Kartel Ayam

Meksiko terkenal dengan kartel narkoba, saking terkenalnya sampai banyak sekali film yang mengangkat dunia perkartelan ini (salah satu yang paling ngehits adalah Sicario). Tanpa diduga, ternyata di negara kita juga ada perkartelan semacam itu.

Tapi,

Kalau Indonesia ikut-ikutan perkartelan di bidang yang sama dengan Meksiko, kayaknya kurang seru. Sometimes, the thing looks better, when it’s different.

Nah, kali ini perkartelan di negeri kita sudah masuk pada ranah per-ayam-an. Eiits, jangan mikir aneh-aneh dulu. Ini bukan ayam yang ‘itu’, tapi ayam yang bener ayam. Sumber protein paling merakyat bagi seluruh rakyat Indonesia. Baca beritanya di sini.

Adanya carut-marut ini, disebabkan bisnis ayam ini memang sungguh menggiyurkan. Pertahunnya saja, bisnis ini mencapai angka 450 trilliun, lebih dari seperlima APBN kita. Ngerikan? jadi bayangkan saja, jika 12 perusahaan yang terduga kartel itu mengeruk 10 persennya saja, uuh jadi duit semua ituh. Separuh duit untuk membiayai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang kelewatan mahal itu.

Lantas, apa yang terjadi sebenarnya?

Kalau melihat kronologinya, diawali dari pembukaan izin kran impor ayam indukan/GPS pada tahun lalu oleh Kemendag. Padahal, selama ini sektor ini, Indonesia sudah  cukup berswasembada (tidak perlu impor). Akibatnya, terjadi kelebihan GPS dalam waktu singkat yang tentu berimplikasi pada jumlah populasi ayam ras secara keseluruhan. Efek yang paling terasa adalah anjloknya harga jual di kalangan peternak (supply tinggi, tapi demand tetap).

Kemudian, untuk mengatasi anjloknya harga di pasaran. Kementan bersama 12 perusahaan besar peternakan ayam berkongsi, yaitu dengan memusnahkan 6 juta GPS secara simultan. Caranya dengan memperpendek usia produktif ayam (afkir dini).

Berhasil? iya, namun buat perusahaan-perusahaan besar itu. Tapi, untuk peternak ayam mandiri (kecil dan menengah) kebijakan ini justru semakin merugikan. Karena, para peternak mandiri ini mengalami kesulitan mendapatkan stok DOC (bibit ayam), stok yang mereka dapat adalah DOC grade 2 yang lebih tinggi biaya operasionalnya (makannya boros dan waktu pembesaran lebih lama). Ujungnya, lagi-lagi peternak mandiri yang dirugikan.

Mengetahui praktik illegal kartel ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha  (KPPUnyemprit. Diduga hal ini melanggar Pasal 11 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam UU tersebut dikatakan; “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk memengaruhi harga dengan mengatur produksi”.

Nah kan, runyam tho masalah ayam ini. Andai antara lembaga negara ini dari awal duduk satu meja, jadi tidak bakal terjadi yang begini. Karena, jika hal ini berlarut-larut, maka yang paling dirugikan adalah mereka yang saat ini duduk di posisi dua kasta terendah dalam bisnis ini. Pertama, para peternak mandiri, kedua adalah kita sebagai konsumen, kecuali buat mereka yang alergi dengan daging ayam beserta turunannya.

Jahat banget kan? cuma gara-gara ayam saja.

Padahal, yang dinginkan oleh rakyat hanyalah stabilitas perasaan harga. Tidak kurang, tidak lebih.

You’re seriously afraid? Even Master Chicken’s going in, and he’s a chicken! 
~Mantis, Kungfu Panda 3

Master-chicken

Gambar dari sini

Advertisements

26 thoughts on “Kartel Ayam

  1. “You’re seriously afraid? Even Master Chicken’s going in, and he’s a chicken! ” Quotenya matching banget hahaha 😀

    Mengenai regulasi di negara kita itu sebenarnya itu sesuai Mas Parmanto. Maksudnya bisa disesuaikan untuk mengakomodir kepentingan-kepentingan tertentu, hahaha.

    Namun untuk sayur dan buah saya sudah ‘mendisiplinkan’ diri untuk ga beli yang impor; meski harga terkadang lebih murah buah dan sayur impor. Wong harga jeruk mandarin sama jeruk medan aja terkadang lebih murah jeruk mandarin.

    Tapi sebenarnya sayur buah lokal lebih sehat, dan saya juga ingin berpihak ke petani negeri sendiri (maaf kalau sok iyes). Saya juga sedih karena wortel impor dan teman-temannya sudah masuk pasar tradisional. Kalau pemerintahnya tidak berpihak, biarlah konsumen saja yang berpihak (mimpinya lambat laun bisa mempengaruhi supply dan demand kalau semua orang lebih mau beli lokal punya-tapi yg pasti harus mulai dari diri sendiri dulu)

    Sepertinya mulai besok kalau beli ayam saya juga mau tanya, ini ayam lokal apa impor, kalau lokal saya beli, kalau impor mah emoh, mending makan pake ikan asin dari negeri sendiri 😀

    Btw saya nonton Sicario baru setengah dan Maap ini komen kepanjangan :p

    • Efek dari MEA mbak… arus impor semakin menjadi. Sedangkan pemerintah sendiri sudah menegaskan tidak ada proteksi thd produsen dalam negeri. Semua dibiarkan bebas bertarung sendiri2…

      Kl ayam impor mungkin jumlahnya blm terlalu banyak, soalnya selama ini kita sebenarnya sudah berswasembada, beda cerita dengan daging sapi.

  2. Jadi ini adalah rahasia dibalik banyaknya warung lalapan ayam dan ayam ayaman.

    Ada ngga sih dampak dari konsumsi kita pada ayam impor selain ekonomi?

    • Depending pada produk impor tentu berimplikasi terhadap utang luar negeri yang semakin besar (contoh real Yunani), bila pada titik kita tidak mampu bayar, maka negara kita dinyatakan pailit. Eh, yang ditanyakan tadi dampak selain ekonomi ya? duh apa ya…. 😀

  3. pengalaman teman yang berternak ayam dari tahun 90-an, kalau peternak kelas mid low … sudah untungnya … akhirnya hanya cape kerja doang … ga tahu dia-nya yang kurang pinter atau situasinya dari jaman dulu tidak mendukung pengusaha kelas kecil ..

    • Apapun usahanya, kelas mid low memang paling rentan dalam persaingan bisnis. Karena supply chainnya biasanya terhenti pada pakan dan bibit. Sepanjang mereka masih belum produksi sendiri, ya bakal terus terombang-ambing oleh permainan pasar…

  4. Wiiihh… Dah lama ini gak kenal cerita Ayam…

    Dulu suka dpt aja curhatannya dari keluarga yg memang usahanya ternak Ayam

    Astaghfirullah berarti ini artinya dah lama gak silahturahmi ke saudara yg itu

    Makasih loh ya jadi tulisannya jd mengingatkan buat memperpanjang usia

  5. saya pernah bikin makalah tentang perusahaan thai yang jadi pemain raksasa di bisnis poultry indonesia. kalau sudah bicaranya kartel plus dibandingkan dengan peternak kecil/menengah/mandiri ya dari porsi yang 450 T itu saya pikir “kartel” punya share jauh yang lebih besar, btw, dapat angka itu dari mana ? para pemain besar itu sekarang udah nguasain 80 persen pangsa pasar. saya pikir jauh lebih bagus kalau bisnis ayam ini dikuasai beberapa pemain besar saja, karna kalau yang kecil2 dan terlalu banyak itu susah diatur dan tidak rasional bikin harga.
    saya sebenarnya kaget pas pertama kali ada kebijakan “musnah massal” ini, kalo dari diskusi dengan teman anak peternakan ini mah namanya kebijakan instan, cara berpikir pendek. kenapa ga diekspor, padahal surplus. tapi kasus ini kan sebenarnya oversupply, demand masyarakat tiap tahun tetap tumbuh tapi tidak secepat supply dan lagi ayam ini subtitusi, skarangnya industri menuju recovery (supply dari amrik, thai, brazil dst mulai menurun) karna krisis dst.
    kalau pakai cara sederhana sih memang si supplier (breeding company) tuh yang harus tau diri, jangan menetaskan banyak2.
    😀

    • Data dari artikel yang sudah dilampir di artikel itu mas. Kalau melihat kronologinya, masalah awal itu dimulai dari kemendag yang membuka kran impor GPS… padahal selama ini industri ayam di Indonesia aman-aman saja. Karena kebijakannya itu, terjadilah gejolak pasar…
      Belum lagi ada indikasi, pemain besar memang sengaja bermain seperti ini, karena mulai dari DOC hingga pakan ternak mereka yang menguasai…

      Dan ya, saya sepakat harusnya di ekspor surplus 6 juta itu…

  6. Ternyata bisnis ayam itu mengalahkan minyak yang dulu itu koar-koarnya kemana-mana.
    Negara kita kan demokrasi, apa2 bebas, hahaha… Bebasnya sampai ngalahin Yunani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s