Bersiap Menyapa Ramadhan

ramadhan2

Tak terasa. Sebentar lagi, dalam hitungan hari. Tamu teramat agung itu akan datang menghampiri. Bilangan masa, hadiah dari Tuhan yang teramat dinanti.

Entah, sudah keberapa kalinya perasaan seperti ini kembali kurasa. Antara senang, karena bulan penuh kemuliaan kembali datang. Antara takut, bila yang dekat itu tak jadi datang (atau diri ini yang menolak mendekat). Dan antara kesedihan, bahwa yang lalu hasilnya teramat menyedihkan.

Yang lalu, biarkan jadi pelajaran berharga. Karena ramadhan kali ini, pelajaran yang akan kita dapat mungkin tak akan sama.

Lantas, apa yang diri ini sudah persiapkan untuk menyambutnya?

Mari kita list satu-persatu.

Menyiapkan Manah

Manah atau hati adalah sumber energi. Sebuah kekuatan dari dalam tubuh manusia sebelum tergeraknya procesor pengolah data dan segala bentuk informasi. Serta energi bagi penggerak organ-organ motorik sesuai pada fungsinya.

Menyiapkan hati, artinya meluaskan dan meluruskan niat. Dan yang paling utama dari semua persiapan hati adalah lembahing manah, yakni menundukkan kembali hati-hati yang selama ini jumawa, kelebihan beban, hingga arus yang tersendat. Merendahkan hati kita pada titik kesadaran bahwa kita bukanlah apa-apa, yang hari ini hidup kapan waktu biasa tiada.

Hati yang tunduk, pada sang pencipta. Sudahkah?

Melatih Jasadiyah

Adalah sunnah memperbanyak amalan kebaikan di dua bulan sebelum datangnya Ramadhan. Memperbanyak puasa, shalat, dan lainnya adalah amalan fisik yang tak hanya mendatangkan rahmah juga mendatangkan manfaat secara jasadiyah.

Banyak-banyaklah berolah-raga. Jalan pagi selepas shubuh, seperti masa kanak-kanak dulu. Konsumsi makanan halal dan baik. Rapikan kembali pola hidup.

Agar, tubuh tidak trauma menghadapi amalan-amalan fisik yang meningkat tiba-tiba. Sudahkah?

Membekali dengan Ilmu

Imam Ghazali pernah berkata:

“Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

Tak ingin amalan berakhir dengan sia-sia, maka bekalilah ia dengan ilmu. Agama itu scientific. Yang diyakini karena jelas aturan dan sumbernya. Ia bisa dibuktikan secara empiris lagi terjaga secara historis.

Jika kita melakukan amal tanpa ilmu, sama halnya melakukan penelitian tanpa dasar teori dan metodologi yang jelas. Hasilnya? jelas ditolak. Yang beruntung, adalah ketika sang juri (Allah) berbagi kemurahannya. Karena sekedar niat saja, sebuah kebaikan oleh agama dihitung pahala. Tapi, bagaimana kita tahu Sang Juri tengah berbagi kemurahanNya pada kita?

Kita tidak pernah tahu.

Membekalinya dengan ilmu, sudahkah?

Perbanyak Sedekah

Tak hanya hati dan jasad yang butuh dibina. Kepekaan sosial pun juga perlu dilatih. Agar terbiasa, ketika hadirnya bilangan masa ketika semua pahala berlipat ganda.

Bersedakah, bagi sebagian orang bukanlah pekerjaan mudah. Ia membutuhkan kepekaan pemikiran, dan kejernihan hati dalam memandang. Bahwa apa-apa yang dititipkan Tuhan pada diri ini, ada bagian bagi mereka yang membutuhkan.

Nasib kita, boleh jadi lebih beruntung dari mereka. Dengan jalan bersedekah artinya kita berbagi kebahagian yang melahirkan kebahagian. Kebahagian yang berkelanjutan.

Sudahkah bersedekah?

 

Dalam menyapa ramadhan. Ada doa yang baik, meskipun riwayatnya lemah. Tapi tak apa jika ingin menjadikannya sebagai narasi sebuah doa.

“Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballignaa Ramadhan.”

Berkahilah kami di penghujung bulan Sya’ban ini, ampunilah kami, dan maafkanlah dosa-dosa hambaMu ini. Pertemukan dan mulaikanlah kami di bulan Ramadhan. Sesungguhnya, hanya kepadaMu kami kembali dan berserah diri.

Untuk para sahabat, di dunia nyata dan maya. Ikhlaskan segala tutur kata saya yang salah, komentar-komentar yang tak tau diri, opini yang mungkin menyakiti, hingga janji yang belum bisa dipenuhi. Ikhlaskan. Maafkan. Jangan balas dendam. 🙂

Saya, sepenuh hati meminta.

Slamet Parmanto
Bumi, 18 Sya’ban 1437 H

Advertisements

59 thoughts on “Bersiap Menyapa Ramadhan

  1. Aku pribadi kalo menjelang bulan suci suka merinding masa. Merinding, degdegan, too excited, gatau kenapa. Aaak gak sabar!
    Mohon maaf juga kalo ada yg menyinggung, langsung ato tidak langsung~

  2. Dan satu hal yang saya takutkan kalau saya tidak sempat bertemu lagi dengan Ramadhan. Semoga Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan yang lalu 🙂

  3. bulan Ramadhan ini harus lebih baik lagi dari bulan Ramadhan tahun kemaren Amiiin… semangat semuanya menyambut bulan Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s