Aku dan Sejarah Kota Persinggahan

banner 2

Sedatar apa perjalanan hidup kita, pasti ada catatan sejarah hidup yang menarik untuk dikenang. Mulai dari sejarah keturunan, pendidikan, perjuangan hidup, hingga sejarah percintaan. Yup, bahkan percintaan pun punya sejarahnya. Karena cinta, tidak pernah datang tiba-tiba. Pasti ada jejak bagaimana cinta itu dibangun.

Dalam tulisan kali ini, akan membahas tentang kota-kota yang menjadi saksi sejarah perjalanan mampir ngombe saya. Karena setiap sudut kota-kota tersebut adalah bangku sekolah, setiap detiknya adalah proses belajar, dan para penghuninya adalah guru-guru yang menghebatkan.

Baiklah,

Dimulai dari nama saya Slamet Parmanto, anak bungsu dari empat bersaudara tanpa saudari. Hingga tahun 2005, satu-satunya orang tercantik di rumah kami hanyalah Ibuk. Alhamdulillah, atas doa ampuh orang tua, sampai tahun ini (2016) keluarga kami berhasil menambah 9 perempuan (3 menantu, 6 cucu) plus 1 cucu laki-laki (ini skor sementara, sangat mungkin bertambah). Sehingga kalau lebaran atau anak-anaknya sedang pulang kampung, maka Ibuk tak lagi perlu mencari rewang, karena ada sepasukan srikandi yang siap supervisi.

Tentang nama saya, itu adalah pemberian dari almarhum Simbah putri dari Ibuk. Nama depan berasal dari 5 bahasa berbeda di dunia, tapi mempunyai pelafalan dan arti yang sangat mirip. Canggih juga, simbah. Sedangkan, nama belakang Par- dari nama bulan Safar (bahasa Jawa: Sapar -bulan kelahiran saya) yang memiliki arti berpergian/perjalanan, sedangkan -manto, untuk menegaskan bahwa saya anak laki-laki.

Jadi arti nama saya kurang lebih begini; seorang anak laki-laki yang (semoga selalu) selamat dalam perjalanannya.

Karena hidup, hakikatnya adalah perjalanan kembali ke rumah asal kita; surga.

Nah, dari namanya saja sudah jelas. Apalagi ditambah keluarga besar yang memiliki jam terbang merantau yang cukup tinggi. Makanya, sedari kecil kami sudah dilatih untuk hal ini.

Sejarah persinggahan dalam hidup saya, kalau diumpamakan layaknya sebuah permainan sepak bola. Sebuah tim akan melewati tahap atau fase seperti ini: pemanasan-memulai permainan (babak I)-setengah permainan (istirahat)-permainan (babak II)-menang.

Berikut adalah kota-kota yang menjadi saksi sejarah persinggahan (tidak termasuk kota/negara yang hanya sekedar untuk liburan atau tujuan jangka pendek lainnya).

Pemanasan

Saya memulai fase pertama pencarian tempat persinggahan dari sebuah kecamatan di timur Wonogiri, lokasinya berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur. Kota tersebut bernama, Purwantoro. Berjarak hanya kurang lebih 10 km dari rumah orang tua, bisa ditempuh dengan angkudes atau bus sekitar 20 menit.

Di kota super kecil tersebut, saya memulai perjalanan. Dekatnya jarak, tidak sampai mengharuskan untuk menetap di kota tersebut. Ngelaju, selama tiga tahun SMP.

Berhubung ini hanyalah fase pemanasan, semua terjalani dengan mudah, bahkan sangat mudah. Pada fase ini, saya belajar membangun pondasi anti-rindu selama kurang lebih 8 jam perharinya (biasa pulang sekolah setelah jam 4 sore). Cukup efektif untuk belajar tidak selalu bergantung kepada orang tua (terutama persoalan makan siang). Penting? banget!

Permainan Babak Pertama

Setelah tiga tahun pemanasan dengan membangun pondasi, menjelang SMA saya langsung cul dilepas oleh orang tua di kota persinggahan selanjutnya. Jogja. Di kota ini, permainan mampir ngombe ini benar-benar dimainkan. Rasa haus yang tinggi, terasupi penuh oleh kota berjuluk kota-berhati-nyaman ini. Saya haus kemandirian, pengetahuan baru, pergaulan baru, hingga haus akan seni bertahan dari ketidakberdayaan. Di kota ini pula, saya mencoba-coba banyak peran. Kadang defensif, kadang pula ofensif. Ini penting, untuk memahami peran mana yang paling tepat.

Saking terlalu asyiknya dengan kota ini, menjelang lulus SMA rasanya saya begitu susah move on dari kota tersebut. Ketika teman-teman sekolah ribut urusan PMDK (dulu istilahnya ini) di kampus-kampus luar kota, saya justru madep-manteb di satu kampus negeri pertama di Indonesia, yang awal berdiri meminjam gedung keraton Jogja itu. Padahal, saya sendiri ndak yakin bakal keterima di kampus tersebut.

Hingga akhirnya, tak terasa 8 tahun sudah saya di kota tersebut. Tiga pelajaran penting dari kota ini: belajar kedewasaan, punya arah, kemudian merenungi peran.

Permainan yang melelahkan

Dari Jogja, kemudian lanjut ke kota persinggahan selanjutnya. Jakarta. Pada kota ini, saya masih melanjutkan permainan babak pertama, meski dengan stamina yang melelahkan. Perenungan peran sebelumnya, belumlah tuntas. Di sini, saya hanya menjalani peran yang ada (meski termasuk bagian perencanaan juga).

Di kota yang berkali-kali lipat lebih besar dari Jogja, saya mencoba bertahan. Menjadi karyawan partikelir di sebuah perusahaan. Di antara gedung-gedung tinggi, kemacetan jalanan, serta wajah serius lagi dingin para penghuninya. Rasanya, pengin balik lagi ke Jogja yang bersahaja.

Satu-satunya yang membuat bertahan, tak lain hanyalah gaji bulanan yang cukup setimpal dengan banyaknya nyamuk di tengah malam. Saya sendiri heran, kenapa perusahaan-perusahaan besar memilih Jakarta sebagai homebase-nya. Kenapa tidak di Jogja atau Solo misalnya (tapi tetep, gaji standar Jakarta). Halah!

Pada permainan yang melahkan ini, saya sempat berpindah perusahaan. Tergoda ini itu, layaknya kaum fresh gradute lainnya. Pada perusahaan terakhir, sebenarnya cukup settled. Gaji dan bonus yang lumayan, teman kerja yang nyaman, ditambah manajemen yang mendukung karir. Namun, di tengah perjalanan muncul kembali godaan. Lebih tepatnya, pengingat atas rencana awal (lanjut kuliah). Aplikasi beasiswa lolos.

Dengan berlinang air mata  saya pamit dengan atasan. Atasan langsung mendukung, mumpung masih muda katanya, malah menawari kalau udah selesai kuliah boleh kerja lagi di perusahaan tersebut. Wah, jarang-jarang ada perusahaan begitu. Dan, akhirnya saya resign tanpa uang pensiun pesangon.

Oya, pada kota ini saya belajar tentang optimisme, yang mana jalan tengah antara idealisme dengan realitas. Sedikit pragmatis di kota ini tak apa, yang penting halal dan selalu menjaga ketertiban dunia umum.

Istirahat setengah permainan

Pada permainan babak pertama yang melelahkan tersebut, alhamdulillah saya cukup berhasil melewatinya. Setidaknya, bobot tubuh tidak turun. Justru nambah.

Kemudian, di kota Izmir, kota yang cantik di tepian laut Aegean, saya kembali melanjutkan perjalanan mencari persinggahan. Sebagai fase istirahat setengah permainan.

Tempat persinggahan satu ini memang cukup mendukung untuk mengembalikan motivasi, sekaligus menajamkan visi. Saya menjalani dengan sangat santai, layaknya bermain-main. Tak terlalu peduli bising-bising kehidupan, lebih banyak belajar bagaimana memanusiakan manusia.

Permainan babak kedua dan kemudian menang

Untuk saat ini, memang permainan belum resmi memasuki babak kedua. Layaknya permainan bola, antara pemain dan wasit baru sedang mempersiapkan diri. Belum tau pasti, di kota mana dan dengan siapa melanjutkan permainan. Tapi setidaknya, sudah ada gambaran peran macam apa yang akan saya mainkan nantinya.

Namun, ada satu (atau dua) kota yang paling saya idam-idamkan untuk menjadi tempat persinggahan selanjutnya. Yaitu; Makkah atau Madinah.

Entah untuk belajar atau bekerja. Minimal setahun, saya bisa menetap di kota tersebut. Tujuannya sederhana, untuk bisa mengerti bacaan imam secara langsung ketika shalat. Ya, belajar bahasa Quran. Karena orang bijak bilang;

Jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa.

Dan saya memilih untuk (belajar) bisa merasakan setiap bacaan imam dikala shalat.

Lantas, di kota manakah pada akhirnya singgah, hingga kemudian menang?

Wallahu’alam

Kalau kamu? siapa tau kita bisa bertemu

***

Kesan Pesan

Saya mengetahui info giveaway sekaligus blog Mbak Ika Puspitasari, setelah membaca tulisan bang Rifki untuk giveaway tersebut. Sehingga tertarik untuk partisipasi.

Kesan habis membaca tulisan-tulisan Mbak Ika itu, seperti makan tempura dengan saus KFC = nagih. Saya suka tulisan tentang petak umpet, permainan ndeso yang ternyata banyak aspek edukasinya. Selain itu, tulisan tentang hikmah dibalik sakit, itu sebagai refleksi akan nikmat sehat.

Pesannya, simple aja sih. Saya itu suka membaca blog atau situs yang ada kategori tulisannya (bukan tags), sehingga pembaca mudah memilih tulisan yang sesuai segmentasinya. Mungkin dengan ditambahkan kategori tulisan di blog Mbak, maka blog menjadi lebih mudah untuk di-blogwalking-in. Cuma masukkan sih, salam kenal ya mbak.
Keep Sharing n Inspiring! 🙂

DSC_1950-002 - Copy

Bali nyang Jogja? Susah!! lagian mana mungkin? 😀

*Tulisan ini diikutkan dalam Bundadinaufara 1st Giveaway
**sekaligus untuk pertama kalinya saya ikutan giveaway.

Advertisements

30 thoughts on “Aku dan Sejarah Kota Persinggahan

  1. keep moving mas! jangan khawatir gak ketemu tulang rusuknya,namanya jodoh pasti bertamu. eh maksudnya bertemu. bapak saya juga ketemu ibu di bengkulu, padahal 2 2 nya orang jawa tulen. kalau dibikin tulisan perjalanan hidup begini, baca sampai besok juga belum habis2 hehe..

      • iya lumayan banyak pendatang. yg aneh,2 2nya dibidang yg gak nyambung. bapak saya kerja di kehutanan,ibu saya yg masakin cateringnya. memang cinta datang dari perut naik ke hati. sesimpel itu hehe

  2. universitas madinahh…wishlist yang bagai pungguk merindukan bulan lagi ini :mrgreen:

    arti ‘slamet’ dalam 5 bahasa itu apa aja dan dari negara mana aja Mas?? penasaran…hahaha

  3. Makkah dan Madinah pastinya impian setiap muslim, 🙂
    Izmir itu saya liat di foto-foto kota cantik. Biasanya kontak cantik beriringan dengan cewek cantik, 🙂 Mana tau ketemu jodohnya di Izmir, wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s