Don’t Grow Up! Stay a Kid Forever!

Belum selesai kasus Yuyun di Bengkulu, kini heboh kasus ruda paksa di Surabaya dan (tentu saja) kasus-kasus serupa yang lain. Namun, ada hal menarik kalau tidak mau dikatakan miris.

Adalah di antara 8 pelaku ruda paksa itu, nyempil satu sosok kecil. Sebut saja MI, umur 9 tahun. Ya, saya tidak salah tulis. Anak kecil bertopeng spider-man itu benar-benar masih 9 tahun.

Ketika saya baca berita itu, saya kemudian bingung mau apa. Mau nangis miris, malu dikatain cengeng. Mau salto koprol, teringat umur. Jadi, cuma bisa menghibur diri dengan ngerebus indomie.

Coba deh diingat, di umur segitu apa yang sudah kita perbuat dulu? kenakalan paling pol, paling iseng nyembunyiin sandal milik santri putri di balik beduk masjid. Atau kalau kalian yang tidak sempat nakal, mungkin di umur segitu baru bisa benerin cara menulis latin dengan baik dan benar.

Lantas, bagaimana dengan MI?

Apakah dunia anak sekarang sudah jauh berbeda dengan dunia kita belasan tahun lalu?

Apakah yang sudah diajarkan para guru di sekolah hingga bermunculan monster kecil seperti itu?

Dimanakah orang tua sekarang? dan apakah ajaran mereka begitu berbeda dengan orang tua kita dulu?

Tuhan, apa yang salah dengan negeri ini?

Once I was seven years old my mama told me,
Go make yourself some friends or you’ll be lonely
Once I was seven years old
It was a big, big world but we thought we were bigger
Pushing each other to the limits, we were learning quicker

It’s true indeed! but, don’t grow up so fast kids! Karena, kelak ketika kau dewasa justru berharap ingin selamanya jadi kanak-kanak.

Yang dewasa. Mari kita ramai-ramai bertanggung jawab. Jangan biarkan kehidupan terus melahirkan para monster yang mengerikan. Save our kids, before it’s too late.

Tulisan lama; Dewasa Sejak Usia Belia.

Advertisements

23 thoughts on “Don’t Grow Up! Stay a Kid Forever!

  1. Betul mas, yang dewasa aja pengen jadi anak kecil, anak kecil sekarang pengennya cepet gede. ngilu pas baca beritanya di koran. ga habis pikir. mengupas kasus kekerasan seksual di Indonesia kayak ngupas bawang. makin dikupas makin perih dan miris.

  2. Kadang suka mikir, alhamdulillah masih belum jadi orang tua. Tiap ketemu anak kecil yang udah keliwat dewasa ini masih bisa switch on mode : perawat. Kalau nggak pasti udah kebawa perasaan. Pernah ketemu anak SD yg ngaku kalau pernah ‘nyoba’ berhubungan badan dengan adiknya, atau anak SMP yang nanyain obat penggugur kandungan waktu selesai penyuluhan kesehatan? Saya pernah. Pengen nangis, marah, semuanya campur aduk, saya ngebayangin wajah keponakan2 saya di rumah.
    Dapet berita tragis tentang anak tiap hari pasti perasaan para orang tua udah kalut luar biasa. Padahal, itu baru yang ketauan.

    • Perawat pasti sering ya berinteraksi dg kasus seperti ini… jadi tidak terlalu baper lagi.
      Bener itu yang baru ketahuan dan tercium media, yang tidak… duh mungkin segunung es 😦

      • ahahahaha…. nggak boleh baper tepatnya… sama pasien cuma boleh empati, nggak boleh simpati. Kasus yg sampai ke RS atau yankes pastinya yg udah fatal, keguguran, pendarahan, kematian, PMS, gangguan jiwa.. kalau kebawa perasaan, bisa gangguan jiwa juga…
        Yah sayangnya sih gitu, budaya ‘malu’ yang jadi senjata makan tuan. Lebih baik diselesaikan secara ‘kekeluargaan’ daripada bikin ‘malu’.

  3. habis baca postingan yang ‘dewasa sejak usia belia’ dan link artikelnya, jadi kepikiran..dewasa itu bisa membedakan benar dan salah..dewasa dini berarti meskipun masih anak2 tapi sudah bisa menggunakan akalnya utk menentukan sikap benar/salah…
    kalo kasus anak2 diatas berarti mereka belum bisa dikatakan ‘dewasa’ ya…masih sebatas anak2 yg butuh banyak bimbingan…cmiiw 😀
    dan, di desa sebelah pun ada kasus2 seperti ini… #heartbreaking

    • Kalau saya sih, lebih kepada disesuikan pada proporsinya. Bila anak-anak tetaplah jadi anak-anak, jangan dibebankan atau dibebaskan urusan2 orang dewasa. Begitu pula sebaliknya…
      Kasus desa sebelah itu, dewasa ala Tasripin atau justru sebaliknya mbak?

      • Nah iya, kalo itu sepakat meski kadang ada kasus tertentu dimana anak memang sudah bisa bertindak melampaui umurnya tanpa merasa tertekan…rare (special) case..
        cuma, kalo penyebutan ‘dewasa dini’ untuk para pelaku kasus2 diatas kok yo’o dirasa kurang tepat. kalo dewasa kan mereka seharusnya sudah tahu kalo itu salah dan gak dilakuin. ‘monster kecil’ itu mungkin yg lebih tepat. meski agak kasar.. 😀

        yang ruda paksa Mas…satu perempuan 5 orang tapi umur pelakunya berapa aja kurang tahu juga…

    • Nah itu dia, tapi paling tidak orang dewasa pernah merasakan dua hal tersebut sekaligus. Jadi tugas kita (kaum dewasa) memahamkan anak-anak bagaimana seharusnya tumbuh menjadi dewasa itu…

    • Kalo teorinya sih, udah banyak kitab yang membahas tentang parenting. Bahkan ayat alquran pun lbh banyak yang membahas bab keluarga ketimbang sistem negara. Sementara secara praktik, mungkin bisa bertanya langsung ke ortu mbak 🙂

  4. berita berita seperti ini bikin miris, saya kadang berpikir: layakkah kabar seperti ini di blow up di media? 😦

  5. nonton berita di TV sekarang serem banget, nyawa menjadi amat murah, banyak sekali monster yg tega menghabisi nyawa manusia dan sedihnya pelakunya berusia belia yg terbaru ada seorang remaja putri membunuh ayahnya karena dilarang pacaran. sebelum menikah sudah seharusnya pasangan mempersiapkan diri utk menjadi orang tua yang beriman, bertanggung jawab dan berilmu termasuk janji untuk menafkahi keluarga hanya dengan yg halal, ah sudahlah bahasan ini akan mjd panjang karena masalahnya kompleks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s