro pelan-pelan kembali terbangun. Tiap harinya, mereka belajar menjadi manusia seutuhnya.

Selain itu, para angkoters adalah tipikal calon suami/isteri idaman. Kok bisa? dari beberapa kitab pra-nikah yang pernah saya baca; rumus jitu dari sebuah hubungan adalah tentang kesabaran dan penerimaan.

Nah, para angkoters ini tiap hari menjalani pembelajaran penting tersebut. Tiap hari lho. Makanya, sebelum kalian melanjutkan sebuah hubungan. Baiknya selidiki dulu apakah si-doi adalah seorang angkoters apa bukan, syukur-syukur dia ternyata angkoters berakhlakul karimah plus punya berhektar-hektar sawah.

Jadi, seumpama di busway atau KRL ketemu mas/mba jomblo yang mulutnya komat-kamit murojaah, jangan sungkan-sungkan untuk menjatuhkan barang bawaan di depannya. Kalau kebetulan tidak sedang bawa apa-apa, jatuhkan aja kartu nama. Itu lebih efektif.

Okeh, lupakan tiga paragraf terakhir di atas. Mari kita ber-shirathal mustaqim, bahas lagi tentang angkot.

Sebagai angkoters, kita pasti pernah mengalami sebuah proses bernama menunggu-angkot. Bagi saya. Proses ini adalah titik paling krusial, dari semua proses perpindahan manusia dari tempat satu ketempat lainnya.

Berhubung proses ini sangat krusial, maka menunggu-angkot itu harus ada seninya. Pertama, pastikan angkot yang ingin kalian pakai melewati jalan dimana kalian menunggu. Jangan sampai salah angkot, sebab bisa-bisa kita justru kesasar. Kedua, pastikan jadwal atau polanya betul-betul. Kira-kira, tiap berapa menit sekali sebuah angkot akan melewati sebuah halte. Jangan sampai, waktu habis terbuang karena tidak cerdas mengamati pola tingkah laku angkot.

Ketiga, fokus. Cermat dan fokus pada jalur angkot yang ingin kita tuju saja. Jangan karena sesuatu atau seseorang di sekitar halte, perhatian kalian teralihkan. Alih-alih dapat gebetan, angkot yang ditunggu justru kelewatan. Keempat, setelah angkot yang ditunggu datang, cepat-cepat berisyarat untuk memberhentikannya, lalu berucaplah syukur karenanya. Terakhir, bersabarlah seandainya sang angkot tak kunjung datang. Tak usah uring-uringan. Malu kita dengan umur, tak lagi pantas kita bertingkah kekanak-kanakan.

Jika fase demi fase tersebut dijalani dengan baik, Insya Allah sebuah proses perpindahan akan terjalani dengan sangat menyenangkan. Meskipun, bila pada akhirnya sang angkot tak kunjung datang, bukan berarti ia tak pernah ada. Bisa saja, itu berarti kita sedang teramat dikasihi dari kejadian yang tak terduga. Kecopetan atau terlibat sebuah kecelakaan, misalnya.

Begitu pula, saat kita sedang dalam proses menunggu-rejeki. Jalani semua seninya dengan baik, cerdas, dan elegan. Itu semua, demi sebuah proses perjalanan hidup yang melegakan lagi menyenangkan. Ingat, meski istilahnya menunggu, bukan berarti kedua hal tersebut bersifat pasif. Justru, kalau mau dicermati, tiap fasenya ada proses aktif di dalamnya.

Semoga lekas sampai tujuan, dengan (mas) Slamet tentunya. *eh

eshot

Gambar dari sini

Advertisements

47 thoughts on “Pelajaran dari Menunggu Bus

    • Sebenarnya solo, jogja bisa punya bus kaya begitu. Tapi, entah kenapa busway di kedua kota tersebut malah ikut2an kaya di jakarta dibikin tinggi semua… selain boros di karoseri, juga mahal dibikin haltenya 🙂
      Gak sabaran sopir mungkin karena harus mengejar setoran, coba kalo tidak…

    • Ah itu perasaan kamu aja. Jangan dibiasakan terjebak dalam perasaan, kedepankan nalar untuk memahami sebuah bacaan *halah

      Btw, angkoters juga ternyata. Lha vespa-nya kemarin kmna?

  1. Dalam sekali ya pelajaran yang bisa diambil dari menunggu Bus. Semangatnya tentang kesabaran dan berbagi. Bagaimana seorang angkoters harus sabar saat bangku yg diincernya langsung ditelibas oleh bapak-bapak..#maaf jadi curcol hehehe…

  2. Aku angkoters sejati (apalagi jaman kuliah) kalau balik dr kampus, naek angkot, duduk sejam diangkot, ketiduran, tau-tau udah sampe paling ujung (terminal) hahaha :)))))

  3. Banyak hal yang disampaikan dari tulisan ini,
    dan langsung membathin, “ah, seandainya sy baca tulisan ini 17 thn lalu, mungkin cerita angkoter sy akan jauh lebih damai 🙂 “.

  4. Wow… Modus yg elegan memang selalu menyenangkan untuk dibaca dan dinikmati di kala hujan. Hehee… Dahsyat tulisannya mas. Lagi mikir, gmna caranya ya saya bisa modus secara tersirat dalam setiap jejak. 😊

  5. Dulu di tempat saya banyak angkot mas. Tapi sekarang udah gak ada lagi soalnya rata2 orang sekarang pada beli motor. Jadi angkotnya sepi dan berakhir begitu saja.

  6. Kalau di Palembang, naik angkot ada hiburannya mas Parmanto – musik ajeb-ajeb. Bisingnya bikin yang naik angkot bingung kalau mau modus sama duduk yang disebelahnya, desibel suara kalah jauh sama musiknya 😀

  7. pernah baca juga filosofi menunggu angkot disamakan dengan mencari jodoh…. jangan menunggu bis yang tempat duduknya ada yang sisa supaya bisa duduk… sebab bisa jadi nggak akan dapat 😀

      • 😀
        ada yang kurang ternyata.

        jangan menunggu bis yang menyisakan kursi yang kosong. sebab bisa jadi bis selalu penuh sehingga mau tidak mau harus berdiri. jadi mau tidak mau harus segera naik bis agar tidak terlambat.

        jangan menunggu/mencari jodoh yang sempurna menurut pandangan kita, sebab bisa jadi, tidak ada yang seperti itu. terima yang ada, dan jadikanlah dirinya sempurna….

        begitu kali kira-kira 😀

  8. untuk bertahan hidup memang harus beradaptasi dengan sikon 😀
    jadi inget berbagai moda transportasi yang saya lakoni ke kantor ; jalan kaki pernah, metro mini, bis, ojek, mobil dan motor.
    ngejar2 bis, ber-desak2-an, kecopetan, ketiduran, kenalan, ditodong … dst dst 🙂

  9. untuk angkoter perempuan mungkin ada step tambahan mas : kalo angkotnya kosong atau isinya laki2 semua,jangan naik.mending nunggu angkot berikutnya.secara sya juga angkoter,saya selalu berusaha waspada sebelum naik angkot kapanpun dimanapun.

  10. Sepakat sama kalimat di paragraf terakhirnya mas . Jalani semua seninya dengan baik, cerdas, dan elegan. Bukan cuma pas nunggu bis/rezeki aja tapi dalam menunggu apapun.

    Dan bicara tentang angkot, kebetulan sya juga seorang angkoters di kota yang banyak banget angkot 😀

    sebagai seorang perempuan, semakin kesini makin ngerasa gak nyaman diangkot, apalagi kalau bapak sopir angkotnya gak peka , maksain menuhin penumpang padahal udah susah buat duduk. Dan paling gak suka kalo udah di pindahin angkot seelum sampai tempat tujuan. Dan gak nyaman juga sih harus desak-desakan sama laki2. *maaf jadi curcol ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s