Mengajak Anak ke Masjid dan Bersedekah

Ramadhan

Foto ini adalah potret seorang anak kecil yang berhasil ‘diem’ kala di masjid. Foto ini saya ambil di suatu Ramadhan di Masjid Kampus UGM. Anak ini hebat, tidak riuh selama shalat. Di saat, kotak amal mulai diedarkan, sang anak tampak sigap dan penuh semangat memasukkan uang infaq. Lihat saja ekspresi di wajahnya.

Sewaktu kecil. Ada perasaan lega yang bercampur iri ketika memasukkan uang (bapak) ke dalam kotak amal. Lega, karena merasa tidak pernah memiliki uang tersebut. Iri, karena uang yang dimasukkan lebih besar daripada uang saku.

Kalau sekarang boleh jadi berbeda.

***

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog theordinarytrainer.com”

LombaFotoTheordinarytrainer-300x144

*Atas saran seorang pembaca, postingan ini saya pecah dan re-title guna memenuhi persyaratan lomba yang diberikan penyelenggara (maksimal 100 kata). Tulisan lengkap versi sebelumnya, akan saya taruh di kolom komentar agar komentar-komentar di bawah jadi tidak salah sambung. Maaf atas ketidak-nyamanannya. 😀

Advertisements

63 thoughts on “Mengajak Anak ke Masjid dan Bersedekah

    • Ayo! tapi bentar, anaknya siapa ya mas? *langsung baper* ?:D

      ***

      Tulisan versi lengkap sebelumnya

      Para orang tua akan terbelah bila mereka dihadapkan pada pertanyaan sesuai judul tulisan ini.

      Kaum pertama, Pro. Alasannya; kenapa tidak? ketimbang anak-anak keluyuran tidak jelas mending mereka nongkrong di masjid. Gampang nyarinya.

      Kaum kedua, Kontra. Alasannya; ahh gak usah. Nanti aja kalo udah sunat. Ntar malah ribut di masjid, lari-larian gak jelas. Repot, ganggu orang shalat.

      Kaum Jomblo? errr yang ini mah kagak masuk itungan.

      Lalu?

      Iya. Tak hanya kaum dewasa, bulan Ramadhan bagi anak-anak juga adalah sebuah euforia. Saya tau persis bagaimana rasanya kala itu.

      Berbondong-bondonglah kami ke masjid. Pagi, siang, sore, hingga malam hari. Gejala seperti ini semacam waktunya musim laron tiba. Lampu-lampu tetiba ramai oleh kerumunan laron, bahkan pada lampu yang redup cahayanya sekalipun.

      Kala itu, masjid dan anak menjadi hal yang tak terpisahkan.

      Insya Allah, sampai sekarang (masih) begitu.

      Hal tersebut, tidak lepas karena peran orang-orang tua kita. Ingat, sedari kecil kita dibiasakan untuk akrab dengan masjid, memakai sarung, kupluk, dan baju koko meski agak kedodoran. Harapannya, kelak ketika kita dewasa, kitapun jadi terbiasa dengan rumah Allah ini. Menjadikan masjid, sebagai tempat paling asyik di dunia.

      Namun, masihkah terpatri ajaran orang tua kala itu?

      So sad. Kala melihat diri sendiri.

      Akan tetapi, adakalanya membawa anak ke masjid justru mendatangkan bencana. Apalagi, kalau bukan akibat dari sifat dasar seorang anak. Bermain. Otomatis, dari niat awal untuk mengajarkan mereka akrab dengan masjid sejak dini, justru yang terjadi orang tua sibuk mendiamkan sang anak karena mereka ribut sendiri bersama teman-temanya. Tapi, mau gimana lagi, dunia anak-anak memang begitu. Ribut, ramai, dan seenaknya. Lha wong, orang dewasa (laki-laki maupun perempuan) yang masih suka ribut, main-main, dan seenaknya mempermainkan perasaan juga boleh disebut kanak-kanak kok.

      Pernah mengalami kan? pasti pernah.

      Tapi tenang, anak-anak itu tipe pembelajar cepat. Seiring berjalannya waktu, mereka akan mulai mengerti, tahu bersikap, dan kemudian tidak seenaknya sendiri. Mereka bisa diam, anteng hingga shalat selesai. Meskipun, di akhir shalat sang anak berbisik.

      “Pak, tadi shalatku juara kan? besok jangan lupa beliin mobil-mobilan warna merah yang kemarin ya”

      Nah! Itu juga bagian dari sifat anak-anak.

      Jadi, jangan khawatir membawa anak-anak ke masjid. Baginda Nabi pun pernah mencontohkan. Ketika dalam shalatnya pernah ‘diganggu’ oleh para cucu tercintanya. Beliau dengan sabar menunggu dalam sujudnya, hingga sang cucu puas bermain-main di punggung beliau.

      Ada alternatif cara yang mungkin bisa diterapkan, agar pembelajaran anak untuk shalat berjamaah sedari kecil tetap berjalan, namun kaum dewasa juga tetap bisa shalat khusyuk. Caranya?

      Dengan; DIPISAH.

      Cara ini, saya temui di beberapa masjid kampung di Jogja. Saat Ramadhan tiba, anak-anak (dari usia paling kecil hingga kelas 6 SD) dikumpulkan di tempat khusus. Bisa di mushola tersendiri atau di rumah penduduk. Sementara kaum remaja atau dewasa shalat tarawih di masjid seperti biasa.

      Untuk imam dan penceramah anak-anak tersebut, biasanya kami para pengajar TPA yang bertugas bergantian. Materi kultumnya pun, disesuikan dengan usia mereka.

      Sehingga, pada akhirnya anak tetep fun dan ngerti pentingnya shalat berjamaah, orang dewasapun bisa khusyuk dan tidak perlu khawatir anaknya ‘hilang’ saat ditinggal sujud.

      Tapi, apakah cara yang sama bisa diterapkan di kompleks-kompleks perumahan? hmm patut dicoba, tapi bagaimanapun sikap individualitas para penghuninya yang biasanya menjadi kendala.

      ***

      Oya, foto di atas itu adalah potret salah seorang anak kecil yang berhasil ‘diem’ kala di masjid. Foto ini saya ambil di suatu malam Ramadhan di Masjid Kampus UGM. Selama shalat tak terdengar suara ribut dari sang anak. Padahal, usia anak tersebut kurang lebih seusia keponakan saya. Kelas satu atau dua SD. Usia bermain.

      Di saat, kotak amal mulai diedarkan di jeda waktu antara shalat isya’ dan tarawih, sang anak ini tampak sigap dan penuh semangat memasukkan uang infaq ke dalam kotak amal bernomor 40 tersebut. Lihat saja ekspresi di wajahnya. Dan saya sangat yakin, uang tersebut bukanlah uangnya sendiri. Melainkan uang ayahnya yang duduk di sampingnya.

      Loh kok tau? karena saya pun sering melakukannya dulu. Ada perasaan lega yang bercampur iri ketika memasukkan uang (bapak) ke dalam kotak amal. Lega, karena merasa tidak pernah memiliki uang tersebut. Iri, karena uang yang dimasukkan lebih besar dari pada uang saku harian.

      Namun, kalau sekarang boleh jadi berbeda.

      Apakah berganti; berat dan menyesal karena uang berkurang oleh infaq atau oleh perasaan yang totalitas (sebab harta hanyalah titipan Allah) dan sedih karena uang yang dimasukkan ke kotak amal masih terlalu sedikit ketimbang uang jatah jalan-jalan bulanan?

      Entah. Semoga aja yang kedua.

      Jadi,

      Berani kan? mengajak anak-anak kita ke masjid di Ramadhan nanti,

      Dek?

      si-Adek menjawab,

      Nanti kapan Mas?

      Modar. Bubar. Perbincangan tidak dilanjutkan.

  1. Teteup yaaa jomblo yg satu ini hahahah

    Betewe di deket rumah kakak pertamaku ada sekeluarga yang selalu sholat subuh di masjid apapun kondisinya (hujan maupun dingin pas musim bediding) sama anak2nya sejak umur setahunan lah. Meski tidur juga digendong tetep dibawa ke masjid. 🙂

  2. Jadi nostalgia. Pas kecil rame2an di masjid bareng geng. Tuaan sedikit, gabung sekuriti masjid bagian anak-anak 🙂

    Kalau dipisah ruangan, yang jadi imam tarawih anak2 shalatnya diulang lagi mas??
    Dulu kami nggak mau ngalah buat siapa duluan yang shalat, siapa yang jaga anak2 hehe

  3. wkwkwk endingnya sesuatu banget ya mas….
    btw kalau metode yang anak-anaknya dikumpulin jadi satu gitu nanti malah tambah rame nggak sih? pengurus TPA-nya musti sabar banget tuh berarti hehe

    • Guru TPA-mah udah biasa ngadepin anak2 ribut. Justru dengan dikumpulin gitu, tujuannya melokalisasi keributan yang ditimbulkan anak2. Efektif pokoknya, coba deh mbak… 😀

      • Mengumpulkan keributan jadi satu ya jadinya haha…
        Itu anak umur 1 tahun juga dikumpulin jadi satu? mereka cenderung ndak mau pisah dari ibunya soalnya….

      • Bayi 1 tahun mah beda lagi, lagian umur segitu masak dimasukkin ke TPA? enggak kan… Mbak pernah ngajar TPA kan? pasti ngertilah umur anak2 yg siap ‘dipisah’ dengan orang tuanya…

      • well, saya cuma bertanya kok…
        Maksud saya adalah, apakah anak” umur segitu juga diusahakan oleh pihak masjid utk tidak digabungkan dengan orang dewasa, karena justru usia segitu yg sulit untuk di-handle. Maaf, saya belum pernah mengajar TPA.

      • Hehe anak2 yang masih dalam gendongan tetep bersama ibunya kok mbak… lagian kl saya yang dititipin bayi malah stress jadinya :lol

        betewe, komen saya yg terakhir terdengar ‘pahit’ ya? kok saya merasa begitu setelah dibaca lagi…. maaf2 tidak bermaksud begitu 🙂 *peace*

      • Duh saya jadi feel guilty about that… 🙂
        Yah, beginilah kl diskusi di socmed. Sisi2 emosinya kadang tidak tersampaikan… kl tersampaikan sekalipun yang diterima kadang berbeda.

  4. Btw, pas baca solusinya, malah jadi inget artikel kalo barisan anak2 justru jgn dipisah biar belajar tertib dll juga. Soalnya kan anak2 masih ada yg anggep masalah tersendiri ya kalo udah di mesjid, dari mulai ribut, lari kesana kemari, dll. Kalo kata artikelnya justru karena dipisah itu yg memicu keributan karena mereka seolah ‘diabaikan’ dan dibiarkan gabung sama anak2 lain, yg justru micu keramaian itu.. Nah loo.. 😀

    • Nah lho…
      Solusi yang disampaikan mungkin hanya salah satu alternatif yang pernah saya temui waktu di Jogja dulu. Hasilnya sih cukup efektif, tapi tidak tahu dengan perkembangan pemikiran si-anak-anak nantinya. Tapi, yang jelas hal itu hanya terjadi selama shalat tarawih saja, lainnya masih digabung. Kan tau sendiri, tarawih kan biasanya lama, dan sifat anak2 itu suka bosenan. Gitu… 😀

  5. Aku setuju buat anak anak dikenalin dg masjid dan tau bagaimana menghormati masjid sebagai tempat ibadah.
    Aku pernah stay di suatu perumahan yg anak anaknya emang ke masjid cuma pas ramadhan aja. Dan sedih gimana mereka gak berubah sikap lebih anteng dikit aja pas di dalam masjid. Rame teriak teriak dan ribut walaupun ada penceramah ataupun saat sholat. Lebih sedih lagi orang tua nya jg gak ada inisiatif buat mendiamkan anaknya.

    • Nah, itu terjadi di banyak tempat. Saya pernah jadi korban, kacamata yang saya taruh ditempat sujud keinjek sama anak2 yang lg lari2an. 😀

      Tapi, memang tidak semua anak begitu sih. Tergantung si keluarga anak gimana cara mendidiknya…

  6. Tulisannya super.
    Sangat suka dengan judul dan isinya, semoga saja para orang tua bisa membacanya. Karena sikap seorang anak adalah cermin dari orang tuanya sendiri. mengajarkan anak tentang shalat merupakan kewajiban apalagi mengenalkan mereka dengan masjid. Nah, terkadang yang lucu itu ketika orang tua hanya bisa menyuruh tanpa memberikan contoh kepada anaknya. Alhasil, kebanyakan hanya main-main saja di masjid. Ini lantaran mereka tidak bisa membedakan mana tempat yang suci dan mana tempat yg memang khusus bermain. Jadi sebenarnya, pemahaman akan takutnya kepada sang kuasa yang perlu lebih disadarkan kepada anak-anak sehingga mereka tdk berani untuk bermain dirumahnya “TUHAN”.

    Walaupun di usia yg masih terbilang kecil dalam psikologi tidak bisa membatasi lingkup bermain anak karena usia tersebut merupakan usia perkembangan, tapi saya rasa perlu mengajarkan hal-hal yang wajib mereka ketahui karena justru dalam tahap perkembanganlah mereka harus diajarkan. yah! semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih bijaksana lagi :). Maaf yah mas, mampir ngomong yg tak teratur disini hehehe

    • Haha santai mas, komen panjang2 begini justru sebagai komplemen tulisan kok, di beberapa tulisan saya, opini komentar justru lebih epic ketimbang tulisan saya sendiri hehe. Dan ya, terminologi ‘mengajak’ lebih tepat ketimbang ‘menyuruh’ anak ke masjid. Thanks udah mampir dan menambahi 🙂

  7. Setuju!
    Selain dilokalisasi keributan anak dengan shalat di tempat lain, orang tua memang harus sedikit mengikhlaskan keributan anak-anak.
    Di area saya, Imam masjid mengingatkan
    Orang tua untuk mengingatkan bahwa kita akan shalat shg sebaiknya tenang. Setelah shalat ada kultum untk anak-anak dan pembagian snack, jdi anak yang ribut sedikit “diancam” agar beljar tenang di masjid.

    Saya pribadi, rela-rela aja shalat sedikit ribut karena celotehan anak kecil sembari mengkhayal kalau anak itu anak saya. *lho? (jdi baper 😀

  8. kalau anaknya masih terlalu kecil mungkin sebaiknya tidak diajak ke masjid di jam2 shalat berjamaah. memperkenalkan dengan masjid di waktu yang lebih senggang. kadang tangis anak kecil membuat sebagian orang kurang nyaman. anak yg ngompol apalagi

  9. Deeek? Adeek? meng meng meng *loh jadi kucing 😀

    Eh tapi setuju sih sama kaum yang pertama. At least kalo anak dibiasakan dengan mesjid sejak kecil, setersesat apapun saat dewasa nanti (naudzubillah), sedikit banyak pasti ada rindu untuk kembali ‘pulang’.

    Keren Mas !!

  10. Baru kemarin nemu anak laki2 5/6 tahun di mesjid, dia sama neneknya (berarti beda saf) dan si anak ini ikut solat sambil di ingetin neneknya dari jauh untuk jumlah rakaatnya. Disaat anak yang lain lari2an, dia beneran solat dan pas ceramah duduk.

    Ku gemash! Ingin ku bawa pulang. Biar bapanya yang jemput (?)

    • Perlu dikulik tuh mbak ke nenek-nya, gimana beliau mendidik cucunya biar bisa seperti itu. Penting lho. Dan yang terpenting lagi, kl emang mau dibawa pulang ntar kembaliinya yg utuh… *emang apaan* hehe

  11. setuju mas.. gimanapun juga memang anak-anak perlu dikenalkan ke masjid sejak dini, biar bisa jadi anak masjid dibanding kelayapan nggak jelas.. meski dulu bukan anak yang selalu sobo masjid, pengen juga besok kalo udah punya anak diajak ke masjid sedari kecil..
    sekarang ada perasaan nyesel jaman masih di kampung halaman kurang aktif di masjid..

  12. Tim Juri sudah datang ke sini dan melakukan penilaian
    Terima kasih telah berkenan ikut meramaikan lomba foto di blog saya
    Semoga sukses

    salam saya
    @nh18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s