Gagal Jadi Munsyid

Hmm berbicara tentang musik di bulan Ramadhan tentu nuansanya menjadi tampak berbeda. Lebih mengarah ke yang adem di hati. Meskipun begitu, tetep sebaik-baiknya pengobat hati tentu bukan berupa musik, melainkan ngaji.

Udah ngaji tho hari ini? kalau belum ndang buruan.

Karena ngaji jauh lebih penting ketimbang baca blog ini. Percoyo wis!

Tentang selera musik. Pada prinsip sesuai dengan selera makan. Saya adalah omnivora tulen, bukan vegan (meskipun kadang seharian bisa makan tanpa ada unsur hewani sama sekali), tidak punya alergi, ataupun pantangan pada makanan tertentu. Saya juga tidak pegang jimat, main pelet ataupun pesugihan. Jadi, bisa makan apa saja. Tentu, tidak termasuk makanan-makanan yang diharamkan.

Begitu pula dengan musik. Semuanya saya dengar kecuali beberapa saja. Tapi, akhir-akhir ini saya lagi seneng dengerin musik-musik indie yang minimalis dan akustik. Seperti yang pernah saya rekomendasikan di sini.

Saya tidak suka dangdut. Entah, sejak kecil telinga saya rasanya tidak cocok dengan jenis musik satu ini. Meskipun, dulu saya suka dengan film-filmnya bang haji Roma. Si raja dangdut itu.

Selain dangdut, telinga saya juga kurang cocok dengan lagu-lagu metal, apalagi yang heavy. Ndak kuat rasanya dengerin dentingan musik keras-cadas semacam itu. Selain itu, musik jenis ini nyaris mustahil dinikmati sore-sore sambil baca buku dan minum teh. Padahal, musik plus buku plus teh adalah termasuk kesenangan dunia yang murah meriah.

Oya, selain sebagai penikmat, dulu sempat khilaf jadi pendendang. Saya sendiri juga bingung, kerasukan setan macam apa kok bisa-bisanya pede dan mau.

Waktu itu, awal-awal SMA. Saya terpilih jadi anggota nasyid (munsyid) sekolah. Bersama dengan beberapa temen dan senior. Padahal, kualitas vokal saya itu, hmm susah didefinisikan. Mau bilang nggilani kok rasanya terlalu sering membully diri sendiri.

Nah, kekhilafan saya itu bertahan kurang lebih setahun. Selama waktu itu, yang kami lakukan sekedar latihan dengan meng-cover lagu-lagu nasyid accapela yang sudah terkenal kala itu. Baik itu dari yang dalam negeri, maupun dari negeri jiran. Macam Raihan, Snada, dan lain-lainnya.

Kemudian, dengan alasan, menghidari kejaran para wartawan *halah* tak lama saya akhirnya mengundurkan diri. Takut populer anaknya.

Dan benar saja. Selepas saya keluar, eh grup nasyid itu semakin eksis. Apalagi setelah ganti branding dan personel. Mereka dapat undangan nampil sana-sini, bahkan ngeluarin single-nya sendiri.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya sendiri bersyukur tidak jadi ikut terkenal. Coba, kalau sampai setenar kembaran saya ini, tentu saja tidak akan ada waktu lagi untuk curhat menulis kontemplasi kehidupan. Yang pastinya, kalian akan merindukan saya setengah mati. *diguyur kolak*

Alhamdulillah, setiap kejadian pasti ada hikmahnya kan?

Lalu,

Ramadhan adalah bapak dengan sarung gadjah duduknya, ibuk dengan kolak manisnya, dan anak-anak dengan segala keriuhan mereka menjelang waktu berbuka. Ramadhan adalah hadiah, ampunan, lagi penangkal dari keji jahanam. Ramadhan adalah tentang menahan. Menahan dari semua yang menjauhkan manusia dari iman.

Bersama dengan tulisan ini, berikut beberapa lagu nasyid nostalgi yang mungkin bisa jadi penyemarak atmosfer Ramadhan, yang mana dengan kedatangannya seolah-olah semuanya butuh hal-hal berbau kebaikan.

Yang bikin merinding

Saya sangat suka dengan nasyid satu ini, merinding rasanya. Apalagi, pas pertama denger lagu ini ketika kualitas shubuh saya buruk sekali waktu itu, khas abege yang jauh dari orang tuanya. Maklum, tidak ada lagi yang ngoprak-oprak bangunin shubuh.

Intinya, lirik nasyid ini penuh renungan. Kualitas vokalnya, jangan tanya lagi. Raihan adalah pioner nasyid paling wahid menurut saya.

Yang ngangenin

Saya tahu lagu ini ketika masih SMP. Beberapa tahun sebelum saya tahu Raihan. Mas saya yang nomor dua waktu itu kalau pulang kampung sering banget bawa kaset-kaset nasyid. Mungkin dia khawatir dengan perkembangan adik ganteng-nya ini, karena mungkin sering mendengar saya nyanyi gak jelas lagunya Jamrud yang beberapa lagunya cenderung agak saru itu.

Jadinya ketika pulang, dia dengan sengaja ninggalin kaset nasyidnya di rumah. Siapa tahu, adiknya kepincut mau dengerin. Eh, saya kepincut beneran.

Bicara tentang kualitas nasyid ini, mungkin tidak perlu dibahas lagi ya. Pendengar nasyid tentu tahu kalau Snada itu, adalah mbah-nya para munsyid di tanah air.

Yang bikin baper

Nah, yang satu ini tak butuh penjelasan. Cukup didengerin dan dirasakan. Tapi, kalau ada yang baper saya ndak tanggung jawab ya. 😀

Dan yak,

Met, menjalankan ibadah puasa!

Ramazan Mubarek olsun, arkadaslar!

Advertisements

36 thoughts on “Gagal Jadi Munsyid

  1. Selamat berpuasa 🙂
    Udah lama banget kayanya gak denger Nasyid, padahal jaman SMA, sekolahku Nasyidnya cukup terkenal di kotaku. Dan setiap istirahat pasti diputerin lagu nasyid di sekolah. Adeeeeem.

  2. Ya ampun Om. Tulisannya baguuuus. Untung beneran njenengan mundur sebelum terkenal Om. Jadi kangen masa SMA deh denger lagu-lagu ini.

  3. dulu jaman sma dan kuliah yang rajin dengerin nasyid soalnya nasyid lagi
    naik daun saat itu, banyak sih grup nasyid saat itu dengan berbagai genre, kalo sekarang aku
    tetap suka lagu opick untuk lagu religi, lagu2 payung teduh juga bagus mas dan ada kitaro sih untuk instrumental

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s