Imam Yang Mengerti Makmum

Malam kemarin adalah malam ketujuh di bulan penuh berkah ini. Pula, untuk kesekian kalinya saya mengikuti shalat tarawih ‘beragam’ berjamaah. Beragam, karena fiqih yang digunakan bisa jadi berbeda tiap harinya, tergantung imam dan kesepakatan. Itu terjadi, karena makmumnya memang beragam. Selain mahasiswa Turki, ada juga beberapa mahasiswa internasional lainnya.

Adalah Ahmed, mahasiswa PhD yang berasal dari kota yang saat ini dikenal dunia sebagai penjara terbesar di dunia, Gaza. Ia mengingatkan saya pada sosok yang 12 tahun yang lalu menemui syahid, yaitu ulama pejuang Palestina yang tangguh, cerdas, shaleh, lagi karismatik. Siapa lagi kalau bukan Sheikh Ahmad Yasin (semoga Allah merahmati beliau).

Pertama kali bertemu dengan Ahmed, terasa kalau dia ini bukanlah sosok yang biasa-biasa. Orangnya ramah, tawadhu, dan adem ketika berbincang dengannya. Maka tak heran, di Ramadhan kali ini secara alami ia ditunjuk sebagai imam tetap shalat tarawih.

Sebagai imam, Ahmed tidak hanya memiliki keluasan ilmu yang memadai dan bacaan yang indah lagi tartil (ya jelas, lha orang Arab je), melainkan ia pula sosok seorang imam yang mengerti makmum.

Sebelum memulai tarawih, ia selalu bertanya begini;

“Mau berapa rakaat? lalu per 2 rakaat salam atau 4 rakaat salam?”

Ia bertanya begitu bukan tanpa alasan. Karena tau persis betapa beragamnya makmum yang hendak ia pimpin. Dan sebagai pemimpin, ia tau bagaimana harus bersikap. Di antara kami sendiri hampir semua mazhab ada.

Ditanya begitu, beberapa makmum menjawab dengan versinya sendiri-sendiri. Ada yang menginginkan 8 rakaat, adapula yang 20 rakaat seperti kebanyakan masjid-masjid di Turki.

Saya sendiri, dengan sumringah menjawab begini.

“Pelan-pelan tapi 8 rakaat aja, boleh” sambil nyengir.

Sebagai member Nahdlatul Muhammadiyah, saya sendiri tidak ada masalah mau 8 atau 20 rakaat. Yang terpenting bagi saya itu shalat. #eh. Maksud saya, yang terpenting itu bisa menikmatinya dengan khusyuk. Tidak tergesa-gesa, tidak pula terlalu berlama-lama. Yang sedang-sedang saja. Gitu.

Lalu,

Apa yang dilakukan Ahmed ini, boleh jadi sama dengan apa yang dilakukan oleh salah satu ulama kita yang termasyhur, Buya Hamka. Ketika beliau berkesempatan mengimami makmum yang mayoritas NU, maka ia menggunakan kebiasaan yang dilakukan oleh jamaah NU (misal memakai qunut). Bahkan tak jarang pula, sebelum shalat beliau bertanya bagaimana kebiasaan-kebiasaan di suatu masjid. Misal; apakah memakai jubah atau sarung? dan seterusnya.

Tak lain, apa yang dilakukan oleh Ahmed dan Buya Hamka adalah aplikasi dari seorang imam atas keluasan ilmunya. Mendahulukan akhlak dalam menyikapi perbedaan khilafiyah.

Luhur benar akhlak mereka ini ya.

Karena tak jarang, perbedaan khilafiyah membuat bingkai ukhuwah di masyarakat retak. Minimum muncul omongan yang kurang mengenakan di antara sesama jamaah. Saya sendiri sering melihat yang seperti itu.

Ketika imam dan makmum sama-sama ngeyelnya dalam memaksakan keyakinan fiqihnya. Meskipun pada akhirnya, seorang makmumlah yang seharusnya mengikuti apa yang dilakukan oleh sang imam. Karena begitu hukumnya. Kecuali, jika sang imam melakukan khilaf, misal lupa jumlah rakaat ataupun hafalan shalat. Maka, makmum dibolehkan melakukan koreksi.

Larangan menyelisihi imam ketika shalat berjamaah adalah wajib hukumnya, karena itu bagian dari rukun sahnya shalat. Maka, ketika ada imam tarawih yang melakukan 4 rakaat salam (langsung tanpa berhenti di rakaat kedua), makmum tidak boleh membuat versinya sendiri.

Tidak perlu memaksakan kaki rapat dengan terus-terusan mepet kaki jamaah di kanan-kiri, hanya karena ada seorang jamaah yang tidak (merasa perlu) mau merapatkan shaf. Karena jatuhnya akan nggrundel di hati selama shalat. Dan seterusnya.

Selain itu, menjadi imam yang mengerti makmum juga sangat dianjurkan. Makanya, di dalam beberapa hadist disebut-sebut istilah ‘memendekkan shalat’, yang kaitanya dengan durasi shalat itu sendiri. Sebab boleh jadi, di antara para makmum ada orang-orang tua atau mereka yang lemah fisiknya. Namun, memendekkan shalat bukan berarti menghilangkan kesempurnaan dan sunnah-sunnah lain dalam shalat.

Kesimpulannya, utamakan akhlak dalam menyikapi perbedaan fiqh. Karena, itu bukti dari luas dan luwesnya ilmu seseorang. Bukan kebanggaan-kebanggan sempit dan asal beda saja.

Wallahu alam bishshawab.

Advertisements

29 thoughts on “Imam Yang Mengerti Makmum

    • Ada beberapa kemungkinan sih mbak mereka gak tarawih di masjid, selain tarawih di masjid bukanlah wajib hukumnya. Yang penting itu, tidak shalat versinya sendiri sementara jamaah yang lain mengikuti imam 🙂

  1. Saya kemaren shalat 8 rakaat tapi nggerundhel juga kok merasa imamnya bacaannya diindah-indahkan (lama pake banget) . Hahahaha. Makmum yang gak sabaran dan gak pengertian kayaknya saya ini. 😅😅

  2. Imam yang baik juga sebaiknya memikirkan anak-anak yang suka rewel kalau sholatnya kelamaan. Kalau mulai rewel jadilah lantai ibu-ibu heboh karena anak-anak bosan. wkwk
    Btw, tolong cek email ya kak 🙂

  3. Memendekkan sholat tanpa mnghilangkan ksempurnaan. Itu kayaknya keren tuh bang, yg penting tetep buat makmumnya nyaman. Sy pernah sholat tarawih di salah satu masjid, lalu bacaannya panjang + lama banget. Kaki pda pegel, smpe berdirinya gak bisa tegap lagi, kakinya dimiring2in. Hahhaa, mngkin saya yg belum siap sholat berjmaah disitu ato emg imamnya yg kurang mngerti perasaan adek *duhhh

  4. Nah, saya suka imam yang demokratis. Minimal imam yang bisa membaca kemauan beragam jamaah. Janganlah jadi imam dengan memanjangkan sholat salah satunya dengan membaca ayat al Quran yang panjang yang bikin jamaah ngedumel. Udah ayat panjang tuh imam lupa lagi bacaan ayatnya, duh.

    • Hehe istilahnya imam demokratis, yang gak suka demokrasi bakal protes nih 😀

      Bacaan panjang kayaknya memang disesuikan dengan kondisi atau disaat shalat sendirian. Dengan begitu akan terbebas dari ngedumelnya hati 😀

  5. Bahagianya kalau sesama muslim saling memahami seperti ini. Apalagi hanya tentang khilafiyah rakaat shalat sunah saja. Mau 8 atau 20 rakaat, asal ada dalilnya, tidak masalah. Tidak ada yang salah. 🙂

  6. iya imam harus bijaksana, kadang kalau terlalu panjang ayat yg dibacakan juga
    bikin gak khusyuk lagi karena pegal (masih muda, apalagi yang tua) kalo terlalu pendek
    dan kecepatan gerakannya kayak dikejar kamtib gak enak juga, jadi harus pas porsinya
    biar bisa diikuti semua makmum baik yg tua atau muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s