Perawan Desa vs Gadis Kota

Jika boleh memilih, aku memilih untuk tidak memilih melainkan cukup dipilih. Karena seberuntung-beruntungnya manusia adalah ketika ia dipilih oleh kehidupan.

***

“Wis siap?”

“Sip! sarapan di mana kita?”

“Tempat biasa…”

Pagi itu, kami baru saja selesai mengikuti kajian Sabtu pagi. Seperti biasa, kami kemudian berboncengan menuju tempat favorit kami untuk mengisi perut di pagi hari.

Dari halaman masjid Mardliyyah, kami ke arah utara melewati jalan Grafika, sampai di bunderan Teknik, kami belok kiri lurus menyusuri selokan. Tujuan kami adalah sebuah warung soto kecil pinggir jalan Magelang, tepatnya dari selokan Mataram ke utara sedikit. Soto sapi Pak Fa’i namanya.

Warung soto ini, sudah menjadi warung soto favorit kami di Sabtu pagi. Tiada sabtu pagi tanpa hangat lezat soto Pak Fa’i. Apalagi pagi itu, cuaca memang sedikit dingin-dingin basah. Hujan rintik-rintik yang tak habis sejak semalam.

Kami lantas parkir tepat di depan warung. Tak begitu ramai. Boleh jadi efek hujan, sehingga orang-orang malas untuk keluar. Lebih memilih bersembunyi dibalik selimut tebal.

“Tumben pesen soto campur?”

“Ah masak?”

“Lha iya, kamu kan tipe anak biner. Satu-nol-satu-nol, alias paling anti dengan campur-campur. Kalo makan soto daging, cukup daging aja. Kalau soto babat, ya babat thok”

Mbuh iki, faktor suasana hati mungkin…”

Lha enek apa je bro? wis tho cerita wae. Ora sah isen…

Opo toh…

“Aku siap mendengar sambil makan nih. Ana opo?

Wajah orang di depanku ini sekarang tampak serius. Sebuah validasi kalau dia memang serius untuk mendengar gundah-gulanaku sejak kedatangan Ibuk beberapa hari yang lalu ke koskosan.

“Begini Jal, aku lagi bingung. Saat ini aku sedang dihadapkan pada dua hal penting, yang itu membuatku sulit untuk mengambil keputusan…” ujarku tertahan, antara ingin meneruskan cerita atau diam biar aku seorang saja yang tahu tentang persoalan pelikku ini.

“Dua hal tentang…?” tanya Ijal memancing dengan wajah tetap serius. Jarang-jarang temanku ini bertampang seperti itu.

“Tentang menuruti kemauan diri sendiri atau memilih pilihan ibuku Jal…”

“Emang pilihan ibumu gimana?” tanya Ijal kembali.

Kuletakkan sendok soto di mangkok yang baru setengah aku makan isinya. Tanganku meraih secangkir teh pahit hangat, kemudian meminumnya dua tegukkan.

“Jadi begini Jal. Kamu masih ingat? Kl ibuku datang ke sini tempo hari?”

“Iya…”

“Nah, pas datang ke sini. Ibuk ternyata tak hanya datang untuk menengok, tapi juga memberi welingan serius sebelum beliau balik Jal”

 “Tentang…??”

“Kamu kenal Juminten kan Jal?”

“Juminten tetanggaku? yang rumahnya pinggir jalan itu?”

“Iya Jal, Juminten yang itu. Dia pulalah welingan Ibuk yang kumaksud tadi”

“Kamu dijodohkan?”

“Lebih tepatnya direkomendasikan, Jal. Soalnya di keluargaku tidak ada yang namanya jodoh-jodohan”

“Terus? apa yang bikin kamu bingung? bukannya Juminten recommended banget. Kalau ibarat gadis, dia itu perawan desa yang lembut dan manis. Selain itu, dia sudah sangat matang. Kalau ibarat buah mangga, dia adalah mangga yang matang karena telaten bukan yang karbitan. Ketika dikupas, mlekoh

“Justru itu masalahnya, Jal. Aku sendiri sebenarnya tidak masalah dengan Juminten yang begitu. Itu justru lebih dari istimewa malah. Tapi, masalahnya bukan itu”

“Masalahnya di mana?

“Masalahnya, aku belum ada feel sama sekali. Jangankan perasaan, mampir ke rumahnya aja belum pernah”

“Ya, dibiasakan mampirlah kalau gitu…”

“Tapi Jal…”

“Tapi apalagi? atau jangan-jangan kamu belum bisa move-on dari yang seberang itu, Suharti?”

“Nah, itu dia masalah yang kedua Jal. Suharti”

“Halah kamu ini. Apa sih menariknya dia? kalau diibaratkan, dia itu tipikal gadis kota yang sukanya serba instant. Cenderung cerdas sih memang, tapi ceplas-ceplos seenaknya”

“Justru yang ceplas-ceplos itu yang enak diajak sebagai teman diskusi. Renyah luar dalam, tanpa basa-basi. Dan belum tentu dia kurang matang, tapi memang karakternya begitu” kataku membela. Aku tidak terima dengan omongan sok tau Ijal tentang Suharti. Meskipun, kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga.

Kalaupun mau dibanding-bandingkan, Juminten dan Suharti itu ibarat langit dan bumi. Ibarat perawan desa dan gadis kota. Karakter mereka saling berlawanan satu sama lain. Masing-masing punya keunggulan.

“Lagipula, kamu tau sendiri. Kalau nyaris tiap malam minggu aku ke rumahnya Suharti, apalagi kalau tanggal muda. Intinya, aku merasa sudah klik dengannya” tambahku.

“Ahh kamu ini. Ngakunya mahasiswa revolusioner, yang ada malah revolusioner ndeso. Masih terjebak oleh dogma kaum tua ‘tresno jalaran soko kulino’. Jalan cintamu kuno bro!”

“Ya, mau gimana lagi Jal. Ada saran?”

“Apa ya? aku sendiri kalau jadi kamu mungkin juga bingung hehe”

“Tuh kan…”

“Coba sowan ustadz Salim, siapa tahu dari beliau ada pencerahan”

“Ah iya! bener juga. Kamu memang joss bro!. Yo wis, sarapan kali ini aku yang bayarin. Cepet habisin sotomu”

***

Sabtu pagi, satu minggu kemudian.

“Sarapan di mana?”

“Santai boss, pokoknya ikut aku” jawabku sambil menyetater motor.

Berbeda dengan jalur minggu lalu, kali ini dari bunderan Teknik kuarahkan motor ke kanan menyusuri selokan menuju perempatan MM UGM. Ketika sampai di perempatan, aku menghentikan motor lalu menanti dengan sabar. Lampu merah satu ini memang terhitung lampu merah terlama setelah perempatan Kranggan.

Ijal yang kubonceng di belakang, menepuk pundakku sambil setengah berteriak.

“Wow, jadi kamu sudah buat pilihan? Ciee yang memilih Juminten”

“Hush! ngawur! lihat aja sendiri”

Rumah Juminten, memang searah dengan jalan tempat kami berada. Bahkan dari perempatan tersebut, jarak rumahnya tak begitu jauh. Kurang lebih hanya 20-an meter.

Tak lama, lampu hijau menyala. Kami kembali melaju, satu meter, dua meter, hingga dua puluh meter.

“Lho, enggak berhenti? gak jadi mampir”

“Wee siapa pula yang mau mampir di rumahnya Juminten… haha” kataku puas, karena Ijal salah menebak.

“Ohh, jadi pada akhirnya milih si-gadis kota nih? dasar revolusioner ndeso!

Aku tidak menjawab kicauan Ijal. Memang tidak ada yang perlu dijawab, justru sekarang akan membuatkan ia kejutan. Melewati rumah Juminten, motor terus menyusuri jalanan pinggir selokan legendaris ini.

Melewati satu persatu rumah penduduk di pinggirannya, yang mana dulu adalah bidang-bidang sawah yang menghijau, termasuk gedung-gedung besar tempat kampusku berada. Kadang aku merasa kasihan melihat kenyataan di sekitar selokan sekarang. Betapa sia-sianya pengorbanan rakyat Jogja masa penjajahan Jepang dulu kala. Selokan yang dibangun dengan tetes darah untuk mengairi persawahan, justru kini sawah-sawah itu diubah menjadi hutan-hutan beton yang angkuh.

Sekitar lima menit dari rumah Juminten, aku melipir dan meminggirkan motor ke sebelah kiri jalan. Aku berhenti tepat pada sebuah bangunan. Mengunci stang dan siap-siap turun.

“Udah sampai, Jal. Turun” kataku.

“Lho kok? di mana ini? gak jadi ke rumah Suharti?” tanya Ijal kebingungan.

Wajar kalau Ijal bingung, karena dia pikir setelah melewati rumah Juminten pasti kami akan ke rumah Suharti, yang akses kesananya juga bisa melewati jalan pinggir selokan ini. Tapi tidak sampai seperlima perjalanan, kami justru berhenti.

“Itu… kamu bisa baca sendiri” jawabaku sambil menunjuk sebuah spanduk yang tertempel di atas bagunan.

“Hmm…. warung SGPC Bu. Wiryo sejak 1959” eja Ijal sambil setengah percaya dengan apa yang menjadi pilihan akhirku.

Kamipun masuk dan menumpang makan sego pecel di rumah Bu. Wiryo ditemani live musik keroncong yang syahdu. Ternyata, memang tak salah pilih.

Gadis Desa
Ilustrasi dari cavaleto.blogspot.com

***

Membantu yang malas gugling siapa itu Juminten, Suharti dan Bu. Wiryo, berikut catatan saya tentang mereka.

SGPC Bu. Wiryo adalah (mungkin) warung sega pecel (SGPC) tertua di sekitaran kampus UGM. Sejak kampus itu dipindah dari keraton ke lokasi sekarang, warung tersebut tetap setia menemani civitas kampus dalam hal suplai gizi. Meskipun, kini tidak seramai dulu. Selain sudah banyak saingan, harganya pun relatif di atas rata-rata. Tapi kerennya, tiap hari ada live musik keroncong di sana.

Juminten, adalah nama muda dari pemilik aseli warung gudeg terkenal di Jogja, gudeg Yu Djum. Warung ini sudah punya banyak cabang, salah satunya yang terkenal ya di dekat perempatan MM UGM. Sementara Suharti, yang  bukan orang Jogja boleh jadi sudah kenal dengannya. Restoran ayam goreng Ny. Suharti memang sudah sangat terkenal, cabangnya sudah di mana-mana, Jakarta pun ada katanya. Tapi, yang pertama dan legendaris adalah seberang jalan sebelum pertigaan Janti kalau dari arah Solo. Sajiannya, apalagi kalau bukan ayam goreng. *CMIIW

Kalau kamu? siapa pilihan kamu? 😀

 

 

 

Advertisements

72 thoughts on “Perawan Desa vs Gadis Kota

  1. ngga tau ketiganya, jadi ngga bisa memilih.
    Tapi kalau pilihan saya, jatuh pada aa Nana, pemilik warung makan Gajebo; serba pedas. Recommended banget; enak, murah dan halal. Tempat makannya kalau sekarang ada di belakang FTSP UII.
    (Promosi terselubung)

    • Walah masak ndak tau? kan mereka cukup terkenal di Jogja…

      Haduh, yang dipromosikan blm pernah kesana. Blusukan saya di UII paling mentok masjid ulul albab dan museumnya… hehe

  2. Oalaaaah.. Yaaah ketipu deh, kirain cerpen tentang gadis desa vs gadis kota beneran 😀
    Pas saya ke Jogja sayangnya gak sempat mampir ke Juminten ya, ngerasain gudegnya cuman yang deket stasiun dan itu ueennaak banget menurut saya #jadikangenjogja ^^

    • Deket mardliyah ada warung soto? warung tenda mungkin ya? saya belum pernah nyoba je, jarang jajan sekitar situ. Paling mentok ya cuma nangkring di angkringan sekitar situ 😀

      Kl pas di Jogja coba mampir ke Pak Fa’i mbak, buka dari pagi sampai jam 2-an. Recommended wis…

      • ada Mas..spanduk namanya baru dibuat. kalo dulu cuma warung soto sama lotek tanpa nama..hehe

        kayaknya itu soto juga pernah di recommended sama temen. di jln magelang ya..taunya cuma soto sekitar monjali thok..hehe

  3. hahahaha… banyak yang kejebak, termasuk saya.
    Gak nyangka saja, Suharti asalnya juga dari Yogya.
    Banyak lho pejabat lulusan ugm kalo ke Yogya pasti mampir lagi ke SGPC Bu Wiryo, mengenang waktu kere dulu, 🙂

  4. Aku pilih (sate) Mak Syukur aja deh. Pak Beye aja dulu sampe booking satu restoran waktu datang ke Sumbar. Tapi kalau disuruh milih Juminten atau Suharti, mending milih mbak suharti atau nggak mlipir ke SS Kaliurang deh. Soalnya kalau ketemu gudeg, cuma kuat makan telor sama krecek doang. 😀

  5. gudeg yu djum kurang enak *menurutku pribadi yaak*. Ayam goreng suharti belum coba. Soto yang mas sebutin apalagi. Pilih gudeg depan jalan dagen aja. gudeg underrated yang enaaaaaaak parah. I think everyone should promote it deh mas. Ngomongin jogja jadi inget cerita Keluarga Tak Kasat Mata di kaskus. Duh itu ngeri bangeeeeet dan bikin penasaran.

    • Masak? yang deket UGM bukan? soalnya cabangnya banyak sih… kl mau yang lebih enak, ada gudeg manggar (berbahan daun kelapa muda bukan nangka).

      Itu yang penghuni kantor horror itu ya mbak? pernah denger tapi enggak ngikutin yang di kaskus… I’m not a kaskuser anymore 🙂

      • Aku dibeliin si mas. Aku gak tau deh yang mana. Rasanya terlalu manis menurutku. Enakan yang depan gang Dagen. Itu juaraaaaaa. Ah kalo aku ke Jogja, aku cari gudeg itu dulu kali mas. Aku penasaran gudeg mercon sama gudeg ahmad apa ya kalo ga salah. Ga sempet nyicipin.

        iyaaaaa mas. Sumpah aku penasaran banget sama ceritanya. Aku mau banget liat dari luar kantornya. Aku rasa orang jogja pasti ngeh lokasinya dimana. Aku baca ceritanya sampe akhir. Haha aku merinding bacanya. Bisa jadi saingan conjuring 2 kalo dibuat film haha. Penulisnya bilang mau dibuat novel.

      • Iya mas. Kan jalan Dagen itu depannya Malioboro yah, nah dia adanya di belakang. Jalan apa ya namanya? Pokoknya dia di depan gang Dagen tapi dari arah belakang, bukan yang Malioboro. Pokoknya deket hotel Jentra Dagen. Ke arah kiri, kalo kanan kan ke malioboro. i cant put it in word haha. Dia jualan pagi-pagi. Ah enak dan ngangenin. Susah nemuin gudeg itu lagi -_-” Aku jadi gudeg hunter di Jakarta dan masih belum nemu yang seenak Gudeg Dagen itu #maaf curhaat

        yaaa serem. Atau karena aku gampang terinfiltrasi cerita horor haha. But i keep imagining them. Invisible Family *kabooor*

      • yaa mas daerah itu yaa.Gak paham. Wkwkwk maap maap kalo ga enak. Maklum aku orang jakarta. Gak paham gudeg enak dan asli itu rasanya kaya apa LWKMD 😀

  6. Judulnya sungguh mengundang, ceritanya bikin penasaran, endingnya bikin nyengir hahaha. Oke, disekitaran UGM yak *kapaaan bisa ke Yogya lagi*

  7. salam kenal mas, wah aku suka banget kuliner Jogja murah meriah tapi aku belum pernah nyoba ayam goreng suharti maupun guded yu Djum, pernah denger kalo ayam goreng suharti ada yang palsu yg buka suaminya setelah cerai dgn Ny. Suharti (ih ngajakin bergosip ya jadinya). Masih ada yg lbh spektakuler dari perawan desa atau gadis kota mas, ada cewek ala2 yaitu Raminten (nama tempat makan juga) hahaha

  8. Masa aku kira berangkat yang terakhir itu adalah ke tempat gadis pilihan pak Ustadz, haha
    Setelah galau, pilihan ibu atau pilihan sendiri>dateng ke ustadz>dikasih alamat> terus dateng ke alamat itu. haha.
    Kayanya besok kalo mau baca, baca komen dulu ya 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s