Maling, Garong, dan Gendruwo

Byuur..

Sri, baru saja usai mengguyur bekas buang air kecilnya. Ia kemudian bergegas menghampiri kedua temannya; Yani dan Ratmi, yang selesai lebih dulu. Sri adalah anak berpostur paling mungil di antara mereka bertiga. Mereka berkawan sejak sebelum mengenal kata sekolah. Rumah mereka bedekatan, orang tua mereka pun masih ada pertalian saudara.

***

Sekolah Sri, begitu pula Yani dan Ratmi, layaknya sebuah rumah penduduk pada umumnya. Berbentuk limasan khas Jawa dengan dua pintu utama di bagian depan dan samping. Meskipun lantainya sudah berpelur semen dan berdinding tembok batu-bata, namun genting usang menghitamnya tidak bisa menyembunyikan betapa bersahajanya sekolah tersebut.

Adalah Bu Nah, guru sekaligus kepala sekolah yang memprakasai lembaga pendidikan pra-sekolah tersebut, bersama suaminya Ngadimin atau orang di dusunnya sering memanggilnya ustadz Ngadimin -dai kampung dengan berjuta ilmu dan keteguhan.

Dan sekolah taman kanak-kanak yang mereka beri nama Roudhatul Athfal itu adalah perwujudan akan bakti dan pedulinya pasangan suami-isteri tersebut atas kualitas pendidikan anak-anak di lingkungannya.

***

“Ssst… liat itu!” bisik Ratmi dengan mulut gemetar sambil jari mungilnya menunjuk segerombolan hitam-hitam yang tengah berusaha melompati pagar. Yani, menoleh kemudian secepat kilat menutup mata.

Sedetik kemudian, Sri berlari dan berteriak,

“MALIIIING…. MAALIIING…. bu GURU ada maling!”

Ratmi dan Yani pun langkah seribu berlari mengekor di belakang Sri. Sesampainya di dalam kelas, dengan nafas terengah-engah mereka bertiga merangkul kaki Bu Nah erat-erat. Mereka ketakutan.

“Ada apa shalihah? ada apa? kenapa kalian berlarian…”

“… aa… ada MALING bu…”

“…bub…bukan Bu, Sri salah lihat. Yang bener ada segerombolan GARONG, soalnya mereka ada banyak dan hari masih siang Bu…” sanggah Yani. Setahu Yani, maling itu biasanya beraksi di malam hari sendirian, sementara garong sebaliknya.

“HAH?! Maling? Garong? kalian ini bicara apa sih?” ujar Bu Nah, sambil bersimpuh dan memeluk ketiga muridnya tersebut. Dengan masih bersikap tenang, ia kemudian menatap erat Ratmi -anak paling tenang dan dewasa di antara mereka bertiga.

“Iya Bu… tadi kami melihat segerombolan hantu yang mencoba melompat pagar. Mereka hitam-hitam mirip GENDRUWO!”

“Hush! ngomong apa sih kamu? gendruwo itu tidak ada…”

Kemudian, Bu Nah berdiri dan beranjak menuju pintu untuk memastikan apa yang sebenarnya dilihat oleh ketiga muridnya hingga ketakutan seperti itu.

Sekitar dua langkah sebelum pintu keluar, teriakan keras datang dari luar.

“Angkat tangan! jangan bergerak!…”

“Kamu! tiarap!! jangan macam-macam… ini penggerebekan!”

Bu Nah bingung, namun saat itu juga seakan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Beberapa detik kemudian, dengan pasrah ia mencoba mengikuti perintah yang datang dari orang berseragam hitam-hitam yang berdiri tepat di depannya.

“Ibu guruuuuuuuuuuuuuuu…”

“Huaaaaaaaaaaaaa….”

Terdengar tangisan serempak dari seluruh murid di kelas tersebut, begitu pula Sri, Yani, dan Ratmi. Kemudian, mereka merubungi Bu Nah yang tengah tiarap di lantai.

“Tenang nak… tenang nak… ya Allah… astaghfirullah…” Bu Nah mencoba menenangkan murid-muridnya yang tengah ketakutan.

“Heei DIAM! Jangan nangis!” teriak salah satu orang berbadan tegap berbaju hitam.

“DIAM kamu! jangan cengeng!” teriak yang lain.

Satu persatu orang-orang tersebut memasuki kelas. Posisi mereka kini sedang mengelilingi Bu Nah dan murid-muridnya. Senjata mereka sudah terkokang sejak memasuki gerbang sekolah, sekarang mengarah tajam, membidik guru dan anak-anak tidak berdaya itu.

“Hei! kalian berempat tetap siaga di sini, awasi mereka. Yang lain geledah ruang ini. Cari barang bukti dan benda-benda mencurigakan lainnya” terdengar perintah dari seseorang yang kemungkinan komandan gerombolan hitam-hitam tersebut.

“Komandan! ketemu komandan!” teriak salah satu dari mereka, sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku gambar yang ia temukan dari sebuah laci meja. Di dalamnya tergambar, sebuah pemandangan dengan dua buah gunung dengan matahari di tengahnya, lengkap dengan gubuk-sawah dan jalan lurus mengecil.

“Kerja bagus! itu pasti peta lokasi sasaran pengeboman berikutnya. Dua gunung ini pasti kode sandi untuk gunung Sindoro dan Sumbing, gubuk ini tidak lain kota di antara keduanya. Ya, mereka pasti merencanakan bom bunuh diri di Temanggung! Kerja bagus! Lanjutkan pencarian!”

“Komandan! ini saya juga dapat!” lapor anggota yang lain, ia menemukan sebuah botol minum dan kotak bekal berbahan plastik, lengkap dengan bekal makan siang yang belum sempat dimakan.

“Saya juga komandan!”

“Saya juga nemu!” lapor satu persatu anak buah sang komandan.

“Bagus! Pasti mereka sedang merencanakan latihan perang di hutan, buktinya mereka sudah menyiapkan ransum makanan! Sita semuanya sebagai barang bukti!”

Kemudian, sang komandan berjalan ke arah sebuah rak buku yang terletak di samping meja guru. Memeriksa detail satu persatu isi rak tersebut.

“Ini dia!!!”

“Ada apa Dan?!”

“Ini dia kitab panduan mereka sebelum beraksi. Inilah buku yang membuat mereka jadi radikal! nampaknya bocah-bocah ini sedang dipersiapkan menjadi ‘pengantin'” ujar sang komandan, sambil memperlihatkan barang bukti berupa tumpukan buku-buku kecil berbentuk persegi panjang, bertuliskan di sampulnya “BUKU IQRA Jilid 1-6”.

“Sita semua barang bukti, dan amankan tersangka. Termasuk bocah-bocah radikal ini!”

***

Setengah jam berlalu, bangunan sekolah mendadak sepi. Semua orang di sekolah tersebut sudah diangkut ke sebuah truk untuk menjalani penindakan.

Baru kemudian, warga di sekitar sekolah berdatangan. Sebelumnya, mereka hanya berani mengintip dari kejauhan. Mereka saling bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi.

“Ono opo yo maeng?”

“Mbuh, ono MALING koyone?!”

“Dudu, sing bener GARONG!!”

“Halah! Kowe ngawur kabeh! sing bener kuwi GENDRUWO 88!!!”

“Ohh… untung yo, awake ora melu-melu”

“Ben kapok, salahe sopo dadi radikal! Urip kok digawe susah!”

“Hooh.. kuapok!!”

“Ehh ngomong-ngomong, Sri anakku ning endi yo? kok kelase kosong ngene”

“Iyo ki, anakku mbarep Yani yo ora ono…”

“Waduh… si-Ratmi yo ngilang…”

“JUAANGKR*K!!! anakku loro yo melu ilang!”

“JUAAR*N!! ponakanku yo ora ono”

“GENDRUWOOOO!!! balekno putuku?!!”

*terjemahan dialog

“Ada apa ya tadi?”

“Enggak tau, mungkin ada maling?!”

“Bukan, yang benar itu garong (rampok)”

“Halah! kalian salah semua! yang bener itu gendruwo 88”

“Ooh.. untung ya, kita enggak ikut-ikutan”

“Biar tau rasa, salahnya sendiri jadi radikal! hidup kok dibikin susah!”

“Iyaa… rasain!”

“Ehh ngomong-ngomong, anakku Sri dimana ya? kok kelasnya kosong begini?”

“Iya nih, anak sulungku Yani juga tidak ada…”

“Waduh… si-Ratmi juga hilang…”

“Juangkr*k!! anakku dua juga ikutan hilang!”

“Juaar*n! (kuda) keponakanku juga tidak ada”

“Gendruwo! kembalikan cucuku?!!”

end

***

*Mengenang Siyono -seorang dai kampung di pelosok Klaten yang dimatikan tanpa perlu diadili dan ketangguhan sang istri -Suratmi yang sedang mencari keadilan di negeri yang mana hukum bisa dibeli, serta anak-anak TK yang hingga kini masih trauma. Eh ndilalah, sang isteri tersebut memiliki nama seperti nama Ibu saya. Berita lengkapnya di sini.

ghost
Gendruwo 88, ada yang masih main game ini? (pict: pichost.me)
Advertisements

43 thoughts on “Maling, Garong, dan Gendruwo

  1. hahaha..sinisme 88. like it (^^)b
    tapi kok yo’o bukunya iqro. meremehkan 88 bgt itu -___-

    kmrn muhammadiyah mau ngasih advokasi katanya, insya allah..
    semoga kebenaran diperlihatkan..

    • Hehe biar makin miris mbak. Saya pernah baca berita sebelumnya, tentang aparat yg menjadikan Al-Quran sebagai barang bukti teroris… makanya biar makin radikal kenapa enggak sekalian buku Iqra. Kan biasanya sebelum baca Quran baca Iqra dulu 😀

      Weedan emang kelakuan gendruwo 88 ini?! dan kebanyakan masyarakat adem2 aja dengan tingkah lakunya…

  2. Saya juga prihatin dengan kelakuan aparat yang main kasar tak punya cara halus terhadap orang yang disangkakan. Saya cuma berharap ada keadilan buat Siyono.

  3. Aku baca ini ya rasanya nano-nano, pengen ketawa tapi miris juga, sedih juga, bingung juga, tapi lucu juga.. aah aku galau 😀
    Jadi inget jamanku di Aceh waktu konflik Aceh tahun 90’an.
    Banyak rakyat sipil dituduh GAM tanpa bukti, trus digelandang sama tentara dan akhirnya hilang tanpa kabar sama sekali, atau pulang udah cacat. Atau GAM yg ‘razia orang jawa’, siap-siap yg bernama jawa bakalan ditangkap, disekap, dijadiin samsak. Trus kalau tentara lagi sweeping GAM, perempuan dan anak-anak disembunyikan dan nggak boleh keluar. Kalau ada suara bedil, cuma bisa berdoa supaya ayah kita dan ayah teman-teman kita baik-baik saja. Bikin trauma sampe sekarang!!
    Tiap liat tentara, badan rasanya panas-dingin, jantung berdetak kecang seperti genderang mau peeraaang~
    Denger kasus ginian, rasanya kayak flashback, cuma ganti setting dan pemainnya aja. Ngebayangin kalau itu anak TK yang didatangi si 88, nggak tega itu stuasinya mencekam kayak apaan. Belum lagi perasaan keluarga korban ‘salah target’. Bukannya anti teror, malah jadi horor.

    BTW, COD itu kan mainannya anak SD-SMP yang suka ngomong “cac*d lo!! cac*d lo!!” dan mainnya suka pake cheat. Kita mah mainannya Counter Strike, kalo nggak, pokemon. 🙂

    • Itu jaman DOM 1 satu ya mbak? wah pengalaman berharga tuh sebagai saksi hidup. Kapan-kapan dibagi ceritanya mbak, secara saya belum pernah membaca novel/bacaan yg berlatar Aceh era GAM.

      Yap benar sekali, permainan teror semacam ini memang tidak lepas dari ulah penguasa. Niatnya membasmi teroris malah menebar teror itu sendiri… 😦

      Eh emang iya? anak sma suka ngomong begituan. Aku main itu pas udah kuliah di Jogja sih, CS juga pas KKN *lah ketauan kkn cuma buat main game 😀

      • Iya mas, jaman-jaman DOM sampe 1998 aku dan ibu sama adek-addek terpaksa eksodus ninggalin Aceh, sedangkan bapak masih harus tinggal krn kantor nggak boleh kosong.
        Aku di Banda sih, jd nggak gitu ngeri, tp teman-teman yg di daerah yang kalau cerita pengalamannya itu bikin ngilu hati. Nanti mungkin bakalan ada buku tentang GAM, tp belum tau gimana pastinya, semoga aja nggak dibredel aja sama pemerintah.or kena sensor sana-sini karena dianggap menebar kebencian (?) 🙂

        Lucunya gini, mereka mau menangkap teroris yang meneror keutuhan negara dengan cara meneror rakyat. Kayak mau nangkep tikus di dapur dengan cara rumahnya dibakar. *tepok jidat*

        Coba deh masnya mampir ke game center dimana anak2 (yang seharusnya) berseragam putih-merah atau putih-biru main COD. Segala isi kebun binatang diabsen. Jadi kasian sama orang tuanya.
        Aku main CS pas SMA sih, pas KKN mainannya WE. Tapi, pas KKN aku nggak cuma main game kok, seringnya main ke pantai. 😀
        Hunting pantai-pantai yang masih perawan di pesisir selatan Sumbar sampe gosong macam dakocan. Sesuai namanya, KKN kan Keliling-Keliling Nagari (Nagari = Kabupaten) 😀

      • Miris memang, ngeliat realita sejarah kita. Entah sampai kapan akan berulang… 😦

        Aduh saya enggak pernah main ke game center sih, waktu itu saya cuma anak SMA baik-baik, paling2 cuma ke warnet itupun yang non-smoking. 😀

      • Mirisnya lagi, fakta sejarah yang ditutup-tutupi dan dihapus dari pencatatan, sehingga nggak ada pembelajaran yang bisa kita ambil.

        Saya juga nggak pernah main ke game center. Numpang ngeprint doang kalau printer di rumah lagi mogok kerja. Soale warnet yang non-smoking udah henshin jadi game center semua. Untung abang yang jaga nggak ikutan henshin jadi kamen rider. 😀

      • Henshin itu zat tambahan makanan itu loh. Penyedap makanan… *eh*
        Nggak ding, henshin itu kalau kamen rider atau ranger mau berubah, kan teriak dulu, “HENSHIN”… artinya ya h “BERUBAH”… gituuuh 😀

      • maunya sih ini saya tulis langsung dibawah komentar hazy-Rin, tapi gak bisa. Jadi saya nimbrung disini.

        mau meluruskan hal NAGARI:
        NAGARI adalah pembagian wilayah administratif sesudah kecamatan di provinsi Sumatera Barat. Istilah nagari menggantikan istilah desa, yang digunakan di provinsi lain di Indonesia.

        lihat wikipedia untuk penjelasan lebih lengkap.

  4. saya ngeliatnya ini pak pramoedya dan pak ahmad tohari sekali. kesan wong cilik dan inoccent nya terasa. bikin novel mas… siapa tau jadi super mega best seller kayak pendahulu diatas.who knows 😀

    • Wah Mbak baca karya-nya Ahmad Tohari juga? novel pertama beliau yang saya baca dan masih terngiang2 sampe sekarang adalah Bekisar Merah.

      Aku nulis novel? haduh belum sanggup mbak… sekarang nulis jurnal publikasi dulu hehe

      • Baca,hampir semua sudah dibaca.kecuali cerpen2nya ada yg belum. bekisar merah bahasanya cukup frontal ya mas hehe.tapi tetap bagus banget. walah mas,kan saya sama pak ahmad tohari sama2 dari kabupaten yg sama,banyumas. berbagi almamater SMA sama universitas yg sama juga. bangga banget sama beliau karyanya sudah mendunia dengan gaya bahasa yg membumi.

      • Walah beliau orang banyumas tho? Hebat mbak Dea, udah baca hampir semua karyanya. Wah apalagi satu alumni, pasti bangga banget 🙂

        Saya sendiri baru baca karya beliau waktu kelas 2 SMA, dikenalin temen kontrakan yang kebetulan anak sastra. Padahal sebelumnya, saya ngertinya cuma penulis2 pop dan beberapa teenlit. Berkat temen jadi ikutan nyicip novel dari pengarang2 kelas berat… 😀

      • hahah ga hebat lah biasa aja. ga pake mikir kok baca tulisan beliau. sederhana sama lugas malah. pernah baca tulisannya Buya Hamka mas? susahan baca tulisan beliau daripada pak Ahmad Tohari

        iya beliau org banyumas.aku juga tau nya pas SMA. pas SMP mah masih cileren ga tau apa-apa,sukanya baca komik (sampe skrg masih sih)

      • Tulisan Buya Hamka susah karena menggunakan corak bahasa melayu aseli melayu-padang, jadi banyak istilah2 yang tidak familiar di kita. Sedangkan Ahmad Tohari lebih ke corak kultur njawani, itu mengapa terasa lebih mudah…

        Saya juga masih baca manga kok, tapi tinggal satu thok yang saya ikutin: OP 😀

  5. Kamu mengemasnya dengan sangat apik mas :’ suwer. Kalau ibarat cerpen yang aku baca, kayak A.S Laksana abis :’) hihihi mantap :’)

    Aku baru tau berita Densus 88 ini -_-

  6. Wah kalau nurut saya densus 88 udah keterlaluan kayak gitu. Kan prasangkaan saja, lagipula radikalisme nggak semudah itu dilacak. Mungkin benar kalo dibilang di cerota diatas cuma berdasarkan prasangka yang tidak mendasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s