Sehari di Ankara (Travel Warning)

_DSC3723
Masjid Bukit Suami (Kocatepe Cami, Ankara)

Hari Ahad kemarin (3/20) saya melakukan perjalanan singkat ke Ankara. Ibukota Turki, sekitar 600 km dari kota saya tinggal. Lama perjalanannya mirip kalau kita melakukan perjalanan dari Jogja ke Jakarta. Ah, mengingatkan masa-masa ngeprog (baca: ngereta Progo) dulu.

Perjalanan kali ini, adalah perjalanan kali ketiga. Jadi, sudah tidak asing lagi sebenarnya dengan kota tersebut. Tapi bedanya, kalau sebelumnya untuk sekedar liburan (termasuk acara bersama temen-temen PPI) kali ini untuk sebuah keperluan pribadi. Di antaranya, untuk memperpanjang paspor.

Saya berangkat dari otogar Izmir tepat jam 11 malam, dengan perkiraan sampai di ASTI (nama otogar Ankara) jam 7 pagi. Seorang diri (?) Hmm… ndak juga, ada pak supir, mas-mas pramugara, dan tentu saja para penumpang bus yang menemani.

Atmosfer perjalanan malam itu terasa berbeda. Bukan takut, tapi mendebarkan (apa bedanya coba). Ya gimana lagi, sepekan sebelumnya sebuah bom meledak di kota tujuan saya itu. Hal tersebut, adalah serangan teror kali kedua dalam 2016 ini. Dan lokasinya, persis di pusat kota (Kizilay), sekaligus tempat transit kalau kita mau ke KBRI Ankara.

Sebenarnya, ini bukanlah yang pertama saya melakukan perjalanan yang menegangkan. Sebelumnya, saya pernah ke daerah perbatasan dengan Syria yang notabene rawan konflik (Sanliurfa). Tapi, entah kenapa atmosfer malam itu terasa sangat berbeda.

Dalam perjalanan, saya terus-menerus mengulang doa perjalanan.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah

Rasa-rasanya saya belum siap untuk mati, takut, dan seterusnya. Teringat wajah orang tua, janji-janji yang belum ditepati, hingga status di KTP yang hingga kini belum berganti. Entah, kenapa saya justru teringat itu semua.

Hingga akhirnya, tak sengaja saya tertidur sampai pada pemberhentian pertama. Jam 3 pagi.

Saya keluar dari bus, menuju toilet di pemberhentian tersebut. Biasanya akan ada waktu sekitar 30 menit di pemberhentian seperti itu. Kemudian, saya menuju mescid (sebutan untuk mushola) di samping toilet. Shalat malam. Tak sampai 11 rakaat, karena tak tahan dengan dinginnya mushola tersebut (tak ada heater di dalamnya).

Lalu, saya kembali ke dalam bus. Tapi, setelah ditunggu agak lama, bus tidak kunjung jalan. Hingga akhirnya saya tahu, busnya lagi ada perbaikan. Ya Allah kenapa harus begini, batin saya. Khawatir dengan jadwal saya yang mepet, jika sampai telat.

Sejam, dua jam belum ada tanda-tanda bus akan jalan. Kembali saya ke mushola. Shalat shubuh. Doa shubuh pagi itu saya khususkan hanya pada dua hal. Selamat dalam perjalanan dan semua urusan selesai hari itu juga. Alhamdulillah, 21 menit kemudian bus melanjutkan perjalanan.

Sekitar 100 km sebelum memasuki kota Ankara, bus kami diberhentikan oleh tentara perbatasan (Jandarma). Bus dan penumpang diperiksa. Identitas penumpang dicheck online satu persatu, menghindari ada daftar buruan yang masuk kota Ankara. Kurang lebih 30 menit kami harus menunggu hingga pemeriksaan selesai.

50 kilometer kemudian, ada pemeriksaan lagi. Mungkin, pihak keamanan Turki tidak mau kecolongan. Sehingga pemeriksaan diperketat, hal ini tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

Jadi, buat kalian yang mau travelling di Turki. WAJIB, membawa identitas diri. Bisa paspor atau Ikamet (izin tinggal).

Tiba di ASTI sekitar jam 9.30 pagi, tak banyak mampir-mampir saya langsung ke arah kereta dengan tujuan Kizilay terus kemudian KBRI. Soalnya, jam operasi KBRI sangat pendek bila ingin paspor jadi pada hari itu juga. Bila daftar dari jam 9-12, paspor akan jadi sekitar jam 4 sore.

Akhirnya sampai juga di KBRI, jam 10.30. KBRI waktu itu sepi. Hanya ada seorang gelin (orang Indonesia yang menikah dengan orang Turki) dan suaminya yang waktu itu sedang mengurus  paspor untuk anakanya.

Saya langsung disambut ramah oleh staf KBRI, bu Ninit namanya. Belum pernah ketemu sebelum-sebelumnya. Setelah tahu saya berasal dari Slogohimo, percakapan kami mendadak berubah menjadi boso jowo. Kebetulan beliau aslinya Trenggalek, yang mana corak bahasa Jawanya lebih dekat dengan Solo ketimbang Jawa Timuran. Kami akrab, layaknya sedulur yang lama tidak ketemu.

Kemudian, saya diberi dua buah formulir isian perpanjangan paspor. Di dalam formulir itu, saya kemudian menyadari. Bahwa menjadi single di Indonesia itu tidak enak, korban diskriminatif, dan seterusnya. Di formulir tersebut tertulis pilihan seperti ini;

Status:
1. Kawin
2. Tidak Kawin
3. Cerai

Padahal, saya itu masih lelaki normal alias single mainstream. Yang masih menginginkan seorang (boleh 2, 3 atau 4) perempuan untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi kok, melihat pilihan seperti itu rasanya jadi single itu mengenaskan. Being single doesn’t mean we don’t want to get married. It’s just about time. Dalam lubuk hati yang paling dalam, tentu kami juga pengin kawin. Jadi, ndak perlulah diskriminatif seperti itu. Baiknya ditambahi pilihan seperti ini biar adil;

4. Pengin Kawin
5. Insya Allah Kawin
6. Masih Betah Sendiri
7. Nunggu Jodoh

Ahh, atau mungkin sayanya saja yang terlalu sensitif? :mrgreen:

Setelah beres, kemudian bu Ninit memberi tahu kalau paspor jadi nanti akan ditelpon (sekitar jam 4 sore). Karena belum sempat sarapan, saya kemudian meluncur kembali ke daerah Kizilay. Selain untuk makan dan mengunjungi masjid terbesar di Turki (Kocatepe Cami), juga ingin belanja buku untuk bingkisan.

Sampai di daerah Kizilay, saya sempat nyasar karena salah masuk blok. Dari tujuan awal makan dulu, akhirnya shalat dulu. Memang, sudah seharusnya urusan akherat itu didahulukan ketimbang urusan dunia.

_DSC3741
Interior Kocatepe Cami

Takjup. Melihat gagahnya masjid ini. Masjid ini bukanlah termasuk masjid kuno seperti Blue Mosque dan lainnya, karena masjid ini dibangun di masa Turki modern (1967). Lokasi masjid ini, secara kontur terletak di atas bukit. Sehingga, empat menaranya masih sangat kentara di antara gedung-gedung tinggi. Terakhir kunjungan saya ke masjid ini ketika malam hari, dan tujuan saya kali ini selain shalat juga ingin mengabadikannya ketika siang hari.

Setelah menjamak shalat, kemudian kamera butut saya beraksi. Jepret sana-sini kaya turis Asia lainnya.

Dari Kocatepe (artinya: Bukit Suami) saya turun kembali ke arah Kizilay. Mencari warung Cina atau Asia lainnya. Pengin banget hari itu nyeruput hangatnya mie seafood. Tapi entah, setelah muter-muter kok juga belum ketemu. Kaki saya nyaris gempor, karena sepatu boot saya yang kurang nyaman untuk banyak jalan.

Pasrah, akhirnya saya masuk warung KFC. Ndillah, suprised! ada NASI! Setelah beberapa waktu di Turki, akhirnya KFC sini mengeluarkan menu istimewa. Rekor! bila di Indonesia warung ayam goreng ada menu nasi itu biasa, maka di sini menjadi Luar Biasa!

_DSC3761
Ajaib, ada nasi!

Cukup dengan 13 Lira untuk dua menu (double karena belum sarapan). Rasa ayamnya, standar kaya ayam goreng biasanya. Yang agak spesial adalah nasinya, nasinya mirip kaya nasi uduk tapi dengan rasa gurih yang tidak keterlaluan. Hal ini sangat berbeda dengan nasi Turki (pilav) pada umumnya (yang agak asin dan berminyak). Worth it, untuk sekedar mengganjal perut sekaligus tidak mengintimidasi kantong.

Dari situ, saya lanjut ke jalan yang penuh dengan toko-toko buku. Saya tanya buku yang saya inginkan ke masing-masing toko, tapi tidak ada. Mencari karya-karya sastra dari Orhan Pamuk (penulis sekaligus pemenang nobel dari Turki) tapi versi bahasa inggris. Karena selain buat bacaan sendiri, juga untuk bingkisan seseorang di Indonesia. Kalau bukunya dalam bahasa Turki, bisa-bisa butuh berhari-hari (bahkan minggu) baru kelar saya membacanya, apalagi teman saya.

Tak lama kemudian, saya mendapat telpon dari KBRI. Bahwa paspor saya sudah jadi. Tapi sebelum balik ke KBRI, saya mampir sebentar ke ground zero (lokasi dimana bom meledak sepekan yang lalu). Lokasinya terletak di Guven Park (masih di daerah Kizilay).

_DSC3769
Halte (yang tengah), ground zero

Weladalah, ternyata lokasinya persis di samping halte bus tempat dimana saya naik bus ke KBRI tadi pagi. Dan saya tidak menyadarinya. Karena memang sudah tidak ada lagi bekas-bekas kerusakan sama sekali. Padahal bom mobil tersebut cukup besar, korbannya saja sampai puluhan. Cepet banget nih, pemerintah kotanya beberes. Di TKP hanya ada tumpukkan mawar merah dan beberapa lembar foto para korban.

_DSC3810
Berdoa di Ground zero
_DSC3807
Foto korban
_DSC3798
Warga kota nyantai di taman

Ada beberapa orang di lokasi tersebut, ada yang foto-foto adapula yang berdoa. Dari situ, kemudian saya duduk-duduk di taman. Melihat aktivitas orang-orang di sekitar. Saya kagum tentang kebertahanan orang Turki. Kejadian teror berturut-turut terbukti tidak membuat takut dan cemas pada wajah mereka. Mereka beraktivitas normal seperti biasanya. Mengagumkan. Intinya, Turki masih AMAN untuk dikunjungi. Hanya saja, hindari daerah-daerah perbatasan dengan Syria, serta kalau bisa jauhi keramaian yang tidak diperlukan.

Kemudian saya kembali ke KBRI, bertemu teman dan sekaligus mengambil paspor yang sudah jadi. Biayanya cukup murah hanya 10 dollar. Tidak pakai ribet, tidak ada calo ataupun pungutan liar lainnya. Keren.

Setelah itu saya ngobrol panjang lebar dengan teman saya, sambil mengulur waktu bus pemberangkatan (jam 10 malam nanti). Berbincang-bincang tentang masa depan, karena sama-sama akan lulus tahun ini juga. Bedanya, kalau teman saya itu masih pengin lanjut sekolah, kalau saya kok rasanya pengin muntah kalau disuruh sekolah lagi. Berkali-kali profesor saya nawari untuk lanjut, tapi hati saya mengatakan (untuk saat ini) sudah cukup.

Jam 7 malam, saya sudah kembali di ASTI. Datang lebih awal, khawatir saya kehabisan tiket. Karena kemarin saja, hanya tersisa 1 kursi.

Saat di loket bus ini, sebuah peristiwa menggemaskan terjadi. Mas-mas counter tiket dengan sembarang mengubah nama saya, padahal kimlik (kartu identitas) sudah saya kasih, tapi tetap saja yang tertulis berbeda. Nama saya jadi begini:

_DSC3824

Setelah Mbak Aygun, kini mas-mas penjual tiket yang sembarangan mengeja nama saya. Mungkin, bagi orang Turki mengeja dua huruf mati adalah hal sulit.

Dari lokasi penjualan tiket, saya turun ke mescid di terminal bus tersebut. Mushola tersebut cukup besar dan bersih. Setelah shalat, saya mampir Lounge-nya Metro (bus yang akan saya tumpangi). Tempat tunggu ini mirip ruang tunggu di bandara-bandara. Kemudian saya memesan makan malam tak jauh dari sana, karena bus Turki tidak menyediakan ransum makan selama perjalanan. Hanya minuman dan snack ringan saja.

Lagi asyik melamun menunggu makanan, sebuah panggilan telpon masuk.

Hallo, Salamet Platno?

Hmm… iya, ini siapa?

Ini dari Metro, tolong anda kembali ke loket kami segera. Kami tunggu.

Ada ap..?

Belum selesai saya bertanya ada apa, telepon di seberang sudah mati. Saya bergegas kembali ke loket tempat di mana saya beli tiket sebelumnya. Kemudian saya bertemu dengan mas-mas yang melayani saya tadi.

Ini, uang anda. Anda tadi membayar lebih. Kami mohon maaf.

Ternyata, saat beli tiket tadi saya membayar double. Karena memang, pas beli tadi saya menggunakan kartu kredit dengan dua kali gesek. Saya kira, system gagal melakukan transaksi atau gimana. Eh ternyata, double pembayaran.

Salut, dengan kejujuran orang Turki ini. Padahal, bisa saja dia nilep uang saya. Lha wong, saya baru akan sadar setelah menerima email tagihannya bulan depan. Jauh sebelum itu, saya pernah kehilangan dompet dua kali. Yak dua kali. Dan Alhamdulillah, semua kembali utuh seperti sedia kala.

Hingga akhirnya, jam 10 malam tiba. Waktunya meninggalkan kota Ankara.

Terima kasih, untuk pembelajarannya hari itu. Yang pasti, Turki tetap kuat dan nyaman, meski tidak ada heboh pray-prayan.

_DSC3825
Sebuah tulisan di cover buku yang saya jepret di terminal

#PrayForParis #PrayForBrussel #PrayForAnkara #PrayForGaza #PrayForSyria #PrayForHumanity

Advertisements

46 thoughts on “Sehari di Ankara (Travel Warning)

  1. kalau yang sudah nikah dan mau tambah lagi bisa ditambahin satu atau dua pilihan lagi….

    8. mau nikah yang kedua
    9. mau nikah yang ketiga
    10. …

    😀

  2. kok aku baru nyadar ya kalo mas ini tinggal di turki. Padahal foto nya yang di sidebar jelas jelas ber back groun balon udara.

    Aku pingin banget naik balon udara gara gara dulu liat vclipnya sherina yang judulnya balon udara. Hahaa. Ternyata ada beneran toh. Tapi jauh banget harus ke turki.

    Being single doesn’t mean we don’t want to get married. It’s just about time. Jadi kapan mas ? mau posting soal pernikahan di blog ini ? *kemudian saya di gilasss sama masnya* hahaa

    Waduh ada bom ya, korbannya fotonya cantik. Sayang sekali. Huhu

  3. Turki sepertinya memang beda dari negara2 lain ya, punya kekuatan tersendiri, mungkin krn geografisnya?
    Terakhir itu, ngena banget, ‘meski tak heboh pray-prayan, yang ada action pemerintah sangat cepat ya.

  4. Kata pepatah sekali mendayung dua tiga pulai terlampui. Iya kan sambil ngurus pasport bisa jalan2 jga 😀
    Seru kayaknya keliling kota kayak gitu, apalagi kalo ada teman hehehe
    Di turki emang jarang nasi ya, terus biasanya makan apa mas ?

  5. Senang melihat Ankara sudah bangkit dan sudah berdenyut lagi kehidupannya seperti sedia kala. Meskipun demikian kewaspadaan tetap diutamakan ya Mas :hehe. Di sana keren ya pembuatan paspornya, tak ada “biaya tambahan” atau hal yang aneh-aneh :haha. Dan orang baik selalu ada di mana pun ya–baik banget itu petugas bus mengembalikan kelebihan pembayaran :hihi.

  6. Mas, mungkin bisa baca postingan sy yang judulnya ‘No Problemooo’ hehehe *tentang jodoh 😀

    Waaa Ankara, jadi inget serial Turki, orangnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng 😀

      • Silakan berkunjung Mas..

        Hehehe suka abis cantik-cantik dan ganteng-ganteng cuma kalau ada adegan pasangan atau berpacaran gitu ngga beda jauh sama film Barat, mungkin memang kiblatnya ke Eropa kali ya Mas?

        Padahal negaranya udah ditaklukan sama Islam (konstantine 》turki)

        Suka banget sama Sultan Mehmed 😀

        Kalau dateng ke situs-situs bersejarah bisa dipost Mas, sy seneng banget pastinya 😀

      • Adzan pakai Bahasa Turki? Baru tau sy..

        Masih perlu banyak baca sejarah, tentang Pasha Pasha itu baru ngeh sedikit nih

        Siap Mas, diantos pisan 😀

        Sy liat dari foto, ngebayangin, atau baca sejarahnya aja udah seneng banget 😀

  7. langsung ngakak ngebaca nama: Platno 😀
    keren bgt yak, kotakota di turki ituh. pengen kesanaa.. smoga suatu saat.

    mugio enggal kepanggih mba-nya, Mas.
    meh topik tulisane gentos #eh 😀

  8. dan bom turki pun tak seheboh serangan di paris yang sensasional mendunia.. 😀
    kecepatan pulihnya turki hebat juga ya. secepat si jepang ketika tsunami menghadang.

    baru nyadar kalo orhan pamuk itu orang turki. pernah baca bukunya yang my name is red. berhubung dulu dapetnya yang basa inggris, jadi gak terlalu ngerti jalan ceritanya. mau baca yang snow belum berhasil dapet gratisannya :mrgreen:

    nice live report (^^)b
    salam buat yang di suriah ya Mas… #prayForUmmah

  9. #PrayforTheWorld
    Selama ini aku merasa belum ‘terpanggil’ untuk ke Turki. Tapi setelah membaca postinganmu ini, dan melihat sekilas kota Ankara kok tiba-tiba jadi pengen ke sana ya. Hmm mungkin karena selama ini lebih sering baca tulisan tentang Istanbul, dibandingkan Ankara kali ya.

    Secara behaviour dalam menghadapi aksi terorisme mungkin orang Turki mirip orang Indonesia kali ma. Kemarin ada bom, besoknya ya biasa lagi aktifitasnya.

    Semoga suasana di sana kembali aman setelah ini ya. Amiiin 🙂

  10. Halo mas, kisahnya menarik 🙂 Jarang ada catper tentang Ankara, apalagi ada kasus bom segala. Semoga saja tak ada ledakan2 selanjutnya..

    Btw ada legenda kenapa sampai dinamakan Bukit Suami? 😉 *penyuka kisah legenda*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s