Untuk Mereka Yang Telah Hilang

Kita memang bukan nabi, sang pemberi kabar gembira.
Namun paling tidak, jadilah kita kabar buruk bagi penguasa.

Hari ini, bayangku tetiba kembali ke masa dua dekade yang lalu. Pada sebuah keluarga kecil sederhana, tapi dengan perasaan yang tak lagi sederhana. Was-was, takut, tapi juga menggelora.

Ketika malam tiba, adalah saat-saat paling mencekam bagi mereka. Suara jejak-jejak sepatu seakan menjelma menjadi suara sang malaikat pencabut nyawa.

Hal mengerikan malam itu terus berulang paling tidak selama dua tahun belakang. Bermula ketika sang kepala keluarga nekat meninggalkan pos buruhnya ke Ibukota. Berteriak lantang kepada sang penguasa. Padahal di masa itu, sekedar berteriak: Lawan! adalah dosa besar. Tapi ia tak pernah sekalipun gentar. Ia justru berteriak:

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Hingga, di suatu April 1998, di jalan Pemuda Jakarta selepas menyantap bakso di warung jalanan, barangkali adalah hari terakhir ia diketahui rimbanya. Karena hingga kini, jejak sang pejuang tak pernah ditemukan kembali.

Kalau hidup, dimana ia hidup?
Kalau mati, tunjukkan liang lahatnya!

Barangkali, jejak sang pejuang hanya akan terus mengikuti pendahulunya yang mengalami nasib serupa, Tan Malaka misalnya.

Benar, jasad mereka hilang tanpa membekas. Namun, dari mereka buah pemikiran serta garis perjuangan akan terus berlipat ganda.

Untukmu para pejuang Wiji Thukul, Herman, Munir, hingga Siyono. Yang hilang dan sengaja dilenyapkan. Semoga Tuhan membalas budi kalian.

***

Syair rindu dari anak sang pejuang, Fajar Merah “Lagu Anak” karya Danto Sisir Tanah.

Ibu,
oh Ibu, lama dan lengkap
seperti novel berliku-liku

aku membacamu sepanjang hidupku
aku membacamu memburu haru
aku membacamu merangkai kenangan
aku membacamu mengeja rindu

Bapak seperti puisi
rumit dan singkat
Bapak seperti puisi
berlapis arti

ku membaca mereka sepanjang hidupku
ku membaca mereka mengurung haru
ku membaca mereka merangkai kenangan
aku membaca mereka mengeja rindu

rindu, rindu

peranaku seperti
pembatas buku
peranku seperti karet penghapus

Advertisements

19 thoughts on “Untuk Mereka Yang Telah Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s