Yuk! Sepedahan

Sabahul khair semuanya!

Sebelum baca, play dulu lagu di atas biar makin dapat feeling-nya.

Kemarin adalah weekend kedua di bulan April sekaligus permulaan hari dari dua bulan sebelum Ramadhan tahun ini. Ya, cepet banget bukan? adakah persiapan untuk menyambutnya?

Bicara akhir pekan,

Banyak cara, orang merayakan sebuah pagi hari di akhir pekan. Yang positif, pun yang negatif. Ada sebagian orang merayakannya dengan bersendau gurau di dapur, ada yang masih berburu uang lembur, bahkan banyak juga yang asyik melanjutkan mimpi di atas kasur.

Bagi mereka yang biasa menghabiskan waktu, pikiran, dan energi sepanjang weekdays (senin-jumat) menganggap akhir pekan adalah hari raya. Bebas melakukan apapun, di luar akvitas rutin selama lima hari kerja tadi. Weekend adalah anugerah terindah mingguan bagi mereka, makanya banyak ragam ekspresi untuk merayakannya.

Misalnya, kamu punya sepeda (kayuh), cobalah untuk keluar setelah fajar. Nikmati sejuk nan dingin udara pagi yang menggembirakan. Mengayuh pedal, melatih otot tangan dan kaki, sekaligus melatih keseimbangan dari ke-labil-an diri. Agar, senantiasa teguh lagi tegar dalam tiap langkah-langkah perjalanan.

_DSC4019

Ada satu blogger yang sangat inspiratif dan sepertinya termasuk ash-syeikh bersepeda, beliau adalah Mas Bersepedahan. Ya, sampai sekarang saya tidak tau siapa nama aseli beliau. Cerita beliau tentang sepedahan dikemas menarik, pun foto-fotonya ciamik. Sangat pas untuk diikuti setiap petualangan bersepedanya. Dan seperti yang saya bilang tadi, beliau ini memang syeikhnya bersepeda alias penyepeda kelas berat, mampu nyepeda belasan hingga puluhan kilo untuk sekali kayuh. Makanya, saya lantas tertarik untuk berbagi cerita hal sama. Karena ternyata, tak ada secuil post di blog ini tentang bersepedahan.

Sabtu pagi beberapa menit setelah fajar, saya bersiap. Kamera dipinggang, sepatu terpasang, sepedapun siap pancal. Setelah sarapan di kantin, saya langsung menemui seorang kawan yang sudah menunggu di depan gerbang. Tak lupa, untuknya saya bawakan sarapan, karena saya yakin sepagi itu dia pun belum sarapan.

Kawan bersepedahan pagi itu adalah si-manusia nyentrik aka Mas Nopal. Masih ingat kan betapa nyentriknya kawan saya itu? Pagi itu, saya pun menduga ia akan mengulang kenyentrikannya lagi. Tapi ternyata tidak, alhamdulillah.

_DSC4005

Dari gerbang asrama (yang terletak di dalam kampus) kami memulai bersepeda. Kombinasi pagi+weekend+mahasiswaTurki akan menghasilkan pemandangan yang tidak bakal didapatkan di kampus-kampus Indonesia. Kampus sepi, mirip kuburan. Hal kontras, jika itu di Indonesia. Akhir pekan, kampus justru mendadak menjadi area senam massal, tempat pacaran, hingga pasar kaget.

Kampus saya dulu pun terkenal dengan sunmor-nya (sunday morning). Hampir semua lokasi di sekitar kampus dipenuhi dengan lautan manusia (yang tentu saja bukan hanya civitas kampus). Komplit dengan beragam aktivitasnya. Saya tahu ini, karena pernah menjadi bagian yang meramaikannya. Entah di semester berapa saya tidak ingat, bersama dengan dua teman saya, kami menggelar lapak kecil menjajakan jajanan pasar. Istilah kerennya reseller jajanan pasar yang barangnya saya ambil dari pasar Kranggan (barat Tugu Jogja yang terkenal dengan jajanan pasar murah-meriah). Jadi, kalau kamu pada waktu itu juga sering mampir ke sunmor lalu ketemu trio mas-mas ganteng penjual kue klepon dan sejenisnya, berarti kamu adalah bagian dari sedikit orang beruntung di muka bumi ini. *halah*

_DSC4062

Okeh, kembali ke laptop topik. Tujuan kami pagi itu adalah ke pantai Cesme (jarak sekitar 35 km), atau paling tidak setengah perjalanannya. Karena, di tengah-tengah itu ada desa bernama desa Barbaros (tidak tau persis, apakah ada hubungannya dengan Barbaros -admiral Turki yang termasyhur- baik dalam literature Islam ataupun Barat atau tidak sama sekali?).

Kualitas jalan yang kami lalui termasuk cukup baik, aspalnya mulus meski jalan ini bukan jalur utama menuju pantai Cesme. Dan yang jelas, jalan ini tidak terlalu ramai, pun pemandangannya kanan kiri sangat aduhai.

_DSC4012

Cuaca pagi itu pun cukup bersahabat, meskipun mendung. Kami mengayuh sepeda kami dengan penuh tuma’ninah, pelan tapi pasti. Sesekali berhenti, meregangkan kaki, mengatur nafas, dan meneguhkan hati. Bahwa, jarak 35 km bersepeda pasti sanggup ditaklukkan.

Hasilnya? jauh panggang dari api. Maaf, Abang tidak sanggup dek. Abang tak sanggup menaklukkan perjalanan pagi itu, tapi kalau menaklukkan hati adek…

Bukan masalah jarak, 35 km itu apaan sih *sok kuat*. Masalahnya lebih kepada kontur jalan yang semakin ke depan, semakin menanjak awut-awutan. Masih mending kalau treknya itu naik turun, lha rute ini termasuk rute neraka. Tanjakannya panjang gak habis-habis.

_DSC4020

Kurang lebih dua jam nanjak (menurut perhitungan google maps butuh 7 jam perjalanan ke cesme), akhirnya kaki mulai goyah. Diajak genjot pedal rasanya tidak semangat, nafaspun terengah-engah. Istilahnya orang Jawa, mbakone metu sekalipun saya bukan seorang perokok.

“Cukup ya…” bilang saya ke Nopal. Dan dia acung jempol tanda setuju.

Dari titik pemberhentian, kami kemudian menyenderkan sepeda di samping jalan. Lalu, langkah kami menaiki sebuah bukit kecil berbatu. Melepas lelah.

Pemandangan dari bukit tersebut cukup indah, panorama hijau khas pegunungan yang berhiaskan beberapa baling-baling raksasa di atasnya. Dari dulu, saya memang terobsesi dengan tipe pembangkit listrik satu ini. Kesannya modern dan elegan.

_DSC4035

Setelah asyik berfoto-foto, kami kemudian turun gunung. Tapi, tidak balik ke asrama melainkan ganti rute yang lebih manusiawi. Tujuan kami adalah ke sebuah pemandian air panas kuno, yang terletak di pesisir laut tak jauh dari kampus.

Dalam perjalanan, saya membayangkan betapa nikmatnya kaki pegel yang terendam oleh air hangat.

Tidak butuh effort yang terlalu (jalannya cenderung menurun), kami sampailah di tepi laut. Kami parkir sepeda kami, kemudian menyeberangi pulau kecil yang terdapat pemandian kuno yang sudah saya bilang tadi.

Menyeberang ke pulau tak berpenghuni ini sangat mudah, cukup jalan kaki. Kedalaman airnya hanya sebatas lutut. Air lautnya masih lumayan dingin, sisa-sisa musim dingin. Kemudian,

Byuur…

_DSC4076
Hammam terletak di pulau sebelah kanan itu

 

Masih dengan celana panjang, kami berendam di kolam air hangat alami (hammam) peninggalan Yunani kuno. Ingat, bukan Byzantium lho ya, jauh sebelum itu. Jadi, sangatlah wajar kalau kondisinya  sungguh mengenaskan. Banyak corat-coret alay di sana-sini, bekas lilin aroma terapi pun dibiarkan tanpa dibersihkan. Meski begitu, kondisi kolam rendamnya masih tetap bersih dan bening. Airnya hangat pas, tak telalu panas. Tapi, airnya memang berasa sedikit asin (mungkin tercampur air laut dari sekitarnya).

Setelah sekitar sejam berendam, kami mentas. Perut kami keroncongan.

_DSC4083

Kemudian, kami meluncur ke apartmen Nopal. Yak! kalau saya cukup jadi anak asrama, nah Nopal ini anak apartmen. Beda kelas!

Kami kemudian masak-masak, lebih tepatnya saya masakin buat Nopal. Dia ini mungkin tipe anak yang jarang bantu-bantu masak kala di rumah, jangankan masak nyuci panci aja dia belum pede. Minta diajarin. Weedalah. Sekonyong-konyong, saya kemudian teringat dengan adik sepupu waktu awal-awal ia tinggal di Jogja. Lugu tur lucu gimana gitu. Ahh pal nopal.

_DSC4084

Kamu sendiri, bisa masak tidak?

Halah Mas, ngapain Adek kudu pinter masak. Pesen katering aja, sekarang gampang. Mau berumah tangga kok dibikin repot. 

Ohh, okeh. 

Advertisements

71 thoughts on “Yuk! Sepedahan

  1. Pemandanganne apiiiikkk.
    Kami juga memulainya belum lama ini, mencoba merutinkan sepedaan walau bisanya tiap wiken saja.
    Dan rekor terjauh baru 20an km.
    Kmrn2 jalan kaki atau jogging tiap wiken, trus mikir2 enak nih kalo ada sepeda bisa sepedaan jd ga monoton 😀.

    Btw jadi skrg di Turki? Mau dong dikirim postcard #eh

  2. asik banget tuh menjalani aktifitasnya. kayaknya kalo aku yang disana malah jadi lupa untuk kuliah. pengennya keliling-keliling terus ngeliat pemandangan bagus gitu tiap hari. hahaha
    semangat menjalani hari akhir pekannya.

  3. asemm apik ik..sepi pula. itu ndlosor di tengah jalan juga gak ada yang bakal nabrak ya..
    disana gak ada bangunan pencakar langit ya Mas..lapang gitu. lebih banyak bukit daripada bangunan. ada kuda liar pula. lembah teletubbies dan kincir anginnya pun ada..hikss..itu, damai banget kayaknya…

    dan saya pun lupa kapan terakhir kali naik sepeda -___-

      • oalah jadi disana di ‘desa’ ya Mas.pantes…ehehe

        dulu pas kecil mah sering.gedenya ngerantau.jalan kaki iya, sepeda gak ada.klo komunitas pengonthel sih banyak disini.tapi tahunya yang bapak2.si babeh ikutan soale.yg muda jarang liat euy..

        eh Mas, itu kudanya emang liar ya? atau ada sejenis peternakan kuda gitu disana?

      • Haha bali ndeso mbangun ndeso

        Enggak, itu ada yang punya. Orang Turki itu unik, semodern apapun jaman dibeberapa tempat masih bisa ditemui orang yang nunggang kuda/keledai unt transportasi. Turki dalam sejarahnya juga tak lepas dari peran hewan satu ini…

      • hooo…agak aneh bayanginnya kalo zaman sekarang cuma pake kuda/keledai thok.kalo kuda buat andong mah masih ada..
        hemm..pasukan kavaleri turki ya..

        tfs Mas 🙂

  4. Asiknyaaaa sepedaan jalannya sepi kaya gitu. Saya juga suka sepedaan di sini, tapi bikin ndredeg, lha wong lawannya mobil motor yang ngebut-ngebut. Dan yang pasti udara dan pemandangannya gak sesegar itu.

      • Wah kalau ke barat belum pernah. Ke timur sudah (semoga sense of direction saya benar kali ini, hehe). Di selokan yang dari seturan sampe ring road itu juga bagus banget. Ada semacam jurang, hijau banget dan ada beberapa empang juga.

  5. Wah jadi inget, waktu saya ngaji di madrasah sepulang sekolah dulu biasanya naik sepeda. Sampai rok hijau seragam madrasah saya berkali-kali robek (gara-gara bawa sepedanya sok ngebut). Hehehe.

    Kampusnya di Indonesia dimana Mas yang tiap weekend rame terus? Kok sama kayak kampus saya tiap weekend suka dipenuhi piknik keluarga dan al*y pun suka mampir berwisata. Hahaha

    Bagus banget Mas Slamet pemandangannya. Itu sepeda sendiri? Bakalan dibawa pas pulang ke Indonesia? Sayang sepedanya ngga ada jok boncengannya….

    • Cari jawabannya kl nanti pas ke Jogja hehe mungkin mayoritas orang Jogja ngertilah lokasi sunmor itu dimana 🙂

      Banyak yang jual jajanan enak2 juga disana, jadi sambil jogging bisa skalian numpang sarapan 😀

  6. Meskipun lama ga ngontel, alhamdulillah tiap pulang masih bisa disempet-sempetin bersepedahan. Padahal dulu SD – SMA selalu ngontel 😀

  7. Nice written! Jadi ingat masa-masa saya tinggal di Belitung sebelum menikah, kalau wiken ya kerjaannya pasti menelusuri jalan dan pantai baru yang belum pernah dijajal. Dan skrg kalau diingat2 jadi kenangan manis :’). Enjoy the moment ya Mas Parmanto.. btw saya juga follow blog sepedahan 🙂

  8. 35 km? udah keliatan jam mancal nya nih.. 😀
    Aku 10 aja udah ngos ngosan..

    Pemandangannya asik, itu emang sepi apa gimana? kok ga ada mobil sama sekali..

  9. Oh, okeee 😀

    Fotonya kerennn. Seru banget kayaknya sepedaan di sana. Dulu waktu di Jogja saya juga hampir tiap hari pake sepeda. Tapi ya suka deg2an waktu diklakson mobil motor. 😀

    Sunmor. Jalan kaki aja macet 😀 kangen juga sih sama pasar satu ini.

  10. padahal repot itu yang bikin bahagia yah 😀
    berumah tangga jadai ada feelnya.

    soal bersepeda…. saya terakhir kali itu….. sekian tahun yang lalu…. udah nggak inget

  11. Pemandangannya juara tenan. Bukit hijau nan membuat segar.
    Nah, bikin kampus itu memang ditempat yang seperti itu. Mengurangi panas kalo belajar dan gak kelayapan, 🙂
    Saya sejak SD sampai SMP sepedahan. karena sekolah di ndeso. Begitu ke kota malah jalan kaki, 🙂

  12. Bersepedahan nya seru banget, sayang saya ga bisa sepadahan jauh2 lututnya udah kopong kebanyakan… hahaha…#padahalmales

  13. Waduuh saya kirain bakal nyampe tujuan bang, itu pasti prestasi yang luar biasa buat pemula orang yang baru sepedahan. Ternyata gak sanggup ha ha ha………

  14. Duh mas Slamet, aku dadi kangen pitku eeee… punyaku pas tak taro di apart dicolong orang… udah digembok terakhir kali, tp kayanya temenku yg terakhir make nggak ngegembok kenceng banget.. *pengen sepedaan jugaaa*

  15. Mau dong diajak sepedahan di jalanan kosong begitu dan view nya keceeee. Tapi gakmau jauh2 hahaha. Aku pernah sepedahan -+20km (pp) dan gakmau lagi 😦 pegel kaki eyke huhuhu balik2 tepar, kaki sakit + pegel, maunya tidur aja.

  16. Mau banget sepedaan di sana. Kalo di sini, aku sepedaannya melewati rumah penduduk, genangan air yang becek, shortcut sebelum mencapai stadion Sriwijaya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s