5 Dampak Positif Akibat Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

duitologidot
duitologi[dot]com

Bagi kebanyakan orang tanggal tua itu semacam nightmare, mimpi buruk yang ingin dijauhi, tapi apa daya banyak orang yang tidak bisa menghindar. Makanya tak heran, bila kemudian banyak yang labil plus sensitif pada tanggal-tanggal ini. Hal ini terjadi, karena ada benang merah yang kuat antara kondisi kantong dengan suasana hati. Ketika rekening dan isi kantong pada kondisi mengenaskan, maka akan segera meningkatkan tensi bejana hati. Semakin kuat tekanannya, semakin dramatis pula akibat yang ditimbulkannya.

Orang tua saya bukanlah seorang pegawai, mereka adalah pedagang yang tentu saja tidak menganut siklus tanggal muda/tua. Tapi berhubung anaknya banyak (4 orang), maka tiap anak mendapat jatah waktu kiriman masing-masing (kebetulan waktu itu kami sekolah di berbeda-beda kota). Hal ini, untuk mengantisipasi efek shock jika uang kiriman dikirim dalam satu kali transfer. Saya sendiri biasanya mendapat jatah kiriman di awal bulan, layaknya para PNS. Orang tua nyaris tidak pernah memberi uang secara cash, uang bulanan langsung masuk rekening, dengan nominal yang sudah disepakati sebelumnya dan secara periodik akan dievaluasi pada kurun waktu tertentu. Makanya tak heran, sejak remaja kami dipaksa untuk me-manage keuangan bulanan sendiri.

Orang tua saya punya mantra sakti dalam hal ini;

"Adanya segini, terserah mau buat apa. Kalau kurang, cari sendiri"

Kalau sudah begini, tertutup sudah pintu negosiasi. Jelas, orang tua saya bukan tipe orang yang mudah dikibuli dengan meng-markup APBN uang saku bulanan. Jam terbang mereka dalam merantau lebih tinggi, jadi tau benar bagaimana hidup merantau itu.

Berhubung, saya itu anak baik-baik, sholeh, dan rajin menabung manutan, maka hanya bisa pasrah dengan titah orang tua.

Secara nominal, sebenarnya tidak terlalu mengenaskan. Cukup. Cukup buat bayar kos, makan, uang bensin, dan tentu saja tagihan pulsa. Tapi, pada kenyataanya anggaran bulanan selalu mengalami defisit. Unexpected expenses-nya terlewat banyak untuk ukuran mahasiswa.

Apalagi waktu awal-awal kuliah, saya memang cukup aktif berorganisasi. Hampir semua bidang saya ikuti. Nah, tiap organisasi itu biasanya ada rapat (syuro). Bila rapat itu saya yang meng-komando, biasanya saya membawa semacam cemilan (entah sekedar kacang godhok atau kalau lagi banyak duit beli snack kiloan). Snack ini, selain untuk ‘mewarnai’ suasana rapat biar tidak tegang, juga menjadi daya tarik tersendiri. Udah macam anggota DPR aja, bila tidak ada uang komisi rapat batal.

Belum lagi pengeluaran yang lain, macam yang diakibat anggaran dari rektorat yang tidak cair-cair. Praktis kami biasanya nombokin anggaran terlebih dahulu. Makanya, tak heran ketika tanggal 20-an sering sedih melihat saldo di rekening yang sudah mentok tidak bisa diambil. Ngenes. Senasib dengan nasibnya Budi ini.

Lantas, apakah kemudian hal itu membuat saya menjadi pribadi letoy yang kemudian mundur pelan-pelan dari perjuangan *halah*? tentu iya, kadang hehe. Karena yang terjadi kemudian, justru adalah hal-hal positif akibat dari ‘bencana’ di tanggal tua. Apa saja?

  1. Jadi Bisa Masak
chefjunadotcom
sumber: chefjuna[dot]com

Jogja terkenal dengan jajanannya yang murah meriah. Sekali makan di Jakarta, boleh jadi setara dua kali makan di sana, bahkan mungkin masih sisa. Namun, ada yang lebih murah dari itu. Yakni, masak sendiri.

Jelas, memasak bukanlah pekerjaan mudah dan tentu tidak semua mahasiswa mau, karena repot. Tapi, demi penghematan anggaran, maka menjelang tanggal tua saya jadi rajin memasak. Menunya biasanya yang gampang-gampang, tumis, sop, sarden kalengan plus jamur, atau sekedar masak nasi lalu beli sayur di warung langganan.

Jadi, tanggal tua adalah momen di mana kamu bisa belajar untuk menggantikan chef Luna *eh Juna.

2. Jadi Lebih Kreatif

Pernah, ada orang berkata; “orang kreatif itu lahir ketika ia survive di zona sulit alias terbiasa susah”. Begitu pula, saat tanggal tua. Yang adalah zona sulit bagi mahasiswa tiap bulannya.

liputan6dotcom
sumber; liputan6[dot]com

Sehingga, untuk mengantisipasi defisit anggaran yang semakin besar maka banyak mahasiswa dipaksa untuk kreatif mencari pemasukan. Saya sendiri dulu, sempat jadi makelar fotokopi, jaket, jualan klepon di sunmor, hingga bikin start-up di bidang IT bersama seorang teman. Megap-megap sih hasilnya, selain tak kunjung nemu investor juga minim pengalaman. Tapi, itu semua dijalani agar jangan sampai meminta kiriman orang tua sebelum tiba waktunya.

Masih ingat, kisah Achmad Zaky (founder bukalapak.com) sebelum sesukses sekarang, saat mahasiswa ia pernah buka warung mie ayam di Bandung.

Jadi, tanggal tua bisa bikin kamu makin kreatif.

3. Jadi Lebih Rajin Ngampus

reiki-gayatri-agar-anak-lebih-rajin
sumber: reikigayatri[dot]com

Sudah menjadi hal tak terpisahkan, hubungan antara mahasiswa dengan internet. Mahasiswa lebih rela menjomblo, ketimbang ia dibatasi aksesnya pada internet. Karena, sejarah membuktikan. Beberapa negeri di dunia tumbang (karena revolusi) akibat dari sensor internet yang kelewatan. Bukannya meredam, tapi justru menyulut amarah perlawanan.

Nah, sebagai mahasiswa kere yang hanya mampu beli kuota internet pas-pasan (apalagi waktu itu kecepatan internet tidak secepat sekarang), maka internet di kampus sering kali menjadi andalan.

Ketimbang, menghabiskan duit di warnet yang sering kali bau rokok yang menyengat, saya memilih ngenet di kampus. Dulu, hampir tiap hari saya ngampus, bukan untuk ngelab tapi sekedar pengin ngenet. Tak jarang sampai nginep segala di kampus, karena gerbang fakultas bisanya oleh pihak kampus ditutup menjelang pukul 10 malam.

Sehingga, tanggal tua bisa bikin kamu lebih rajin (ngampus). Tapi, itu tidak menjamin kamu menjadi lebih pintar 🙂

4. Bisa Bikin Orang Lebih Peka

Bila kamu adalah tipe orang yang sering dikatain pasangan karena kurang peka, maka kamu harus sering-sering merana di tanggal tua. Lho kok bisa?

Iya, orang merana (di tanggal tua) biasanya sensitifitas radarnya menjadi lebih kuat. Maka, tak heran ketika banyak peluang yang tiba-tiba muncul pada tanggal-tanggal tersebut. Itu akibat meningkatnya kejelian kita dalam melihat peluang. Entah itu, peluang karena warung sebelah lagi big sale, hingga supermarket yang lagi diskon besar-besaran. Seperti MatahariMall, yang juga memberikan peluang tersebut. Belanja di tanggal tua? menjadi surga!

Hal sebaliknya, justru terjadi ketika tanggal muda (lagi banyak uang), kita sering kali abai dengan hal-hal tersebut. Lha punya uang, ngapain kepo nyari diskonan. Kurang lebih begitu.

Jadi, tanggal tua bisa melatih kamu menjadi sosok yang makin disayang oleh pasangan. Karena kamu menjadi orang yang lebih peka, orang peka itu biasanya peduli dan orang peduli itu disayang isteri. Make sense -kan? 🙂

5. Jadi Lebih Sholeh

Jadi pinter masak, kreatif, rajin, dan lebih peka itu memang sehat dan keren, tapi itu belum sempurna tanpa yang kelima; sholeh (orang baik-baik). Karena menjadi baik itu, kunci segalanya. Ia adalah angka terdepan di antara banyak nol di belakang. Begitu kata guru saya waktu SMA. Dan itu betul.

liputan6dot
sumber: liputan6[dot]com

Lantas, apa hubungannya tanggal tua dengan tingkat kesholehan?

Pertama, kamu jadi lebih zuhud ketimbang hari biasanya. Bila, di hari biasanya lebih sering nongkrong di cafe sambil nonton bola, maka saat tanggal tua kamu lebih sering nongkrong di angkringan. Ngomongin tentang permasalahan kehidupan bareng bapak-bapak tukang angkringan. Atau syukur-syukur kamu jadi lebih sering nongkrong di masjid, sambil dengerin pengajian. Sholeh tenan.

Kedua, jadi lebih sering puasa sunnah. Beruntunglah, kalau kamu sekarang adalah mahasiswa Jogja. Karena beberapa masjid di sana sering memberikan menu buka puasa tiap hari Senin dan Kamis, dan akan full sebulan bila tiba bulan Ramadhan. Nah, salah duanya adalah masjid Nuris (Nurul Islam) di Jakal, dan Nurash (Nurul Ashri) di Gejayan. Jadi, tiap tanggal tua jangan sampai kelewatan mampir di keduanya  puasa sunnahnya. 😀

Sehingga, dari kelima dampak positif di atas; bisa ditarik sebuah konklusi. Bahwa tanggal tua bukan lagi menjadi sebuah dilema dan sumber masalah, melainkan menjadi peluang bagi kamu agar semakin layak untuk mempunyai pasangan yang cantik nan sholehah. *lah kok ujung-ujungnya ke sini. 😀

Okeh,
ngethok pring ning tegal suwung
ambil yang penting-penting, buang yang tidak nyambung. 😄

Rayakan tanggal tuamu!

 

Advertisements

43 thoughts on “5 Dampak Positif Akibat Tanggal Tua

  1. Wahaaaa 😀 untung dulu kamu kuliahnya di Jogja ya mas 😀 biaya hidupnya jauh lebih murah ketimbang jakarte wkwkw 😀

    Yang masalah puasa sunnah itu bikin syahdu banget mas 😀 heheh 😀

    Masjid yang ngasih buka puasa buat mereka yang puasa senin kamis kok uwuwu ya ? aku baru tau ini mas 😀 di Jogja ada masjid gitu 😀 kirain pas puasa ramadhan aja ._.

  2. hahaha ini jleb banget yaaaa, gajian masih lama…baru pulang ngebolang…akhirnya jadi zuhud banget gituuuu rajin puasa senin-kamis x)))

  3. woaaaaaaaaaaaaah *standingapplouse* nah gitu doong. Jadi mahasiswa kudu kreatif. Jangan melulu minta transferan duit “angin”hihihi..
    good job. Tulisannya bermanfaat. Dan humorisnya dapeet,hahaha

    moga menang yaaaaa..
    saya doain dari balik layar 😀

  4. Jaman sekolah dulu ga pernah nemu tanggal tua karena dapet uang nya mingguan. Pas kuliah, dapet uang nya selalu akhir bulan jadi nya aman juga huehehe. Alhamdulillah sesuatuh~

    *padahal tanggal 10an udah lesu gak punya uang* wkwk

  5. lho kok foto-foto cowoknya yg cakep semua mas terutama jadi rajin masak dan jadi lebih sholeh hehehe, Emang tanggal tua dan anak kos bikin kita jadi kreatif ada satu lagi tambahan mas lebih sering silaturrahim ke rumah temen trus diajakin makan di rumahnya.

  6. Pernah, ada orang berkata; “orang kreatif itu lahir ketika ia survive di zona sulit alias terbiasa susah”.

    Setuju banget! Zona sulit dan keterbatasan itu bisa memantik kreativitas buat sebagian orang ya, Mas. Kalo lagi tanggal tua, tiba-tiba kepikiran ngelakuin kegiatan-kegiatan yang malah produktif tanpa harus konsumtif. Nulis misalnya. Hehe.

    Salam kenal, Mas! 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s